
Pagi-pagi sekali Berliana bangun dan untuk kedua kalinya ia memasak untuk sarapan pagi mereka.
Sampai di dapur Berliana memutuskan untuk membuat berbagai roti isi untuk sarapan pagi mereka. Memang bukanlah makanan yang spesial hanya saja ia ingin membuat Zion berada dalam pola makan sehat.
Dengan penuh semangat serta dengan perasaan penuh cinta Berliana menyiapkan sarapan.
"Selesai!" ucap pelan Berliana yang sudah meletakkan sarapan di atas meja makan.
Lalu dirinya bersiap untuk pergi kekamarnya untuk bersiap berangkat kesekolah. Setelah selesai, Berliana turun kelantai dasar dan menuju kemeja makan.
"Sepertinya aku terlalu semangat" ucap Berliana sambil terkekeh pelan saat melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
Cukup lama ia menunggu kedatangan Zion, dan akhirnya ia mendengar suara sepatu milik Zion yang menggema diseluruh rumah itu. Karena Zion melangkah dengan cukup cepat.
"Zion, sarapan dulu" panggil Berliana dengan suara cukup keras.
"Tidak perlu!" ucap Zion dengan suara cukup keras, karena ia merasa harus cepat kekantor.
"Tunggu!" ucap Berliana sambil mengambil bekal yang sudah berada di atas meja makan.
Rencananya ia akan membawa bekal untuk diberikan keteman-temannya. Melihat Zion yang terlihat sedang terburu-buru membuat Berliana memberikan bekalnya untuk Zion.
"Apa lagi!" ucap Zion dengan berdecak kesal tapi ia berhenti dekat pintu utama.
"Bawaklah bekal ini, biar kau sarapan dikantor" ucap Berliana sambil mengambil tangan Zion dan meletakkan kotak bekal itu.
Tanpa mengucap satu katapun Zion langsung keluar dari rumah, dimana Samuel sudah berdiri didekat mobil yang sudah ia bukakkan untuk Zion.
Zion masuk kedalam mobil sambil memegang kotak bekal yang berwarna biru dan berukuran kecil. Mobil yang membawa Zion sudah meninggalakan area rumah dan Berliana masih melambaikan tangannya sampai mobil Zion tidak terlihat lagi.
"Semoga kau suka" ucap penuh harap Berliana sambil melihat mobil yang dikendarai oleh Samuel sudah menghilang dari penglihatannya.
Didalam mobil Zion,
"Tumben membawa bekal" ucap Samuel yang tidak sengaja melihat kotak bekal yang berukuran kecil di samping Zion duduk.
"Apa Nona Berliana yang membuatnya?" tanya Samuel dengan rasa penasaran.
"Tidak penting" ucap Zion yang fokus melihat tabletnya.
"Jika kau mau ambil saja!" ucap acuh Zion.
"Benarkah?" tanya Samuel dengan senang hati menerima sarapan pagi.
__ADS_1
"Jika tidak mau, aku akan membuangnya" ucap Zion kembali.
"Jangan!. Jangan, biar aku saja yang memakannya" ucap Samuel dengan cepat.
"Sayang makanannya jika dibuang" ucap pelan Samuel.
"Lumayan dapat makanan gratis" ucap Samuel dalam hatinya sambil terkekeh senang.
Bukannya ia tidak punya uang, hanya saja ia terkadang lupa untuk makan dikarenakan pekerjaan yang menumpuk sehingga ia terkadang melupakan makan siang ataupun telat makan siang.
................................
Berliana saat ini sudah sampai di IS dengan perasaan senang, selama perjalanan dirinya selalu tersenyum manis. Mengingat Zion ingin membawa bekal yang diberikan oleh Berliana walaupun terkesan memaksa.
Sampai dikelas, Berliana masuk dan langsung duduk di kursi yang biasa ia duduki.
"Kenapa nih, seperti orang yang baru dapat harta karun saja" ucap Kevin yang melihat Berliana tersenyum senang dan beda dari biasanya.
"Apa kau lagi jatuh cinta?" tanya Tama yang ikut membuka suara.
"Jangan-jangan ada kabar bahagia nih" ucap Gio yang bru muncul di belakang Kevin.
"Kalian kenapa?" tanya Sakira yang melihat Kevin, Tama dan juga Gio berdiri didekat mejanya dan juga Berliana.
"Tidak tau" ucap acuh Berliana.
