
Pada malam harinya Berliana sedang bersiap-siap untuk pergi kesalah-satu restoran ternama di negara itu.
Dia hanya mengenakan celana pendek warna abu-abu yang kebesaran dan kaos putih oblong serta sepatu warna putih campur merah yang menjadi pelengkap penampilannya pada malam itu.
Dan jangan lupa tas kecil yang berada didepan dadanya.
"Mau kemana?" tanya Davis dan Leanor bersamaan yang saat itu sedang berada di ruang santai.
"Jalan-jalan!" jawab Berliana yang sengaja mencari keberadaan mereka dan ingin berpamitan, walaupun kadang ia tidak perlu melakukan hal tersebut.
"Aku ikut ya!" pinta Leanor yang senang mendengar akan pergi jalan-jalan.
"Tidak usah, lebih baik kamu belajar!" ucap cepat Davis.
"Ayolah Kak, selagi Kak Berliana masih disini!" ucap Leanor dengan muka memelas.
"Kak!" mohon Leanor lagi.
"Kakak tunggu disini dan jangan lama-lama" ucap Berliana yang mengizinkan Leanor ikut dengannya.
"Yes!. Tunggu aku, aku tidak akan lama!" teriak Leanor sambil bergegas menuju kamarnya.
"Jangan lari-lari!" teriak Davis yang melihat adik bungsunya berlari cepat.
"Hais anak itu!" gerutu Davis yang melihat tingkah adiknya.
"Sudahlah" ucap Berliana sambil duduk tepat disamping Davis.
"Kau tidak ingin memberitahu Meili?" tanya Davis kepada Berliana sambil mengusap pelan rambut Berliana.
"Aku akan memberitahu dia nanti" jawab Berliana sambil membayangkan kekasih sepupunya yang sangat cerewet itu.
"Aku yakin nanti dia akan mengomeli kamu sangat panjang" ucap Davis sambil terkekeh yang sangat hafal sikap kekasihnya.
"Hahaha kau benar sekali kak, dan kakak sangat taukan bagaimana wajahnya jika ia sedang kesal? Sungguh menggemaskan!" ucap Berliana sambil tertawa.
"Aku sudah siap!" seru Leanor yang sambil melangkah menuju mereka.
"Oke! Ayo kita pergi!" ajak Berliana sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Hati-hati!" ucap Davis kepada kedua adiknya.
Saat ini Berliana tengah menyetir mobil sport miliknya.
"Kita akan kemana kak?" tanya Leanor.
"Kerestoran dulu, sudah itu baru ke pusat perbelanjaan" jawab Berliana sambil menyetir mobil.
"Kakak juga ajak kak Safira. Tidak apa-apa, kan?" tanya Berliana dan melihat kearah Leanor sekilas.
"Semakin ramai maka semakin seru kak!" ujar Leanor yang menyetujui jika Berliana mengajak orang lain bergabung dengannya.
__ADS_1
Sampainya disalah satu restoran ternama, ternyata Safira datang bersama Faby.
"Sudah lama sampai?" tanya Berliana saat sudah keluar dari dalam mobil sport dengan sempurna.
"Baru saja" jawab Safira.
"Kak Safira! Lama tidak bertemu" sapa Leanor dengan gembira.
"Lama dari mananya? Minggu lalu aku datang kerumah kamu pas minta tanda tangan Bos" balas Safira kepada adik bos tempat ia bekerja.
"Iya juga sih" ucap Leanor dengan tertawa kecil.
"Tidak apa-apakan? aku ajak Faby bergabung sama kita" ucap Safira yang melirik sekilas kearah Faby yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan mereka.
"Tidak masalah" ucap santai Berliana.
"Selamat malam nona-nona dan izinkan saya bergabung dengan kalian" ucap formal Faby kepada Berliana dan juga Leanor.
"Panggil Berliana saja" potong cepat Berliana.
"Dan panggil aku Leanor saja" ucap Leanor.
"Terima kasih" ucap Faby yang merasa canggung kepada orang-orang penting diperusahaannya.
"Kakak sudah pesan tempat?" tanya Leanor yang saat ini mereka sedang berjalan masuk kedalam restoran yang kekinian.
"Belum" jawab Berliana dengan santai.
"Kakak!" rengek Leanor.
"Masuk saja dulu" ucap Safira sambil mengedarkan pandangannya.
"Maaf nona-nona sepertinya semuanya meja sudah terisi penuh" ucap pelayan yang menyambut kedatangan mereka berempat.
