Berliana

Berliana
59. Kemarahan dan Kebencian


__ADS_3

Masih dalam suasana acara perusahaan Brown. Di beberapa pasang mata menatap Berliana dari kejauhan. Mereka adalah dari keluarga Mahardika yaitu dari keluarga Kevin, keluarga Martines yaitu dari keluarga Sakira dan direktur dari MD entertaiment.


Ketiga keluarga ternama itu berbincang-bincang satu sama lainnya yang membahas tentang masa lalu dan kedekatan mereka.


"Aku lihat kalian semakin berjaya saja?" tanya Tuan besar Mahardika.


"Tentu saja" ucap bangga tuan besar Martines dengan tertawa kecil.


"Pastilah kami semakin berjaya, apalagi MD Entertaiment semakin berkembang pesat" ucap Direktur MDE.


"Kalian itu seharusnya sudah pensiun dan lihat berdiri tegak saja kalian tidak bisa tahan lama lagi" cibir Direktur MDE.


"Enak saja! Kami ini masih gagah" ucap Tuan besar Martines dengan cepat.


Diantara ketiganya memang yang paling mudah adalah Direktur MDE. Karna sang ayah sudah lebih pulang lebih cepat maka ia harus menggantikan posisi tersebut.


"Nona Sandreas!" panggil Tuan besar Mahardika kepada Berliana yang saat itu ingin melewati meja tempat mereka bicara.


"Sepertinya kalian sedang bernolstalgia" ucap Berliana dan duduk bergabung dengan para sesepuh itu.


"Anda bisa saja Nona" ucap Tuan besar Martines.


"Panggil saja Berliana, jika kita tidak dalam situasi formal" ucap Berliana cepat.


"Baiklah" ucap mereka serentak.


"Bagaimana bisnis kalian?" tanya Berliana kepada ketiga sesepuh itu.


"Sampai sekarang lancar Nona" ucap tuan besar Mahardika yang mewakili yang lainnya.


"Syukurlah" ucap Berliana.


"Nona, apa saya boleh bertanya?" tanya Direktur MDE.


"Tanyakan saja dan jangan pakai bahasa formal" ucap Berliana dengan santai.


"Kenapa anda tidak mau membuka jati diri anda? Maaf jika pertanyaan membuat anda tidak nyaman Nona Berliana" ucap Tuan besar MDE.


"Kenapa kau harus bertanya seperti itu?" tanya Tuan besar Mahardika.


"Apa salahnya, kan aku hanya Bertanya saja" ucap Direktur MDE dengan suara sedikit ketus.


"Hal itu karena ia tidak nyaman menjadi pusat perhatian dan juga orang-orang tidak akan percaya dengan kemampuan Nona Berliana yang masih berumus belasan tahun" jelas Tuan besar Mahardika.


"Apa itu benar Nona?" tanya Direktur MDE.


"Kurang lebih seperti itu" ucap Berliana dengan santai.


"Kami jadi meragukan jika kau adalah direktur MDE. Masa hal yang seperti itu saja kau tidak dapat menyimpulkannya" cibir Tuan besar Martines.


"Aku hanya ingin memastikan saja. Lagi pula orang yang ditanya saja tidak masalah. Kenapa kalian yang menyalahkan jabatan ku?" ucap Direktur MDE dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


"Sudah, tidak perlu di pikirkan omongan mereka berdua" ucap Berliana pada akhirnya yang tidak ingin mendengar perdebatan mereka lebih jauh lagi.


Ketiga senior dunia bisnis itu jika sudah dipertemukan maka akan menimbulkan perdebatan kecil diantara mereka.


...............................


Berliana sudah meninggalakan ketiganya, karena ia di hubungi oleh Jonathan untuk membicarakan sesuatu.


Berliana dan juga Jonathan sudah berada cukup jauh dari keramaian dan saat ini keduanya tengah saling berhadapan.


"Ada informasi apa?" tanya Berliana kepada Jonthan yang sudah menunggu kedatangan dirinya.


"Beberapa orang kita sudah mengamankan beberapa pelayan dan keamanan yang terlihat mencurigakan" ucap Jonathan dengan raut wajah serius.


"Apa sudah di amankan?" tanya Berliana dengan raut wajah serius.


"Mereka semua sudah di tempat biasa Nona" ucap Jonthan.


"Baguslah dan pantau terus jangan sampai kecolongan" ucap Berliana.


"Ada berita satu lagi Nona" ucap Jonthan kembali.


"Katakan saja" ucap Berliana.


"Beberapa malam terakhir saya tidak sengaja melihat sebuah mobil yang berhenti didepan rumah milik orang tua anda Nona dan saya pikir itu hanya kebetulan saja. Setelah saya awasi ternyata mobil itu sengaja berhenti disana" ucap Jonthan.


"Apa kau yakin?" tanya Berliana dengan tatapan tajamnya.


