Berliana

Berliana
53. Sebuah Rencana


__ADS_3

Berliana keluar dari hotel yang disebutkan oleh Arabela dengan langkah cepat ia menuju parkiran dan masuk kedalam mobilnya.


Dengan rasa kesal yang masih terlihat jelas diwajahnya, membuat Berliana menghembuskan nafas kasar berkali-kali.


Saat Berliana sudah menuju kediaman Zion karena hari sudah cukup malam dan bisa saja, Zion sudah berada dirumah terlebih dahulu.


Sampai dikediaman Zion, ternyata mobil Zion sudah berada didepan rumah dan sepertinya Zion baru saja sampai kerumahnya.


Dengan langkah santai Berliana berjalan masuk kedalam rumah. Saat akan menaiki tangga, ternyata Zion memperhatikan Berliana dari atas tangga.


"Dari mana kamu?" tanya Zion dengan suara besarnya dan menggema di seluruh penjuru ruangan itu.


Segerah, Berliana melihat keatas dan ia melihat Zion tengah menatap tajam dirinya.


"Apa jam pulang sekolah sudah tidak siang atau sore lagi?" tanya Zion dengan tatapan datar.


Berliana baru menyadari jika dirinya, seharian penuh tidak mengganti seragam sekolahnya.


"Tadi aku ada urusan" ucap Berliana sambil melanjutkan kembali langkahnya untuk menaiki tangga.


"Alasan" cibir Zion dengan tatapan sinis.


"Aku tidak berbohong" ucap Berliana dengan raut wajah serius.


"Bilang saja, kalau kamu menjajahkan tubuhmu kepada laki-laki di luar sana" ucap Zion yang tidak hentinya selalu menuduh Berliana yang tidak-tidak.


"Jangan berbicara sembarangan!" ucap Berliana dengan suara tegas.


"Sudahlah, tidak perlu sok suci" ejek Zion dan langsung masuk kedalam kamarnya.


Melihat serta mendengar apa yang diucapkan oleh Zion, membuat kedua tangannya mengepal dengan erat.


Berliana masuk kedalam kamarnya fan langsung membersihkan dirinya.


...............................


Sedangkan disalah satu restoran ternama. Arabela sedang menunggu kedatangan seseorang.


Menunggu sekitar lima belas menit lamanya, akhirnya yang ditunggu datang juga.


"Maaf aku terlambat" ucap wanita yang di tunggu oleh Arabela dan ternyata adalah Sharmila.


"Tidak, aku juga baru sampai" ucap Arabela dengan tersenyum manis.


"Baguslah kalau begitu" ucap Sharmila dengan santai dan langsung duduk tepat dihadapan Arabela.


"Bagaimana?" tanya Sharmila tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Semuanya berjalan dengan baik dan sesui dengan apa yang diinginkan" ucap Arabela tanpa ragu sambil meletakkan beberapa foto keatas meja.

__ADS_1


"Bagus" ucap Sharmila dengan bangga.


Keduanya menjalankan rencana kerjasama untuk Berliana. Jika Sharmila melakukan hal tersebut hanya ingin, Berliana menjauh dari kehidupan Zion, dan juga ia ingin pertunangan mereka batal secepatnya.


Beda dengan Arabela, ia melakukan hal itu. Karena ia tidak ingin melihat Berliana bahagia dapam artian ia akan melakukan apapun untuk membuat Berliana menderita.


"Semuanya aman bukan?" tanya Sharmila dengan tatapannya fokus melihat-lihat lembaran foto yang berada ditangannya.


"Aman dan terkendali" ucap yakin Arabela.


"Tidak sia-sia aku bekerja sama dengan mu" ucap Sharmila dengan tersenyum miring.


"Untuk uangnya, kamu akan segera menerimanya" ucap Sharmila sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas yang ia bawak.


"Selesai" ucap Sharmila setelah ia mentransfer kerekening pribadi milik Arabela.


"Senang berbisnis dengan mu" ucap Arabela setelah melihat nominal yang di kirim oleh Sharmila.


"Begitu juga dengan ku" ucap Sharmila dengan tersenyum manis.


"Tunggu perintah dari ku selanjutnya, maka kamu akan menerima uang dengan jumlah jauh lebih besar dari pada itu" ucap Sharmila.


"Benarkah?" tanya Arabela dengan tatapan tidak percaya.


"Ternyata sangat mudah menghasilkan uang dengan cepat" ucap Arabela dalam hati sambil memandang lekat kearah Sharmila.


