Berliana

Berliana
49. Rencana Tersembunyi


__ADS_3

Pagi harinya Berliana bersikap seperti biasanya dan seolah-olah semalam tidak terjadi apapun yang membuat dirinya merasa sakit hati.


Seperti biasa dan menjadi kebiasaan terbarunya, yaitu membuat sarapan untuk Zion serta bekal yang ia persiapkan. Walaupun selama ini Zion merasa terpaksa untuk memakan sarapan yang ia buat.


Selesai membuat sarapan, Berliana menuju kamarnya untuk bersiap berangkat kesekolah.


Dengan tas yang terpasang dengan sempurna di punggungnya, Berliana melangkah menuruni tangga dan menuju meja makan.


Sampai disana ia melihat Zion sedang sarapan yang sudah ia buat.


"Selamat pagi" sapa Berliana dengan tersenyum manis dan hal itu hanya mendapat lirikkan sekilas dari kedua mata Zion.


"Enakkan?" tanya Berliana disela kunyahannya.


Diam, Zion hanya fokus menghabiskan sarapannya dan menganggap Berliana tidak ada didekatnya saat ini.


"Bawaklah bekal ini" ucap Berliana yang melihat Zion selesai sarapan dan ingin meninggalkan meja makan.


"Jika kau tidak mau memakannya berikan kepada Sekretaris dan juga Asisten mu" ucap cepat Berliana saat melihat Zion menatap kotak makan yang ia berikan.


Dengan gerakan seperti terpaksa Zion mengambil kotak makan yang diberikan Berliana dan langsung pergi begitu saja tanpa mengucapakan satu kata patahpun untuk Berliana.


Berliana menatap kepergian Zion dengan senyuman, karena ia merasa cukup bahagia pagi ini bisa kembali sarapan bersama Zion dan hanya berdua saja.


Selesai dengan sarapan, Berliana pergi menuju garasi mobil dan mulai menghidupkan mesin mobil. Setelah itu ia berangkat menuju sekolahnya.


Sampai disekolah, Berliana memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Keluar dari dalam mobil ternyata bertepatan dengan Arabela yang baru saja menghentikan mobilnya.


Berliana membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan menuju kelasnya dan mengabaikan keberadaan Arabela saat itu tengah menatap tajam dirinya.


Sampai dikelas, Berliana duduk di kursi miliknya dengan tenang.


Jam pertama berjalan dengan baik setelah, wajah-wajah serius tergambar di wajah mereka begitu juga dengan Berliana.


Merasa ingin buang air kecil, akhir Berliana meminta izin kepada guru yang saat itu mengajar untuk pergi ke toilet sebentar.


Saat ini Berliana sudah bera didalam toilet dan sedang mencucu kedua tangannya setelah buang air kecil.


"Apa kau sangat merasa sangat bahagia menjadi bagian dari keluarga Brown?" tanya seseorang dari belakang Berliana.


Berliana melihat pemilik suara itu dari kaca besar yang ada didepannya.


"Atau kau sedang menggoda keluarga kaya lainnya?" ucap Arabela dengan nada sinis.


"Apa mau kamu?" tanya Berliana yang sudah membalikkan badannya dan menghadap Arabela yang sedang menatap tajam dirinya.

__ADS_1


"Hahahahah. Tentu saja aku ingin kehancuran mu" ucap Arabela dengan terkekeh sinis.


"Jangan mengganggu ku!" ucap Berliana dengan penuh penekanan.


"Kenapa? Kau takut!" tanya Arabela dengan nada mengejek.


Bukan takut, hanya Berliana sangat malas jika berurusan dengan masalah. Karena baginya cukup dulu saja dan tidak untuk sekarang.


Berliana langsung keluar dari dalam toilet tanpa menghiaraukan Arabela yang terus memprovokasih dirinya.


Saat akan menuju kelasnya, Berliana mendapat telepon jika Zion mengalami kecelakaan dan saat ini sedang berada di slah satu rumah sakit milik keluarga Brown.


Berliana bergegas masuk kedalam kelas dan langsung berpamitan kepada guru yang masih mengajar saat ini.


Raut wajah khawatir sangat terlihat di wajah Berliana dimana ia tergesah-gesah agar cepat sampai dirumah sakit.


Dengan kecepatan di atas rata-rata Berliana melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Zion diperiksa.


........................


