Berliana

Berliana
58. Rasa Yang Meresahkan


__ADS_3

Acara masih berlanjut dan para tamu undangan semakin banyak yang mulai berdatangan.


Acara inti yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sekarang semua tamu undangan fokus menatap kearah depan dimana Tuan besar Brown, Papa Zion dan juga Zion sedang berada di atas panggung untuk memberikan kata sambutan untuk para tamu undangan.


Saat ini giliran Zion yang memberikan sambutan kepada tamu undangan yang sudah hadir untuk memenuhi undangan mereka.


Sebagai seorang CEO tentunya ia sangat berwibawah berada disana.


"Selamat semuanya!. Terima kasih karena kalian sudah meluangkan waktu untuk dapat hadir dalam acara pada hari ini" ucap Zion dengan suara tegas.


"Saya sebagai CEO mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh karyawan yang terlibat dalam kesuksesan perusahaan Brown. Tentunya tanpa kalian Brown Crop pastinya tidak dapat berada di atas puncak seperti pada saat ini" ucap Zion kembali dan mendapat banyak tepukkan tangan dari para tamu undangan maupun dari karyawan Perusahaan Brown.


Serangkaian kata yang terucap dari bibir Zion dengan nada penuh wibawah. Akhirnya acara ulang tahun perusahaan Brown sudah memasuki acara puncak.


Hal tersebut menandakan dengan adanya peniupan lilin pada kue yang dengan tinggi hampir satu meter.


Kue tersebut di potong kecil-kecil agar para tamu undangan dapat merasakan sebagai bentuk rasa syukur.


Zion memberikan satu suapan pertama kepada Tuan besar Brown, sekaligus direktur perusahaan Brown.


"Terima kasih cucuku" ucap tuan besar Brown, setelah menerima suapan dari cucu tertuanya.


"Semoga perusahaan tetap berada di puncak Nak" ucap Papa Zion yang menerima suapan kedua.


"Anak Mama memang hebat" ucap Mama Zion dengan raut wajah bahagia.


Sedangkan Zion hanya menaggapi senyum kecil saja.


"Selamat Zion" ucap Sharmila yang ikut berada disana. Karena ia sedari tadi menempel kepada Mama Zion.


Dan tentunya disambut baik oleh Mama Zion.


"Sayang, berikan juga kuenya kepada Sharmila" ucap Mama Zion tanpa memperdulikan sekitar.


Dengan raut wajah datar serta menatap malas Zion dengan terpaksa menyuapi Sharmila.


Jika saja ini bukan ditempat banyak orang, Zion tidak mau melakukan hal tersebut.


"Berita sampah akan segerah terbit!" ucap Zion dalam hati dengan rasa kesal.


"Terima kasih" ucap Sharmila dengan senyum manis.


Melihat tingkah keduanya, banyak tamu undangan membicarakan keduanya jika keduanya sangat cocok.


Papa Zion hanya menatap acuh tak acuh kepada keduanya dan juga ia menulikan telinganya saat mendengar gosip keduanya.

__ADS_1


Tuan besar Brown menatap tidak suka kepada Mama Zion dan selanjutnya tatapannya beralih kepada Zion dan juga Sharmila.


Tuan besar Brown mulai mengedarkan matanya dan ia tengah melihat posisi Berliana saat ini, dan ia menemukan dimana Berliana sedang berdiri dengan gelas yang berada di tangan kanannya yang tidak jauh dari mereka.


"Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Marcello yang sedari tadi memperhatikan Berliana yang memandang serius kedepan.


Berliana melihat kearah samping atau kearah Marcello yang sedang menatap dirinya.


"Entahlah" ucap Berliana dan langsung meletakkan gelas yang ia pegang kesalah satu nampan pelayan yang memberikan meniman kepada para tamu undangan.


"Bersabarlah, aku yakin Kakak ku pasti akan menyukai kamu" ucap Marcello dengan tulus.


"Semoga saja" gumam Berliana.


Marcello sudah meninggalkan Berliana, ia menuju ketempat temannya, dimana orang tuanya adalah salah satu klien perusahaan keluarga Brown.


"Siapa dia?" tanya teman Marcello.


"Calon Kakak ipar" ucap Marcelli sambil duduk disebelah temannya.


"Calon Kakak ipar? Terus yang disana siapa?" tanya teman Marcello yang menunjuk kearah Sharmila yang sedang berdiri dekat Zion, Kakaknya Marcello.


"Biasa, pengagum" ucap acuh Marcello.


