
Berliana keluar dari dalam mobil dengan pintu yang dibukakkan oleh orang yang menjadi supirnya saat ini.
"Pergilah! Jika aku membutuhkan mu maka akan aku hubungi" ucap Berliana saat keluar dari dalam mobil dengan sempurna.
"Baik Nona" ucap lelaki itu dan sedikit menundukkan kepalanya kearah Berliana dan langsung masuk kedalam mobil. Seketika mobil itu sudah berjalan kembali menuju jalan raya.
Berliana melangkah masuk kedalam acara, sampai di dalam ruangan yang tidak jauh dari pintu masuk, ia menatap kesegala penjuru tempat disana.
Ia melihat, Zion dan juga Papanya sedang mengobrol kesalah satu rekan bisnisnya dan ia edarkan lagi pandangan matanya disisi lain. Ada Mama Zion dan juga Sharmila sedang berbincang-bincang dengan teman sosialitanya.
Rata-rata yang ia lihat hampir semuanya, ia mengenal para pembinis senior maupun pemula yang ada disana.
Teman sekolahnya sudah berada ditempat itu ternyata dan asik berbincang sambil menyantap makanan serta minuman yang tersaji.
Asik memperhatikan sekitarnya, Berliana tidak menyadari jika Tuan besar Brown sedang melangkah menuju kearahnya.
"Akhirnya kau datang juga" ucap Tuan besar Brown yang sudah berada didekat Berliana.
"Kakek!. Kakek buat Berliana terkejut Kek" ucap Berliana kepada Tuan besar Brown.
"Maafkan Kakek Sayang" ucap Tuan besar Brown sambil memeluk singkat calon cucu menantunya.
"Bagaimana kabar Kakek? Berliana dengar kalau Kakek habis melakukan perjalanan bisnis!" ucap Berliana.
"Seperti yang kau lihat, Kakek sehat-sehat saja" ucap Tuan besar Brown dengan senyum manis.
"Ayo kita mendekat kearah Zion" ajak Tuan besar Brown kepada Berliana.
Keduanya melangkah menuju Zion dan juga Papa Zion yang sedang berbicara dengan salah satu rekan bisnis mereka.
"Halo Tuan besar Brown. Wah, siapa ini?" tunjuk lelaki paruh baya yang sedang berbincang menunjuk kearah Berliana.
"Perkenalkan namaku Berliana" ucap Berliana dengan tersenyum ramah.
"Salam kenal Nona, kenalkan saya dari MD etertaiment" ucap lelaki paruh baya tersebut.
Awalnya ia terkejut melihat Berliana, apalagi Berliana tidak memperkenalkan sebagai Sandreas.
Sebagai salah satu pembisnis senior, pastila orang akan mengetahui siapa Berliana.
Sebagai salah satu CEO ternama, ia sangat paham akan kode-kode kecil yang di berikan Berliana. Dimana artinya, bahwa kedua berpura-pura saling tidak mengenal satu sama lainnya.
"Apa Nona masih sendiri? Jika ia maka saya akan kenalkan sama anak saya" ucap lelaki paruh baya itu dengan kekehan kecil.
Zion dan juga Tuan besar Brown yang mendengarnya merasa tidak suka. Akan tetapi keduanya menutupi dengan baik ekspresi wajahnya.
"Sayang sekali tuan, Nona ini sudah ada yang punya" ucap Tuan besar Brown dengan cepat.
Karna baginya hanya Berliana yang pantas bersanding untuk cucu tertuanya. Jadi ia tidak rela jika Berliana dimiliki oleh orang lain.
"Sayang sekali kalau begitu" ucap lelaki itu dengan wajah terlihat sedih dn selanjytnya ia terkekehan kecil.
__ADS_1
Mereka berempat mengobrol dengan baik, sesekali mencuri pandang kearah Berliana. Sejenak ia merasa kagum akan cara bicara Berliana yang terlihat santai dan dengan gestur yang elegan.
................................
Berliana sudah meninggalkan mereka bertiga, ia melangkah menuju ketempat makanan serta minuman yang tersaji disalah satu tempat disana.
Berliana fokus memilih berbagai makanan yang akan ia ambil dan selanjutnya aakan ia letakkan keatas piring.
"Berliana" Mendengar ada suara yang menyebutkan namanya, membuat Berliana melihat kearah sumber suara.
"Akhirnya kita bertemu juga" ucap suara itu yang ternyata seorang lelaki.
"Kenalkan aku, Marcello. Adiknya Kak Zion dan Kak Lazarus" ucap Marcelo kepada Berliana
"Aku Berliana" ucap Berliana sambil menyambut uluran tangan Marcello.
Keduanya menuju kesalah satu meja sambil membawa makanan dan juga minuman dikedua tangan mereka.
"Bagaimana hubungan kamu dan juga Kak Zion" tanya Marcello saat keduanya sudah duduk dengan sempurna.
"Maaf, apa aku harus memanggilmu dengan sebutan apa? apa dengan sebutan Kakak ipar?" tanya Marcello dengan tertawa kecil.
