Berliana

Berliana
43. Ingatan Masa Lalu


__ADS_3

Berliana berjalan didalam rumah keluarga Martines dengan langkah santai, seolah-olah dirinya adalah bagian dari rumah itu sendiri.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh Berliana memandangai teman-temannya tengah serius membahas beberapa materi pelajaran.


Melihat hal itu, Berliana menampilkan senyum tipisnya.


Saat dirinya menginjak remaja, dia merasa bingung pada awalnya. Saat Kakek dan Neneknya meminta dirinya agar menjadi wanita yang mandiri.


Flashback On,


"Sayang, kamu harus belajar lebih giat lagi" ucap Nenek Berliana dengan penuh kelembutan.


"Tidak mau Nenek. Lihatlah tangan dan kaki ku yang terluka dan ada beberapa bagian yang membiru" ucap Berliana dengan muka memelas.


"Itu belum seberapa, Berliana!. Saat kau dewasa nanti akan kemungkinan kau akan mendapatkan yang lebih parah dari ini" ucap Kakek Berliana dengan tegas.


"Kakek!" ucap Berliana. Ia merasa sedikit frustasi dengan apa yang Kakeknya ajarkan, mulai dari, sikap keanggunan, mandiri dan juga berbagai beladiri yang harus ia ikuti dan hal itu membuat tubuhnya terasa remuk bahkan rasanya mau lepas dari tempatnya.


"Berliana cucu ku, dengarkan Nenek ya. Saat ini kami masih bisa melindungi kamu, tapi kita tidak tau kedepannya sayang. Jadi kau harus mengikuti aturan Kakek mu dengan baik, ya" jelas Nenek Berliana agar sang cucu mengikuti dirinya.


"Tapi aku ingin seperti anak lainnya, mereka sekolah di sekolah umum, bermain dan berlibur. Sedangkan aku, aku hanya menempuh pendidikan di rumah saja dan juga aku di tuntut harus menjadi wanita pemberani dan mandiri. Aku merasa tidak sanggup Nek" ucap Berliana dengan mata yang berkaca-kaca.


Walaupun ia menjalani pendidikan dari kecil dengan orang-orang yang profesional, akan tetapi rasanya akan sangat beda jika bersekolah umum.


"Baiklah, masuklah kekamar dulu. Nenek akan berbicara dengan Kakek mu dulu" ucap Nenek Berliana dengan lembut sambil mengelus rambut panjang milik Berliana.


Berliana berjalan dengan kaki yang menahan perih, karena ia baru tadi sore menjalani pelatihan beladiri dari orang suruhan Kakeknya.


Semenjak ia menginjak SMP sang Kakek mulai menerapkan berbagai pelatihan kepadanya. Walaupun ia sudah menguasai beberapa ilmu beladiri, akan tetapi saat belajar dengan orang yang diperintahkan oleh Kakeknya. Rasanya sangat jauh berbeda dengan pelatihan yang pernah ia ikuti.


Sampai di kamar, Berliana segerah masuk kedalam kamar mandi yang berada di kamarnya yang berada di lantai 2.


Saat ini mereka sedang berada di negara asal milik sang papa. Karena jika mereka sudah berada di Negara itu maka, berbagai ajaran yang harus ia ikuti yang tingkat kesulitannya luar biasa bagi Berliana.


"Perih sekali" lirih Berliana saat kakinya terkena air, walaupun air hangat.

__ADS_1


"Aku rasa Kakek ingin membunuh ku dengan pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada ku" gurutu Berliana sambil menahan perih.


"Aku tidak bisa seperti ini terus, bisa-bisa tubuh mu akan cacat jika seperti ini terus" ucap Berliana.


...............................


Sedangkan di kamar yang berbeda tapi di lantai yang sama. Yaitu sepasang paruh baya saat itu, tengah terlibat pembicaraan yang sangat serius.


"Aku rasa Berliana sudah tidak sanggup dengan apa yang kau ajarkan" ucap Nenek Berliana dengan wajah sedih.


"Cukupkan saja latihannya, kasihan dia. Apalagi dia masih baru menginjak remaja" sambung Nenek Berliana dengan penuh perhatian.


"Aku tau!. Hanya saja aku tidak ingin nantinya dia terluka oleh orang-orang di luar sana" ucap Kakek Berliana yang paham akan kondisi cucu satu-satunya.


"Tapi mau bagaimana lagi, di kelurga Smith harus memiliki bekal itu sejak remaja" sambung Kakek Berliana dengan tatapan menerawang.


"Aku paham hal itu, tapi. Tidak bisakah menunggu saat ia cukup dewasa agar dia bisa memahami situasi yang ada di pikiran kita?" tanya Nenek Berliana.