"Sayang sekali, jika ia masih sendiri. Aku akan maju untuk mendapatkannya" ucap Teman Marcello.


"Tidak ada larangan menikah sambil kuliah" ucap Teman Marcello.


"Kau ini! Ingat, dia itu sudah punya tunangan dan itu Kakak ku" ucap Marcello dengan raut wajah tegas.


"Santai, aku hanya bercanda saja" ucap teman Marcello yang merasa Marcello menatap tajam dirinya.


"Awas kau ya, kalau sampai kau berharap sama calon kakak ipar ku" ucap Marcello dengan tatapan datar.


Karna Marcello akan selalu mendukung jika itu yang terbaik untuk Zion, apalagi ia mengetahui jika sang Kakak pertama dan keduanya menyukai wanita yang sama.


............................


Kembali kepada Zion yang sedang mencari-cari seseorang dan orang itu adalah Berliana.


Entahlah, ia merasa seperti orang yang sedang ketahuan selingkuh saja saat ini. Ia juga merasa bahwa ia seperti harus menjelaskan bahwa ia dan juga Sharmila tidak ada memiliki hubungan apa-apa yang dibicarakan oleh orang disekitarnya.


Saat ini pandangan keduanya bertemu, dan Berliana memutuskan tatapan keduanya saat ada seseorang yang menepuk pundaknya.


"Ya" ucap Berliana kepada seorang lelaki yang mendekat kearahnya.

__ADS_1


"Anda sendirian saja Nona?" tanya lelaki tampan itu dengan raut wajah yang mempesona.


"Seperti yang kau lihat" ucap Berliana dengan tersenyum tipis sebagai bentuk keramahannya.


"Kalau begitu dengan senang hati saya akan menemani anda Nona" ucap lelaki tampan itu dengan mencium singkat punggung tangan Berliana.


Jangan ditanya bagaiman Zion melihat kedua orang yang berbeda jenis kelamin itu. Rasa tidak sukanya seolah-olah menjalar disekujur tubuhnya. Bahkan kedua tangannya mengepal dengan erat saat melihat interaksi keduanya.


"Tidak tahu malu!" cibir Zion dalam hati.


Sungguh ia merasa tatapan matanya merasa panas memandangi keduanya.


Tidak mau melihat kedekatan keduanya, Zion mulai mendantangi salah satu rekan bisnisnya lagi.


"Mau kemana?" tanya Sharmila yang melihat Zion akan melangkah meninggalkan dirinya.


"Bukan urusanmu!" ucap Zion dengan pelan dan penuh penekanan. Kali ia merasa bahwa pikiran dan juga hatinya sedang tidak sejalan.


Zion meninggalkan Sharmila yang masih berdiri disana sambil memandangi punggung Zion yang semakin menjauh darinya.


"*Aku akan membuatmu bertekuk lutut dihadapan ku" ucap Sharmila dalam hati dengan penuh tekad.


"Lihat saja nanti, jangan panggil aku Sharmila Barata jika tidak bisa meluluhkan hatimu yang beku itu" ucap Sharmila kembali sebelum melangkah menuju kearah kedua orang tuanya*.


"Ma, Pa" ucap Sharmila yang sudah berada didekat kedua orang tuanya.


"Bagaimana? Apa kamu sudah bisa mendapatkan hati Zion?" tanya Mama Sharmila.


"Belum" ucap lesu Sharmila.


"Kamu harus lebih berusaha lagi, bayangkan jika ia bisa kamu miliki. Bukan hanya orangnya tapi kekuasaan dan juga harta akan kamu dapatkan" ucap Papa Sharmila dengan suara tegas.


"Aku juga sedang berusaha Pa" ucap Sharmila dengan nada frustasi.


Selama ini ia selalu berusaha untuk mendekati Zion agar Zion menyukai dirinya. Namun hal itu hanya dianggap angin lalu saja bagi Zion.


"Kamu harus bertindak nekad lagi" ucap Mama Zion.


"Caranya?" tanya Sharmila dengan raut wajah serius.


"Jika tidak bisa dengan cara yang baik, lakukan dengan cara yang tidak biasa" ucap Papa Sharmila.


Seakan-akan mendapatkan pencerahan, Sharmila langsung memikirkan cara selanjutnya untuk mendapatkan Zion. Walaupun dengan cara kotor sekalipun.


"Akan aku buat ia menjadi milikku secepatnya" ucap Sharmila dengan tersenyum miring.

__ADS_1


"Bagus" ucap Papa Sharmila dengan bangga, karena anaknya cepat mengerti apa yang ia maksud.


__ADS_2