Berliana

Berliana
29. Berliana Sandreas


__ADS_3

Berliana Sandreas adalah nama panjangan milik Berliana. Nama Sandreas yang di sematkan di belakang namanya adalah pemberian dari Nenek dan Kakeknya.


Hanya saja orang-orang hanya mengetahui nama depannya saja! Untuk nama belakangnya, Berliana hanya menggantikan dengan satu huruf yaitu huruf S.


Nama Sandreas yang diganti dengan inisial S adalah keinginan Berliana sendiri dan di setujui oleh orang tua asuhnya.


Berliana termasuk golongan orang yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi!.


Dengan berbagai prestasi yang dicapai oleh Berliana dan mereka sepakat Berliana akan menempuh pendidikan di luar negeri.


Selama di luar negeri Berliana menjalani kehidupannya dengan baik.


Selama satu tahun dirinya akan mengambil libur selama dua bulan untuk kembali kenegara asalnya.


Saat mendapat berita duka! Kakeknya meninggal Berliana memutuskan untuk menempuh pendidikan di negara asalnya.


Setelah kepergian sang Kakek setelah beberapa tahun berikutnya, Berliana kembali berduka akan meninggalnya sang nenek.


Kehilangan orang-orang yang ia cintai membuat Berliana benar-benar merasa kehilangan.


Disaat dia sedang berduka untuk kedua kalinya, tiba-tiba saja tanpa ada angin dan hujan, datang sepasang suami istri yang mengatakan bahwa mereka adalah orang tua kandungnya.


Amarah dan rasa jijik mulai menjalar kedalam dirinya yang saat itu melihat mereka datang tanpa merasa bersalah kepada dirinya.


Ingin rasanya Berliana mencekik ataupun membunuh keduanya saat itu. Kembali memikirkan akibat pemikirannya Berliana kembali berpikir jernih.


Orang yang mengaku sebagai orang tua kandung Berliana sebenarnya adalah saudara dari mamanya.


Itulah yang menjadi alasan kenapa Berliana sampai detik ini tidak mau memanggil pasangan paruh baya itu dengan sebutan mama dan papa.


Sungguh panggilan yang tidak cocok untuk mereka berdua!.


Kedua orang tua kandung Berliana sudah meninggal akibat kecelakaan saat dirinya masih berumur 5 bulan.


Akibat dari kecelakaan itu kedua kakek dan neneknya mengambil hak asuh Berliana dan hidup di pinggiran kota yang sejuk.


Saat ini Berliana tumbuh menjadi gadis cantik, rambut panjang sedikit bergelombang, tatapan mata teduh, hidung cukup macung, bola mata berwarna hanzel yang diturunkan oleh genetika kedua orang tuanya. Memiliki tinggi badan 169 cm dan berat badan 53 kg.


Sikap terkesan lemah lembut dan terkadang juga bersikap tegas dan mempunyai tatapan mata tajam.


Sungguh begitulah keturunan asli dari keluarga Pohan!.


Berlinda Santara Pohan adalah anak pertama dari mendiang istrinya yang sudah meninggal yang merupakan garis asli keturunan Pohan.


Setelah sang istri meninggal, tuan besar Pohan mengambil alih seluruh kekayaannya dan hidup bersama sang istri tercinta. Yang lebih dulu ia nikahi.

__ADS_1


Berlinda hidup dan dikenal dengan sifat keras kepalanya, setelah bertemu dan jatuh cinta dengan papanya Berliana, Andreas. Saat itu juga tujuan hidupnya berubah dan ingin selalu mengikuti suaminya.


Walapun tuan besar pohan tidak menyetujui pernikah mereka yang terbilang sederhana.


Latar belakang Andreas juga tidak ada yang mengetahuinya. karena Andreas meninggalkan negara asalnya dan ingin hidup damai yang cukup jauh dari kota besarnya.


Mendengarkan keinginan Andreas membuat kedua orang tua Andreas atau kakek dan nenek Berliana mengikuti langkah anak semata wayangnya.


Kekayaan dan kekuasaan yang mereka miliki, mereka serahkan kepada saudara mereka untuk menjalankannya.


.....................................


Kembali kepada Berlian yang saat ini baru keluar dari dalam lift khusus petinggi.


