Berliana

Berliana
22. Cincin Yang Melingkar


__ADS_3

Keesokkan harinya! Berliana menjalani aktivitas seperti biasanya yaitu menempuh pendidikan di IS.


Saat ini dia sudah berada di lingkungan sekolah, tampaknya Berliana datang lebih awal dari biasanya!. Karena ia melihat disekelilingnya hanya terdapat beberapa siswa yang baru saja datang sama seperti dirinya!.


Sambil berjalan menuju lantai tiga, dimana lantai itulah tempat kelasnya berada.


Berjalan dengan santai, bahkan langkah kakinya cukup terdengar di sepanjang perjalanan.


Sampainya didalam kelas yang masih sepi!, Berliana duduk dengan tenang di bangku miliknya sambil memandang cincin yang berada di jari manisnya.


Awalnya Berliana mengetahui bahwa dirinya dijodohkan oleh kedua orang tua asuhnya. Dan tuan besar Brown juga pernah mendatangi dirinya untuk membicaran tentang rencana perjodohan itu.


Rencana perjodohan itu akan dibahas kembali pada saat Berliana sudah menyelesaikan pendidikan SMA.


Namun di percepat!, karena berita duka yang di alami oleh Berliana pada saat itu.


Beberapa tahun terakhir ini, Berliana mencari beberapa informasi tentang ketiga cucu tuan besar Brown.


Pada saat melihat Zion entah kenapa Berliana merasa tertarik dengan lelaki yang memiliki umur cukup jauh darinya!.


Untuk cucu kedua tuan besar Brown yaitu Lazarus, ia tidak memilih karena ia merasa tidak ada kecocokan di antara keduanya.


Lagi pula Lazarus sudah mempunyai kekasih yang cantik dan bahkan memiliki sifat yang lemah lembut.


Sedangkan cucu ketiga yaitu Marcello ia saat ini baru menempuh dunia perguruan tinggi. Bisa dikatakan bahwa keduanya hampir seumuran.


Masih dengan memandang bahkan sedikit memutar cincin yang berada dijarinya! Berliana menatap termenung kearah cincin itu.


"Law!. Aku sadar sekuat apapun bahkan sekencang apapun aku mengikat mu!. Jika kau tidak ditakdirkan untuk ku!, maka menyerah adalah kata terakhir yang harus siap aku hadapi!" gumam Berliana.


"Tapi sebelum itu, aku akan berusaha agar kamu membuka hatimu untuk ku, Law!" ucap Berliana lagi.


Puas dengan memandang arah cincin yang berada di jarinya. Berliana duduk bersandar dan menatap langit-langit ruang kelas miliknya.


Setelah itu dirinya memejamkan mata, dan masih dengan posisi yang sama.


.........................


Kelas yang awalnya sepi sekarang, satu persatu siswa datang dan langsung menuju tempat duduknya masing-masing.


Sakira yang baru tiba dan melihat Berliana masih dalam posis mendongak dengan mata terpejam.


"Apa ada masalah?" tanya Sakira dengan penasaran saat sudah berada didekat Berliana.


Mendengar suara Sakira Berliana mulai membuka matanya secara perlahan.


"Tidak ada!" ucap Berliana sambil menegakkan badannya.


Kini hubungan keduanya semakin akrab. dan Sakira tidak merasa canggung lagi jika berbicara dengan Berliana maupun temannya yang lainnya.


"Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu ceritalah! Siapa tau aku bisa membantu mencarikan solusi" ucap Sakira dengan tersenyum tipis.


"Tentu!" ucap Berliana yang menghargai simpati Sakira.

__ADS_1


"Apa kevin dan yang lainnya belum datang?" tanya Berliana yang melihat bangku Kevin dan kedua temannya masih kosong.


"Mungkin masih dalam perjalanan" jawab acuh Sakira.


Baru saja Sakira bersuara terdengar suara berisik didepan kelasnya.


Hal itu menandakan bahwa Kevin, Gio dan Tama baru saja sampai


Ketiga teman lelaki mereka itu sudah seperti pujangga saja! Yang selalu menebar pesona dan kata-kata manis kapada setia wanita yang mereka temui.


"Lihat!, Pacar-pacar kita sudah datang!" seru Kevin heboh.


"Mimpi!" sahut Sakira dengan ketus yang jengah melihat kelakuan ketiga lelaki yang mendekat kearah mereka.


Sedangkan Berliana hanya tersenyum melihat kelakuan ketiga temannya.


"Aduh bebeb Sakira jangan seperti itu!. Hancur rasanya hati Abang ini dek!" ucap Kevin dengab raut wajah dibuat sedih.


"Cih, menjijikkan!" ucap Sakira sambil memutar bola mata malasnya.


"Bebeb Sakira, jika kita sudah menyukai seseorang! Rasa jijik itu akan berganti dengan rasa nikmat" ucap Kevin sambil tertawa kecil.


