
Masih dalam suasana tegang, Berliana masuk kedalam ruang rapat dengan santai.
Mendengar suara pintu terbuka, semuanya mengalihkan pandangan kearah pintu masuk.
"Apa aku mengganggu?" tanya Berliana dengan muka polos.
Davis yang ingin memarahi orang yang masuk keruang rapat tanpa izin darinya membuat ia menatap tidak suka.
Setelah melihat siapa yang datang membuat Davis tersenyum cerah dan berjalan cepat kearah pintu.
"Sayang!" panggil Davis dengan raut wajah gembira yang seolah lupa bahwa dia baru saja memarahi para bawahannya.
"Kenapa tidak memberitahuku kalau ingin kesini?" tanya Davis sambil memeluk Berliana erat.
Orang-orang yang ada diruangan yang mengetahui siapa Berliana langsung menunduk hormat!. Sedangkan untuk yang belum mengetahui hanya menatap bingung, siapa dia yang dengan lancang masuk kedalam ruang rapat? Itulah yang jadi pemikiran orang-orang yang belum mengetahui siapa Berliana.
"Biar jadi kejutan!" ucap Berliana sambil mencium pipi Davis.
"Kak Alan" sapa Berliana yang melihat Alan dan Faby mendekat kearah mereka.
"Selamat datang nona!" ujar Alan sambil menundukkam kepalanya dan diikuti Faby yang masih tidak mengetahui Berliana.
"Kakak tidak mau memelukku?" tanya Berliana sambil merentangkan kedua tangannya.
"Tentu saja aku mau!" ucap Alan sambil tersenyum tipis.
Dengan cepat dia langsung memeluk orang yang sudah dia anggap sebagai adik mereka sendiri.
"Ayo duduk didalam!" ajak Davis yang melihat mereka masih di depan pintu.
"Aku tunggu diluar saja Kak, tidak enak sama yang lain. Lihatlah pakaian ku!" ucap Berliana sambil memperhatikan penampilannya.
"Abaikan saja!" ucap acuh Davis dan langsung menarik Berliana menuju kursi yang ia duduki.
"Asisten Alan, siapa nona tadi?" bisik Faby dengan suara pelan kepada Alan.
"Wakil CEO" ucap singkat Alan.
Walaupun dengan raut wajah bingung, Faby hanya menyimpan berbagai pertanyaan di dalam pikirannya.
"Tuan apa tidak apa-apa orang luar mengikuti rapat ini?" tanya seorang kepala devisi yang sepertinya masih muda dan baru beberapa waktu bekerja disana.
"Halo semuanya perkenalkan nama saya Berliana Sandreas!" kenal Berliana terlebih dahulu sebelum Davis bersuara.
Karena ia sangat tahu bagaimana karakter orang yang sudah ia anggap sebagai kakak-kakaknya itu.
Mendengar nama Sandreas membuat mereka menatap tidak percaya.
Ternyata pemilik nama Sandreas adalah wanita yang masih sangat muda.
Jika berada di luar negaranya Berliana akan mengenalkan dirinya sebagai Sandreas.
"Senang bertemu dengan anda nona Sandreas!" ucap mereka serentak dan Faby yang awalnya bingung sekarang menjadi tau siapa wanita muda yang lancang masuk kedalam ruang rapat walaupun belum sepenuhnya.
__ADS_1
"Bisa kita lanjutkan?" tanya Davis yang sempat terhenti karena kedatangan Berliana yang mengejutkan mereka.
Rapat yang awalnya terhenti mulai berjalan dengan baik, bahkan bahasa Davis lebih manusiawi saat ada Berliana.
Berliana hanya mendengarkan saja tanpa berkomentar, dirinya sibuk pada cemilan yang berada di atas meja.
Saat akan membuka tutup botol air mineral, Davis lebih dulu mengambil, lalu membukanya terus menyerahkan kepada Berliana sambil berbicara dan mendengarkan ucapan bawahannya.
Melihat perlakuan Davis membuat mereka menatap kagum bahkan ada yang menganggap bahwa Berliana adalah kekasih bos mereka.
............................
"Kenapa tidak memberitahu kami ha?" tanya Davis dengan wajah kesal.
Saat ini mereka sudah berada diruangan Davis, Berliana dan Alan.
"Aku ingin memberi kalian kejutan!" ucap Berliana dengan tersenyum manis.
"Bagaimana dengan keadaan kamu saat ini?" tanya Alan dengan wajah datar.
"Aku baik" jawab Berliana.
"Kak Vina apa kabar?" tanya Berliana kepada Alan tentang istrinya.
"Dia masih cerewet" jawab Alan sambil tersenyum kecil.
"Walaupun begitu kau sangat mencintainya bukan?" tanya Davis dengan nada mengejek.
"Ya" ucap singkat Alan.
