
Diruang tamu yang hanya ada ana dan adiknya saat itu
"Ayooo empok hiks.... hiks..... Kita pergi dari sini ayooo" tangis adiknya yang terus menarik ana.
Ana yang terdiam tak bergerak melihat adiknya yang sekali lagi mengatakan hal tidak masuk akal membuat ana benar-benar sangat terluka. Anak perempuan itu hatinya amat sangat terluka
Akhirnya ana menuruti adiknya tersebut pergi keluar rumah, ana pikir dengan mencari udara segar sedikit diluar akan membuat adiknya lebih mendingan
"Dedi jangan takut ya kebakarannya udah gak ada udah udah tenang ya main aja yuk sama empok apa yang dedi liat? Eum...." tanya ana sambil memeluk adik yang berada di pangkuannya saat itu
"Empok ada naga, ada lego juga" dedi yang nampak kelelahan seperti belom tidur selama beberapa hari, tangan yang lemas dingin terus membuat ana ingin menggenggamnya erat erat
"Oh ada naga ya, gede gak?" saut ana dengan tersenyum melihat adiknya, bertanya dan menjawab setiap hal yang di tanyakan adik yang sangat ia sayangi tersebut.
Bukan hanya pada saat siang hari saja adiknya seperti itu tapi saat tengah malam pun adiknya terus mengatakan hak aneh hingga ana dan mamanya tidak bisa tidur nyenyak setiap malam.
Ana dan mama ana sengaja tidur di ruang tamu bukan dikamar agar adiknya bisa beristirahat dengan baik, dengan adanya ana dan mama ana disebelahnya mungkin akan membantu menghangatkan tubuh adiknya tersebut. Juga untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada adiknya itu.
Tengah malam dedi adiknya ana terus saja menatap ke atas tanpa berkedip, mama ana yang terbangun menyadari bahwa anaknya tengah melihat kearah atas tanpa berkedip dengan cepat mama ana menutup mata anaknya tersebut untuk berkedip sejenak. Tapi dedi menarik tangan mama ana dan terus berusaha melihat ke atas yang tidak ada apapun untuk dilihat. Entah apa yang ia lihat saat itu. Tapi itu membuat mama ana sangat khawatir.
Mama ana langsung memeluk anaknya tersebut dan terus membaca ayat dan doa untuk anaknya itu, mama ana juga menyuruh anaknya itu untuk mengucapkan kata istighfar sebanyak-banyaknya. Anaknya yang menuruti kata mamanya itu mengucapkan istighfar dengan sangat keras hingga ana yang tertidur lelap bangun dan ikut membaca istighfar sambil memeluk erat adiknya itu.
Tanpa sadar adiknya tersebut malah semakin kencang mengucapkan istighfarnya hingga ana berfikir itu bisa mengganggu tetangga yang sedang tidur, dengan cepat ana menutup mulut adiknya tersebut
"Mama istighfarnya pelan pelan kan ini tengah malam, entar kalo tetangga pada ngomel gimana?, lagian mama dedi makin kenceng mama malah ikutan makin kenceng istighfarnya gimana sih" ucap ana yang sangat kesal saat itu.
Sebenarnya ana bukan kesal karna hal itu, mau sekeras apapun mereka berteriak ana tidak peduli asalkan itu hanya terdengar oleh mereka, ana tidak masalah walaupun sampai telinganya berdarah pun ana tidak peduli hanya saja. Tetangga yang mengetahui bahwa dedi adiknya yang seperti orang gila terus menjadi bahan perbincangan dan digosipkan akan menjadi gila dan tidak bisa disembuhkan.
Betapa sakitnya ana yang mendengar hal itu langsung saat hendak membeli makanan, obat atau pulang sekolah. Bukannya mereka semua mengkhawatirkan orang yang sedang sakit atau mendoakan orang yang sedang sakit ini malah mereka menggosipkannya dan malah menyumpahinya menjadi orang gila.
ana sempat berfikir apakah mamanya tau tentang hal ini?, kalau dia tau sungguh betapa sakit hatinya, betapa remuk jiwanya sekarang ini. Sejenak ana memandang mamanya tersebut, ana berkali-kali meminta maaf dalam hati karna ana belum bisa membahagiakannya sampai saat ini dan meminta maaf karna ana belum bisa menjadi anak yang berguna untuk mamanya.
