Berliana

Berliana
35. Kembali


__ADS_3

Hari ini Berliana sedang menuju pesawat yang siap lepas landas. Berbagai drama ia meminta ingin kembali kenegaranya kepada Leanor dan juga Davis yang sepertinya sangat keberatan jika Berliana meninggalkan mereka.


Pesawat umum itu sudah mengudara menuju negara kelahiran Berliana.


Menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya dirinya sampai di Bandara.


Di pintu keluar Bandara seorang lelaki yang yang cukup dewasa sedang menunggu kedatangannya.


Setelah melihat Berliana dari kejauhan, dia berjalan mendekat dan mengambil alih dua koper yang dibawa oleh Berliana.


"Semuanya sudah aman?" tanya Berliana disela-sela langkahnya.


"Aman nona" ucap lelaki dewasa itu dengan patuh.


"Silahkan nona" ucap lelaki itu yang sudah membuka pintu mobil.


Dengan segerah Berliana masuk kedalam mobil, sedangkan lelaki dewasa itu lagi memasukkan koper Berliana kedalam bagasi mobil.


"Apa kita langsung pulang kerumah tuan Zion?" tanya lelaki dewasa kepada Berliana yang duduk di kursi bagian belakang.


"Ke Restoran X dulu, Jo" ucap Berliana yang melihat jam di tangannya sudah menunjukkan hampir pukul 2 siang dan akan membuang waktu jika dirinya pulang kerumah terlebih dahulu.


Lelaki yang menjemput Berliana adalah Jonathan, dia adalah salah satu orang kepercayaan Berliana dalam mewakili dirinya jika berurusan dengan pekerjaan.


Mobil dengan kecepatan yang cukup cepat sedang memebelah jalanan sedang melaju menuju Restoran X.


Sampainya di Restoran X Berliana keluar dari dalam mobil.


Saat ini Berliana hanya memakai kaos oblong dan celana panjang serta sepatu putih.


Berliana masuk dan diikuti oleh Jonathan. Keduanya masuk dan mengikuti seorang pelayan yang ditunjuk agar memastikan bahwa tamunya tidak kesulitan.


Sampai diruangan VIP keduanya dipersilahkan masuk, di pintu ruangan VIP ada dua orang penjaga yang mengamankan pintu agar lebih aman.


"Selamat siang tuan besar Mahardika" sapa Berliana yang sudah berada didalam dan juga Jonathan yang setia mengikuti Berliana.


"Selamat siang juga nona Berliana" sapa tuan besar Mahardika.


Keduanya saling memberikan salaman serta pelukan sebagai sapaan.


"Kamu terlihat sangat cantik nona Berliana!" ucap tuan besar Mahardika dengan tersenyum manis.


"Terima kasih atas pujiannya tuan" ucap Berliana yang merasa biasa saja.


"Ada apa kau ingin bertemu dengan ku?" tanya Berliana yang terlihat tidak ingin basa-basi.


"Haha, ternyata kau masih sama!. Baiklah kalau begitu aku tidak perlu basa-basi lagi!" ucap tuan besar Mahardika dengan raut wajah serius.


Berliana duduk tenang didepan tuan besar Mahardika sedangkan dibelakangnya Jonathan berdiri tegak.

__ADS_1


"Aku membutuhkan bantuan mu!" ucap tuan besar Mahardika sambil menggeser selembar kertas kedepan Berliana.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Berliana sambil melirik selembar kertas yang berada diatas meja dihadapnnya.


"Aku ingin kau menangkap hidup-hidup lelaki itu. Karena ia sudah berani bermain-main untuk menghancurkan keluarga Mahardika" ucap lelaki tua itu dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Aku rasa kau sudah paham dengan apa kau harus membayarnya?" tanya Berliana.


"Aku tahu! Dan aku akan membayar dengan jumlah dua kali lipat" ucap yakin lelaki tua itu.


Pembayaran yang di maksud oleh Berliana bukanlah nominal sejumlah uang untuk dirinya pribadi.


Melainkan untuk kesejahteraan panti asuhan dan rumah sakit gratis.


Jika berbicara soal uang, Berliana sudah memilikinya lebih dari cukup.


Bahkan jika dibandingkan dengan seluruh harta kekayaan keluarga Pohan. Itu bukanlah apa-apa menurut Berliana.


"Aku mendapatkan informasi jika kau berteman dengan cucu ku!" ucap tuan besar Mahardika.


