Berliana

Berliana
40. Pendekatan


__ADS_3

Berliana memakan makanan yang diberikan oleh pengurus rumah dengan lahap tanpa tersisah.


Cukup lama dirinya tidak merasakan makanan yang seperti ini. Terakhir kali ia merasakan makanan seperti ini sebelum dirinya dibawak oleh keluarga Pohan.


Selesai dengan acara makannya, Berliana mencuci piring serta gelas kotor yang ia pakai.


Walaupun ada yang akan membersihkannya, tetapi Berliana tetap membersihkan piring dan cangkir kotor miliknya.


Jika Berliana sedang makan dengan makanan yang begitu dirindukannya, beda dengan suasana yang ada dirumah besar Brow.


Nyonya Debora dengan sengaja mengundang seorang wanita yang menurut dirinya sangat pantas bersanding dengan putra sulungnya.


"Akhirnya kau datang juga sayang" ucap nyonya Debora dengan senyum manis, menyambut kedatangan orang yang tepat untuk Zion menurutnya.


"Maaf Tante, Mila sedikit terlambat" ucap wanita itu, Sharmila yang biasanya di panggil dengan sebutan Mila.


"Tidak apa-apa sayang, Zion juga belum datang" ucap nyonya Debora dengan penuh perhatian.


Sharmila yang biasa di panggil akrab Mila. Dia adalah anak tunggal serta pewaris dari kekayaan keluarga Barata.


Sebagai pewaris tunggal, tentunya memiliki sifat dan sikap serta kepintaran yang cukup luar biasa. Hanya saja Mila termasuk orang yang sangat ambisius.


Masih berumur 24 tahun dirinya bisa mengendalikan perusahaan yang cukup besar. Bahkan sang Papa sangat percaya akan kemampuan anaknya yang tidak dapat diragukan lagi.


Nyonya Debora membawa Mila keruang keluarga dan disana tuan Matteo atau papa Zion sedang duduk bersantai.


"Malam Om" sapa Mila dengan senyum hangat serta suara yang cukup lembut.


"Malam" balas tuan Matteo sambil melihat kearah Sharmila.


"Pa, cepat papa telpon Zion. Suruh dia agar cepat kesini!" perintah nyonya Debora yang kesal putra sulungnya belum juga datang.


Sedangkan jarak rumah mereka dengan rumah Zion tidak begitu jauh dan hanya berjarak beberapa blok saja.


"Palingan lagi di jalan" ucap santai tuan Matteo.


Dirinya bukan tidak menyukai Sharmila, hanya saja dia berpikir bagaimana jika ayahnya atau tuan besar Brow tau jika sang istri berusaha menjodohkan anaknya dengan wanita lain.


Sedangkan putranya sudah memiliki tunangan yang sangat disukai oleh ayahnya.

__ADS_1


Memikirkan hal itu, membuat tuan Matteo hanyaenghembuskan nafas kasar.


"Ada apa Pa?" tanya nyonya Debora dengan raut wajah bingung saat melihat suaminya menghembuskan nafas secara kasar.


"Tidak apa-apa Ma" ucap tuan Matteo dengan tersenyum sambil menatap kearah istrinya.


Tidak berselang lama, terdengar ditelinga mereka suara mobil yang berhenti di depan rumah dan itu adalah Zion yang dengan sengaja datang terlambat.


Karena ia sangat malas harus menunggu, apalagi orang itu tidak penting menurutnya.


"Nah, itu pasti Zion!" seru nyonya Debora dengan senang. Anak yang ditunggu-tunggu akhirnya adatang juga.


Zion masuk kedalam rumah dan langsung mendekat kearah kedua orang tuanya.


Tanpa menyapa Sharmila, Zion langsung duduk di sofa itu.


"Zion, lihatlah Sharmila yang sudah menunggu kedatangan kamu" ucap Nyonya Debora dengan ketus.


"Kenapa?" tanya Zion dengan nada acuh.


"Dasar kamu ini, Sharmila jauh-jauh datang kesini karena ingin ketemu kamu" ucap nyonya Debora dengan suara ketus.


Dimata Zion, Sharmila adalah orang yang cantik , mandiri serta pekerja keras. Tapi entah kenapa dirinya tidak tertarik kepada Sharmila. Walaupun mereka berteman semasa remaja dan keluarganya dan keluarga Sharmila selama ini cukup dekat.


