Berliana

Berliana
52. Jebakkan!


__ADS_3

Di sore harinya Berliana masih berada di rumah yang cukup mewah tersebut. Sungguh perasaan bahagianya tidak dapat ia sembunyikan saat ini.


"Hari sudah menunjukkan pukul 6 sore dan aku sangat terpaksa meninggalkan kalian" ucap Berliana dengan rasa sedih yang terpancar di kedua matanya.


"Kami sangat mengerti Nona dan Nona jangan khawatir. Aku dan kami semua akan tetap menjaganya!" ucap tulus wanita paruh baya itu dengan lembut.


Karena sejak tadi mereka selalu bersama, mulai dari sarapan, makan siang sampai mereka tidur diranjang yang sama sekalipun.


Bukan wanita paruh baya itu yang mau, hanya saja Berliana kali ini bersikap overprotektif kepada wanita tersebut.


"Tapi aku ingin menginap disini!" ucap Berliana dengan raut wajah yang tidak mau meninggalkan rumah tersebut.


"Datang saja besok lagi Nona" ucap kembali wanita itu yang memberikan solusi. Karena ia sangat paham bagaimana posisi Nonanya saat ini yang sudah tinggal di rumah pribadi milik Zion.


"Baiklah kalau begitu" ucap Berliana pada akhirnya yang mau tidak mau ia harus kembali kerumah pribadi milik Zion untuk menjalankan misi dalam menaklukkan hati Zion yang cukup dalam tergores nama wanita lain yaitu Luna yang tidak lain adalah adik iparnya sendiri.


Mobil yang dikendarai oleh Berliana sudah meninggalkan rumah tersebut dan saat ini ia sedang menuju kerumah pribadi milik Zion dengan kecepatan mobil yang sedang.


Mendengar ponselnya berbunyi, Berliana melirik kearah tas gendong yang ada di atas tempat duduk tepat disebelah ia sedang mengemudikan mobil.


Dengan tangan kiri Berliana membuka kancing tasnya dan mulai meraba kedalam tas miliknya. Setelah mendapatkan ponsel yang sudah berada digenggamannya, Berliana langsung melihat, ternyata ada nomor baru yang sedang melakukan panggilan kedalam nomornya.


Tanpa ragu, Berliana mengangkat panggilan telpon tersebut dan membesarkan volume panggilannya.


"Halo" ucap suara di luar sana saat panggilan sudah terhubung.


"Siapa?" tanya Berliana yang terdengar tidak mau basa-basi.


"Ini aku, Arabela. Bisakah kau menolong ku?" ucap Arabela dengan suara sedikit memelas, padahal itu hanyalah tipuan semata.


"Tumben sekali" ucap Berliana dalam hatinya yang merasa bingung jika benar-benar ini adalah Arabela yang mau menghubungi dirinya.


"Ada apa?" tanya Berliana dengan suara sedikit malas.


Karena ia merasa bahwa mereka tidak sedekat itu pikirnya.


"Tolong aku" ucap Arabela dengan suara bergetar dan terdengar serak. Seperti ingin menangis.


"Katakan saja" ucap Berliana dengan malas.


"Ak-aku baru saja dijebak oleh seseorang di salah-satu kamar hotel yaitu hotel X. Dan aku sangat takut untuk keluar dari kamar ini, karena aku sudah memukul lelaki itu dan ia sedang tergeletak tidak berdaya dilantai" ucap Arabela dengan suara bergetar bahkan terdengar ada sedikit tangisan.

__ADS_1


"Aku akan kesana" ucap Berliana tanpa rasa curiga sekalipun.


"Terima kasih dan berhati-hatilah" ucap Arabela dan sambungan telepon langsung terputus.


Berliana langsung menuju hotel X yang diucapkan oleh Arabela melalui sambungan telepon barusan.


Sampai di hotel X, Berliana langsung mencoba menghubungi Arabela melalui nomor yang sama saat dihubungi Arabela.


Setelah mengetahui kamar nomor yang ditempati oleh Arabela, Berliana segerah menuju kelantai atas menggunakan lift.


Sampai di lantai tersebut, dan pintu lift juga terbuka lebar, dengan langkah pasti Berliana keluar dalam lift dan secara bersamaan ada seorang pria paruh baya yang akan masuk kedalam lift.


"Maaf saya tidak sengaja Nona" ucap lelaki paruh baya itu yang terlihat merasa bersalah karena menabrak pundak Berliana dengan cukup kasar.


"Tidak masalah dan saya juga minta maaf" ucap tulus Berliana.


Tanpa ragu, tangan lelaki itu mengusap pundak Berliana. Mendapat perlakuan itu, Berliana dengan cepat menepis tangan lelaki itu.


"Tidak perlu jual mahal seperti itu Nona" ucap lelaki paruh baya itu dengan seringaian mesumnya.