"Datang lain waktu saja nona, dan memesan tempat terlebih dahulu. Takutnya tidak ada meja kosong lagi! dan nona-nona sudah jauh datang kesini!" saran pelayan lelaki itu dengan baik dan sopan.
"Benar Berliana setahu saya memang harus memesan tempat terlebih dahulu!" ucap Faby yang mencoba akrab.
"Kakak!" rengek Leanor. Masa mereka harus cari tempat lain sedangkan ia sangat ingin makan disini.
"Tenanglah!" ucap Berliana yang melihat wajah Leanor muram.
Kemudian Berliana mengeluarkan ponsel dari dalam tas yang ada didepan dadanya.
Terlihat Berliana sedang ingin menghubungi seseorang.
"Mohon maaf nona-nona, bisa bergeser sedikit dari pintu masuk! Takutnya pengunjung yang ingin datang ataupun masuk terhalangi" ucap pelayan lelaki itu yang meminta dengan sopan.
"Hallo!" ucap seseorang di luar panggilan.
"Apa masih ada tempat di Parago Resto?" tanya Berliana kepada seorang lelaki disebrang sana.
__ADS_1
"Mohon maaf nona kebetulan tempat di Parago sudah terisi penuh semua!" jawab lelaki itu yang mengira bahwa pengunjung biasa yang sedang mencoba memesan tempat secara mendadak.
"Ternyata kedatangan ku kesini sia-sia!" ucap Berliana dengan nada kecewa.
"Kami dari pihak Parago meminta maaf yang sebesar-besarnya nona" ucap seseorang yang memiliki jabatan di Restoran Parago itu.
Saat akan mematikan sambungan telepon, seseorang yang mempunyai pangkat wakil manajer itu membulatkan kedua bola matanya. Saat melihat nama yang menghubungi dirinya dan bukan itu saja! Dia baru menyadari jika dia mengangkat telepon pribadi miliknya.
"Halo! Halo!" ucap wakil manajer itu dengan suara panik.
Sungguh ia mengutuk kebodohannya yang tidak menyadari ponsel mana yang ia ambil.
Dengan tergesah-gesah lelaki yang sudah berumur 32 tahun itu menuju pintu masuk area restoran.
Ternyata dugaannya benar dan ia melihat rombongan Berliana sudah akan keluar pintu masuk restoran.
"Tunggu!" teriak wakil manajer itu dengan keras dan membuat beberapa pengunjung disana melirik kearah dirinya.
"Tuan!" ucap kaget pelayan laki-laki yang melihat wajah cemas wakil manajer yang merupakan orang kepercayaan bos utamanya.
"Berliana! Akhirnya kau datang kesini juga!" seru wakil manajer itu dengan senang.
"Bagaimana kabarmu?" tanya lelaki itu dengan ramah.
"Baik!" jawab Berliana singkat.
"Kakak ayo kita cari tempat lain saja" rengek Leanor yang bermuka masam karena tidak dapat tempat kosong.
"Kenapa cari tempat lain? Disini saja!" ucap bingung wakil manajer itu.
"Kau bilang tidak ada tempat lagi" ujar Berliana.
"Ah, aku pikir orang lain tadi!. Kalau untuk kalian ada, tenang saja!" ucap wakil manajer itu dengan tersenyum malu.
"Benarkah?" tanya Leanor dengan mata berbinar.
"Tentu saja!. Ayo aku tunjukkan tempatnya!" ucap wakil manajer itu sambil menuntun Berliana dan yang lainnya menuju lantai dua ruang VVIP.
Saat ini mereka sampai di ruang VVIP dan tidak sembarangan orang bisa memesan tempat kelas atas yang ada di Parago Resto.
"Wah, bagus sekali!" decak kagum Leanor, Safira dan Faby yang takjub melihat dekorasi diruang VVIP itu.
"Bagaimana menurutmu?" tanya manajer itu kepada Berliana.
"Sangat bagus!" puji Berliana dengan tatapan menilai.
"Syukurlah kau menyukainya dan kalian adalah orang pertama yang masuk kedalam ruangan ini" ucap bangga menajer Resto itu.
Ruang VVIP adalah ruangan khusus yang dibuat untuk orang khusus dan yang menjadi target mereka untuk memasuki ruangan itu adalah Berliana untuk pertama kalinya.
Setelah menunggu beberpa kesempatan akhirnya kesempatan itu datang juga dan diwujudkan oleh hari ini.
__ADS_1