"Apa kau betah tinggal disana?" tanya Davis dengan muka serius.
Kini keduanya mulai menatap serius kearah Berliana.
"Kak! Apapun jalan yang aku tempuh saat ini. Itulah adalah jalan sudah ku pikirkan dengan baik" ucap Berliana sambil menggenggam tangan Alan dan Davis bersamaan.
"Kami sangat paham itu, tapi Dek kamu tau bukan bagaimana khawatirnya kami dan bagaimana kondisi kamu saat jauh dari kami?" ucap Davis dengan suara pelan bahkan kini tatapannya mulai sendu.
Rasa khawatir yang selalu mereka simpan kini tidak bisa lagi mereka simpan. Sebagai kakak sepupu Berliana dirinya berupaya agar Berliana hidup dengan baik.
"Aku tau kak! Tenang saja, oke" ucap Berliana sambil tersenyum tulus kepada kedua kakak laki-lakinya yang sudah ia anggap saudara kandung.
"Sudahlah Davis, Berlian kita sudah menentukan pilihannya. Tinggal kita yang harus mendukung penuh" ucap bijak Alan.
"Tapi Bang" sanggah Davis kepada Alan yang sudah ia anggap sebagai saudara.
"Percayalah kak!" ucap Berliana dengan suara lembut.
"Baiklah" ucap Davis sambil mengusap pelan kepala Berliana.
Berliana keluar dari dalam ruangan Davis dan berjalan dengan santai menuju lift, sampai didepan meja kerja Safira dan Faby.
Berliana langsung melambaikan tangan tanpa melihat keduanya yang sedang melihat kepergian Berliana.
__ADS_1
"Kak Safira, apa benar dia nona Sandreas?" tanya Faby yang masih ragu akan identitas Berliana.
"Tentu saja!" ucao bangga Safira.
"Kenapa? Apa kau tidak yakin?" tanya Safira dengan wajah serius.
"Bukan begitu hanya saja" ucapan Faby langsung di putus oleh Safira.
"Faby, dengarkan ini dengan baik-baik!. Kemampuan tuan muda Davis saja dia bisa mengimbanginya!. Apalagi kita yang hanya remahan roti ini!" jelas Safira dengan nada tegas.
"Paham?!"tanya tegas Safira dengan tatapan tajamnya.
"Paham kak" ucap Faby yang mendadak canggung kepada Safira.
"Bagus!" ucap Safira dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Karena ia paling tidak suka jika ada orang yang meragukan kemampuan orang lain. Sedangkan kemampuan mereka tidak lebih baik dari orang yang mereka bicarakan!.
...................................
Setelah mengunjungi Smith Crop, saat ini Berliana lanjut mengendarai motor kesayangannya.
Tujuan Berliana saat ini adalah menuju universitas ternama yang ada di negara itu.
Dia ingin mengejutkan seseorang yang baru menempuh dunia kuliah saat ini.
Sampai di area kampus Berliana membelokkan motornya menuju tempat perkuliahan orang yang akan dijemputnya.
Memarkirkan motor dengan sempurna, Berliana hanya duduk diam diatas motor sambil bermain ponsel!.
Melihat jam pulang kuliah sudah hampir tiba, Berliana kembali lanjut bermain ponselnya.
Berhubung kelas sore, jadi tidak terlalu padat kendaraan roda dua maupun roda empat yang memenuhi parkiran.
"Leanor!" panggil Berliana dengan suara keras saat dia tidak sengaja menoleh kearah perkumpulan mahasiswa itu.
Mendengar namanya dipanggil membuat orang yang di panggil dengan nama Leanor langsung menoleh kearah sumber suara.
Melihat siapa yang memanggil dirinya, membuat Leanor langsung berlari kearah Berliana yang sudah merentangkan kedua tangannya.
"Kakak!" panggil Leanor sambil berlari menuju Berliana.
Dia adalah Leanor Smith adik dari Davis Smith, jika dilihat dari umurnya maka akan lebih tua Leanor satu tahun dari Berliana.
Berhubung mereka masih memiliki tradisi keluarga yang kental maka, Leanor memanggil Berliana dengan sebutan kakak.
Ayah mereka memang sepupuan hanya saja, Papa Berliana terlambat menikah, dan alhasil Leanor harus bertuan kepada Berliana.
"Kenapa tidak menghubungiku, jika akan datang kesini? Kalau tau tadi aku akan bolos kuliah saja" rajuk Leanor kepada sepupunya.
"Jangan pasang muka masam! nanti malam kakak kembali lagi" ancam Berliana.
"Jangan!" ucap cepat Leanor. Karena sudah hampir dua tahun lamanya mereka tidak bertemu.
__ADS_1
"Makanya senyum!" ucap Berliana sambil menaraik kedua sudut bibir Leanor.