
Disore hari cuaca sedang tidak bersahabat, langit yang mendung dan awan yang mengeluarkan air hujan dan seketika jatuh kebumi.
Semakin lama semakin deras hujan yang turun membasahi bumi, orang-orang mulai belarian dan mulai menghindari tetesan hujan yang akan mengenai tubuh mereka.
Para pengendara sepeda motor mulai mencari tempat pemberhentian, para pengemudi mobil mulai melambatkan laju kendaraan mereka.
Bahkan ada juga beberapa mobil yang sengaja untuk menghentikan laju mobil mereka dan hal itu bertujuan untuk menghindari resiko kecelakaan.
Karena jalan yang licin dan digenangi oleh air, serta penglihatan yang cukup terbatas. Karena hujan sangat lebat pada sore itu.
Begitu juga dengan Berliana, ia sendiri sudah berhenti di salah satu bangunan yang enatah milik siapa dan bangunan itu tertutup raapat serta terkunci.
Hal tersebut ia manfaatkan untuk berteduh, untuk melanjutkan perjalanan adalah hal yang sangat berisiko menurutnya.
"Deras sekali" gumam Berliana yang mengedarkan pandangannya segela arah.
Dengan posisi berdiri Berliana meneduhkan tubuhnya dibawah bangunan toko milik orang lain. Sudah terhitung tiga pengendara motor yang ikut berhenti didekat Berliana.
Sudah tiga puluh menit lamanya Berliana dan para pengendara yang meneduhkan diri mereka untuk menunggu hujan cukup reda.
Berhubung jam pulang kantor, jadi banyak pengendara yang menghentikan laju kendaraan mereka, agar terhindar dari bahaya.
Akhirnya, air hujan yang turun mulai mereda, dan hal tersebut mulai dimanfaatkan oleh para pengendara mobil maupun motor mulai menghidupakan kendaraan masing-masing.
Begitu juga dengan Berliana, ia mulai menghidupkan mesin motornya. Dirasa sudah cukup reda, Berliana mulai melajukan motornya kejalan raya.
Dengan kecepatan sedang, Berliana mulai membelah jalanan, mengingat kondisi jalan yang masih basah.
Tepat dipersimpangan, Saat akan membelokkan motornya kearah kiri, sebuah mobil berwarna hitam pekat. Melaju kendaraannnya dengan kecepatan tinggi dari arah kiri.
Hal tersebut membuat Berliana terkejut sekaligus mulai membelokkan arah motornya kekanan.
Ternyata, dari arah kanan, ada sebuah mobil yang cukup melaju cepat mencoba menghindar motor Berliana. Karena kecepatan dan juga sigap para pengendara. Motor Berliana hanya menyenggol bagian badan mobil mewah tersebut.
__ADS_1
Brakk!!
Karena kondisi jalan yang licin, membuat Berliana hilang kendali. Dengan gerakan cepat ia langsung melepaskan pegangan stang motornya dan segara reflek ia menjatuhkan dirinya kearah kiri.
Beruntung dari arah kiri tidak ada kendaraan yang menyalip pada saat itu.
"Hampir saja" gumam Berliana yang masih dalam posisi mulai mencoba untuk duduk.
Masih dalam posisi setengah duduk, Berliana melihat motornya yang terhempas cukup jauh darinya.
Ia juga melihat sebuah mobil yang hampir saja ia tabrak dari kanan jalannya.
Dengan tatapan menyipit, Berliana melihat mobil yang hanya berhenti sebentar itu dengan tatapan sulit.
Orang-orang mulai membantu Berliana dan juga motornya yang mengalami lecet bagian kanan, bahkan lampur motor bagian depan pecah.
"Apa perlu kerumah sakit?" tanya salah satu seorang lelaki yang membantu Berliana.
"Baiklah kalau begitu, lain kali lebih berhati-hati. Apalagi jalanan masih dalam kondisi basah" ucap orang itu lagi.
"Nona, jika dilihat dari kondisi motor anda. Memang masih bisa dikendarai, tapi mengingat anda baru saja jatuh, lebih baik biar saya antar saja" ucap salah seoarang lainnya.
"Syukurlah" ucap Berliana dengan lega, mengingat motor itu sangat bersejarah baginya.
"Terima kasih atas tawarannya Tuan. Hanya saja, saya akan meminta bantuan teman saya saja" ucap Berliana dengan menolak halus tawaran dari orang-orang yang suka rela membantu dirinya.
"Baiklah kalau begitu Nona" ucap orang itu dengan ramah.
"Sekali lagi terima kasih atas bantuannya" ucap Berliana dengan senyum tulus.
Satu persatu orang-orang mulai meninggalkan Berliana. Sedangkan Berliana sudah menekan panggilan darurat kepada Jonthan.
Tidak menunggu waktu lama, Jonthan sudah tiba disana dengan dua buah mobil yang mengikuti dirinya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" tanya Jonthan dengan cemas.
"Hanya terjatuh, sepertinya tidak ada yang serius, mungkin hanya memar saja" ucap Berliana sambil memegang pelan bahu kirinya serta lengannya.
"Kita kerumah sakit" ucap Jonthan dan mulai memegang Berliana dengan lembut.
"Kalian, bawa motor nyonya kebengkel" ucap Jonthan kepada anak buahnya.
"Baik Tuan!" ucap beberapa lelaki dengan suara tegas.
"Tidak perlu kerumah sakit. Antarkan saja aku keruma Zion" ucap Berliana yang merasa dirinya tidak apa-apa.
Mendengar hal itu, membuat Jonthan hanya mengikuti ucapan sang majikan. Mobil yang dikendarai oleh Jonthan mulai mengantar Berliana dan diikuti oleh satu mobil anak buahnya.
"Aku akan menyelidiki hal ini" ucap Jonthan sambil menyetir mobil.
"Terserah kau saja" ucap Berliana dengan nada pelan. Dirinya hanya bersandar nyaman di jok mobil sambil memejamkan kedua matanya.
..............
Sedangkan saat kejadian berlangsung, tepatnya didalam mobil yang hampir saja menabrak pada bagian kanan tadi ternyata mobil Zion.
Dalam mobil,
"Kenapa kita tidak turun saja tadi?" tanya Samuel dengan kesal.
"Aku rasa dia baik-baik saja" ucap acuh Zion.
Karena pada saat mobil itu berhenti, keduanya mulai melihat melalui kaca spion mobil, untuk melihat kondisi pengandara motor itu.
Saat melihat itu adalah Berliana, entah kenapa Zion masih terbayang saat penglihatannya diarea restoran saat itu.
Dengan tanpa rasa kasihan Zion langsung memerintahkan Samuel untuk melanjutkan perjalan.
__ADS_1