Berliana, Tama dan Gio hanya tertawa kecil melihat kelakuan Kevin yang semakin menggoda Sakira.


Semenjak mereka akrab, Kevin yang biasanya di cap sebagai laki-laki penggoda!. Terus saja dia menggoda Sakira yang selalu bermuka masam jika Kevin sudah mulai mengeluarkan rayuan mautnya.


........................


Waktu istirahat yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba!.


Kini mereka tengah duduk santai di salah satu meja yang berada di kantin itu sambil menunggu pesanan mereka sampai.


Tidak berselang lama sekarang beberapa makanan secara bergantian mulai datang diatas meja mereka.


Makanan serta minuman yang sudah dipesan sekarang sudah berada di depan orang yang memesannya.


Tanpa menunggu lagi, mereka dengan lahap mulai menyuapkan makanan itu kedalam mulut mereka.


Sekarang mereka di kantin IS terkenal dengan kelompok banyak makan!. Hal itu di karena hanya kelompok mereka saja yang selalu memesan makanan yang melebihi porsi orang normal pada umumnya, yang hanya memesan paling banyak hanya dua menu saja.


"Wah, makanan disini emang paling top!" ucap Tama di sela-sela kunyahannya.


"Benar!" ucap mereka serentak yang terdengar tidak terlalu jelas.


Selesai dengan acara makannya, kini mereka tengah duduk santai sambil mengelus perut mereka yang terasa sangat kekenyangan.


"Sepertinya berat badan ku semakin naik!" ucap Kevin yang sedikit mencubit perutnya.


"Sepertinya!" timpal Tama.


"Dasar rakus!" seru Sakira yang jengah melihat kelakuan ketiga lelaki itu.


"Hei! Nona Sakira apa kau sedang tidak sadarkan diri?" tanya Kevin dengan nada sinis kepada Sakira yang seolah-olah bahwa dia makan sedikit padahal mereka hampir sama banyak makannya!.

__ADS_1


"Sepertinya dia mulai terkena penyakit amnesia" cibir Tama kepada Sakira.


"Lebih baik setelah pulang sekolah nanti! Kamu langsung kerumah sakit jiwa" timpal Gio yang ikut menyudutkan Sakira.


"Setuju!" ucap cepat Tama dan Kevin.


"Kaliann?!" seru Sakira dengan nada kesal sambil menatap tajam kepada ketiga lelaki itu.


"Kenapa? Kami tampan ya?!" ucap narsis Kevin sambil menyisir rambutnya kebelakang.


"Menjijikkan!" ucap malas Sakira yang melihat kelakuan Kevin.


Melihat perdebatan mereka membuat Berliana tersenyum tipis sambil menatap muka mereka secara bergantian.


"Wahh! Cincin kamu bagus sekali Berliana!" seru Tama yang tidak sengaja melihat cincin pertunangan Berliana dan Zion.


"Mana?!. Gila! bagus sekali pasti mahal kan?" tanya Sakira yang takjub melihat cincin pertunangan milik Berliana.


"Beli dimana?" tanya Sakira yang mulai menyukai desain cincin pertunangan milik Berliana.


"Cincin tunangan!" ucap santai Berliana sambil mengelus cincing yang melingkar di jari manisnya.


"Serius?!" ucap mereka serentak yang merasa tidak percaya.


"Sama siapa?" tanya Sakira dengan rasa penasaran cukup tinggi.


Sekarang mereka serentak memandang kearah Berliana untuk menunggu penjelasan dari Berliana.


"Zion Brown!" ucap Berliana dengan nada pelan.


Mendengar ucapan Berliana ketiga semakin menatap tidak percaya kearah Berliana.


"Gilak! Kau sangat beruntung Berliana!" seru Tama dengan wajah takjub.


"Kapan?" tanya Kevin.


"Kami di jodohkan!" seru Berliana yang mulai menatap wajah terkejut sekaligus takjub disekitarnya.


"Oleh karena itu, pertunangan ini disembunyikan" ucap Berlian dengan pelan.


"Semoga kamu bisa menemukan kebahagian yang luar biasa" doa Kevin yang mulai paham bagaiman perasaan Berliana saat ini.


"Ingatlah ada kami yang akan selalu disisi mu" ucap Sakira sambil mengelus bahu Berliana dengan pelan.


"Ingatlah masih ada Abang disini Dek!" ucap Kevin sambil membusungkan dadanya.


"Dasar buaya!" ucap kesal Sakira yang merasa Kevin merusak moment.


"Bukan buaya bebeb Sakira tapi calon pangeran mu!" ucap Kevin dengan tertawa kecil.


Saat ini di meja kantin Berliana dan yang lainnya mulai terlibat perbincangan yang tidak masuk akal.


Bahkan mereka sesekali tertawa cukup keras.

__ADS_1


__ADS_2