
Di hari minggu pagi, Berliana berniat untuk datang ke salah satu desa yang menjadi tempat yang sangat ia kenangi selalu.
Berhubung jarak antara rumahnya dan tempat itu cukup memakan waktu beberapa jam. Berliana memutuskan untuk berangkat lebih pagi. Agar saat sudah sampai disana tidak terlalu siang.
Berliana keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah ransel kecil yang ia letakkan di bahu kanannya.
Sebelum berangkat Berliana akan sarapan terlebih dahulu agar di perjalanan ia tidak perlu berhenti untuk mengisi perutnya.
Sampai di meja makan, disana sudah ada Zion yang sedang sarapan sendiri. Untuk Samuel tidak tau kemana dan mungkin saja dia sedang berada di rumah miliknya.
Berliana menarik satu kursi yang berjarak satu kursi dari Zion.
Zion hanya melirik sekilas kearah Berliana dan langsung melanjutkan makannya dengan diam.
Makan dengan diam dan seolah-olah tidak ada kehadiran Berliana disana.
Begitu juga dengan Berliana ia makan dengan diam dan lahap. Walaupun sesekali ia melirik kearah Zion.
Melihat Zion yang selesai sarapan dan akan beranjak berdiri, Berliana membuka suaranya.
"Tunggu!" ucap Berliana yang melihat Zion ingin melangkah.
Seketika Zion menatap Berliana dengan alis terangkat satu seakan bertanya-tanya.
"Aku ingin meminta izin untuk pergi" ucap Berliana sambil menatap Zion.
Zion hanya diam saja, Berliana kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku ingin pergi mengunjungi seseorang dan mungkin saja aku akan pulang cukup malam" ucap Berliana.
"Terserah!" ucap acuh Zion dan langsung pergi berlalu meninggalkan Berliana yang masih belum selesai sarapan.
Melihat sikap acuh Zion, Berliana hanya menatap kosong kearah punggung lebar Zion yang semakin menjauh dan menghilang dibalik tembok.
Menghembuskan nafas berat, Berliana kembali melanjutkan sarapan paginya dengan cepat.
Selesai sarapan Berliana berjalan menuju keluar rumah dan langsung menuju mobil yang diberikan oleh Zion.
Tanpa menunda waktu lagi, Berliana menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang dan mulai meninggalkan area pekarangan rumah pribadi milik Zion.
__ADS_1
Zion hanya menatap kepergian Berliana dari balkon kamarnya.
Hanya kamar Zion yang berhadapan langsung dengan jalan sedangkan untuk ruangan yang lainnya tidak.
Berliana menambah serta menurunkan kecepatan mobil yang sesuai dengan kebutuhannya.
Berkendara cukup jauh Berliana memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang sederhana.
Bukan rumah itu yang menjadi tujuannya, akan tetapi pada sebuah mobil yang terparkir di dekat rumah itu yang menjadi tujuannya.
"Selamat pagi nona" sapa Jonathan yang sudah menunggu kedatangan Berliana.
"Kau bawaklah mobil itu atau kau suruh anak buah mu untuk mengajak mobil itu jalan-jalan" ucap Berliana dengan santai.
"Dan ingat jangan sampai ada yang tau kalau aku menggunakan mobil lain" ucap Berliana kepada Jonathan.
"Baik nona" ucap patuh Jonathan.
Berliana dengan sengaja menukarkan mobil yang diberikan oleh Zion dengan mobil milik orang lain atau mobil sewa.
Karena ia tidak mungkin menunjukkan posisinya, karena bisa saja Zion memasang pelacak di salah satu bagian mobil yang Berliana tidak ketahui.
Sambil menikmati perjalanan yang sudah mulai masuk kearea pedesaan dan banyak tanaman hijau.
Berliana memandang disekitarnya dengan tatapan sejuk.
Sedangkan di tempat lain atau ruang kerja Zion, lelaki itu tengah memperhatikan arah gerak mobil yang ia berikan kepada Berliana.
Melihat arah rute mobil yang ditujukan oleh mobil itu, membuat Zion tidak menaruh kecurigaan. Dan mulai menutup Maps itu dengan segerah.
Tidak ada yang tau jika Berliana bertukar mobil. Karena anak buah Jonathan sungguh pandai dalam mengelabuhi seseorang.
........................................
Berkendara beberpa jam lamanya membuat Berliana terlihat biasa saja. Karena ia cukup terbiasa untuk melakukan perjalan yang terbilang jauh.
Berliana sampai di depan rumah sederhana dan rumah itu adalah rumah masa kecilnya bersama nenek dan kakeknya yang sudah perpulang.
Berliana masuk kedalam rumah itu, sampai didalam rumah. Semua perabotan tersusun rapih dan bersih.
__ADS_1
Karena Berliana memperkerjakan seseorang untuk menjaga dan membersihkan rumah itu agar tidak termakan oleh usia.
Langkah Berliana berhenti sejenak dan mulai mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumah dari pintu masuk.
"Masih sama!" gumam Berliana yang tidak henti-hentinya memandangi ruang tengah itu dengan pandangan sendu.
Langkah kaki Berliana mulai membawa dirinya keruang keluarga.
Rumah sederhana dan hanya berlantai satu itu menjadi saksi akan kehidupan yang ia jalani bersama dengan kakek dan neneknya.
Sampai diruang keluarga Berliana mendekat kearah salah satu foto yang terpajang.
"Aku merindukan kalian" ucap sendu Berliana sambil sedikit mengusap foto besar itu.
Kini pandangan Berliana beralih kepada foto-foto yang terpajam dengan senyum ceriah.
"Senyum kalian sangat manis" ucap Berliana dengan tersenyum kecil.
"Tapi aku tidak tahu, apakah kalian disana tersenyum atau bersedih melihat aku saat ini?" ucap Berliana dengan suara sedikit bergetar.
Puas memandangi foto-foto yang memberikan ia kenangan tersendiri. Saat ini Berliana berada didalam salah satu kamar yang menjadi tempat kakek dan neneknya beristirahat.
Berliana tidak masuk hanya memandang kearah tempat tidur dengan tersenyum paksa.
Seolah-olah dirinya sedang melihat kedua pasang tua itu sedangkan berbaring atau duduk bersantai sambil bercanda tawa.
"Aku merindukan kalian, rindu canda dan tawa kalian. Juga rindu kalian yang memarahi aku, karena aku selalu membuat ulah" ucap Berliana dengan tersenyum getir.
"Kehilangan kalian membuat ku rasanya hilang arah!. Saat ini aku sedang mencari arah tujuan ku" ucap Berliana dan pandangan yang semakin berkaca-kaca.
"Tapi rasanya cukup sulit menemukan arah itu!" ucap Berliana dengan suara semakin bergetar.
"Maaf aku terlihat cengeng!" ucap Berliana dengan tersenyum sambil menghapus air matanya yang tanpa diminta menetes dengan sendirinya.
Melanjutkan langkahnya kembali dan menuju kamar yang terletak paling depan dan itu adalah kamar miliknya.
Berliana menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur yang sangat ia rindukan beberapa bulan ini.
Walapun ia sering bepergian, rasanya baru kali ini ia merindukan kasur dan bantal miliknya.
__ADS_1