
Keesokan paginya, Berliana bangun lebih awal. Walaupun dirinya pulang terlambat.
Berliana sengaja bangun lebih pagi dari biasanya, dia ingin memasak sarapan untuk dirinya dan juga Zion.
Setelah sarapan yang sudah berada di atas meja makan, Berliana pergi dan menuju kamarnya untuk mandi sekalian bersiap untuk pergi kesekolah.
Berliana sudah siap, Berliana berjalan menuju lantai bawah dan menuju meja makan.
Dimeja makan dia sedang menunggu kedatangan Zion yang belum kembali dari rumah utama.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 dan Zion belum juga datang. Berliana beranjak dari meja makan dan pergi berlalu menuju garasi mobil untuk berangkat kesekolah.
Saat meninggalkan pekarangan rumah, Berliana melihat mobil Zion baru saja memasuki pekarangan rumah.
Melihat hal itu, Berliana tetap melajukan laju mobilnya. Dia berharap jika Zion akan mencoba masakannya untuk pertama kali ia buat.
Zion keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk dengan langkah lebar menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
Sampai di kamar, Zion langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor. Bukan tidak memiliki pakaian kerja di rumah utama hanya saja dia ingin kembali kerumahnya. Yang menurut dirinya lebih nyaman jika berada di rumah milik sendiri.
Setelah berpakaian rapi, Zion menuruni tangga dengan tas kerja yang ia pegang di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya sibuk memasang kancing lengan kemejanya.
Sampai di meja makan, Zion melihat sudah ada sarapan pagi yang berupa roti isi.
Tanpa menunggu lama, Zion langsung melahap sarapannya dengan cepat.
Selesai dengan sarapan, Zion pergi menuju luar rumah dan langsung berangkat kekantor.
............................
Berliana sudah sampai di sekolah dan saat ini dirinya sudah berada didalam kelas sambil membaca buku dan sesekali ia memainkan ponsel miliknya.
Semua murid sudah duduk dengan baik di kursi masing-masing dan tidak lama seorang guru masuk dan memulai pelajaran pertama.
Selesai jam pelajaran pertama Berliana dan kawan-kawan pergi menuju kantin.
"Satu bulan lagi kita akan melaksanakan ujian kelulusan, bagaimana jika kita belajar kelompok saja" usul Tama dengan antusias.
"Boleh juga" ucap yang lain.
"Dirumah siapa atau dimana tempat yang enak untuk belajar kelompok?" tanya Kevin dan mereka mulai memikirkan rekomendasi tempat yang bagus.
"Dirumah ku saja" ucap Sakira.
Karena ia baru ingat jika, waktu itu keluarganya ingin bertemu dengan Berliana dan belajar kelompok bisa menjadi alasan untuk mengajak Berliana kerumahnya.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Gio cemas.
Karena berdasarkan rumor yang beredar keluarga Martines adalah keluarga yang sangat pemilih dan tidak ada rasa kasihan terhadap orang yang melakukan kesalahan.
"Tidak apa-apa, santai" ucap Sakira sambil melipat kedua tangannnya.
"Bagaimana setuju tidak?" desak Sakira.
__ADS_1
"Setuju" ucap Berliana dan yang lainnya langsung menganggukkan kepala sebagai ucapan setuju.
"Jadi kapan kita mulai belajar kelompoknya?" tanya Tama antusias.
"Bagaimana kalau sepulang sekolah saja?, lebih cepat lebih baik bukan?" ucap Sakira.
"Tidak masalah" ucap mereka serentak.
Jam pulang sekolah yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Mereka dengan segerah memasukkan buku serta pena kedalam ransel milik mereka.
"Nanti jadikan?" tanya Kevin sambil berjalan mendekat ke meja Sakira dan Berliana.
"Jadi" jawab Sakira sambil menutup tas ranselnya.
Saat ini mereka berjalan bersama menuju parkiran kendaraan mereka masing-masing.
"Ketemu dirumah ku langsung saja dan juga lokasinya sudah aku kirim lewat grup" ucap Sakira sebelum mereka berpisah.
Karena parkiran mobil dan motor tempatnya agak berjauhan dan juga kendaraan mereka tidak berada satu tempat yang sama.
.............................
Tidak berselang lama mereka sampai di kediaman Martines.
Satu persatu mereka keluar dan turun dari kendarannya masing-masing. Hanya Berliana saja yang belum sampai dan mereka menunggu kedatangan Berliana yang tidak sampai satu menit, mobil Berliana sudah berhenti di pekarangan rumah milik keluarga Martines.
Mereka berjalanan menuju teras rumah samping. Sampai disana udara sejuk langsung menerpa wajah mereka, pemandangan kolam ikan hias dan beberapa tumbuhan yang berada disekitar kolam menjadi daya tarik tersendiri.
"Sejuk sekali" ucap Kevin dengan senang bahkan ia memejamkan kedua matanya sejenak.
"Bisa dimakam tidak ya?" tanya Tama yang belum tau ikan apa yang ada kolam tersebut.
"Kalau kalian mau makan ikan, biar aku suruh pembantu untuk memasaknya" ucap Sakira yang terkekeh geli melihat tingkah mereka.
