Berliana

Berliana
Episode 2


__ADS_3

"Tuh lu tau" jawab ana datar


"Elu masih belom bisa tidur emang?" tanya gendis lagi dengan wajah judesnya


Gendis memang terkenal jutek dan sombong karna kepribadiannya yang seperti cuaca terkadang moodnya lagi baik maka ia akan baik kepada semua orang namun jika moodnya lagi berantakan semua orang pasti akan terkena juteknya, untuk orang yang parasnya cantik sepertinya sifat itu sangat pantas untuknya


"Eumm....gak... biasa aja cuman ngantuk aja gitu rasanya" jawab ana santai


"........." gendis yang menatap ana dengan ragu dan tajam


"Hah anak ini selalu saja tidak bisa bilang yang sejujurnya, apa insomnia nya belom membaik? Atau malah semakin parah ya? Auah, yah lagi pula itu masalah dia ini, kalo dia mau cerita juga pasti ia akan cerita sendiri. Ana kan seperti itu" Gumam gendis dalam hati.


"Haaaaahhhhhh....... (Menghela nafas dengan dalam), aku harus tidur lebih awal lagi, eum jam berapa ya 9? Atau setelah pulang kerja? Tapi bagaimana pun juga tidur adalah hal yang sulit dijalani buat gua. Haaahh (lagi lagi menghela nafas dengan dalam) kapan aku jadi seperti ini, menyebalkan" gumam ana dalam hati.


Sudah sejak lama ana mengalami insomnia, karna mimpi buruk yang sering terjadi padanya membuat ana menjadi sulit tidur dan terbangun di tengah malam.


Bukan hal heran lagi kalau ana terkadang bangun dengan kaget, keringat bercucuran atau bangun dengan keadaan menangis. Tidak ada yang tau keadaan ana yang sebenarnya seperti ini, hanya ana yang tau tentang malam panjangnya ini.


Semua dimulai dari ana kelas 2 SMK


Pagi hari disekolah SMK Islam Perti salah satu sekolah di Jakarta Barat


Ana yang seharian tidur di kelas bahkan ia sampai melewatkan pelajarannya karna kantuknya itu.


"Ana... Ada pak aziz tuh datang" panggil seseorang yang duduk sebangku dengan ana sambil menggoyangkan badan ana sekali


"Eumm" dengan berat hati ana berusaha untuk bangun dan membuka matanya


"Ana.... Tidur" panggil seseorang pria berbadan besar yang disebut Pak aziz tadi dengan senyumannya dan tatapan matanya yang melihat ana yang ia selama ini kira adalah murid teladan karna prestasi dan jasanya disekolah kini sedang melanggar aturan sekolah tidur di kelas


"Ana... Sakit kalo sakit keruang UKS aja atau mau keruang Osis tidur disana lebih enak bisa selonjoran lagi, mau gak?" tanya guru oleh raga tersebut pada ana


"Engga pak, ana gak tidur cuman rebahan aja " jawab ana dengan tertawa kecil karna rasa malunya itu, bagaimana tidak? Guru olah raga yang ia hormati dan percaya padanya kini ana menunjukkan kesalahannya pada orang itu.

__ADS_1


"Oh rebahan bukannya tiduran ya?" tanya balik meledek guru tersebut


"Ini pak si ana gak enak badan, badannya panas jadi dia seharian tiduran, disuruh ke UKS dia gak mau katanya takut sendirian. Tapi dia udah minum obat panas tadi, lagian sakit malah sekolah dia mah begitu pak, maksain diri" ucap perempuan yang berada di sebelah ana tadi dengan tatapan marah karna anak yang berada didepannya ini benar-benar kepala batu dan terus memaksakan diri


"Ana sakit coba bapak pegang jidatnya" pak aziz yang menghampiri ana dan mencoba memeriksa kondisi ana


"Iya kamu badannya panas ini, muka kamu juga udah pucet na, pulang aja gih sana nanti bapak biar kasih tau wali kelas kamu, pulang gih sana!!" ucap pak aziz khawatir dengan ana yang saat itu juga wajahnya sangat pucat dan lemas


"Anis kamu antar ana pulang gih nanti malah pingsan dijalan lagi kalo pulang sendiri" cetus lagi pak aziz yang semakin khawatir


"Tuh na di ijinin pulang tuh, sini gua anterin elu dah sampe naek angkot, mau gak?" tanya  anis perempuan yang sedari tadi mengkhawatirkan ana teman sebangkunya yang berkepala batu


"Engga pak, tidur bentaran juga nanti sembuh. Beneran dah, emang kayak gini badan saya mah bentar panas bentar engga" jawab ana berusaha mengelak untuk pulang. Karna ia tau dirumahnya sekarang ini ada adiknya dan bang anggi yang sedang sakit juga, jika ia pulang sekarang itu hanya akan menambah beban mama dan bapak yang sedang mengurus mereka berdua yang sedang sakit.


