
Sudah satu bulan lamanya saat Zion masuk rumah sakit. Kaki Zion yang awalnya terasa sakit saat akan melangkah dan saat ini ia bisa beraktivitas seperti biasanya!.
Pagi ini, Zion tengah sarapan yang di buat oleh Berliana dan Berliana tidak ikut sarapan pagi karena ia ada urusan yang lebih penting.
"Kemana dia?" tanya Zion kepada Bibi Hesti yang sedang meletakkan makanan keatas piringnya.
"Nona Berliana sudah berangkat Tuan" jawab Bibi Hesti dengan apa adanya.
"Kemana?" tanya Zion dengan kening mengkerut.
"Saya juga tidak tahu Tuan, pagi-pagi Nona Berliana mendapatkan telepon dan ia langsung bergegas pergi" jelas Bibi Hesti dengan jujur.
"Kembali bekerja!" usir Zion dan mulai memakan sarapan paginya.
"Kenapa juga aku mencari keberadaannya? Apa peduliku!" ucap Zion dalam hati yang merutuki bibirnya secara spontan menanyakan ketidak hadiran Berliana pagi ini.
Selesai sarapan Zion langsung meninggalkan meja makan dan melangkah menuju lantai dua dimana kamar dan juga ruang kerjanya berada.
Sampai didalam kamarnya, Zion langsung menuju tempat tidurnya dan langsung mengambil jas dan juga tas kerja miliknya.
Sampai di teras rumah, Samuel yaitu asisten dan juga sahabatnya sudah menunggu kedatangan dirinya yang terlihat dimana Samuel sudah berdiri tegas di samping pintu mobil bagian belakang.
Mobil yang dikendarai oleh Samuel dengan cepat membelah jalan menuju Brow Crop.
Sedangkan tempat lain, disalah satu rumah yang cukup mewah. Kabar bahagia memenuhi aura rumah tersebut dan di sambut baik oleh sang penjaga maupun penghuni rumah.
"Apa dia rewel?" tanya Berliana kepada seorang wanita yang sudah cukup tua itu.
"Sejauh ini masih wajar-wajar saja Nona" ucap wanita paruh baya itu dengan senyum manis.
"Maaf, aku tau ini sudah tidak pantas kau alami" ucap Berliana dengan wajah sendu.
"Tidak apa-apa Nona, saya bahagia karena saya bisa memberikan kebahagiaan untuk kalian" ucap bijak wanita paruh baya itu.
"Dengan adanya dia, akhirnya aku bisa merasakannya walaupun di umur ku yang dangat tidak pantas ini. Terima kasih, Nona sudah memberikan aku kesempatan untuk menikmatinya " ucap wanita paruh baya itu sedang haru.
"Aku jauh berterima kasih kepadamu!" ucap tulus Berliana sambil memeluk wanita itu dengan perasaan haru.
"Dasar kalian ini!" desis Jonathan yang baru saja masuk dan mendekati keduanya di ruang keluarga.
"Apa kau sudah membeli semuanya?" tanya wanita paruh baya itu dengan mata berbinar.
"Tentu saja, jika tidak mana mungkin aku akan kembali kesini sebelum aku mendapatkannya" ucap Jonthan yang berpura-pura kesal.
"Jadi kau tidak senang dan tidak ikhlas?" tanya wanita itu dengan mata menyipit.
"Bukan begitu" ucap Jonthan dengan senyum terpaksa saat melihat wanita itu menatap tajam dirinya.
"Sudahlah" ucap Berliana yang tidak mendengar keributan.
__ADS_1
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Berliana kepada Jonthan.
"Semuanya aman terkendali Non, apalagi Sasa juga berada disamping saya. Jadinya saya tidak terlalu sibuk" ucap Jonthan yang duduk didepan Berliana.
"Itu maunya kamu biar bisa bersama dengan Sasa" ucap Berliana yang menatap jengah Jonathan.
"Selagi ada waktu bisa bersama kenapa tidak Nona? Jika tidak punya waktu untuk bersama ya, diusahakan Nona" ucap Jonthan tanpa rasa bersalah.
"Dasar kamu ini" timpal wanita paruh baya itu sambil memukul pelan kepala Jonthan.
"Sakit" rengek Jonthan yang dengan cepat meletakkan kepalanya diatas pangkuan Berliana tanpa ragu.
Jika dalam keadaan santai maka, tidak ada pembatas pembicaraan maupun perlakuan untuk orang terdekat Berliana. Apalagi mereka sudah lama ikut dan mengabdi dengan Berliana.
"Menjauh!" ucap wanita paruh baya itu dengan suara tegas sambil menggeser kasar kepala Jonathan yang ada di atas lutut Berliana.
"Pelit sekali!" ucap Jonatham dengan tatapan kesal.
"Kau melototi ku?" tanya wanita itu dengan raut wajah garang.