"Kirimkan plat mobilnya kepada ku dan awasi mobil itu" ucap Berliana dengan penuh penekanan.


"Saya sudah mencoba melacak nomor itu Nona dan ternyata itu adalah nomor palsu" jelas Jonthan.


"Perketat kediaman dan jangan sampai mereka menyentuh yang seharusnya tidak mereka sentuh" ucap Berliana dengan tegas.


"Siapa dia? dan siapapun itu aku akan menghabisinya jika membawa hawa buruk untuk kami" ucap Berliana dengan perasaan marah dan campur kesal.


Jonthan yang melihat raut wajah Berliana semakin gelap dan tentunya ada kemarahan di wajah Nona mudanya membuat Jonthan menahan nafas sejenak.


Karena takut dia yang akan menjadi tempat pelampiasan Nonanya. Walaupun itu tidak mungkin terjadi.


"Apa ada lagi?" tanya Berliana yang sudah kembali keekspresi normal seperti biasanya.


"Tidak ada Nona" ucap Jonthan.


"Kerahkan mereka dan awasi lagi lebih ketat dan jangan sampai lengah. Jika ada yang mencurigakan tangkap dan introgasi" ucap Berliana.


"Akan saya laksanakan Nona" ucap Jonthan.


"Bagus dan kembalilah ketempat acara" ucap Berliana.


"Saya permisi Nona" ucap Jonthan yang hendak pamit terlebih dahulu.

__ADS_1


"Sebentar" ucap Berliana.


"Ada yang bisa saya bantu Nona" ucap Jonthan yang tidak jadi melangkah meninggalkan Berliana.


"Tolong kamu lepaskan earphone yang menempel dibagian rambutku, sepertinya terlepas dan aku cukup kesulitan untuk mengambilnya" ucap Berliana.


Sepertinya ia terlalu erat menyembunyikan bagian dari earphone itu di bagian rambutnya.


Dengan cepat Berliana berbalik badan dan Jonthan dengan cepat melepaskan benda tersebut. Jika ada yang melihat dari belakang keduanya pastilah orang akan mengira jika keduanya sedang berpelukan dari belakang.


"Apa yang kalian lakukan, ha?" suara seseorang dari belakang mereka membuat keduanya terkejut.


Keduanya kompak melihat kebelakang dan ternyata adalah Zion yang sudah lama memperhatikan Berliana mulai berbincang dengan ketiga tuan besar itu dan lanjut dengan Jonthan.


Ealaupun ia tidak tahu dan tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tapi hal itu membuat Zion merasa kesal melihat mereka berbincang dan juga tawa bersama.


"Apa kalian lakukan ditempat ini?" tanya Zion dengan suara dingin dan tatapan menusuk kepada Berliana dan juga Jonthan.


"Jawab!" bentak Zion karena belum mendapat jawaban dari keduanya.


Berliana dan Jonthan saling menatap bingung merasa bahwa keduanya tidak merasa bahwa keduanya melakukan kesalahan apapun, dan kenapa Zion terlihat marah? Pikir Jonthan dan juga Berliana.


"Saya permisi Tuan dan Nona" ucap Jonthan yang merasa bahwa ia harus segerah meninggalkan keduanya yang saling menatap.


"Apa hubungan kalian?" tanya Zion dengan memegang erat pergelangan tangan Berliana.


"Kamu kenapa?" tanya Berliana dengan raut wajah bingung.


"Apa kalian ada hubungan? Apa kalian adalah sepasang kekasih yang terpisahkan?" tanya Zion kepada Berliana dengan suara tegas.


"Aku rasa kamu sudah salah paham" ucap Berliana tanpa menjawab pertanyaan Zion.


"Jawab Berliana!" ucap Zion dengan suara cukup tinggi.


"Tidak ada perlu aku jelaskan, lagi pula itu tidak seperti yang kau pikirkan" ucap Berliana dengan keduanya masih saling menatap satu sama lainnya.


"Kamu pikir aku percaya?" cibir Zion.


"Aku tidak perduli kau harus percaya atau tidak" ucap Berliana dan ingin pergi meninggalkan Zion disana.


Namun Zion dengan cepat menarik lengan Berliana dan secara cepat. Zion mencium bibir Berliana.


Awalnya hanya menempel saja, hanya saja Zion dengan cepat memainkan bibir bawah Berliana saat Berliana berusaha mendorong dirinya agara ciuman mereka terlepas


....................


Sesorang melihat keduanya berciuman membuat ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


Tatapan benci dan juga marah ia layangkan kepada Berliana.


"Awas saja kau. Akan aku buat kau menjauh dari Zion untuk selamanya" ucap wanita itu yang ternyata adalah Sharmila.

__ADS_1


Ia dengan sengaja mengikuti Zion, dan dia ingin menggunakan kesempatan itu agar hubungannya dengan Zion lebih dekat lagi kedepannya.


__ADS_2