Berliana

Berliana
44. Kisah Jonathan


__ADS_3

Hari sudah menunjukkan pukul 6 sore, dan mereka mulai berpamitan kepada Sakira untuk kembali kerumah masing-masing.


"Terima kasih ya sudah mengizinkan kami belajar disini" ucap Gio dengan ramah.


"Santai saja" ucap Sakira dengan santai.


"Lain kali kita belajar disini saja" ucap kembali Sakira.


"Kapan-kapan kita atur waktu kembali" ucap Berliana dan langsung dianggukkan oleh yang lainnya.


Satu persatu kendaraan mereka mulai meninggalkan kediaman Martines.


Didalam mobil yang dikendarai oleh Berliana, ia mendapatkan telepon dari Jonathan. Hal itu membuktikan dari nada dering yang sudah ia atur setiap nama kontak penting di ponsel miliknya.


Sambungan telepon,


"Ada apa?" tanya Berliana sambil mengeraskan volume suara di ponselnya.


"Maaf mengganggu Nona, ada berkas yang harus anda tanda tangani dan juga ada satu berkas yang membuat saya belum begitu yakin dan yang berkaitan tentang kerjasama dengan perusahaan Smith" ucap Jonathan yang secara detail.


"Kirim kan ke email ku untuk berkas kerjasamanya dan untuk tanda tangan besok sore temui aku di Kafe X" ucap Berliana.


"Baik Nona" ucap patuh Jonathan.


"Apa ada lagi?" tanya Berliana.


"Nona, Sasa malam ini dia akan berangkat menuju kesini. Katanya dia akan menyampaikan sesuatu kepada Nona" ucap Jonathan dengan saura sedikit gugup.


"Temui aku juga di Kafe X besok sore!" jawab Berliana.


"Baik nona" ucap singkat Jonathan.


"Ada lagi?" tanya Berliana.


"Tidak ada Nona" jawab Jonathan dan langsung Berliana matikan sambungan telepon secara sepihak dan hal itu sudah dimaklumi oleh Jonathan karena dirinya sudah lama ikut dengan Berliana.


Flashback On,


Jonathan adalah nama yang sangat singkat bagi orang pada umumnya. Akan tetapi dirinya sangat menyukai nama itu. Dikarenakan nama itu diberikan langsung oleh Berliana untuknya.


Jonathan adalah seorang lelaki yang di selamatkan oleh Berliana dari rumah pelelangan yang ada di Negara M.


Di negara luar sistem jual beli manusia masih diizinkan dalam negara-negara tertentu dan tentunya sesuai dengan berbagai syarat serta seleksi yang sangat ketat.


Pada awalnya, Jonathan hanya berpasrah diri saat dirinya di tampilkan di atas panggung. Dia menatap orang-orang yang hadir dalam acara itu dengan tatapan sendu dan kedua tangannya mengepal erat.


Merasa putus asa dan sangat kehilangan harapan, saat tiba giliran dirinya yang mulai dilelang.


Berbagai penawaran-penawaran yang di tawarkan oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan dan juga para orang kaya yang bingung untuk menghabiskan uang mereka.


Saat harga tertinggi yang di berikan kepada pembawa acara, Jonathan hanya memejamkan kedua matanya sangat erat.


Tidak sekalipun dirinya berkeinginan menjadi bawahan seseorang apalagi menjadi budak dari orang-orang kaya.


Menjadi budak adalah mimpi terburuk bagi semua orang yang kurang ataupun jauh dari kata beruntung dan itulah yang dirasakan oleh Jonathan saat keluarga tirinya yang mengirim dirinya di rumah pelelangan.


Jika sudah resmi menjadi budak, maka akan mendapatkan kontrak budak, dimana yang menjadi budak harus siap bagaimanapun dan sekasar apapun yang diperlakukan oleh sang tuan.


Saat sebuah palu yang siap diketuk di atas meja membuat kedua mata Jonathan secara kasar terbuka lebar dan sudah pupus semua harapan kehidupannya. Yang sangat ia impikan sedari dulu.

__ADS_1


Tapi hal itu tidak terjadi, karena seorang wanita yang memakai hoddie yang menutup kepalanya mengangkat papan nomor yang di bagikan.