"Lihat dia melototi ku Nona" adunya kepada Berliana dan memeluk Berliana dari samping.
"Sudah-sudah" ucap Berliana dengan lembut.
......................
Di tempat lain yaitu tepat di ruangan Zion, saat ini Zion tengah memeriksa berkas laporan mingguan yang ditemani oleh Samuel sang asistennya.
"Permisi tuan-tuan" ucap Sekretris Vera yang berada di pintu ruangan Zion yang terbuka sebelah.
"Ada apa?" tanya Zion tanpa melihat lawan bicaranya.
"Ada Nona Sharmila di bawah, dia ingin menemui tuan. Katanya dia membawakan makan siang untuk Tuan" ucap sekretaris Vera.
Zion sempat menghentikan gerakan tangan serta matanya dalam meneliti laporan tersebut.
"Biarkam dia naik keatas" ucap Zion yang pada akhirnya mengizinkan Sharmila untuk datang keruangannya.
"Apa kau yakin?" tanya Samuel dengan tatapan serius dan ia melupakan bahwa saat ini mereka berada di lingkungan kantor.
"Kenapa memangnya?" tanya Zion dengan kening mengkerut.
"Kau membiarkan Nona muda dari keluarga Barata itu untuk mendekatimu?" tanya Samuel dengan tatapan menyipit.
"Kenapa memangnya?" tanya Zion kembali tanpa mau menjawab pertanyaan dari asisten sekaligus sahabat masa kecilnya itu.
Melihat sikap acuh Zion, membuat Samuel menghembuskan nafas kasar dan mulai menatap serius kedalam bola mata Zion.
"Ingat Zion, kau sudah mempunyai tunangan dan itu adalah Nona Berliana" ucap Samuel dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Jika kau tidak ingin dia berada didekatmu, maka ucapkan saja sebenarnya" ucap kembali Samuel kepada Zion.
"Aku sudah membicarakan itu dengannya dan dia meminta waktu agar aku bisa membuka hatiku" ucap Zion sambil melipatkan kedua tangannya didepan dada.
"Kau memberikan dia kesempatan?" tanya Samuel.
"Aku hanya menjawab TERSERAH" ucap acuh Zion.
"Aku harap tidak ada penyelasan diakhir jika dia meninggalkan kamu" ucap Samuel dengan tatapan tajamnya.
"Kau menyukainya?" tanya Zion dengan tertawa kecil.
"Tidak! Aku hanya tidak suka dengan sikap orang yang seperti kamu ini" bantah tegas Samuel dan langsung meninggalakn Zion yang menatap punggung sahabat masa kecilnya yang sudah menghilang dari pandangannya.
Selepas kepergian Samuel, Sharmila masuk kedalam ruangan Zion dengan senyum termanis yang ia punya.
"Apa aku mengganggu mu?" tanya Sharmila dengan suara cukup lembut dan hal itu membuat lamunan Zion terputus.
"Ada perlu apa?" tanya Zion dan beranjak dari sofa menuju kursi kerjanya.
"Aku mau mengajak makan siang bersama" ucap Sharmila dengan raut wajah sedikit ronah malu.
"Ini aku sudah bawakkan makan siang spesial untuk mu" ucap Sharmila dan meletakkan rantang makan siang yang ia buat khusus untuk Zion.
Dengan sedikit menggeserkan berkas dan juga laporan di atas meja, Sharmila mulai menata makanan yang ia bawak untuk Zion keatas meja didekat sofa tersebut.
"Makan siang dahulu nanti baru lanjut kerja lagi" ucap Sharmila yang melihat Zion menatap fokus kelayar komputer yang berada diujung meja kerjanya.
Zion menghentikam pekerjaannnya dan dengan langkah malas Zion mendekati Sharmila yang sedang tersenyum manis menatap dirinya.
"Ini, makanlah" ucap Sharmila yang dengan cepat melayani Zion seolah-olah bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
......................
Sedangkan kedua orang yang berbeda jenis kelamin yang berada di luar ruangan Zion, mulai memakan makan siang yang sudah di pesan oleh Sekretaris Vera.
"Siapa wanita tadi?" tanya Vera disela memakan makan siangnnya.
"Biasa pengagum Bos" jawab acuh Samuel yang fokus menatap makan siangnya.
"Terus bagaimana dengan Nona Berliana?" tanya Vera dengan rasa penasaran.
"Entahlah" ucap Samuel sambil mengangkat kedua bahunya keatas.
"Aku lebih suka Nona Berliana dari pada wanita tadi" ucap Vera.
"Selesaikan makan siang kamu dan lanjut bekerja lagi!" ucap Samuel yang selesai terlebih dahulu acara makan siangnya.
"Dasar!" gerutu Vera dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
Dengan cepat ia menghabiskan makan siangnya, karena masih banyak pekerjaan yang menunggu dirinya untuk dijenguk.