
Dion asik memandangi wanita yang tengah lahap menyantap makanannya "Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
"Ayo kita menikah!" Bella menyemburkan kunyahan cookies yang nyaris sempurna. Dion panik bukan kepalang sebab wanita itu tersedak dan terbatuk-batuk. Dion meraih cangkir Bella, kosong. Kemudian dia berlari ke lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral.
Namun saat dia berbalik wanita itu sudah mencecap habis isi dalam cangkirnya. Dion tersenyum, duduk "Kamu baik-baik saja?"
"Kamu tidak lihat? Aku nyaris mati tersedak!"
Kali ini Dion tertawa renyah kemudian kembali berkata "Menikahlah denganku!" Membuka botol air mineral yang tadi diambilnya dan menenggak isinya, mengatakan hal sederhana itu nyatanya tidak membuatnya baik-baik saja. Tubuhnya mulai menggigil dan gemetar "Ayo tidur denganku!" Air yang belum sempat ditelan Dion menyembur ke luar, membasahi baju dan nyaris menyentuh wajah Bella "Astaga!!!" Keluh Bella kemudian.
"Bisakah kamu berbicara sopan?" Tegur Dion dengan murka.
"Bukankah sulit? Membayangkan kita tidur bersama saja sulit bagaimana kamu bisa menikah denganku? Sudahlah Dion aku baik-baik saja, tidak perlu terlalu mengasihaniku!"
__ADS_1
Mengasihaniku!
Pantaskah Bella berkata demikian? Wanita itu bodoh atau hanya berpura-pura bodoh? Apakah cintanya tidak mampu ditangkap oleh wanita itu. Hingga beraninya dia berkata bahwa pernyataan tersebut adalah sebuah nilai dari rasa kasihan. Ah....Bella andai kamu tahu jika cinta itu tidak memiliki dasar dan batas. Kamu pikir lelaki mana yang sanggup hidup dengan polos di sebuah kota besar di benua Eropa dengan ketampanan dan kekayaan yang mendukungnya. Tidak ada Bella kecuali jika lelaki itu telah memiliki seseorang di dalam hatinya, seseorang yang kedudukannya lebih tinggi dari dirinya sendiri didalam hatinya.
"Aku sungguh-sungguh!"
"Aku juga sungguh-sungguh!" Ucap Bella tidak kalah kerasnya "Kamu pikir aku bercanda? Tidak Dion! Yang kamu hadapi saat ini bukan cinta tetapi rasa kasihan. Ayolah! Jangan mengasihaniku! Aku tidak pantas untuk itu!"
Dion benar-benar marah! Bukan karena sebuah penolakan yang secara halus keluar dari mulut Bella, bukan karena wanita itu sesaat yang lalu berusaha menguji batas keimanannya, tetapi karena wanita itu terlalu rendah mengejawantahkan arti dirinya dalam hidup Dion. Wanita yang tidak tahu tentang apa-apa kemudian menghakimi perasaan cinta yang selama ini terpendam dalam dirinya. Sebuah cinta tulus yang mengalir dalam jiwanya hampir tujuh belas tahun lamanya. Cinta yang semula dia pikir hanya sebuah cinta monyet yang datang dan tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk melupakan itu semua. Namun nyatanya cinta itu tetap bertahan meskipun tanpa tatap pandang. Beribu-ribu kali Dion berpikir apakah baik baginya jika mengungkap kebenaran dari hatinya? Bagaimana jika Bella menolak dan persahabatan yang terjalin selama ini akan memuai begitu saja. Satu hal yang pasti lebih baik, melihat Bella hidup dengan lelaki lain dan bahagia. Meskipun Dion tidak bisa menjamah hati wanita itu. Seperti yang terjadi selama ini. Namun sekarang telah berbeda, Bella sendiri, sendiri dalam keadaan terpuruk. Tidak sedikitpun terlintas untuk memanfaatkan keadaan, tidak!!! Dion hanya ingin menyembuhkan luka itu karena saat ini yang bisa dia lakukan adalah sesuatu yang hanya pantas dilakukan oleh seorang teman kepada sahabatnya. Namun Dion ingin melakukan lebih dan Bella bisa memanfaatkan dirinya sesuka hatinya. Dion mengijinkan Bella untuk melakukan itu, asalkan wanita itu bisa bahagia. Dion beranjak dari duduknya dan berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Apa dia marah?" Ucap Bella kemudian, sebab dia benar-benar tidak tahu kenapa lelaki itu marah? Sebab dia yang seharusnya marah. Karena sahabat yang sangat dikasihinya itu menilainya terlalu dangkal. Bukankah pantas jika dia bersedih untuk sesaat? Sebab semesta tidak berlaku baik padanya.
Tubuh Dera masih gemetar, ketakutan merambat pada jiwanya. Bagaimana kalau lelaki itu datang dan membeberkan kebenaran yang sesungguhnya? Dia tidak rela jika harus kehilangan Brian! Sangat tidak rela. Dia mendapatkan itu semua dengan cara yang teramat sulit.
Namun tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah nomor tidak dikenal "Halo!"
__ADS_1
"Sayang!" Dia kenal betul suara itu.
"Kenapa terus menggangguku?"
"Kenapa kamu terus mengoceh? Cepat bukakan pintu! Di luar sangat dingin!" Kemudian lelaki itu menyudahi panggilan teleponnya. Apa tadi dia mengikutinya saat pulang? Ah....bodoh!!! Bagaimana kalau Brian sampai tahu. Dengan tergesa Dera berjalan ke arah pintu dan membukanya, benar saja seonggok wajah tengah tersenyum dan tanpa persetujuan Dera lelaki itu masuk ke dalam apartemennya.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Pergilah! Apa yang kamu inginkan?"
"Aku hanya ingin menjenguk anakku! Apa aku salah lagi?" Kemudian lelaki itu berjalan sambil memendarkan pandangannya, meneliti setiap inci rumah itu "Jadi di sini Brian menyembunyikanmu? Apa lelaki itu kaya?"
"Apa yang kamu katakan?"
"Bukankah waktu itu kamu berkata hanya ingin mengencani lelaki kaya!"
"Kamu...."
__ADS_1
Belum sempat menuntaskan kata-katanya terdengar sebuah suara dari luar, Dera panik sebab itu pasti Brian.
Keringat dingin membanjiri tubuhnya dan lelaki tadi masih dengan seringainya kini duduk dengan santai di sofa.