"Senyamannya saja" jawab Berliana sambil tersenyum kecil.
"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan sungkan untuk memanggil Kakak ipar. Lagi pula kamu adalah calon istri Kakak ku, walaupun aku lebih tua darimu" ucap Marcello dengan tersenyum manis.
"Bagaimana hubungan kalian?" tanya Marcello untuk kedua kalinya.
"Ya, aku paham" ucap Marcello dengan menghembuskan nafas kasar.
"Aku harap kau bisa meruntuhkan benteng pertahanan Kakak ku. Walaupun ia dingin dan juga seakan tidak peduli. Ia adalah orang yang baik" jelas Marcello.
"Entahlah" ucap Berliana dengan pelan sambil memakan makanannya.
"Kau pasti bisa. Aku yakin itu" ucap Marcello sambil mengusap pelan kepala Berliana.
"Maaf" ucap Marcello dengan raut wajah merasa bersalah.
Karena secara tidak sadar dirinya mengusap puncak kepala Berliana. Apalagi Berliana menatap datar dirinya, membuat ia merasa bersalah.
"Jika Kak Zion tidak mau. Aku siap menggantikannya" ucap Marcello dalam hatinya.
Zion yang memperhatikan keduanya berbincang dari kejauhan, marasa tubuhnya panas dingin.
"Ada apa dengan ku? Apa aku cemburu? Tidak-tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Ya itu tidak akan pernah terjadi" ucap Zion dengan pandangan terus menatap keduanya yang kembali berbincang.
Secara tidak sadar, Zion cukup banyak menghabiskan minuman yang berada diatas meja itu. Karena sedari tadi kedua matanya tidak pernah lepas memandang keduanya.
"Kamu kenapa?" tanya Papa Zion yang melihat anaknya seperti orang kehausan.
"Ehem Tidak ada Pa!" ucap Zion sambil melonggarkan dasinya.
__ADS_1
"Bergabunglah dengan yang lainnya, masih banyak tamu bisnis yang belum kita sapa" ucap Papa Zion kepada putra sulungnya.
..............................
Di meja yang ditempati Berliana, bukan hanya ada Marcello dan Berliana saja. Teman-teman sekolah Berliana ternyata sudah mendekat kearah meja keduanya.
"Kalian dari mana saja?" tanya Berliana kepada keempat temannya.
"Biasa, diajak keliling sama orang tua" ucap Tama sambil menghempas tubuhnya keatas kursi yang berada dekat dengan Berliana.
"Benar, sampai-sampai telinga ku panas mendengar ocehan Mamaku" ucap Kevin dengan kesal.
"Bagitulah kalau para orang tua sudah berkumpul" ucap Gio.
"Harap dimaklumi saja" ucap Sakira sambil meminum minuman milik Berliana. Bahkan gelas minum milik Berliana sudah berpindah-pindah tangan.
"Kalau masih haus ambil saja disana" ucap Marcello yang merasa lucu dengan tingkah teman calon Kakak iparnya.
"Malas" ucap keempatnya dengan serentak.
"Kalian lucu" ucap Marcello dengan terkekeh kecil.
"Kamu siapa?" tanya Gio dengan tatapan memicing.
"Benar, kamu itu siapa?" tanya Tama dan juga Kevin. Sedangkan Sakira menatap penuh selidik kearah Marcello.
"Aku Marcello, anak bungsu dari keluarga Brown" ucap Marcello dengan bangga.
"Oh!" seru keempatnya dengan serentak.
"Kenapa hanya, oh saja?" tanya Marcello dengan dahi berkerut.
"Lah, kami harus apa?" tanya Tama.
"Apa kami harus, merangkulmu?" tanya Gio.
"Apa kami harus memelukmu?" tanya Kevin.
"Apa kami harus jungkir balik?" tanya Sakira.
"Lalu kami harus apa?" tanya mereka berempat dengan serentak sambil memandang bingung kearah Marcello.
Keempatnya memberikan pertanyaan dengan bergantian kepada Marcello. Mendengar ucapan mereka membuat Marcello semakin tertawa lucu menatap teman Berliana.
"Apa ada yang lucu?" tanya Tama yang berbisik kearah Berliana. Namun masih didengar yang lainnya, termasuk Marcello.
"Maaf-maaf. Sungguh aku sangat senang melihat tingkah kalian" ucap Marcello setelah mengendalikan tertawanya.
Lagi-lagi, sepasang mata yang melihat serta memperhatikan Berliana merasa tubuhnya panas dingin.
Siapa lagi jika bukan Zion. Selain ia menatap tidak suka saat sang adik mendekati dan berbibcang kepada Berliana. Ia juga menatap tidak suka kearah Kevin, Tama dan juga Gio yang terlihat sangat akrab dengan Berliana.
__ADS_1
"Apa sebegitu murahannya kau, kau sangat pandai dalam membuat para lelaki menyukaimu?" gumam Zion dengan tatapan kesal menatap kearah Berliana dan juga yang lainnya.