"Benar" timpal Gio dan juga Kevin.
"Benar?" tanya Sakira yang sudah duduk di samping Berliana.
"Sudah, tidak perlu dengarkan mereka" ucap Berliana dan mengeluarkan buku pelajarannya dari dalam tas.
"Lebih baik kalian kembali ke kursi masing-masing saja" usir Berliana kepada ketiga lelaki itu yang masih menatap aneh kearahnya.
.....................
Mobil yang menuju perusahaan Brown sudah berhenti sempurna didepan pintu masuk perusahaan, dengan segerah Samuel keluar dari dalam mobil dan langsung membuka pintu mobil bagian belakang.
Zion keluar dari dalam mobil sambil merapikan ujung jasnya. Ia melangkah kedalam perusahaan diikuti oleh Samuel di belakangnya yang sedang membawa kotak bekal kecil berwarna biru dengan perasaan senang.
Langkah tegas, tubuh tegap, dan pandangan mata jauh kedepan. Zion melangkah masuk dan saat ini ia sedang berada didalam lift yang membawanya menuju kelantai yang mana hanya ada ruangannya dan juga ruang Samuel disana.
Sampai di lantai itu, kedatangan mereka berdua sudah di sambut oleh Sekretaris Zion.
__ADS_1
"Selamat pagi tuan" sapa Sekretaris itu dengan ramah dan menundukkan kepalanya
Hanya Samuel yang membalas sapaan Sekretaris itu, sedangkan Zion hanya mengganggukkan kepalanya sedikit dan melangkah melewati Sekretarisnya begitu saja.
Zion masuk keruangannya, sedangkan Samuel menuju kursi yang ada didekat meja sekretaris Zion.
"Kau membawa bekal?" tanya Sekretaris Zion yang baru kali ini melihat Samuel membawa bekal.
"Kau lihat apa?" tanya Samuel dengan ketus.
"Tumben sekali" cibir Sekretaris itu dengan menatap heran Samuel yang sedang membuka kotak bekal dari Berliana.
"Mau?" tawar Samuel kepada Sekretaris Zion dan langsung diiyakan oleh Sekretaris itu.
"Ini itu bukan bekal punya ku" ucap Samuel disela mengunyah roti isi yang dibuat oleh Berliana khusus untuk Zion.
"Terus?" tanya penasaran Sekretaris itu sambil memakan roti isi buatan Berliana.
"Kau tau tidak, ini itu dibuat oleh tunangan Tuan, hanya saja ia tidak mau memakannya. Dari pada mubazir lebih baik aku saja yang memakannya" jelas Samuel dengan suara pelan takut didengar oleh Zion yang sedang fokus memeriksa berkas.
"Bos punya tunangan?" tanya Sekretaris itu dengan mata melebar.
"Jangan keras-keras!" ucap kesal Samuel kepada Sekretarisnya yang merupakan sahabat masa sekolahnya.
"Ayo jelaskan!" desak Sekretaris itu yang penasaran kehidupan pribadi Bosnya.
"Bos itu sudah tunangan tapi tertutup dan juga mereka dijodohkan oleh tuan besar" jelas Zion.
"Oh" respon Sekretaris itu yang sedikit menerka alur kehidupan pribadi Bosnya.
"Roti isinya enak" puji Sekretaris itu sambil memasukkan suapan terakhir.
"Enakkan? Syukur aku cepat menyelamatkannya tadi. Jika tidak maka akan menjadi penghuni tempat sampah" ucap Samuel.
"Seperti orang susah saja!" cibir Sekretaris itu dan lanjut menhidupkan layar komputernya.
"Bukan seperti itu, hanya saja sangat disayangkan jika makanan dibuang-buang secara percuma" ucap Samuel dengan apa adanya.
"Terserah kau saja. Lebih baik kau kembali keruangan, pasti banyak pekerjaan yang menunggumu diatas meja" ucap Sekretaris itu tanpa melihat Samuel yang bermuka masam.
"Dasar tidak tau terima kasih!" ucap kesal Samuel dan langsung pergi menuju ruangannya yang bersebalahan dengan ruangan Zion.
Sampai diruangnnya, Samuel melihat sudah ada beberapa berkas yang bertumpuk diatas meja.
__ADS_1
"Bisa lembur lagi kalau begini" ucap pelan Samuel sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Dan mulai membuka satu persatu berkas yang sudah saatnya di periksa oleh dirinya.