Berliana

Berliana
70. Kemarahan Berliana


__ADS_3

Selsai acara makan siang di kantor Zion, Berliana hendak pulang. Dan kebetulan dirinya mendapat pesan dari Tuan Bondan untuk datang kerumah keluarga besar Pohan nanti siang.


"Aku pamit pulang" ucap Berliana sambil beranjak dari sofa yang ia duduki.


"Aku juga mau kembali kekantor. Soalnya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan" ucap Sharmila yang sengaja berucap cepat. Karena ia saat itu tahu jika Berliana akan kembali mengucapkan sesuatu.


"Hati-hati dan jangan lupa untuk istirahat" ucap Zion kepada Sharmila yang juga sudah berdiri dari tempat duduknya dan disusul oleh Zion.


Kini ketiganya sudah berdiri saling berhadapan satu sama lainnya.


"Kamu juga, jangan terlalu lelah bekerja" ucap Sharmila sambil tersenyum manis kearah Zion.


Berliana hanya diam sambil melihat interaksi keduanya, yang saat ini cukup membuat ia merasa sesak untuk menarik nafas.


Bahkan keduanya semakin terlihat intim menurut Berliana. Dimana ia menyaksikan sendiri jika keduanya berpelukan hangat didepan matanya.


Melihat kedua tangan Zion yang menempel dipinggang Sharmila membuat dada Berliana semakin sesak.


"Aku pulang dulu, lain kali aku akan membawakan makan siang untukmu lagi" ucap Sharmila sampai melepaskan pelukan mereka.


Dan Zion hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai tanda setuju. Kini tatapan matanya menatap kearah Berliana yang sedang menatap dirinya.


"Saya permisi" ucap Berliana dengan senyum paksa menatap keduanya secara bergantian. Ia cukup kecewa dengan tingkah Zion hari ini, dan Berliana langsung keluar dari ruangan Zion dengan raut wajah seperti tidak terjadi apa-apa.


Sedangkan Samuel dan juga Vera mendengar pembicaraan mereka didalam, karena pintu di ruangan Zion tidak tertutup rapat.


Samuel merasa cukup kecewa saat melihat tingkah sahabatnya itu, jadi ia berpikir saat ini bukan hanya ia saja yang kecewa, dan Samuel yakin jika Berliana sangat kecewa dengan sikap Zion terhadap Berliana.


...........................


Berliana sudah keluar dari lingkungan Brown Crop, dan saat ini ia sedang menuju kediaman Pohan. Saat ini wajahnya hanya datar menatap jalanan, bahkan kedua tangannya menggenggam erat stir mobil yang sedang ia kendalikan.


Sampai dikediaman Brown. Kedatangan Berliana sudah disambut oleh seorang pelayan dan pelayan itu langsung mengantarkan Berliana keruang keluarga.


Saat sampai disana, Berliana melihat sudah ada Tuan Bondan dan juga istrinya serta Tuan besar Pohan yang sedang menatap tajam dirinya.


"Jelaskan!" ucap tuan besar Pohan sambil melempar foto-foto Berliana yang beredar di media.


Berliana hanya menatap sebentar kearah foto yang dilemparkan keatas meja kaca itu dan dengan santai ia duduk diatas sofa yang bersebrangan dengan tempat duduk tuan besar Pohan.


"Apa yang ingin kalian ketahui?" tanya santai Berliana yang menatap mereka satu persatu. Karena ketiganya mulai memusatkan pandangannya kearah dirinya.

__ADS_1


"Apa ini hasil didikan pasangan tua miskin itu?" tanya tuan besar Pohan dengan sinis.


"Aku rasa itu tidak ada urusannya denganmu!" ucap Berliana yang mulai menatap datar Tuan besar Pohan.


"Melihat sikapmu ini, aku yakin sekali. Jika mereka sudah sangat salah mendidikmu yang sangat berlaku tidak sopan!" ujar tuan besar Pohan dengan senyum sinis.


"Jangan sebut mereka yang sudah tenang disana" ucap Berliana dengan menatap tajam.


Karena ia sangat tidak menyukai jika orang-orang terdekatnya dihina. Apalagi hal itu tidak sesuai dengan kenyataannya.


"Kenapa? Kau marah dengan ucapanku?" tanya tuan besar Pohan dengan kekehan kecilnya.


"Aku sangat yakin jika mereka sangat salah dalam membesarkanmu" cibir kembali tuan besar Brown.


"Ternyata sampah tetaplah sampah!" ucap tuan besar Pohan yang kembali membuat Berliana menatap tajam.


