
Sore harinya Berliana baru saja bangun dari tidurnya yang menurut dirinya sangat lama.
Selain ia merasa sangat nyaman dan tenang serta ia begitu merindukan suasana tempat tinggal masa kecilnya.
Berliana beranjak dari tempat tidurnya dan ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Berliana sudah berpakaian rapih dan begitu cantik.
Ia menggunakan gaun selutut berwarna hitam dan sepatu berwarna putih.
Rambut yang dikuncir tinggi dan tidak lupa Berliana memakai kalung mutiara yang begitu indah melingkar di lehernya.
Sedikit polesan mekup yang ia aplikasikan kewajahnya.
Untuk pertama kalinya Berliana berpakaian seperti itu selama ini.
Walaupun ia pernah memakai gaun, akan tetapi dia tidak pernah berdandan seperti sekarang ini.
Berliana melihat penampilan dirinya melalui kaca yang ada di dalam kamarnya. Bohong jika Berliana tidak memuji dirinya sendiri yang tampil begitu cantik hari ini.
Cukup lama dirinya termenung didepan kaca yang cukup besar itu.
Akhirnya Berliana mulai meninggalkan kamarnya dan berjalan keluar dari rumah yang penuh kenangan tersebut.
Masuk dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya, sebenarnya tujuan Berliana berada di ujung desa itu dan jika berjalan kaki menempuh perjalanan sekitar kurang lebih sepuluh menit.
Berhubung ada yang ingin dibeli, jadi Berliana pergi menggunakan mobil miliknya.
Mobil yang dikendarai oleh Berliana sampai di salah satu tempat penjual air bunga mawar dan beberapa kembang bunga.
Tujuan Berliana adalah untuk mengunjungi makam orang-orang tersayang yang sudah meninggalkan dirinya terlebih dahulu.
"Mau beli apa Neng?" tanya penjual kembang yanh merupakan seorang ibu-ibu yang sudah cukup tua.
"Air bunganya 2 Bu sama kembangnya satu yang keranjang besar" ucap Berliana kepada penjual kembang.
"Baik Neng" ucap penjual itu dan langsung mengemas kembang yang segar-segar kedalam keranjang pesanan Berliana.
"Ini Neng" ucap penjual kembang sambil meyerahkan kepada Berliana.
"Kembangnya tolong di tambahkan lagi ya Bu, sampai keranjangnya penuh" ucap Berliana kembali saat melihat keranjang bunga yang baru saja di berikan kepadanya masih ada tempat untuk memasukkan kembang kembali.
"Baik Neng" ucap patuh ibu penjual itu dengan senang hati.
Setelah beberapa saat penjual itu kembali menyerahkan satu keranjang penuh yang berisikan kembang yang sangat segar dan cukup berwarna.
__ADS_1
"Berapa Bu?" tanya Berliana.
"Delapan puluh lima ribu Neng" ucap penjual itu.
"Ini Bu, kembaliannya ambil saja" ucap Berliana sambil menyerahkan uang pecahan yang lebih besar dari pada nominal yang disebutkan oleh ibu penjual itu.
"Terima kasih banyak Neng!" seru ibu penjual kembang dengan senyum lebar.
Berliana kembali melanjutkan perjalanannya dan memutar kembali arah mobil yang pada awalnya sudah melewati jalan menuju area pemakaman yang ada di Desa itu.
Sampai di area pemakaman atau tempat khusus parkir kendaraan.
Berliana berjalan dan melewati beberapa makam. Karena makam yang dituju oleh Berliana berada di bagian paling sudut atau paling pinggir dari area tersebut.
Di tangan kiri Berliana ada sebuah kantong yang berisikan air bunga mawar dan ditangan kanan Berliana ia memegang keranjang bunga yang ukurannya cukup besar.
Saat akan mencapai tujuannya, Berliana memperlambat langkahnya sambil kedua matanya tertuju pada beberapa makan di sana.
"Aku datang!!" ucap Berliana dalam hati sambil berdiri menghadap makam.
Berliana meletakkan barang yang ia bawak di kedua tangannya di atas rumput hijau.
"Kalian apa kabar?" tanya Berliana setelah keterdiamannya.
"Apa kalian merindukan aku? Aku begitu merindukan kalian!" ucap Berliana dengan suara serak.
Berliana mendekat kearah makan Kakek dan Neneknya dan berjongkok disana sambil membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di atas makam tersebut.
