Berliana

Berliana
74. Salah Paham


__ADS_3

Hari-hari sudah berlalu namun berita tentang Berliana mulai tenggelam dalam perbincangan masyarakat. Berliana tidak mau memikirkan tentang berita hal itu, karena ia merasa itu tidaklah penting baginya, walaupun itu tentang dirinya.


Tepat jam makan siang, Berliana sedang melakukan pertemuan dengan Jonathan disalah satu restoran mewah.


"Bagaimana? Apa masih ada orang yang mengintai rumah ku?" tanya Berliana sambil meminum minuman yang ia pesan dengan santai.


"Untuk saat ini belum Nona, dan kami masih dalam penjagaan ketat. Siapa tahu nanti ada yang lebih dari itu mengusik kita" jawab Jonathan dengan pasti.


"Bagus! Tingkatkan penjaannya. Jangan sampai kecolongan dan sepertinya mereka bukanlah orang yang bisa dianggap remeh. Dan aku yakin ini masih ada kaitannya dengan kecelakaan orang tua ku" ucap Berliana dengan pikiran menerawang jauh.


"Bisa saja Nona, dilihat dari mereka yang tidak mau mengakui dan lebih memilih mati dari pada membocorkan rencana mereka dan siapa yang memerintahkan mereka" ucap Jonthan.


"Maka dari itu, sepertinya ini bukanlah hal mudah untuk kita tangani" ucap Berliana.


"Kerahkan semuanya, cari orang itu jangan sampai melukai mereka" ucap kembali Berliana dengan tatapan membunuh.


"Serahkan semuanya pada kami Nona, dan kami akan melakukan investigasi tetang hal ini dan pwristiwa kecelakaan orang tua anda" ucap Jonthan dengan yakin.


Karena selama ini, Berliana kembali mencari bukti tentang kecelakaan kedua orang tuanya, walaupun kasus itu sudah ditutup sekalipun oleh pihak kepolisian.


Dan beberapa bukti ia sudah berada ditangannya, tinggal mencari beberapa bukti lagi untuk menjalankam rencana membasmi para hama yang seharusnya dibasmi.


"Saya pamit dulu Nona, karena saya harus menghadiri rapat pemegam saham" pamit Jonthan kepada Berliana dan dibalas anggukkan oleh Berliana.


Jonthan sudah pergi berlalu meninggalkan Berliana yang masih duduk ditempatnya sambil mengaduk-aduk minumannya, sedangkan pikirannya tengah mengatur siasat kejam.


Terlalu sibuk dalam lamunannya, Berliana dikejutkan oleh panggilan suara yang memanggil namanya.

__ADS_1


"Nona Berliana!" panggil tuan besar Martines yang tidak sengaja melihat keberadaan Berliana yang sedang duduk seorang diri dibagian sudut ruangan.


"Tuan besar Martines" balas panggil Berliana dan langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Bukannya aku meminta supaya kau memanggil Kakek saja!" ucap kesal tuan besar Martines.


"Bukankah aku juga sudah meminta untuk panggil saja Berliana" balas Berliana dengan tatapan kemenangan.


"Hahahaha, kamu ini bisa saja" ucap tuan besar Martines dengan tertawa cukup keras.


"Apa ada yang perlu dibahas? Sehingga Kakek menemui ku?" tanya Berliana dengan bersikap santai.


"Tidak ada, hanya saja aku tidak sengaja melihatmu duduk sendirian" jawab tuan besar Martines.


"Aku pikir ada sesuatu yang penting" ucap Berliana.


"Kenapa berita itu tidak kau hapus?" tanya tuan besar Martines pada akhirnya.


"Biarkan saja orang mau berkomentar apa, aku tidak perduli" ucap acuh Berliana.


"Aku dengar kau dikeluarkan dari sekolah" ujar tuan besar Martines karena mendapat informasi dari Sakira, cucunya.


"Ya. Tanpa bersekolah disana aku sudah pintar!" ucap Berliana dengan nada bicara angkuh.


"Hahaha, kalau itu tidak bisa diragukan lagi" ucap tuan besar Martines disela tawanya.


"Terima kasih atas waktunya. Semoga kita bisa bertemu kembali" ucap tuan besar Martines dan mulai beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Mari saya antar" ucap Berliana dan ikut berdiri dari tempat duduknya.


Tidak jauh dari tempat duduk mereka sang asisten tuan besar Martines duduk tidak jauh dari mereka, karena ia memberikan privasi kepada sang tuannya.


Berliana berjalan tepat disamping tuan besar Martines dan dibelakangnya diikuti oleh asisiten tuan besar Martines.


Berliana memegang lengan tuan besar Martines dan bagaimanapun tuan besar Martines sudah ia anggap sebagai Kakeknya sendiri.


Diluar restoran sang sopir tuannbesar Martines sudah siap untuk mengantar kepergian tuan besar Martines.


"Kakek pergi dulu dan jaga diri kamu baik-baik" ucap tulus tuan besar Martines sambil mengelus rambut Berliana dengan lembut.


"Kakek juga dan jika ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi ku" ucap Berliana.


Keduanya berpelukan singkat dan tuan besar Martines mencium puncuk kepala Berliana dengan singkat dan Berliana membalasnya dengan ciuman tepat dipipi tuan besar Martines.


Tingkah keduanya dilihat oleh empat pasang mata dari dalam restoran.


"Tuan muda" panggil Samuel saat melihat Zion menghentikan langkah kakinya. Dan Samuel mengikuti kemana arah tatapan Zion dan ia melihat Berliana sedang berbincang dengan lelaki yang berumur.


Keduanya hanya hanya memfokuskan pandangannya yang melihat interaksi keduanya yang cukup intim pikir keduanya.


Rasa amarah tiba-tiba menghampiri tubuh Zion dan kedua tangannya mengepal erat saat melihat interaksi keduanya.


"Berengsek!" umpat kesal Zion melihat keduanya.


"Ternyata itu semua benar!" ucap Zion dengan rahang mengeras.

__ADS_1


Dengan langkah tegas Zion kembali melanjutkan langkah kakinya menuju mobilnya yang terparkir di luar restoran.


Saat Zion keluar dari restoran itu dan saat itu juga bertepatan dengan Berliana juga ikut meninggalkan area restoran dengan motor miliknya.


__ADS_2