Sampai dirumah sakit, Berliana bergegas menuju lantai dimana Zion dirawat sampai disana ia melihat Mama dan juga Papa Zion tengah menunggu didepan ruang rawat Zion.


"Mau apa kau kesini?" tanya Mama Zion dengan muka tidak suka melihat Berliana. Yang sedang berjalan kearah mereka.


"Lagi ditangani dokter" ucap Papa Zion.


Berliana duduk cukup jauh dari orang tua Zion, karena ia melihat tatapan tidak suka dari Mama Zion membuat dirinya kurang nyaman.


Menunggu selama 45 menit, seorang dokter dan juga dua orang perawat baru saja keluar dari ruangan Zion.


"Bagaimana keadaan putra ku?" tanya Papa Zion.


"Tuan muda baik-baik saja tuan, hanya saja kakinya terkena cedera ringan. Akibat terjepit kursi mobil" jelas dokter itu mengenai kondisi Zion.


Ketiganya menghembuskan nafas lega setelah mendengar penjelasan dokter tersebut.


Sang dokter melirik kearah Berliana dan seakan memberi kode agar Berliana menemui dirinya.


.......................


Saat ini Berliana sedang berada di ruangan dokter yang memeriksa Zion tadi.


"Apa semuanya kau sudah lakukan?" tanya Berliana yang seakan tidak mau berbasah-basih.


"Sudah Nona dan Tuan muda tidak akan mengetahuinya" ucap Dokyer itu dengan yakin.

__ADS_1


"Baguslah, aku harap kau menjaga rahasia ini kepada anggota keluarga yang lainnya" ucap Berliana dengan suara datar.


"Tenang saja Nona, semuanya sesuai dengan apa yang anda dan tuan besar perintahkan" ucap dokter itu dengan yakin.


Apa yang telah dokter itu lakukan kepada Zion, tentunya sudah disetujui oleh pihak keluarga Zion, yaitu tuan besar Brown yang pastinya.


"Kapan akan dilakukan tahap selanjutnya?" tanya Berliana yang terkesan tidak sabar.


"Jika bisa secepatnya Nona, lebih cepat lebih baik" ucap dokter itu.


"Baiklah kalau begitu, besok aku ingin proses itu dilakukan secepat mungkin" ucap Berliana dengan raut wajah serius.


"Kami siap Nona" ucap dokter itu dengan tegas.


Berliana sudah keluar dari ruangan dokter tersebut diluar ruangan Berliana mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Jonathan.


"Lakukan apa yang sudah disepakati" ucap Berliana melalui sambungan telepon.


"Baik Nona dan dia juga sudah siap menanggung semua resiko nantinya" ucap Jonathan yang sedang bersama Sasa untuk mengerjakan pekerjaan mereka.


"Baguslah dan aku harap hasilnya tidak mengecewakan" ucap Berliana dengan nada penuh harap serta sedikit cemas.


"Kami juga harap semuanya sesuai dengan apa yang Nona inginkan" ucap Jonathan dengan yakin.


Sambungan telepon dengan Jonathan sudah terputus dan Berliana kembali menelpon menggunakan kode nomor luar negeri.


"Kakek" seru Berliana yang ternyata menelpon tuan besar Brown.


"Bagaimana dengan Zion?" tanya tuan besar Brow dengan suara sedikit cemas.


"Dia baik-baik saja Kek" ucap Berliana.


"Syukurlah!. Bagaimana?" tanya tuan besar Brown.


"Semuanya berjalan lancar Kek dan besok akan dilakukan proses selanjutnya" ucap Berliana.


"Kakek yakin apa yang sudah kau putuskan pastinya kau sudah memikirkannya" ucap tuan besar Brown.


"Iya Kek, terima kasih banyak Kek dan Berliana tidak tau lagi harus mengucapkan apalagi" ucap Berliana dengan suara sedikit bergetar.


"Tidak masalah, dan Kakek harap hubungan kalian baik-baik saja untuk kedepannya" ucap tulus tuan besar Brown.


"Apalagi kau sudah mengambil langkah tersebut dan aku harap kau seceapatnya bisa meluluhkan hati Zion" ucap kembali tuan besar Brow dengan penuh harap.


"Aku juga harapnya begitu Kek dan jika tidak. Setidaknya masih ada kenangan lainnya" ucap Berliana dengan pandangan sendunya.

__ADS_1


__ADS_2