"Boleh juga itu" ucap Tama dan Gio serentak.
Saat ini mereka duduk di salah satu saung, satu persatu buku tulis mereka keluarkan untuk membahas materi yang belum mereka pahami.
.....................................
Sedangkan Berliana entah pergi kemana, saat mereka beberapa kali membahas pelajaran. Berliana mendapatkan pesan dari Sasa.
Yang berisikan jika keluarga Matines ingin bertemu dengannya secara pribadi dan hal itu langsung disetujui oleh Berliana.
Saat ini Berliana sudah berada didalam ruang kerja dan duduk berhadapan dengan keluarga Martines.
Mereka hanya diam sambil menatap Berliana, Berliana yang di tatap terlihat gemas melihat tingkah mereka.
"Ada perlu apa kalian ingin menemui ku secara pribadi?" tanya Berliana mulai jengah situasi yang hening.
"Tidak pernah aku sangka akhirnya aku bisa bertemu kamu kembali!" ucap tuan besar Martines atau kakek Sakira.
"Kau semakin tidak terbaca saja" ucap tuan besar Martines sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Dia mengingat saat pertama kali bertemu dengan Berliana yang mengenakan hoddie yang menutup kepalanya.
Hanya samar-samar ia melihat wajah Berliana. Karena Berliana sudah berbicara terlebih dahulu jika ia ingin melihat seperti apa rupa wajah Berliana.
Saat mendengar suara Berliana yang seakan mengerti keinginanya akhirnya ia urungkan niatnya untuk bertanya.
"Aku tidak suka mengekspos wajah ku, sedikit orang yang tau mengenai diri ku itu jauh lebih baik" ucap Berliana saat itu dengan suara dingin dan penuh penekanan.
"Bagaimana kabar kamu saat itu?" tanya Bibi Sakira ingat salah satu peristiwa yang menimpa mereka.
"Iya, apa kau mengalami luka yang sangat serius karena sudah menolong kami?" tanya Paman Sakira yang ikut penasaran.
Berkat pertolongan Berliana yang awalnya mereka pikir dia adalah remaja yang sedang tersesat. Saat mereka melihat dengan sendiri dengan mata kepala mereka saat bagaimana sadisnya Berliana mereka tidak bisa memasang wajah tidak terkejut.
"Tidak ada yang serius, hanya beberapa lebam di bagian tubuh ku" jawab Berliana singkat dengan jujur.
"Kami sangat berterima kasih atas apa yang sudah kau lakukan untuk kami" ucap tulus tuan Martines kepada Berliana.
"Lupakan saja, kejadian itu sudah cukup lama" ucap Berliana dengan tenang.
"Kami awalnya sangat terkejut, saat Sakira menyebutkan nama Sandreas dan kami sangat takut jika ia membuat kesalahan" ucap bibi Sakira dengan suara cemas.
"Aku sengaja memberitahunya. Karena aku tau kalian selama ini selalu mencoba mencari informasi tentang diriku" ucap Berliana sambil bersandar di kursi.
"Maafkan kami untuk itu, sungguh kami tidak ada maksud lain. Hanya saja kami ingin berterima kasih kepadamu" ucap Paman Sakira dengan gugup takut membuat kesalahan.
"Benar apa yang di ucapkan suami ku, kami juga akan selalu ada jika kau membutuhkan bantuan kami" timpal Bibi Sakira.
"Jika aku membutuhkan bantuan kalian, pastilah aku akan menghubungi kalian. Dan yang pastinya kalian tentunya tidak akan menolak perintah ku" ucap Berliana dengan suara sedikit angkuh.
"Kau benar bahkan sangat benar" ucap tuan besar Martines dengan bangga.
"Apa keponakan kami ada membuat kesalahan?" tanya sedikit takut paman Sakira.
"Apa begitu?" tanya tuan besar Martines dengan wajah serius.
"Jika memang begitu aku akan menghukum dia segerah" ucap bibi Sakira dengan cepat.
"Tidak. Aku hanya ingin menikmati kehidupan ku yang mulai normal" ucapan Berliana yang membuat ketigaanya menghembuskan nafas lega.
"Syukurlah" gumam ketiganya dan dapat didengar oleh Berliana.
"Kami sangat senang sekali, karena kamu mau berkunjung dikediaman kami ini yang sederhana" ucap Bibi Sakira dengan mata berbinar senang.
"Jangan terlalu berlebihan, lagi pula aku tidak mempermasalahkan itu" ucap Berliana.
"Aku akan kembali kepada teman-teman ku. Ingat jangan pernah membicarakan aku kepada siapapun, jika aku masih belum membuka siapa aku sebenarnya" ucap Berliana dengan muka serius dan mulai berdiri.
"Baik" ucap mereka bertiga serentak.
"Dan satu lagi, bersikaplah sewajarnya dan jangan terlalu formal" ucap Berliana dan langsung meinggalkan mereka.
"Sangat luar biasa" puji ketiganya dengan tatapan kagum saat melihat Berliana sudah menutup pintu ruangan.
__ADS_1
"Sangat beruntung Sakira bisa dekat dengannya" ucap Bibi Sakira dengan bangga.