"Menjauhlah!" desis Berliana dengan tatapan tajamnya.


"Ayolah Nona, saya bisa membelikan apa saja yang anda mau. Asalkan anda mau menghabiskan satu malam dengan saya" ucap lelaki paruh baya itu yang kembali mencoba menggoda Berliana.


"Ayolah Nona!" ucap lelaki paruh baya itu dab mencoba memojokkan tubuh Berliana ketembok.


Berliana hanya mundur dua langkah saat lelaki didepannya maju satu langkah.


Namun sayang, kejadian itu ada seseorang yang memanfaatkan situasi tersebut dengan cara mengambil foto keduanya. Dimana terlihat lelaki itu sedang mengukung tubuh Berliana.


Karena posisi lelaki tersebut membelakangi kamera orang yang sengaja mengintai Berliana.


"Menjauhlah!" ucap Berliana yang mulai jengah dengan situasi tersebut.


"Hanya satu malam saja Nona" desak lelaki paruh baya itu kembali, agar Berliana tergiur dengan tawarannya.


Dengan gerakan cepat, Berliana mendekati lelaki itu dan,


"Berbicara lagi, maka pisau ini akan menebus leher" ancam Berliana yang ternyata sudah menempelkan pisau lipat keleher pria tersebut.


Lelaki itu terkejut bukan main, ia tidak pernah menyangka jika wanita didepannya ini sungguh berani mengancamnya dengan pisau yang sudah menempel sempurna dilehernya.

__ADS_1


Pisau yang menempel sempurna di kulit memberikan sensasi dingin, dan hal itu semakin membuat lelaki itu dengan susah menelan salivanya.


"Nona, pisau itu sangat berbahaya" ucap lelaki itu dengab raut wajah cemas bahkan tubuhnya seperti mambatu saat ini.


"Aku tau!. Apa kau ingin merasakan bagaimana rasa, seberapa bahayanya pisau ini. Jika sudah menggores kulit?" tanya Berliana dengan tatapan sinis.


Dengan cepat lelaki itu menggeleng kaku, sungguh ucapan Berliana membuat ia tidak bisa berkutik lagi.


"Jika tidak mau menjauhlah dari ku!" ucap Berliana dengan menatap dingin kearah lelaki tersebut.


"Ba-baik Nona" ucap lelaki itu dengan wajah pucat, dan dengan cepat ia pergi dari hadapan Berliana dan menuju kepintu tangga darurat.


Karena ia tidak ingin berurusan dengan wanita kejam yang dapat membuat ia kehilangan nyawanya yang sangat berharga.


"Pengganggu!" gerutu Berliana dan melanjutkan langkahnya menuju kamar yang ia tujukan.


Sampai didepan kamar dengan nomor yang ia tuju, Berliana mulai mengetuk pintu kamar dan membunyikan bel pintu.


Ternyata pintu itu tidak terkunci dan pintu mulai terbuka lebar secara otomatis.


Berliana mulai masuk kedalam dan mulai meneliti kesegala penjuru kamar dari pintu kamar hotel.


Akan tetapi ada seorang lelaki yang sedang melangkah pelan menuju kearah Berliana dan dengan cepat lelaki itu memeluk Berliana dari belakang.


Lagi dan lagi seseorang kembali berhasil mengambil gambar Berliana yang terlihat sedang berpelukan yang sangat mesrah di ambang pintu hotel.


Mendapat pelukan tiba-tiba, bahkan indera penciumannya mencium bau rokok yang sangat kental.


Dengan cepat Berliana menghempaskan tangan lelaki tersebut yang melingkar sempurna di perutnya. Tanpa pikir panjang, Berliana langsung membanting tubuh lelaki itu dengan keras kelantai.


Tanpa ada rasa kasihan, Berliana menendang kepala lelaki itu yang berada didekat kaki kanannya.


"Siapa kau?" tanya Berliana sambil menarik rambut lelaki itu secara kasar agar ia bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas.


"Ampun-ampun, aku hanya orang suruhan" ucap lelaki itu yang meminta belas kasihan kepada Berliana.


"Siapa?" tanya Berliana.


"Aku tidak tau, yang aku tau di adalah seorang wanita muda" ucao cepat lelaki itu yang merasa takut akan tatapan imitidasi yang diberikan oleh Berliana.


"Pergilah!" usir Berliana yang sudah menduga siapa dalang dibalik ini semua.

__ADS_1


"Terima kasih Nona dan maaf atas perlakuan saya" ucap lelaki itu yang mencoba bersujud dihadapan Berliana.


"Pergilah dan jangan perlihatkan lagi wajah mu itu dihadapan ku!" ucap Berliana dan minggalakn lelaki tersebut yang masih dalam keadaan bersujud.


__ADS_2