
Saat ini dikediaman utama Brow sang nyonya sedang terlihat sibuk, bahkan ia sendiri yang turun tangan langsung untuk mengatur menu makan malam hari ini.
Dia berencana untuk mengundang calon menantu idamannya. Siapa lagi jika bukan Sharmila atau sapaan akrabnya yaitu Mila.
Kali ini ia berencana untuk mendekatkan kembali sang putra sulung dengan calon pilihannya.
"Pastikan semua makanannya bersih dan aku tidak ingin sedikitpun kesalahan" ucap Mamanya Zion yang terlihat sibuk untuk mengatur para pekerja yang bertugas untuk mempersipkan acara makan malam.
"Baik Nyonya" ucap beberapa pekerja dengan bersamaan.
"Perhatikan juga tingkat kematangan dan juga kebersihannya" ucap Mama Zion.
Dan para pekerja hanya menjawab patuh kepada sang majikan.
Sedangkan dirumah milik Zion, tepatnya di kamar Berliana.
Saat ini ia tengah berbicara dengan Jonathan melalui sambungan ponsel.
"Malam ini aku belum bisa bertemu kalian, jadi kita atur waktu kembali untuk bertemu" ucap Berliana kepada Jonathan san juga Sasa yang saat ini sedang berada didekat Jonathan.
"Baik Nona" ucap keduanya dengan patuh.
"Apa rumah itu sudah selesai direnovasi?" tanya Berliana.
Rumah yang di maksud oleh Berliana adalah rumah yang pernah di tinggali oleh kedua orang tuanya sebelum peristiwa berdarah itu terjadi.
Hanya Sasa dan juga Jonathan yang mengetahui keberadaan rumah tersebut. Rumah itu banyak membawa kenangan bagi Berliana. Bahkan banyak foto-foto Mama dan Papanya saat masih bersama maupun sudah menikah dan juga foto dirinya dari mulai bayi sampai saat ini.
"Sudah Nona, bahkan bunga mawar putih sudah mulai bermekaran di pekarangan rumah Nona" jawab Sasa.
"Perketat penjagaan disana, jangan sampai ada pihak lain yang ingin menghancurkan rumah tersebut" ucap Berliana.
"Baik Nona" ucap keduanya dengan suara cukup tegas.
........................................
Saat ini Berliana dan juga Zion sedang menuju kediaman utama, Brow. Berliana hanya duduk diam disamping Zion dan Samuel fokus menyetir mobil.
Saat mengetahui jika Mama Zion mengundang mereka untuk makan malam di kediaman utama, Berliana merasa cukup senang dan mungkin saja jika itu adalah awal dirinya di terima oleh keluarga Zion.
Sedangkan Zion hanya diam tanpa berekspresi apapun, sebetulnya dia merasa ada keanehan saat sang Mamanya memaksa agar dirinya dan juga Berliana untuk makan malam kembali di kediaman utama setelah saat itu Mamanya berniat menjodohkan dirinya.
Sampai di kediaman utama, kedatangan keduanya sudah di sambut oleh Mama Zion, bukan kedua dan itu hanya Zion.
"Akhirnya putra sulung ku datang juga" ucap Mama Zion dengan senang, bahkan ia sperti tidak melihat Berliana yang datang bersama dengan Zion.
__ADS_1
"Tapi nanti dulu kita masuknya, kita tunggu tamu spesial dulu" ucap Mama Zion dengan tersenyum manis.
Mendengar ucapan Mama Zion, Zion dan juga Berliana menatap bingung kerah Mama Zion.
"Nah itu mobilnya sudah datang" seru Mama Zion, dan ketiganya mulai memandang kearah mobil mewah yang baru saja masuk kedalam pekarangan rumah.
Ternyata pemilik mobil itu adalah Sharmila, yaitu calon menantu pilihan Nyonya Debora untuk Zion.
"Maaf Ma, Mila datangnya telat" ucap Sharmila dengan raut wajah rasa bersalah.
"Tidak apa-apa sayang" ucap Mama Zion.
Semenjak ia sudah memantapkan jika Sharmila adalah calon menantu yang cocok untuk Zion, dia meminta Sharmila untuk memanggil dirinya Mama bukan Tante lagi.
"Ayo kita masuk Sayang" ucap Mama Zion langsung menggandenga tangan Zion di kirinya dan Sharmila di tangan kanannya.
Mereka melupakan kehadiran Berliana yang berada didekat Zion. Saat akan berjalan masuk kedalam rumah. Sharmila melihat kearah Berliana dengan tersenyum miring dan seolah-olah Berliana tidak cocok berada di ruang lingkup keluarga Brown.
Berliana menatap datar punggung ketiganya yang berada didepannya. Bohong jika dirinya tidak merasa kecewa, saat Zion tidak sedikitpun bersuara jika dirinya juga ada disana.
