Berliana

Berliana
55. Terlihat Baik-Baik Saja


__ADS_3

Hari sudah menunjukkan pukul enam sore, dan hari ini adalah hari dimana acara ulang tahun perusahaan Brow.


Hiasan-hiasan mewah dan juga elegan menghiasi setiap dinding-dinding dan juga ruang yang menjadi tempat utama acara tersebut.


Para petugas hotel dan para keamanan sudah berada disana tiga jam sebelum acara dimulai dan maupun tamu berdatangan.


Banyak pihak dilibatkan dalam acara tersebut, hal ini dikarenakan perusahaan Brown, merupakan perusahaan yang cukup berpengaruh di negara itu.


Dari perusahaan ternama pastinya acara itu akan berjalan dengan baik. Karena serangkaian acara sudah diatur dengan sedemikian rupa yang akan menyihir para tamu yang hadir.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam, dan kelurga besar Brown sudah berada do hotel mewah tersebut.


Sebagai tuan rumah, mereka harus hadir terlebih dahulu untuk menyambut para tamu yang mereka undang.


"Hubungi Kakak kamu, katakan jangan terlalu lambat datangnya" ucap Mama Zion kepada Marcello, yaitu adik bungsu Zion.


"Sudah Ma" ucap Marcello singkat.


"Selamat datang Sayang" sapa senang Mama Zion kepada Sharmila yang baru saja melangkah mendekat kearah keduanya.


"Iya ma" ucap Sharmila dan langsung memeluk dan mencium pipi kiri dan juga kanan Mama Zion.


"Zion mana Ma?" tanya Sharmila sambil melihat-lihat disekitarnya.


"Kapan kamu pulang kesini?" tanya Sharmila kepada Marcello adik bungsu Zion.


"Semalam" jawab singkat Marcello.


Ia tidak begitu menyukai Sharmila, karena ia merasa jika Sharmila tidak cocok untuk kakak sulungnya.


"Sepertinya Zion lagi dalam perjalanan" jawab singkat Mama Zion sambil menatap hangat calon menantu pilihannya.


"Papa mana Ma?" tanya Sharmila.


"Papa lagi duduk disana sama Kakek" jawab Mama Zion sambil mengarahkan pandangannya kearah kedua lelaki yang sedang berbincang di salah satu tempat di bagian pojok ruangan tersebut.


"Ayo kita kesana" ajak Mama Zion sambil memegang tangan Sharmila dan keduanya melangkah menuju kearah Papa Zion dan juga Tuan besar Brown.


"Pa" panggil Mama Zion kepada sang ayah mertuanya.


"Lihat siapa ini" ucap Mama Zion sambil menarik pelan Sharmila agar ia lebih dekat lagi kearah keduanya.


"Halo Kek, aku Sharmila" ucap Sharmila dengan terseyum manis menatap tuan besar Brown.


"Sharmila anak tunggal Barata?" tanya Tuan besar Brown yang memastikan bahwa tebakkannya adalah benar.


"Benar Kek" ucap Sharmila dengan senyum manis.


"Ternyata kamu semakin hari semakin cantik saja" puji Tuan besar Brown dan disambut senyum manis oleh Sharmila.


"Aku dengar, kamu sekarang yang menjadi CEO diperusahaan Papa kamu ya?" tanya Tuan besar Brown.


"Iya Kek" jawab pelan Sharmila.

__ADS_1


"Ternyata kamu tidak kalah hebatnya dengan orang tua kamu itu" ucap Tuan besar Brown dengan bangga.


"Kakek bisa saja" ucap Sharmila yang tersipu malu mendengar pujian tuan besar Brown.


"Cucu dan calon cucu menantuku belum datang juga?" tanya tuan besar Brown kepada Papa Zion.


"Mereka masih bersiap-siap Pa" jawab Papa Zion dengan apa adanya.


"Pa, lihatlah Sharmila ia sangat cantik bukan? Dan aku yakin jika Sharmila ini lebih cocok untuk Zion" ucap Mama Zion sambil tersenyum manis kepada Sharmila.


Sedangkan Sharmila hanya menunduk malu walaupun dalam hatinya bersorak saat mendengar ucapan Mama Zion.


Mendengar hal tersebut Tuan besar Brown menatap tidak suka kepada istri anaknya itu dan hal itu disadari cepat oleh Papa Zion.


"Ma!" tegur Papa Zion kepada sang istri saat melihat Papanya menatap tidak suka kepada sang istri.


"Apasih!" ucap Mama Zion dengan kesal.


"Sial!. Tidak bisa dibiarkan, ini. Tua bangka ini sepertinya menyukai wanita kampungan itu" ucap kesal dalam hati Sharmila yang mulai menyimpulkan tentang pembicaraan saat ini.