"Aku meresa lebih cepat lebih baik. Kau tau bukan putra kita Sandreas? Aku sangat yakin apa yang menimpa putra dan menantu kita bukanlah hal yang kebetulan akan tetapi disengaja oleh seseorang" ucap Kakek Berliana sambil memandang lekat kedua mata Istrinya dengan pandangan sendu tapi kedua tangannya mengepal erat.


"Maka dari itu aku selalu bersikap tegas kepada Cucu kita" ucap Kakek Berliana.


"Aku tidak ingin orang-orang di luar sana berbuat sesuka hati mereka. Apalagi nyawa orang terdekat kita sebagai gantinya" ucap kembali Kakek Berliana dengan mata memerah.


"Aku akan mencoba membujuk Berliana agar ia mengikuti saran-saran dari kita" ucap Nenek Berliana sambil mengusap pelan pundak suaminya dengan lembut.


"Jika perlu, aku akan meminta bantuan Jackson. Untuk membantu proses pelatihan Berliana" ucap Nenek Berliana dengan penuh tekad.


Jackson adalah anak dari saudara suaminya. Dia merupakan seorang lelaki yang kejam bahkan Jackson juga memiliki sebuah organisasi yang cukup dihindarkan banyak orang.


Karena pesona dan juga desas-desus Jackson tidak ada yang tidak tau jika ialah lelaki yang sangat kejam.


Jackson adalah anak angkat dari keluarga Smith, walaupun dirinya anak angkat mereka tidak membeda-bedakan antara keduanya.


Jika Jackson tumbuh menjadi anak yang kuat dan cukup cerdas, beda dengan Andreas papa Berliana. Yang merupakan orang yang ramah, lemah lembut dan serta dia orang yang sangat jenius.

__ADS_1


Karena sikap baiknya, orang-orang di luar sana memanfaat hal tersebut. Dan pada akhirnya mereka membuat pernyataan jika Andreas adalah anak angkat dari keluarga Smith.


Seluruh kelurga Smith sangat paham akan situasi yang mereka hadapi, dan mereka mulai menjalankan peran mereka dengan baik tanpa diketahui siapapun.


Hingga pada saat mereka kembali kenegara asal milik ibu Berliana, rahasia yang mereka simpan terbongkar dan banyak pihak yang menginginkan tahta dan juga nyawa Andreas.


Jackson mendengar hal itu, langsung memburu satu persatu orang yang telah membuat orang terdekatnya celaka. Dan dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi kembali.


Kembali pada pasangan paruh baya yang masih berada di dalam kamar pribadi miliik mereka.


"Aku rasa Jackson sangat ahli dalam hal itu dan aku tidak meragukan hal itu" ucap Kakek Berliana yang tahu akan kemampuan anak angkat saudarinya.


Ternyata percakapan keduanya didengar oleh Berliana yang saat itu akan melewati kamar Kakek dan Neneknya.


Saat mendengar namanya disebut, dengan sengaja ia mendekatkan telinga kepintu agar mendengar pembicaraan keduanya.


Mendengar hal itu, membuat kedua Berliana berkaca-kaca. Saat ini ia sudah mengetahui jika apa yang dialaminya adalah bukan untuk menyiksa dirinya, melainkan untuk kebaikan dirinya sendiri.


"Tidak-tidak, aku harus belajar lebih giat lagi dan tidak boleh mengecewakan perjuangan keduanya. Karena sudah merawat dan menjaga ku sepenuhnya" ucap Berliana yang tampak Shock mendengar pembicaraan dari luar pintu kamar.


"Aku akan membuat kalian bangga kepada ku sesuai dengan apa yang diharapkan kalian" ucap Berliana dengan penuh tekad.


Dengan kasar ia menghapus air matanya yang mengalir di pipinya dan mulai berjalan menuju kamarnya kembali.


Flashback Of


"Berliana!" panggil Sakira dengan suara keras.


Karena cukup lama mereka melihat Berliana hanya berdiri mematung disana.


"Ada apa?" tanya Berliana sambil jalan mendekat kearah teman-temannya.


"Yang seharusnya tanya itu adalah kami, ada apa dengan kamu?" tanya Kevin dan dianggukan oleh yang lainnya.


"Aku? Oh tidak apa-apa" jawab Berliana santai sambil duduk didekat Sakira.

__ADS_1


Melihat sikap Berliana yang terlihat tidak ingin membicarakan hal tersebut lebih lanjut. Jadi mereka kembali fokus pada buka pelajaran mereka dan begitu juga dengan Berliana.


__ADS_2