Dikeluarga Pohan, mereka sudah mendapatkan uang bulan masing-masing. Jadi sang pemilik uang harus merinci dan juga harus pandai menghemat. Jika tidak maka mereka akan kesulitan dalam kebutuhan hari berikutnya.


Dalam tuntutan pergaulan, Arabela selalu mengupayakan segala hak agar bisa keinginannya terpenuhi. Bahkan ia pernah menjadi pemuas nafsu para pengusaha diluar sana yang hanya ingin mencari suasana baru semata.


Bagi Arabela itu adalah peluang, dimana ia bisa mendapatkan uang hanya dengan modal yang tidak seberapa pikirnya.


Dan dia tidak memikirkan apa dampak untuk kedepannya atas semua tindakan yang ia lakukan selama ini ternyata sangat salah.


"Tentu saja!" ucap Sharmila dengan yakin.


"Selagi, kamu mau melakukan apa yang aku suruh, maka saat itu juga uang akan segera berada di rekening mu" ucap kembali Sharmila dengan tersenyum manis.


"Jangan sungkan untuk memberikan ku tugas selanjutnya. Selagi ada uang maka dengan senang hati aku akan melakukannya" ucap Arabela kepada Sharmila.


Diam-diam Sharmila tersenyum tipis saat mendengar ucapan Arabela.


"Gadis bodoh!" ucap Sharmila dalam hati.


Dimana lagi ia bisa mendapatkan seseorang yang masih berstatus keluarga untuk menghancurkan orang mau dihancurkan, pikir Sharmila.


Setelah mencari informasi, ternyata Arabela memiliki hubungan dengan Berliana dan hal tersebut langsung dimanfaatkan oleh Sharmila tanpa harus turun tangan langsung.


Sebagai pewaris tunggal dan juga pembisnis, sungguh dalam hal ini. Sharmila memanfaatkan otak bisnisnya untuk menghancurkan Berliana agar segera menjauh dari orang yang ia sukai sejak dulu.

__ADS_1


.........................


Sesorang yang berada tidak jauh dari mereka hanya tersenyum tipis saat mendengarkan ucapan keduanya.


Orang tersebut, sangat kasihan jika dampak buruk itu akan tiba-tiba datang kepada keduanya.


"Sungguh kalian salah berurusan dengannya" ucap orang tersebut dengan tertawa pelan tapi mengejek keduanya.


Saat melihat kedua, beranjak dan meninggalkan area resyoran tersebut. Dengan segerah lelaki itu menghubungi seseorang dan itu adalah Berliana.


"Bagaimana?" tanya Berliana kepada orang suruhannya untuk mematai Arabela.


"Seperti dugaan anda Nona" jawab lelaki itu dengan tenang.


"Tetap awasi meraka dan jangan bertindak sebelum perintah dariku" ucap Berliana dengan suara datar.


"Baik Nona" ucap patuh lelaki itu.


"Apa kamu sudah memasukkan orang-orang kita kedalam perusahaan Barata?" tanya Berliana.


"Sudah Nona dan saat ini ia sudah bekerja disana" jawab lelaki itu dengan yakin.


"Beritahukan kepadanya untuk berhati-hati dan lakukan semuanya sebaik mungkin" ucap Berliana.


"Sudah saya ucapkan Nona dan juga saya akan mengingtkannya setiap hari agar mereka tidak menyadari jika dia adalah mata-mata yang kita kirimkan" jelas lelaki itu.


"Baiklah dan persiapkan mulai dari sekarang. Karena sepertinya itu akan segerah kita luncurkan" ucap Berliana.


"Siap laksanakan Nona" ucap suara lelaki itu dengan tegas dan yakin.


"Pulanglah dan jangan lupa untuk mengikuti kedua orang itu" ucap Berliana dengan nada


memerintah.


"Baik Nona" ucap lelaki itu dan sambungan telepon langsung terputus.


..........................


Di kamar Berliana, saat ini Berliana masih menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.


"Kalian sudah menggali kuburan kalian sendiri" ucap Berliana dengan nada sinis.


"Kenapa kamu harus ikut sepupu ku Arabela" ucap Berliana dengan senyum smirk.


"Kau membenci ku tanpa alasan yang kuat, dan sepertinya aku akan membuat mu menyesal. Karena sudah berurusan dengan ku" ucap kembali Berliana.


"Padahal aku tidak memperdulikan dengan sikap kurang ajar mu kepada ku selama ini. Tapi sepertinya kamu tidak akan pernah berhenti, jika kamu belum mendapatkan akibatnya" ucap Berliana sambil menggenggam erat ponsel canggih milikny.


Kekehan yang terdengar cukup mengerikan keluar dari mulut Berliana saat itu.

__ADS_1


__ADS_2