Walaupun dalam hati ia mengutuk Berliana berbagai macam umpatan, Sharmila tetap memasang senyum manisnya kepada keluarga Zion.


..........................


Di rumah pribadi milik Zion, Berliana tengah bersiap-siap. Bahkan dirinya sedikit memoleskan bedak dan juga alat kecantikan untuk menunjang penampilannya.


Walaupun ia memakai alat mekup dengan tipis-tipis saja, akan tetapi hasilnya terlihat luar biasa.


Merasa penampilannya sudah cukup Berliana berjalan menuju salah satu pintu lemari pakaian.


Berliana mengeluarkan sebuah jas berwarna hitam dan tentunya harganya sangat mahal bagi kalangan bawah.


Berlina memandang jas itu dengan senyum tipis sambil membayangkan jika Zion yang memakai jas tersebut.


Berliana membawa jas beserta gantungannya keluar kamarnya dan melangkah menuju kamar Zion yang tidak jauh dari kamarnya.


Sampai didepan kamar Zion, Berliana mengetuk tiga kali pintu kamar Zion.


Mendengar pintu kamarnya diketuk, Zion langsung bersuara cukup tinggi untuk membiarkan yang mengetuk untuk masuk.


"Masuk!" seru Zion sambil mengancingkan kemeja putih yang akan ia kenakan.


Berliana membuka pintu dan ia melihat punggung Zion.


"Ada apa?" tanya Zion tanpa tahu siapa yang masuk.


"Apa aku mengganggu mu?" tanya Berliana kepada Zion yang sedang mengkancing dibagian pergelangan kemeja putihnya.


Mendengar suara itu, membuat Zion berbalik badan dan menatap Berliana.


Pandangan mata Zion menatap datar Berliana, akan tetapi sebenarnya ia mengagumi Berliana sesaat.


Dengan cepat ia menaikan alisnya sebagai jawaban ada apa kesini?.

__ADS_1


"Izinkan aku membantumu" ucap Berliana yang sudah berada didepan Zion.


Dengan tatapan penuh selidik, Zion berikan kepada Berliana yang sudah berada didepannya.


"Terserah!" ucap malas Zion pada akhirnya.


Mendengar hal itu, Berliana memberikan senyum tulus dan ia langsung meletakkan jas hitam yang ia bawa sedari tadi.


"Menunduklah sedikit" ucap Berliana saat akan mengkancing kemeja bagian depan.


Zion langsung menuruti Berliana. Walaupun tinggi Berliana tidak terlalu jauh dari Zion, tapi ia merasa jika Zion harus sedikit menunduk agar ia bisa merapikan baju putih itu di bagian kerahnya.


Dengan cepat Berliana mengkancing kemaja putih itu, dan selesai.


"Pakai dasi yang ini?" tanya Berliana sambil mengangkat dasi yang sudah berada diatas tempat tidur.


Berliana memasangkan dasi dengan baik dan juga rapih.


"Dasi siapa yang pernah kau pakaikan?" tanya Zion yang memperhatikan wajah Berliana.


"Hanya saudara ku dan teman ku" jawab Berliana singkat.


"Selesai" gumam Berliana sambil tersenyum manis.


"Pakailah jas ini" ucap Berliana sambil memegang jas yang ia bawak.


Zion hanya menurut saja, walaupun ia tahu jas itu di pegang oleh Berliana saat ia masuk kedalam kamar.


"Sangat tampan" puji Berliana saat selesai memasangkan jas kebadan Zion.


Melihat senyum manis Berliana yang tidak luntur membuat Zion menatap malas kearah Berliana.


"Aku tau!" balas ketus Zion dan langsung berlalu dari hadapan Berliana menuju laci yang berisikan jam-jam mahal miliknya.


"Berangkat bersama?" tanya Berliana yang sibuk memperhatikan Zion dari samping.


"Mimpi!" seru Zion dan itu tandanya bahwa Zion menolak ajakan untuk berangkat bersama.


"Apa aku tidak ada kesempatan?" tanya Berliana setelah keterdiamnannya.


Mendengar hal itu, membuat Zion menatap lekad kedua bopa mata Berliana.


"Kamu pasti tahu jawabannya" ucap Zion dengan acuh.


Senyum manis itu tetap Berliana berikan kepada Zion, hanya saja jika orang yang teliti maka senyum itu bukan senyum manis. Melainkan senyum getir yang dipaksakan tetap menampilkan senyum manis.


"Aku paham!" balas Berliana yang masih tersenyum.


Zion menatap Berliana dengan kening mengkerut, karena Berliana masih terlihat tersenyum dimatanya.


Berliana pergi berlalu dari dalam kamar Zion dan menuju lantai dasar.


Zion hanya memandang tubuh Berliana yang secara perlahan tidak terlihat lagi dari pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2