Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 68 : Pura-pura Lupa


__ADS_3


"Aku gila! Aku pasti gila!" Ucap Bella sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah cukup berantakan "Bagaimana aku menghadapinya setelah ini?"


"Aaaaaargh...!!!!


Dan detik berikutnya, semua benda yang ada di sekelilingnya telah melayang entah kemana.


***


Ini sudah pukul 06.00 pagi, dan Bella masih duduk meringkuk di kasurnya dengan lesu. Dia hanya mengingat bagian saat dia menanyakan kepada Dion apa dia cantik, kemudian dia menarik lelaki itu dan menggagahinya, menciumnya dengan brutal dan kemudian lelaki itu menghempaskannya begitu saja seolah dia jijik berdekatan dengan Bella. Namun kenapa dia hanya memakai pakaian dalam, siapa yang melepas pakaiannya?


"Aaargh! Apa aku melepas pakaianku dan menggoda Dion? Hah! Dasar kamu gila Bella, hidupmu akan benar-benar berakhir setelah ini!"


***


Hampir satu jam lamanya dia berendam dalam bathtub tapi dia tidak bisa menemukan kepingan memori saat dia menanggalkan pakaiannya.


Dengan keputusan bulat akhirnya dia memilih untuk tidak mengingat apapun, ya!!! Dia tidak ingat saat menggoda Dion, dan mencium bibirnya! Dia hanya ingat malam itu dia lelah dan Dion memberinya tumpangan serta hiburan gratis. Dia minum banyak malam itu dan Dion dengan baik hati mengantarnya pulang dan masalah selesai.


***


"Brian ayo kita bicara!" Rengek Dera persis di depan kamar utama, sudah hampir 30 menit dia berdiri mematung dan memohon seperti itu, namun Brian tidak sedikitpun bicara kepadanya. Kakinya mulai kesemutan, dan dalam hati dia mengutuki dirinya sendiri "Kenapa ibu hamil muda mengenakan sepatu berhak 10 cm?"


Dengan tergopoh asisten rumah tangga Brian datang "Sudah tiga hari Tuan muda seperti itu, tidak mau makan dan tidak mau keluar. Sebaiknya Nona menyerah dan pulang saja!"

__ADS_1


Tidak menggubris perkataan wanita itu, Dera terus saja mengetuk pintu "Ayolah Brian! Kita perlu bicara!" Akhirnya usaha Dera membuahkan hasil, Brian membuka pintu kamar. Sosok Brian muncul dari balik pintu, Dera tercengang. Sebab Pria tampan itu telah berubah hanya dalam waktu tiga hari saja, tubuhnya lesu dan terlihat kurus, matanya cekung dengan lingkaran hitam di bawahnya. "Pulanglah! Aku sedang tidak ingin bicara!"


"Ada apa denganmu Brian? Hanya karena Bella kamu menjadi seperti ini dan tidak memperdulikanku! Perutku akan semakin membesar, bagaimana aku mengatasi ini?"


"Maka dari itu gugurkan saja janin itu!" Ucap Brian dengan kasar.


Dera menangis...


"Bella menginginkan aku membesarkan anak ini!"


"Bella sudah tahu?"


Dera hanya mengangguk "Ah....sial!!!!" Kemudian masuk dan membanting pintu.


***


Dua bulan yang lalu...


Musim dingin masih menyambangi kota dengan gigilnya, kala Dera pulang ke apartemen sederhana miliknya dan mendapati barang-barang berharga dan uang di rekeningnya telah binasa. Setan jalanan itu yang mencurinya, usai kemarahan besar malam kemarin. Saat dia dengan keras menolak untuk membuang janin di rahimnya.


"Bagaimanapun juga ini anak kamu sayang!"


"Aku belum mempunyai pekerjaan tetap!"


"Aku bekerja! Aku akan bekerja lebih giat!"

__ADS_1


"Wanita sepertimu hanya bisa menghasilkan sedikit uang, tidak akan cukup untuk menghidupi tiga anggota keluarga!"


"Hah! Lihatlah dirimu, jika tahu kamu miskin dan tidak punya apa-apa kamu pikir aku mau memacarimu? Anggap saja aku sial, tapi aku tidak akan pernah membuang bayi ini!"


"Ah...dasar wanita sialan! Kamu pikir ada yang mau denganmu? Wanita tua yang tidak tahu diri!"


"Hah! Kamu juga cukup tidak tahu diri karena menjadi benalu dalam kehidupanku!"


"Aku benalu! Bagus! Jika kamu tidak mau menggugurkan bayi itu, lebih baik kita pisah saja!" Kemudian lelaki itu pergi.


Dera kecolongan, sebab dia pikir lelaki itu tidak akan kembali lagi. Namun nyatanya, dia kembali untuk mengambil semua benda berharga miliknya, tidak ada satupun yang tersisa, tidak ada. Bahkan mobilnya pun dia bawa.


"Dasar lelaki sialan!"


***


Dera benar-benar putus asa malam itu, sampai akhirnya dia berjumpa dengan Brian. Awalnya Dera hanya mengeluh tentang hidupnya, tetapi tidak tentang kehamilannya lantas Brian bercerita tentang kesedihannya. Malam itu Dera serasa menjadi tutup botol yang pas untuk Brian. Dan dia mencoba peruntungan, tidak masalah bukan jika Dera mengambil Brian dari hidup Bella, karena wanita itu tanpa Brian pun masih tampak bersinar.


Akhirnya hal itu terjadi, Brian yang mabuk kehilangan kesadaran dan dia mengambil inisiatif. Sampai akhirnya Brian terjebak dalam hubungan rumit dengannya.


Ya...bayi di perutnya bukan milik Brian tetapi lelaki itu harus bertanggung jawab. Sebab benalu hanya akan hidup dengan baik di pohon yang besar dan sehat, ya semua ini dia lakukan demi si jabang bayi, dia menginginkan kebahagiaan dan kehidupan yang layak untuk anaknya kelak.


Tidak bisa dipungkiri bagian lain dari dirinya juga menolak hal itu, sebab Bella adalah satu-satunya yang ia punya. Sahabatnya itu dalam keadaan apapun selalu ada di sampingnya, memberikan apa saja yang dia butuhkan tanpa perlu dia meminta, menjadi tempat mengadu kala dunia mulai bertindak tidak adil kepadanya. Dan sentuhan itu, sentuhan lembut Bella seolah berbicara "Semua akan baik-baik saja!"


Namun kali ini dia membutuhkan Ayah untuk anaknya dan Bella tidak akan mampu mewujudkannya.

__ADS_1


__ADS_2