Dengan tatapan sendu Berliana bergantian mengusap kedua batu nisan tersebut.
"Aku terlihat cantik bukan?" tanya Berliana yang sudah menaburkan kembang dan air mawar di atas makam.
"Dulu kalian selalu memaksa ku untuk memakai pakaian ini dan kalian ingin melihat ku tampil sangat cantik. Saat ini aku sedang berpenampilan yang kalian inginkan!" ucap Berliana dengan suara bergetar menahan tangisnya pecah.
Pakaian dan sepatu yang di pakai oleh Berliana adalah salah satu pakaian yang dibelikan oleh Kakek dan Neneknya saat mereka masih hidup.
Mengingat Berliana jarang pulang kedesa membuat pasangan tua itu membeli beberapa pakaian untuk cucu mereka saat cucunya kembali.
"Kalian melihat aku, kan diatas sana?"
"Nenek!. Rasanya berat sekali saat melihat mereka seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan tidak merasa sedikitpun rasa bersalah!."
"Tapi sesuai janjiku padamu, aku tidak akan melakukan hal keji untuk mereka!. Walaupun aku sangat ingin melakukan hal itu" ucap Berliana dengan air mata yang mulai menetes dikedua pipinya.
"Rasanya sesak sekali Nek!" ucap Berliana sambil memukul dadanya.
__ADS_1
Saat ini pandangan Berliana ia alihkan kearah makam yang ada di samping kedua makam Nenek dan Kakeknya.
Karena Berliana sedari tadi membelakangi kedua makam itu.
"Papa dan Mama apa kabar?" tanya Berliana dan dia sadar jika mereka tidak bisa menjawab ucapannya.
"Walaupun aku belum melihat wajah kalian langsung, atau saat aku bisa mengingat wajah kalian waktu itu. Tapi aku yakin jika cinta kalian begitu besar untuk ku" ucap Berliana dengan posisi berdiri menghadap makam yang berjarak .
"Lihatlah putri kalian ini, ia sudah besar dan sangat cantik sampai hari ini. Aku ingin sekali melihat wajah kalian, aku sangat merindukan kalian berdua"
"Datanglah kemimpi ku" ucap Berliana dengan memohon.
"Mama!. Aku sekarang mulai mengetahui bagaimana nasib mu saat berada di sana. Terima kasih karena sudah setia sama Papa dan mempertahankan Berliana, Ma".
"Doakan aku dari sana, semoga aku tetap memiliki sifat dan sikap seperti kalian!" ucap Berliana dengan tatapan sendu.
Cukup lama Berliana berada di area makam, merasa hari semakin sore. Berliana memutuskan untuk kembali kerumah mereka.
"Berliana pamit pulang!" ucap Berliana dan membungkukkan badannya cukup lama.
Saat ini dirinya sudah berada dijalan pulang menuju rumah masa kecilnya.
Sampai disana Berliana hanya berkeliling disekitar rumah dan belum berniat untuk masuk kedalam rumah.
Jarak antar rumah ke rumah yang lainnya cukup berjarak, hal itu di karenakan para warga disana memanfaatkan pekarangan yang ada disekitar mereka dengan menanam tanaman untuk di konsumsi ataupun untuk dijual.
Berliana kembali masuk kedalam rumah dan menuju kekamarnya.
Karena ia berniat akan pulang di malam harinya. Oleh karena itu ia akan beristirahat sejenak dan untuk makan malam terlebih dahulu sebelum meninggalakn rumah itu dan pulang kerumah milik Zion.
Malam harinya, Berliana sedang bersantai memainkan ponselnya di dalam kamar.
Mendengar pintu rumah di ketuk, Berliana berjalan menuju pintu dan membuka pintu.
"Ini Neng makanannya" ucap seorang lelaki paruh baya yang mengantar makanan untuk Berliana dan dia juga yang menjaga rumah tersebut.
Sedangkan istrinya yang bertugas untuk membersihkan rumah dan pekarangan disekitarnya.
"Terima kasih ya Mang" ucap Berliana yang sudah memberi tahu kedatangannya dan meminta dibuatkan makan malam.
"Sama-sama Neng. Eneng langsung mau balik?" tanya lelaki paruh baya itu.
"Iya Mang, Berliana nitip rumah ya" ucap Berliana.
"Hati-hati pulangnya Neng dan saya pamit duluan Neng" pamit lelaki paruh baya itu kepada Berliana dan langsung berjalan meninggalkan pekarangan rumah itu.
__ADS_1