Semua orang yang ada di sana, mengalihkan pandangannya kearah remaja dan mereka yakin itu adalah perempuan.


Lagi-lagi mereka terkejut dengan nominal yang di ucapkan oleh gadis kecil itu. Sungguh nominal yang cukup fantastis untuk anak seusia itu.


Jonathan hanya berdiri terpaku melihat dan mendengar nominal yang untuk harga dirinya yang sangat di luar dugaannya.


Pelelangan manusia, bukan hanya untuk di jadikan budak tapi juga untuk bisnis jual beli organ manusia dengan harga yang terbilang mahal.


Suara palu terdengar disegala penjuru ruangan dan dengan segerah gadis kecil itu berjalan menuju keatas panggung dan diikuti seorang lelaki yang memiliki badan besar dan juga berotot.


Proses tanda tangan di atas mimbar sudah selesai, dengan segarah kunci borgol Jonathan diberikan kepada gadis misterius itu.


Lelaki yang selalu mengekori gadis kecil itu langsung membawa Jonathan kebelakang panggung.


"Bersihkan dirimu!" ucap lelaki yang bertubuh besar itu dengan kasar mendorong Jonathan yang terjatuh kelantai.


Dengan tubuh gemetar Jonathan berjalan menuju salah satu toilet yang sudah dipersiapkan oleh pemilik pelelangan sebelum sang budak di bawak.


Dengan cepat Jonathan membersihkan dirinya, walaupun dia sedari awal sudah di wajibkan untuk mandi sebelum acara di mulai.


Saat keluar, hanya lelaki bertubuh besar itu saja yang menunggu dirinya didepan toilet dan juga memberikan satu set pakaian lengkap.


"Ayo, Nona sudah menunggumu" ucap Lelaki besar itu sambil berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Jonathan yang menatap bingung.


Mereka sampai di dekat sebuah mobil mewah yang berwarna merah hati, dengan sigap lelaki bertubuh besar itu membuka pintu belakang mobil dan meminta agar Jonathan segerah masuk.


"Masuk!" ucap lelaki bertubuh besar itu dengan tegas dan dengan cepat Jonathan masuk kedalam mobil mewah yang baru pertama kali ia masuki.


"Makan dan minumlah" ucap gadis kecil itu tanpa melihat kearah Jonathan.


Sesekali Jonathan melirik kearah kaca tengah mobil dan itu langsung bertemu tatapan mata dengan gadis kecil tersebut.


Cukup lama mereka berkendara, dan melewati berbagai pepohonan dan sampailah mereka di sebuah rumah kecil yang ditumbuhi oleh bunga mawar berwarna putih.


Semuanya keluar dari dalam mobil kecuali Jonathan yang menatap takut kearah rumah itu. Bahkan dirinya berpikir penyiksaan yang seperti apa yang akan ia terima nantinya?!.


"Keluarlah" ucap gadis kecil itu dengan cukup ramah.


Dengan ragu Jonathan keluar dari dalam mobil dan mulai mengikuti kedua orang yang sudah membeli dirinya.


Mereka masuk melalui pintu belakang rumah tersebut dan pada saat masuk kedalam, peralatan canggih banyak menghiasi rumah tersebut. Bahkan pintu itu akan terbuka jika menempelkan sidik jari.


Mereka saat ini sudah berada di dalam salah satu ruangan yang cukup luas dan ternyata itu berada didalam ruang bawah tanah.


"Siapa nama kamu?" tanya gadis kecil itu sambil membuka hoddie yang menutup kepalanya.


"Aku Sandreas" ucap Berliana dengan tatapan mata tajamnya.


Melihat didepannya seorang gadis kecil dan sangat cantik, membuat Jonathan terdiam terpaku.


"Hei!" ucap Berliana dengan keras dan sedikit memukul meja.


"Sa-saya Beniqno Nona" ucap Jonathan itu dengan gugup, karena ia merasa sangat terimtimidasi dengan tatapan tajam kedua orang yang ada didepannya.


"Apa kau tau kenapa kau di bawa kesini?" tanya Berliana dengan tatapan tajam.


"Sebagai budak" ucap pelan Jonathan dengan pandangan yang menunduk.

__ADS_1


"Tepat sekali" ucap Berliana dengan tersenyum miring.