__ADS_1
Sepanjang malam ana habiskan dengan berfikir, bagaimana bisa orang dewasa lebih jahat dan kekanak-kanakan melebihi anak kecil. Bukankah mereka tidak pantas menjadi orang dewasa apalagi mendapatkan hormat dan sopan santun dari yang lebih muda. bukankah mulut itu lebih tajam dari pada pisau, pisau yang tajam hanya akan menyayat kulitnya saja tapi mulut yang tajam akan menyayat habis hati yang disayatnya.
........
Saat itu semua orang bergegas pergi meninggalkan rumahnya dengan membawa barang yang hanya bisa ia bawa
Gelap....
Sangat gelap....
Saat aku melihat keluar semuanya lari terbirit-birit
Seperti sesuatu yang besar akan terjadi disini
Seperti ada hal yang sangat menakutkan menanti mereka
Yang membuat mereka harus segera bergegas pergi kota ini
Kenapa aku jadi anak kecil?
Kenapa pakaian kita semua lusuh seperti ini?
Apa yang terjadi sebenarnya?
"Papa.... mama.... bang deden.... bang anggi.... dedi.... Kemana kalian akan pergi? Kita mau pergi kemana?" tanyaku dengan muka yang sangat panik sekaligus bingung tentang apa yang terjadi disini
"Udah kan, udah semua ayo pergi" ucap papa menuntun bang deden dan bang anggi namun tidak ada yang menuntun tangan kecil ana saat itu
"Ana bawa barang-barang ini, jangan sampai ada yang tertinggal, jika ada yang tertinggal kau akan tau akibatnya" ucap mama dengan mata yang menyorot tajam diri ana sambil menggendong dedi yang masih bayi.
"Mama tapi ini terlalu banyak dan berat" ucap ana yang keberatan dengan semua barang ditubuhnya jangankan untuk membawanya berjalan saja mungkin ana tidak bisa
__ADS_1
Sekilas ana melihat api dimana-mana seakan apinya sudah mengelilingi rumahnya. Langit yang berwarna orange kemerahan dengan awan hitam membuat anak kecil itu semakin ketakutan setengah mati
"Ma.... Pa.... Jangan tinggalin ana, ana takut" ucap ana lirih menangis dalam diam melihat keluarganya pergi meninggalkannya sendirian dengan banyak barang tersebut
"Hiks.... Hiks.... Hiks.... Jang.... Jangan.... Ting.... Galin.... Ana..... Hiks.... Hiks.... Ana takut" ucap ana yang seakan dunianya sudah runtuh, ana tak bisa kemana mana karna tubuh ditindih banyak barang sehingga ia hanya bisa melihat orang lain berlarian pergi meninggalkannya sendirian didunia ini.
Rasa sedih, kesal, marah, kesepian, menyesal dan sesak menjadi satu. Ana dengan tubuh mungilnya hanya bisa menangis dan pasrah pada takdirnya. Dalam pikirannya lebih baik ia mati dari pada hidup sendirian.
Gelap
Dunia yang gelap
Takut
Ana sangat takut
"Hiks.... Hiks.... Hiks...." air mata ana mengalir deras
Saat ana membuka matanya ternyata itu hanya sebuah mimpi yang nampak seperti nyata. Namun air matanya sungguhan, ana menangis dalam keadaan tidur. bantal yang digunakan ana basah karna air matanya. seketika ana merasa bersyukur dan melanjutkan tangisnya, ia terus terbayang akan mimpi tersebut dimana ia ditinggalkan sendirian betapa ketakutannya ana.
Sepanjang malam ana tidak tidur karna mimpi tersebut, ana terus menangis. Ana tau itu hanya mimpi tapi entah kenapa hatinya sangat tersayat-sayat. Hatinya sangat pedih.
"bagaimana bisa keluarganya meninggalkan sendirian dengan membawa beban berat karna barang?, kenapa? Kenapa harus aku?" gumam ana dalam hati sambil meringkupkan dan menenangkan dirinya sendiri.
"Aaaahhhhhh........ Itu hanya mimpi, hanya mimpi, hanya mimpi, tenang tenang. Ke kamar mandilah mendingan gua cuci muka sebelum ada yang liat mata gua sembab" ucap ana dalam hatinya sambil menuju kamar mandi
.........
Dijalan mau menuju kesekolah.
"Ana mata lu sembab banget, lu abis nangis ya terus langsung tidur?" ucap nia yang terus memperhatikan matanya ana yang sembab.
__ADS_1
..........