Saat ini mereka sedang berada di meja makan dan bersiap untuk makan malam bersama.


"Ambilkan makanan untuk Zion, Sayang" ucap nyonya Debora kepada Sharmila saat dirinya selesai mengisi makanan kedalam piring suaminya.


"Baik tante" ucap Sharmila dengan senang hati.


Dengan senyum manis, Sharmila memberikan beberapa lauk dan langsung meletakkan keatas piring milik Zion.


Zion hanya diam saja tanpa bersuara, hanya matanya saja yang melirik Sharmila yang terlihat senang melayani dirinya.


"Makanlah" ucap Sharmila sambil memberikan piring kedepan Zion dengan senyum manis.


Tanpa berucap apapun, Zion hanya memakan makanannya dengan lahap begitu juga dengan yang lainnya.


"Bagaimana, enak bukan lauk ayamnya? Itu Sharmila yang masak" ucap Nyonya Debora dengan bangga.

__ADS_1


"Jika nanti Sharmila menjadi istri kamu, kamu tidak akan kelaparan lagi. Karena Sharmila dengan senang hati akan memasak untukmu" sambung nyonya Debora lagi.


Mendengar ucapan mamanya membuat Zion melihat kearah mamanya dan terus melihat kearah Sharmila yang berada di sampingnya.


Sedangkan Sharmila hanya diam dan nunduk, sungguh ia tidak dapat menyembunyikan wajah senang dan wajah malu-malunya. Saat mendengar akan menjadi istrinya Zion.


Sudah lama ia menyimpan rasa untuk Zion, hanya saja sikap Zion yang datar membuat ia cukup sulit untuk mendekati lelaki itu.


Zion menyelesaikan makan malamnya lebih cepat dibandingkan yang lainnya. Hal itu ia lakukan karena ia terlalu malas mendengarkan ucapan mamanya yang selalu mengatakan jika Sharmila sangat pantas menjadi istri Zion.


Tanpa mengucapkan satu katapun, Zion berlalu dan melangkah menuju kearah teras samping dan duduk disana dengan tenang sambil memandang hamparan bunga mawar yang di tanam serta dirawat oleh Luna.


Lazarus dan Luna tidak bisa datang kerumah utama. Dikarenakan mereka sudah ada janji jika malam ini mereka akan menginap di kediaman Luna.


"Apa kau ada masalah Zion?" tanya Sharmila yang sengaja menyusul Zion dan didukung penuh oleh nyonya Debora pastinya.


"Tidak ada" jawab Zion singkat tanpa menatap Luna yang sudah duduk disampingnya.


"Kenapa kesini?" tanya Zion sambil menatap sekilas Sharmila.


"Aku hanya ingin menemani kamu saja, siapa tau kamu sedang ada masalah di kantor" ucap Sharmila dengan suara lembut.


"Aku sudah bertunangan" ucap Zion dengan suara dingin.


"Apa maksudmu?" tanya bingung Sharmila.


"Aku sudah bertunangan dengan wanita lain" ucap Zion sambil memperlihatkan cincin di jari manis kirinya.


"Apa?! Bagaimana mungkin!" ucap Sharmila dengan wajah terkejut.


"Kenapa aku tidak tau, kenapa aku tidak mendengar informasi pertunangan kalian? Siapa wanita itu?" tanya Sharmila dengan satu kali tarikan nafas, bahkan suaranya yang pada awalnya terdengar lembut. Kini berubah menjadi suara tegas, bahkan kedua tangannya mengepal dengan sempurnah.


"Kami dijodohkan" ucap Zion santai.


"Jika aku tidak bisa membatalkan pertunangan ini, maka aku akan melakukan segala cara agar kau sendiri yang akan membatalkannya" ucap Zion dalam hati sambil tersenyum samar.


"Dengar Zion, aku sudah menyukaimu sejak lama. Jadi selagi status mu belum menjadi suami orang lain, maka aku akan berusaha agar tidak ada orang lain memiliki kamu selain aku" ucap Sharmila dengan tegas.


Mendengar ucapan Sharmila, Zion hanya tersenyum sinis. Inilah yang membuat dirinya tidak menyukai Sharmila. Dia orang yang ambisius dan selalu merendahkan orang lain.

__ADS_1


"Terserah!" ucap acuh Zion dan langsung meninggalkan Sharmi yang masih bernafas memburu.


__ADS_2