Mendengar ucapan itu, membuat keda tangan Jonathan mengepal erat dan mata terpejam erat.


"Yang pastinya bukan budak seperti yang ada di pikiran mu" ucap Berliana dengan santai.


Mendengar hal itu, dengan cepat Jonathan menatap bingung kearah Berliana.


"Berikan dia kontrak perjanjian" ucap Berliana dan dengan sigap lelaki yang berada di dekatnya memberikan beberapa lembar kertas dihadapan Jonathan.


Dengan segerah Jonatham membaca kontrak perjanjian itu dan hanya bertuliskan satu poin penting yaitu, harus setia jika tidak kematian akan cepat mendatangimu!!.


Membaca lembar pertama saja sudah membuat, Jonathan menelan saliva dengan susah payah.


Dan lembar selanjutnya, berisikan beberapa kegiatan dan juga pelatihan yang harus diwajibkan.


"I-ini?!" tanya bingung Jonathan saat selesai membaca kontrak perjanjian.


"Seperti yang kau baca, kau cukup menaati peraturan juga pelatihan itu dengan baik dalam waktu yang telah di tentukan. Jika kau tidak mampu maka poin pertama akan sangat cepat berlaku untuk mu" ucap Berliana dengan santai.


"Apa kau sanggup mengabdi dengan ku?" tanya Berliana sambil menatap lekad kedua bola mata Jonathan.


"Tidak perlu ragu, bingung dan juga banyak berpikir. Lebih baik kau jalani saja dulu. Lagipula aku rasa kau tidak ada pilihan lain bukan? Selain setuju!" tanya Berliana dengan nada sinis.


Sebenarnya tidak ada yang salah dalam kontrak perjanjian itu, dan hal itu membuat Jonathan syok karena di luar dari perkiraannya.


"Kau tidak mau?" tanya Berliana dengan datar.


Diam dan hanya memandang kertas yang berada ditanganya, Jonathan seakan tuli dan tidak mendengar ucapan Berliana.


"Aku rasa kau harus kembali kerumah budak itu" ucap acuh Berliana.


Mendengar hal itu, membuat kedua bola mata Jonathan terbuka lebar dan ekspresi terkejut.


"Jangan!" ucap Jonathan dengan keras.


"Maaf, maksud ku. Aku siap untuk mengabdi dengan mu" ucap Jonathan yang sangat gugup saat kembali tatapan tajam itu ditujukan untuknya.


"Bagus dan keputusan yang sangat tepat!" ucap Berliana dan sedikit bertepuk tangan.


"Ajarkan dia, dan aku ingin jika batas waktunya sudah habis. Dia sudah bisa menjadi asistenku yang luar biasa" ucap Berliana kepada lelaki yang berada di belajang kursi yang ia duduki.


"Baik Nona" ucap patuh lelaki bertubuh besar itu.


"Dan kau, mulai saat ini namamu Jonathan dan mulailah hidup baru dan rubah takdir yang diinginkan oleh orang lain" ucap Berliana dan turun dari kursinya.


"Terima kasih" ucap Jonathan dengan suara serak.


"Aku tidak butuh ucapan terima kasihmu itu!. Yang aku butuhkan adalah pembuktian!!" ucap tegas Berliana yang berhenti sejenak.


"Kau harus menepati janjimu, Nona ku sudah sangat berbaik hati dengan mu" ucap tegas lelaki itu saat Berliana sudah meninggalkan ruangan itu dan menuju kamarnya.


"Aku akan membuat mu bangga Nona, dan aku akan buktikan jika aku sangat layak berada disisi mu" ucap Jonathan penuh tekad saat menuju kamar yang ditujukan untuknya.


Orang-orang yang berada disekitar Berliana bukanlah suatu kebetulan, sebelum dirinya bertindak maka, mencari informasi adalah hal yang sangat penting yang harus dilakukan terlebih dahulu!.


Flashbck Of.


Mengingat hal itu membuat Jonathan sangat menghormati Berliana yang ternyata orang yang baik, tegas dan juga peduli kepada orang-orangnya.

__ADS_1


Dan tentunya bayaran yang harus dibayar oleh orang kepercayaan adalah nyawa mereka sendiri yang tidak tau pastinya akan ditagih sang pemilik raga.


__ADS_2