"Atau mau bapak antar pake motor bapak pulangnya?" ucap pak aziz sekali lagi meyakinkan ana


"Saya gak mau pak emang saya begini badan saya kan emang dasarnya anget, jadi bukan masalah besar pak" jawab ana dengan sedikit tertawa dan tersenyum agar pak aziz tidak perlu khawatir dan memaksanya lagi


"Justru jika dibiarkan malah akan menjadi masalah besar ana" jawab pak aziz yang geregetan dengan ana yang tidak mau mendengarkannya


"Iya gapapa beneran dah pak, lagian kan udah minum obat ini, kalo besok juga masih demam kan saya tinggal izin gak masuk sekolah, jadi saya beneran gapapa pak aziz" ucap ana meyakinkan pak aziz


"Yasudah kalo itu maunya ana, tidur aja dah gapapa, biar anis yang jagain ana. ya nis ya" lirik pak aziz melihat anis dengan tersenyum


"Iyalah pak dia temen saya, tanpa disuruh juga saya jagain pak tenang aja" ucap anis dengan lantang seakan meyakinkan bahwa tanpa disuruh pun anis pasti akan menjaga ana dengan baik


"Oohhh iya dah, bapak pergi ya" sekali lagi pak aziz melirik ana seperti tatapan ayah kepada anaknya dan beranjak pergi meninggalkan kelas bertuliskan 8B tersebut


"Eum iya pak" jawab ana dan anis


anis sesekali melirik ana yang langsung merebahkan dirinya setelah pak aziz keluar dari kelas, anis berfikir kenapa anak ini tidak menurut saja dan pulang kalau itu adalah dirinya pasti anis akan langsung bergegas pulang dan tidur dirumahnya dengan nyaman.


"pasti anak ini lagi ada masalah dirumah mangkannya gak mau pulang" ucap anis sambil melirik ana yang sudah pasti mendengar ucapannya

__ADS_1


"............" ana tidak menghiraukan perkataan wanita tersebut.


Anis adalah teman ana sejak SMP. Anis telah menjadi teman sebangkunya sudah lebih dari 2 tahun. Entah kenapa mereka awet sebangku hingga kelas 2 SMK. Dan anis termasuk dalam Grub EDAN4 yang dibuat ana.


........


Setelah pulang sekolah


Ana yang baru sampai rumah segera bergegas untuk merapihkan rumah dan mencuci piring karna setelah itu ia akan menjaga adik dan abangnya yang sedang sakit. Karna ana tau kalau bapaknya sibuk mencari uang dan mamanya juga sebenarnya dalam keadaan sakit.


Mama ana mengidap penyakit Diabetes basah, dimana jika ia terluka sedikit saja itu akan menjadi semakin besar dan parah, karna hal itu mama ana tidak boleh kecapean atau terluka. dirumah pun ia harus memakai sendal.


Ana yang sangat tau akan hal itu, mana bisa ia diam saja dirumah. Apalagi dengan alasan bahwa ia juga sakit, ana tak suka seperti itu.


Karna ana memaksakan dirinya untuk bekerja dan bukannya beristirahat, tubuh ana setiap malam akan merasa kesakitan, badannya pegal-pegal dan merasa lelah, seluruh tubuhnya akan menggigil kedinginan. ana tau akan hal itu tapi ana tak mau itu menjadi sebuah hambatan untuknya karna ana percaya bahwa dirinya kuat.


Papa ana yang melihat ana tidur dengan gelisah mengecek kondisi tubuh ana yang ternyata sedang demam. lalu papa ana segera membangunkan ana dan memberinya obat. Barulah ana tidur dengan lelap.


Ana sering menyembunyikan sakitnya pada semua orang bahkan keluarganya, karna sejak kecil ana sudah terbiasa menahan rasa sakitnya sendiri


Saat kecil terkadang ana jatuh dan terluka di lutut dan lengannya itu cukup parah namun karna orang tuanya sangat tegas padanya ia lebih takut di marahi karna ceroboh saat bermain dari pada menahan rasa sakit karna berdarah jadi dia membiarkannya hingga akhirnya papanya yang pertama kali tau bahwa anak perempuannya ternyata terluka namun tidak diobati atau mengadu pada orang tuanya.


Bagaimana bisa anak berumur 8 tahun terluka sangat parah tapi tidak menangis, malah tersenyum dan membiarkan atau menyembunyikan lukanya seperti itu. karna hal itu papa ana jadi terus memperhatikan anaknya saat ia pulang dari kerjaannya.


Beberapa hari berlalu dari ana sakit. Kini ana dan abangnya telah sembuh dari sakitnya. Namun adiknya tak kunjung sembuh dari sakitnya, malah adiknya jadi bertambah parah karna adiknya ana dedi mulai berbicara hal yang tidak jelas dan melihat hal yang tidak ada dan tidak terjadi


Adik yang disayanginya sedang terlelap tidur dengan wajah yang pucat dan seperti ia tidak bisa tidur dengan tenang atau nyenyak.


Dengan lembut ana membelai kepala adiknya yang saat itu adiknya berumur 11 tahun


" dedi..... Cepet sembuh ya.... Biar bisa maen lagi, biar bisa jajan lagi, yang kuat ya de, jangan kayak gini lagi ya. Empok gak tahan liatnya" ana yang berusaha menahan tangisnya sejak lama kini semuanya tumpah saat itu juga, melihat adiknya seperti itu seperti mengiris-iris hatinya berkeping-keping


"Nanti kalo dedi sembuh empok ajak dedi jalan-jalan ya..... mangkannya dedi harus cepet sembuh hiks..... hiks..... hiks....." dalam ruang kosong itu ana menangis tersedu-sedu. Menurut ana kenapa gak dia aja yang harusnya dikasih penyakit jangan adiknya. Adiknya masih kecil ana takut adiknya tidak kuat menahan lelah akan penyakitnya saat itu.

__ADS_1


"Aaakkkkhh...... Empok, empok kebakaran ada kebakaran cepat cepat pergi ayoooo pergiii" adiknya dedi yang tiba-tiba bangun dengan langsung terburu-buru menarik ana yang kaget adiknya bangun dengan tiba-tiba


...........


__ADS_2