"Jangan pernah menyebut mereka lagi dengan mulut kotor mu itu" ucap Berliana dengan tatapan marah.


"Berliana!" bentak keras tuan Bondan yang merasa sikap Berliana sudah keterlaluan.


"Apa?" tanya Berliana dengan wajah angkuh.


"Tidak semudah itu kalian menyentuhku!" desis Berliana sambil melepaskan dengan kasar tangan tuan besar Bondang yang ia tangkap.


"Jangan kalian pikir aku tidak tahu apa yang kalian rencanakan" ucap sinis Berliana.


"Apa maksudmu?" tanya tuan Bondang dengan raut wajah bingung serta gusar.


"Jangan pernah berpikir jika kalian akan berhasil mengelabuiku dengan mengatakan bahwa kalian adalah orang tua kandungku" ucap Berliana dengan tegas.


"Karena itu tidak akan pernah berhasil!" ucap Berliana sambil menghempaskan tubuhnya keatas sofa.


"Dan jika aku mau, aku bisa mengusir kalian dari rumahku ini" ucap kembali Berliana.


"Itu tidak akan terjadi, karena ini semua adalah milikku" ucap tuan besar Pohan dengan percaya diri.


"Kenapa tidak bisa?" tanya Berliana dengan tenang.


"Karena ini semua adalah milikku! dan hasil kerja kerasku!" ucap tegas tuan besar Pohan.


"Hahahahaha!!" Berliana tertawa keras saat mendengar apa yang diucapkan oleh Tuan besar Pohan.

__ADS_1


"Aku rasa kau sudah bermimpi! Tua bangka Dan kau juga harus segerah dibagunkan!" ucap Berliana yang selesai mengontrol tawanya.


"Kurang ajar!" umpat kesal tuan besar Pohan.


"Apa maksudmu Nak Berliana?" tanya nyonya Mira, karena sedari tadi ia menyimak perdebatan mereka sedari tadi.


"Biar aku jelaskan" ucap Berliana dengan senyum kemenangan menatap kedua lelaki didepannya saat ini.


"Yang pertama, kalian bukan orang tua kandungku" ucap Berliana sambil meneliti perubahan raut wajah mereka mulai bereaksi.


"Dan yang kedua atau yang terakhir. Semua yang kalian miliki selama ini adalah milik Mamaku, Berlinda Santara Pohan" ucap Berliana sambil menatap dalam kedua bola mata Tuan besar Brown yang mulai menggelap.


"Benar bukan?" tanya Berliana dengan senyum mengejek.


"Omong kosong!" bentak keras tuan besar Pohan dengan marah.


"Hahahaha sangat lucu sekali" ucap Berliana yang tertawa lucu melihat tingkah tuan besar Pohan yang semakin menatap marah kepadanya.


"Kau!" seru tuan besar Pohan dan juga tuan Bondan secara bersamaan yang menatap garang kearah Berliana.


"DIAM!" sentak keras Berliana.


Rasa amarahnya memuncak begitu saja saat ini, dan hal itu bisa jadi, karena ia sudah beberapa kali menekan amarah dan kesalnya hari ini.


"Jangan kau pikir aku tidak tahu bagaimana akal licikmu itu untuk mendapatkan Nenekku!" ucap Marah Berliana sambil menunjuk tepat didepan tuan besar Pohan.


"Jangan kau pikir aku tidak tahu dibalik kecelakaan itu!!" ucap Berliana keras dan semakin membuncak amarahnya saat ini.


"Apa kalian pikir aku akan termakan dengan apa yang kalian ucapkan dengan mangaku sebagai orang tuaku?"


"Kalian pikir aku bodoh. Ha?" tanya Berliana dengan keras


"Berengsek, kalian semua!!" teriak Berliana yang murka dengan raut wajah merah padam dan,


Pyarrrr


Meja kaca yang ada ditengah mereka sudah tidak berbentu lagi saat ini. Dengan kasar Berliana menendang meja kaca itu dan pada akhirnya langsung membentur dinding.


Ketiganya menatap tidak percaya kearah Berliana, bagaimana dengan santainya Berliana menendang meja kaca itu yang sudah berserakkan dilantai.


"Aku ingatkan, jika ingin hidup seperti biasanya jangan mengusikku!. Jika tidak maka aku tidak akan mentolerir hal ini lagi" ucap Berliana dan langsung meninggalkan kediaman Pohan dan meninggalakn ketiga orang yang masih membatu ditempatnya.

__ADS_1


__ADS_2