Berliana berjalan menuju ruangan CEO, Berliana melihat seorang wanita yang merupakan sekretaris di perusahaan itu tengah menatap serius kearah layar komputer dan tidak menyadari kehadiran Berliana yang sedang berdiri berjarak satu meter dari meja kerjanya.


"Apa aku mengganggu?" tanya Berliana


Raut wajah terkejut tidak bisa disembunyikan oleh sekretaris itu yang memiliki nama Safira di tanda pengenalnya.


"Nona!" serunya yang tida percaya.


"Ya ini aku, lalu siapa lagi" ucap Berliana pura-pura kesal.


"Ah, nona lama tidak bertemu!" ucap Safira dengan perasaan haru sambil memeluk erat Berliana.


"Apa? Benarkah? Kalau begitu aku harus diet ekstra" ucap Safira dengan wajah shock.


"Hahaha aku hanya bercanda saja kakak!" ucap Berliana yang sengaja ingin mengerjai Safira.


Mendengar ucapan Berliana membuat Safira menatap kesal, walaupun begitu dirinya merasa senang akhirnya bisa bertemu Berliana lagi.


"Aduhh gemasnya!" ucap Berliana sambil mencubit pipi Safira dan langsung ditepisnya lalu kembali ke tempat duduknya lagi.


"Ada perlu apa?" tanya Safira bersikap formal.


"Jangan ngambek donk, nanti malam kita jalan-jalan oke!" bujuk Berliana dan Safira hanya diak saja seolah-olah tidak mendengar.


"Aku teraktir!" bujuk rayu Berliana lagi dan langsung di sambut oleh Safira dengan senang hati.


"Beneran?" tanya Safira.


"Tentu saja" angguk Berliana dengan pasti.


"Baiklah kalau begitu!" ucap senang Safira.

__ADS_1


"Kak Davis ada diruangannya kak?" tanya Berliana yang sudah duduk di samping Safira.


"Sepertinya masih rapat!" ucap Safira yang milihat jam dua siang lewat sepuluh menit.


"Oh, ini meja kerja siapa kak? Bukannya Kak Alan punya ruangan sendiri?" tanya Berliana yang melihat ada dua meja.


"Ini meja kerja asisten kakak, kamu kan tau sendiri kalau pekerjaan kakak sangat banyak" jelas Safira.


"Iya juga sih" ucap Berliana yang tampak sedikit berpikir.


"Kapan kamu akan kembali menjadi wakil CEO?" tanya Safira.


"Entahlah, belum ku pikirkan" ucap Berliana acuh.


Saat ini Berliana berada di perusahaan Smith Crop dan dia menjabat sebagai wakil CEO disana.


Tidak terlalu sulit untuk Berliana memahami tentang perusahaan itu, selain memiliki kecerdasan cukup tinggi.


Berliana sangat menyukai tantangan dalam menaklukkan sesuatu.


"Apa rapat mereka masih lama?" tanya Berliana yang sudah menunggu tiga puluh menit lamanya.


"Mungkin sebentar lagi" jawab Safira yang masih fokus layar komputernya.


"Rapat apa memangnya?" tanya Berliana penasaran.


"Rapat bulan antar kepala devisi" jawab Safira.


"Datang saja kesana" usul Safira.


"Setelan ku tidak cocok" ucap lesu Berliana.


"Tidak akan yang berani memarahimu" ucap Safira dengan tersenyum.


"Benar juga ya, ya sudahlah aku akan kesana! Tapi kakak jangan beritahu Kak Davis ya" ucap Berliana sambil beranjak.


"Tenang saja. Aman!" ucap Safira dengan yakin.


Di ruang rapat terdapat suasana yang cukup menegangkan bagi mereka yang hadir di ruang rapat.


Sudah beberapa berkas laporan bulanan yang dilempar oleh Davis ke tengah-tengah mereka.


"Apa kalian harus diajarkan terus?" tanya marah Davis.


"Sudah berulang kali aku katakan! Teliti lagi!" geram Davis kepada bawahannya yang berjumlah sekitar 30 orang yang sedang menunduk takut.

__ADS_1


"Aku sudah memberikan kalian cukup banyak waktu untuk mengerjakan laporan dan hanya beberapa saja yang sudah selesai!" seru marah Davis.


Asisten dan asisten sekretaris itu hanya duduk dibelakang Davis dengan keadaan membisu sambil melihat sang atasan mereka yang tengah memarahi beberapa kepala devisi yang tidak becus pada pekerjaan mereka.


__ADS_2