
Berliana dan juga Zion sudah masuk kedalam mobil dengan sempurnah. Saat ini Zion menyetir dengan sendiri untuk mengantar Berliana terlebih dahulu kesekolahnya.
Mobil dengan kecepatan sedang menuju kesekolah Berliana yaitu sekolah IS. Zion yang fokus dalam menyetir dan Berliana fokus menatap kaca mobil bagian samping.
Tidak terlalu memakan waktu lama, mobil yang dikemudikan oleh Zion sudah sampai didepan geduang IS.
"Terima kasih" ucap Berliana dan mulai melepaskan sabuk pengaman.
"Tunggu dulu" ucap Zion saat Berliana membuka pintu mobil.
"Ada apa?" tanya Berliana dan menghentikan saat kaki kirinya yang ingin keluar tapi ia urungkan.
"Ambillah!" ucap Zion sambil memberikan kartu berwarna emas kepada Berliana.
"Untuk keperluanmu" ucap Zion kembali saat Berliana tidak kunjung juga menerima kartu yang ia berikan.
"Tidak perlu" ucap Berliana sambil mendorong pelan kartu yang disodorkan kepadanya.
"Sudah ambil saja" ucap Zion sambil menarik paksa tangan Berliana dan meletakkan kartu itu keatas telapak tangan Berliana.
"Baik, terima kasih" ucap Berliana dan langsung keluar dari dalam mobil Zion.
Melihat Berliana sudah memasuki pekarangan sekolah dan tidak terlihat lagi, membuat Zion mulai menghidupakan mesin mobil dan menuju kekantornya.
Sampai di kantor didepan pintu masuk, Zion langsung keluar dari dalam mobil miliknya. Salah satu penjaga dengan sigap mendekati mobil Zion yang sudah berhenti sempurna didepan pintu masuk.
"Selamat pagi Tuan" sapa penjaga itu sambil sedikit membungkuk kearah Zion.
"Pagi!. Parkirkan mobilnya" ucap Zion kepada penjaga itu.
"Baik Tuan" ucap patuh penjaga itu dan langsung masuk kedalam bagian kemudi untuk memarkirkaan ketempat khusus petinggi.
Zion melangkah masuk dengan tenang fan langkah tegas tentunya dan tidak lupa ia membawa kotak bekal yang diberikan Berliana tadi pagi saat sebelum berangkat mengantar Berliana kesekolah.
__ADS_1
Para karyawan yang melihat kedatangan bos mereka langsung menyapa ataupun membungkukkan badan mereka.
Kini tatapan mereka tertuju kearah tangan kiri Zion yang sedang membawa kotak bekal yang berwarna biru.
^^^Baru kali ini mereka lihat bahwa sang bos membawa kotak bekal dan semua karyawan yang melihat itu saling melempar pandangan mereka masing-masing dan pertanyaan yang ada dibenak mereka hanya mereka simpan saja.^^^
Zion sudah masuk kedalam lift yang khusus untuk para petinggi. Lift sudah berhenti tepat di lantai yang ia tujukan.
"Selamat pagi Tuan" sapa Sekretaris Vera dan Samuel yang sudah lebih dahulu tiba.
"Pagi" ucap Zion dan langsung masuk kedalam ruangannya.
Keduanya saling menatap dan merasa bahwa bos mereka saat ini tidak seperti biasanya.
"Apa bos kita habis mendapatkan keuntungan?" tanya Vera dengan raut wajah bingung sambil menatap punggung Zion yang mulai menghilang.
"Aku rasa ia baru selesai minum obat" ucap Samuel yang ikut merasa bingung.
"Aku akan memastikannya" ucap Samuel dan mulai menyusul Zion.
"Cepatlah, siapa tahu bos kita ada masalah" ucap Sekretaris Vera sambil mendorong pelang bahu Samuel.
"Sabar!" ucap Samuel kepada Vera yang mendorong tubuhnya.
Samuel langsung menuju kearah pintu ruangan Zion.
Sedangkan Zion didalam ruangannya sedang duduk dikursi kebesarannya. Saat ini pikirannya mengingat saat ia dan juga Berliana tidur di tempat yang sama semalam dan hal itu membuat Zion terseyum simpul.
"Tidak mungkinkan kalau aku mulai menyukainya?" tanya Zion pada dirinya sendiri sambil memegang dadanya.
"Zion!" seru Samuel yang sudah berada tepat didepan meja kerja Zion.
"Kau!" ucap Zion yang merasa terkejut.
__ADS_1
"Kenapa tidak ketuk pintu?" tanya Zion dengan kesal.
"Sudah, tapi kau tidak merespon" ucap Santai Samuel dan langsung duduk dihadapan Zion.
"Ada apa?" tanya ketus Zion sambil menghadap kearag layar komputer.
"Tidak ada" ucap Samuel yang merasa Zion dalam keadaan seperti biasanya yaitu garang.
"Keluar" ucap Zion tanpa melihat kearah Samuel.
"Apa ini untuk ku?" tunjuk Samuel kearah kotak bekal yang berada diatas meja kerja Zion.
"Jangan disentuh!" seru Zion dengan tegas saat Samuel ingin memengang kotak bekal pemberian Berliana.
"Kenapa? Bukannya biasanya aku yang memakannya?" tanya Samuel yang wajah bingung.
"Bulan ini, gaji kamu saya potong 50 persen" ucap Zion tanpa menjawab pertanyaan asistennya.
"Apa?! Kenapa?" tanya Samuel yang ekspresi terkejut.
"Aku anggap itu adalah bayaran dari bekal yang kau makan selama ini" jawab acuh Zion sambil menatap serius Samuel.
"Bukannya kau sendiri yang tidak mau memakannya? Dan juga kau mengizinkan aku untuk memakannya dari pada kau buang" jelas Samuel yang merasa tidak terima.
"Tidak ada alasan!" ucap Zion kesal.
Kesal akan dirinya yang selama ini menolak pemberian bekal dari Berliana dan juga kesal kenapa ia memberikannya kepada Samuel.
"Tapi," ucapan Samuel langsung di potong oleh Zion.
"Keluarlah!" ucap Zion yang mengusir Samuel dari ruangannya.
Mau tidak mau Samuel pergi dari ruangan Zion dengan perasaan kesal akan tingkah bos dan sekaligus sahabatnya itu.
__ADS_1