Berliana

Berliana
56. Merasa Kesal


__ADS_3

Sampai di lantai bawah, Berliana melihat Samuel yang sedang duduk di atas sofa.


"Selamat malam Nona" sapa Samuel yang menyadari Jika Berliana sudah berada didekatnya.


"Malam juga" balas Berliana dan duduk di sofa yang tidak jauh dari Samuel.


Kedua bola mata Samuel terus menatap kearah Berliana.


Sungguh ia tidak bisa berbohong, saat ini Berliana terlihat sangat cantik menurutnya.


"Cantik dan sangat cantik. Tapi sayang, sudah ada yang punya" ucap Samuel dalam hati yang tatatapannya terus kearah Berliana yang kebetulan duduk di hadapannya.


"Apa ada yang aneh dengan wajah ku?" tanya Berliana yang tau bahwa Samuel terus menatap dirinya.


"Anda sangat cantik Nona" ucap Samuel tanpa sadar.


"Terima kasih pujiannya" ucap Berliana dengan tersenyum manis, dan hal itu semakin membuat Samuel menatap kagum Berliana.


"Tapi sayangnya, tuanmu itu tidak memperhatikan ku" ucap kembali Berliana.


"Dasar tuan muda, aku mau jika tuan melepaskan wanita didepan ku ini. Sangat cantik dan juga kelihatannya sangat baik pula" puji Samuel untuk Berliana.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Zion dengan suara cukup tinggi.


Sedari tadi ia memperhatikan Samuel yang terus menatap Berliana dan hal itu membuat ia menatap tidak suka kepada asisten dan juga sekaligus sahabatnya itu.


"Anda sudah siap tuan muda?" tanya Samuel selesai dengan keterkejutannya.


"Apa matamu buta? Sedari tadi aku sudah berada disini" ucap Zion kesal.


"Maafkan saya tuan muda" ucap Samuel yang mengutuk mata dan juga pikirannya karena terlalu lama menatap Berliana.


"Sudahlah, lebih baik kita berangkat" ucap Zion yang masih dengan wajah kesal.


"Baik Tuan muda" ucap patuh Samuel dan mulai beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu!" ucap Berliana saat keduanya akan keluar dari pintu utama.


Keduanya langsung menatap bingung kearah Berliana.

__ADS_1


"Boleh aku berfoto dengan mu?" tanya Berliana kepada Zion.


Karena ia sangat ingin mengabadikan momen dimana ia dan juga Zion sedang berpakaian rapi, seperti dan hampir mirip acara pernikahan pikirnya.


"Untuk?" tanya Zion dengan alis yang terangkat satu.


"Untuk di jadikan pajangan" ucap Singkat Berliana.


"Turuti saja Zion, lagi pula tidak ada ruginya" ucap Samuel dengan santai. Bahkan ia lupa saat wajah kesal dan Zion menatap tidak suka kearahnya.


"Terserah! dan lakukan dengan cepat" ucap Zion.


"Tolong fotokan kami ya" ucap Berliana kepada Samuel sambil memberikan ponselnya.


"Baik, siap-siap. Satu dua tiga" ucap Samuel dan satu foto berhasil diambil.


"Satu kali lagi" ucap Samuel tanpa melihat kedua bola mata Zion yang melotot kearahnya.


"Lebih dekat lagi" ucap Samuel yang sengaja membuat Zion bertambah kesal.


"Jangan lupa senyum" ucap Samuel kepada keduanya.


"Ayolah Zion, tampilkan senyum terbaikmu" ucap Samuel.


"Senyumlah yang manis" ucap Berliana sambil menatap wajah Zion dan Zion menatap kearahnya juga.


Momen itu diabadikan cepat oleh Samuel yang merasa itu adalah sangat fisayangkan untuk di lewatkan.


"Kalian berdua cepatlah, sudah jam berapa ini" ucap Samuel yang berpura-pura kesal kepada keduanya.


"Baiklah, ini yang terakhir!" ucap Zion dengan datar.


Keduanya kembali merapat bahkan lebih rapat dan juga senyum manis keduanya semakin membuat Samuel berdecak kagum akan keserasian keduanya.


"Selesai" ucap Zion dan langsung melepaskan tangan Berliana yang melingkar di lengannya secara kasar.


Berliana langsung melangkah menuju Samuel dan mengambil ponsel miliknya.


..............................

__ADS_1


Zion dan juga Samuel sudah meninggalkan rumah. Sedangkan Berliana belum beranjak dari tempatnya berdiri. Karena ia sibuk menatap foto dirinya dan juga Zion yang terlihat sangat cantik dan juga tampan.


"Sangat serasih!" gumam Berliana sambil terus memandang foto mereka berdua.


"Semoga kita bisa berfoto menggunakan gaun pengantin" ucap Berliana sambil terkekeh senang.


Terdengar di luar rumah suara klakson mobil dan itu adalah mobil yang dikendarai oleh salah satu anak buah Berliana.


Berliana langsung saja keluar dari rumah itu dan langsung masuk kedalam mobil yang sudah di bukakkan pintu oleh salah satu anak buahnya.


Mobil tersebut langsung melaju menuju ketempat acara dengan kecepatan sedang.


Didalam mobil, Berliana menghubungi Jonthan.


"Apa kalian sudah disana?" tanya Berliana saat sambungan telepon terhubung.


"Kami masih dalam perjalanan Nona" ucap Sasa dan Jonthan sedang fokus menyetir.


"Baguslah kalau begitu, ingat berpura-puralah kita tidak saling mengenal" ucap Berliana.


"Paham Nona" ucap Jonthan dan juga Sasa secara bersamaan. Karena Sasa membesarkan volume suara panggilan itu.


"Tolong kalian cetakkan foto yang aku kirim lewat email dengan ukuran yang cukup besar dan juga ukuran kecil dan jangan lupa pajang dirumah" ucap Berliana.


"Baik Nona, apa ada lagi?" tanya Sasa kepada Berliana.


"Tidak ada dan kalian berhati-hatilah" ucap Berliana sebelum sambungan telepon terputus.


"Apa orang-orang kita sudah menjalankan tugas mereka dengan baik?" tanya Berliana kepada seorang lelaki yang saat ini menjadi supirnya.


"Sudah Nona" ucap tegas lelaki itu dengan suara sangat meyakinkan.


"Baguslah. Dan jangan turunkan kewaspadaan kalian, walaupun keadaan terlihat baik-baik dan berjalan lancar" ucap Berliana.


"Siap Nona" ucap lelaki itu sambil fokus menyetir.


Dengan segerah lelaki itu memberikan perintah kepada seseorang melalui earphone yang sudah sejak tadi terpasang di telinganya.


Mobil yang ditumpangi oleh Berliana sudah mulai masuk kepekarangan hotel yang menjadi tempatnya acara di selenggarakan.

__ADS_1


Banyak papan karangan bunga yang menjadi penghias perjalanan menuju ketempat parkir khusus mobil.


__ADS_2