"Ya!. Apa kau keberatan?" tanya Berliana.


"Tentu saja tidak!. Aku berharap cucu-cucuku bisa seperti mu" ucap tuan besar Mahardika.


"Suatu saat mereka akan sukses!" ucap Berliana dengan yakin.


Cukup lama mereka berbincang dan akhirnya Berliana memutuskan untuk segerah pulang karena hari sudah semakin sore.


"Berhati-hatilah" ucap tuan besar Mahardika sambil memeluk singkat dan menempelkan pipinya kepada pipi Berliana.


Seseorang yang melihat kejadian itu langsung mengarahkan kamera ponselnya dengan cepat.


"Hahaha aku akan membuat kamu hancur Berliana!" ucap orang itu dengan senyum licik.


.................................


Jonathan sudah mengantar Berliana dengan selamat, saat akan meninggalkan area rumah milik Zion.


Jonathan berpapasan dengan mobil Zion yang dikemdarai oleh Samuel.


"Mobil siapa itu?" tanya Samuel penasaran.


"Apa mobil itu habis mengantar Berliana?" ucap tanya Samuel.


"Fokus menyetir!" ucap Zion dengan nada sedikit membentak.


Walaupun dirinya merasa penasaran mobil mewah siapa yang baru saja meninggalkan pekarangan rumah pribadi miliknya?.


"Akhirnya kau pulang juga!" ucap senang Meli yang melihat Berliana tengah menarik dua koper.

__ADS_1


"Bagaimana kabar temanmu?" tanya Meli yang mengambil alih koper Berliana.


"Mereka baik" jawab Berliana.


"Mari, aku bantu membawa kopernya" ucap Meli yang menawarkan jasanya.


"Terima kasih!" ucap Berliana sambil memberikan satu koper miliknya yang tidak terlalu berat.


Kedua berjalan sambil berbincang menuju lantai dua. Barang-barang Berliana sudah masuk kedalam kamar dan Meli berpamitan untuk kembali kerumah belakang.


Saat menurunkan tangga Meli berpapasan dengan Zion yang diikuti oleh Samuel dibelakangnya.


"Selamat sore tuan" ucap Meli dengan sedikit membungkukkan badannya.


"Dia sudah kembali?" tanya Zion dengan muka datar.


"Nona Berliana baru saja kembali tuan" jawab Meli jujur.


"Pergilah!" usir Zion dan langsung dituruti oleh Meli.


Sebelum berjalan menjauhi majukannya, Meli sekilas menatap kearah Samuel yang sama sekali tidak melirik kearah dirinya.


.................................


Pada malam harinya Berliana duduk dimeja makan dan menunggu kedatangan dua lelaki yang sedari tadi menyibukkan diri diruang kerja.


Setelah menunggu beberpaa saat akhirnya yang ditunggu datang juga.


Ketiganya melahap makanan dengan lahap. Hanya ada suara sendok dan garpu yang menemani acara makan mereka.


"Besok malam kita akan makan malam dirumah utama" ucap Zion yang selesai dengan makannnya.


"Baik" ucap pelan Berliana.


"Aku harap kau tidak mempermalu kan aku!" ucap Zion dengan tatapan menusuk.


"Aku akan membelikan kamu mobil! Dan jangan senang dulu!. Aku membelikan kamu mobil bukan karena aku mulai bersimpati. Hanya saja aku tidak terlalu suka orang lain datang kerumah ku secara bebas!" ucap Zion serta tatapan tajamnya yang menusuk untuk Berliana.


Tanpa mau membantah Berliana hanya bergumam kata baik dan anggukkan kepala saja sebagai respon dari ucapan Zion.


Selesai makan makan kini ketiganya menyibukkan kegiatan mereka masing-masing.


Berliana yang sudah kembali masuk kedalam kamarnya, langsung membongkar barang bawaannya dari dalam koper.


Satu koper yang berisi pakaian untuk dirinya dan satu lagi oleh-oleh yang akan ia bagikan kepada orang-orang yang ada disekitarnya.


Barang terakhir adalah barang yang dibeli oleh Berliana untuk Zion.


Jas dan juga dasi itu dikemas kedalam kotak sedang.

__ADS_1


Kembali raut wajah Berliana memandang senang jas dan juga dasi yang ia pilihkan dan ia sangat merasa jika Zion sangat cocok mengenakan itu.


__ADS_2