Sampai diruang keluarga ia melihat, mereka bercanda tawa dan hanya dirinya yang seolah-olah tamu tidak di undang. Sehingga mereka mengabaikan kedatangan dirinya yang mengekori ketiga orang tadi.
"Berliana!, ayo gabung disini" ucap Luna yang tidak sengaja melihat Berliana yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Berliana hanya ternyum kepada Luna dan mulai menyapa, Papa Zion, Lazarus, Luna dan untuk tuan besar Brow tidak bisa hadir. Karena dirinya sedang berkunjung ke rumah keluarga pihak dari mendiang istrinya.
Rasa sesak didada Berliana semakin menjadi dikala dirinya terkesan tidak ada disana.
"Ayo kita makan malam, kasihan Mila sudah menyempatkan waktunya untuk datang kesini" ajak Mama Zion dan mereka mulai berdiri satu persatu dan yang terakhir adalah Berliana.
"Mama memasak semua ini khusus untuk kamu Sayang" ucap Mama Zion kepada Sharmila yang sedari tadi ia gandeng.
Satu persatu mereka mulai duduk di meja makan dan tibalah terkahir Berliana sampai disana. Karena cukup lama ia menenangkan dadanya yang terasa sesak melihat bagaimana dirinya cukup di kucilkan.
"Sayang kamu duduk di dekat Zion saja" ucap Mama Zion kepada Sharmila dan dengan senang hati dituruti oleh Sharmila.
"Kenapa tidak Berliana saja Ma? Bukannya Berliana tunangan Kak Zion" ucap Lazarus yang menatap aneh sang Mama.
"Banar Ma, kan tunangan Kak Zion Berliana bukan Sharmila" ucap Luna yang merasa simpati kepada Berliana.
"Benar dia yang menjadi tunangan Zion, tapi yang nantinya akan menjadi istri Zion adalah Sharmila" ucap Mama Zion dengan ketus.
Sedangkan Papa Zion hanya menghela nafas kasar, jika dirinya tidak mau ikut campur.
"Duduklah" ucap Mama Zion kepada Berliana dengan raut wajah tidak suka.
__ADS_1
Berliana duduk di dekat Luna dan ia berseberangan dengan Zion dan juga Saharmila.
"Sayang, ambilkan makanan untuk Zion" ucap Mama Zion kepada Sharmila.
"Baik Ma" ucap senang Sharmila.
"Mau makan pakai apa?" tanya Sharmila dengan senyum manisnya.
"Apa saja" jawab datar Zion.
"Zion sukanya ayam goreng" ucap Mama Zion dan langsung diambilkan oleh Sharmila.
"Cukup?" tanya Sharmila kepada Zion saat ia selesai mengambil makanan untuk Zion.
"Cukup" ucap Zion sambil melihat kearah Sharmila.
"Kamu makan juga Berliana" ucap Luna dengan pelan tapi masih didengar yang lainnya.
"Iya Kak" ucap Berliana dengan seyum pedih.
Sekali lagi Berliana menatap Zion dan juga Zion menatap kearah Berliana.
"Kamu mau ini?" tanya Zion kepada Sharmila.
"Tidak perlu Kak, ini saja sudah cukup" tolak halus Sharmila.
Zion sengaja melakukan hal itu, karena ia ingin memanasi Berliana yang sedari tadi mencuri pandang kerah mereka berdua.
Di bawah meja makan, tangan kiri Berliana mengepal dengan erat saat melihat Zion berbicara cukup lembut kepada Sharmila saat didepan matanya.
"Wah, kalian sangat romantis sekali" ucap Mama Zion dengan senang.
Mendengar hal itu Sharmila hanya diam menunduk, sungguh ia merasa sangat berbunga-bunga mendengar ucapan Mama Zion yang membuat dirinya senang bukan kepalang.
.........................
Saat ini Zion dan juga Berliana dalam perjalnan pulang, keduanya hanya diam tanpa berbicara satu sama lainnya.
Berliana hanya melihat keluar kaca mobil sambil mengingat serangkaian ucapan dan juga prilaku yang ia terima saat di rumah utama Brown.
Sakit, kecewa, sedih dan marah. Semuanya tercampur jadi satu dalam dada Berliana. Rasanya ingin sekali ia berteriak marah sekaligus sedih, tapi ia tahan.
Karena dirinya bukanlah tipe orang yang mudah terpancing amarah dan melampiaskannya.
Zion yang melihat Berliana hanya memandang kelur cendela merasa acuh dan tidak perduli.
__ADS_1
"Aku yakin sebentar lagi kau akan memituskan pertunangan ini" ucap Zion dalam hatinya dengan tersenyum miring.
Sejauh ini ia belum bisa menyukai Berliana dan tanpa ia sadari dirinya mulai terbiasa saat Berliana berada didekatnya.