Berliana

Berliana
50. Rumah Sakit


__ADS_3

Malam harinya, Berliana kembali kerumah sakit untuk menjenguk Zion. Sampai di depan ruangan Zion, Berliana melihat ada Mama, Papa dan juga Sharmila sedang berada didalam ruang inap Zion yang melalui sedikit celah kaca pintu.


Didalam kamar rawat Zion.


"Aku baik-baik saja" ucap Zion dengan datar dan dingin. Karena ia merasa cukup jengah melihat ekspresi ketiga orang yang ada dihadapannya saat ini.


"Kau harus cepat sembuh Zion" ucap Sharmila yang duduk dekat ranjang rumah sakit.


"Iya nak, lihatlah Sharmila begitu menghawatirkan kamu Sayang. Dia meninggalakan rapat pentingnya agar bisa sampai disini dengan cepat" ucap Mama Zion dengan memuji Sharmila.


"Pulanglah hari sudah malam" ucap Zion dengan raut wajah datar.


"Tidak, aku ingin menemani kamu disini" ucap Sharmila dengan muka cemberut.


"Pulang saja nak Sharmila, datang lagi saja besok pagi. Karena Zion sudah diperbolehkan pulang besok pagi. Lagi pula tidak baik seorang anak gadis pulang terlalu larut" ucap bijaksana Papa Zion.


"Iya Sayang besok pagi-pagi kamu datang kesini saja lagi" ucap Mama Zion yang ikut membujuk agar Sharmila pulang.


"Baiklah" ucap Sharmila yang terlihat enggan meninggalkan Zion dan ia ingin menjaga Zion di rumah sakit.


"Ma, antar Sharmila ke bawah, sampai ia sudah masuk kedalam mobil" ucap tuan besar Brown kepada istrinya.


"Baik Pa, ayo sayang" ucap Mama Zion sambil menggandenga tangan Sharmila.


Melihat Sharmila dan juga Mama Zion sedang menuju pintu. Berliana menyembunyikan dirinya dengan cara merapatkan diri ketembok sebelah kiri.


Berliana menatap kepergian Mama Zion dan juga Sharmila yang terlihat sangat jauh berbeda dengan perlakuan dirinya.


"Masuklah" ucap Papa Zion yang sedari awal sudah melihat kedatangan Berliana.


"Terima kasih Tuan" ucap Berliana kepada Papa Zion.


"Berliana" panggi Papa Zion saat Berliana akan membuka pintu rawat Zion.


"Ya" ucap Berliana dan menatap Papa Zion.


"Aku tidak menentang dan juga menyetujui tentang kehidupan pribadi Zion. Karna bagiku, jika Zion menyukai jalan yang ia ambil maka aku akan menyetujuinya" ucap Papa Zion dengan raut wajah serius menatap Berliana.


"Lepaskan jika kamu sudah merasa tidak bisa menggapainya. Jika di paksakan maka kamu sendiri akan terluka" ucap Papa Zion dengan raut wajah tidak bisa diartikan.


"Aku tau" ucap Berliana dengan tatapan lekat.


"Aku bahkan sangat tau. Tapi izinkan aku setidaknya beri aku sedikit waktu untuk mencoba lagi" ucap Berliana dengan sedikit penuh harap.


"Baik, tapi jika kau merasa cukup maka menjaulah. Semakin dipakasa maka semakin sakit menerimanya" ucap bijak Papa Zion dan tidak lupa pula ia mengusap pelan bahu kanan Berliana.


"Terima kasih" ucap tulus Berliana dan dibalas anggukkan oleh Papa Zion.


"Masuklah" ucap Papa Zion.


Berliana masuk kedalam ruang rawat Zion dan ia melihat Zion sedang memainkan ponsel diatas ranjang rumah sakit.


Merasa ada yang menatap dirinya membuat Zion mulai menatap kearah Berliana.


"Apa kau sudah membaik?" tanya Berliana sambil mendekat keranjang yang Zion tempati.

__ADS_1


"Aku rasa mata kamu masih berfungsi bukan?" ucap ketus Zion dan langsung kembali menatap layar ponsel miliknya.


"Mau makan?" tanya Berliana yang sengaja membawa makan malam untuk Zion.


"Tidak perlu!" ucap Zion tanpa melihat kearah Berliana.


Mendengar hal itu Berliana hanya menghembuskan nafas secara kasar.


Cukup lama Berliana menatap Zion yang tidak mau menatap dirinya.


"Aku akan pulang" ucap Berliana pada akhirnya.


"Zion" panggil Berliana yang memperhatikan Zion yang tetap saja fokus menatap ponsel yang sedang dimainkannya.


"Zion!" panggil Berliana yang kedua kalinya dengan suara cukup keras.


Zion langsung menatap Berliana dengan tatapan membunuh dengan alis terangkat satu.


"Boleh aku memelukmu?" tanya Berliana dengan tatapan penuh harap dan jangan lupa senyum manisnya.


"Sekali saja" ucap Berliana dengan muka memelas.


"Terserah!" ucap Zion yang terdiam cukup lama. Karena ia sedang menatap selidik kedalam kedua bola mata Berliana.


Melihat tatapan Berliana yang meneduhkan, membuat Zion secara tidak langsung mengiayakannya.


Dengan senyum manis, Berliana semakin dekat dan berdiri disamping Zion.


Dengan perlahan, tangan Berliana sudah masuk kedalam kedua tangan Zion. Dan dengan lembut pula ia meletakkan kepalanya di atas pundak Zion. Merasa nyaman, Berliana cukup mengeratkan pelukannya, bahkan kedua tangannya memegang erat peunggung Zion.


Zion hanya diam membatu saat merasakan pelukan hangat dari Berliana.


Ada rasa yang tidak biasa hadir dalam hatinya, saat dekapan hangat yang ia rasakan saat ini.


"Terima kasih" ucap Berliana dengan lembut dan terdengar jelas di telinga Zion.


Kembali rasa hangat dan rasa yang sangat membingungkan bagi Zion itu hadir dalam rongga dadanya.


Seolah tidak ingin terlalu jauh, Zion mulai membuka suara dinginnya untuk Berliana.


"Lepaskan!" ucap Zion dengan dingin.


Secara perlahan Berliana melepas pelukan hangat yang ia berikan untuk Zion yang pertama kalinya.


Masih tersenyum manis Berliana menatap kedua bola mata Zion.


"Terima kasih untuk hari ini dan aku pulang" ucap Berliana yang mengangkat tangan kanannya untuk mengusap kepala Zion..


Zion menghindarkan kepalanya dari jangkaun Berliana, karena keterbatasan ruang gerak membuat ujung jari-jari Berliana berhasil menyentuh kepalanya.


Tapi tatapan kali ini bukan hanya tatapan penuh cinta dan kasih serta tatapan sendu yang Berliana perlihatkan untuk pertama kalinya didepan Zion.


Berliana keluar dari ruang rawat Zion, dan Zion memandangi kepergian Berliana sampai tidak terlihat lagi di matanya.


"Ada apa dengan ku? Tidak-tidak, aku yakin ini hanya tipuannya saja" gumam Zion yang menepis rasa aneh yang muncul dalam dirinya.

__ADS_1


"Tuan aku pulang, dan terima kasih atas waktunya yang sudah mengizinkan saya masuk" ucap Berliana kepada Papa Zion yang sedang duduk di depan ruang rawat Zion.


"Hati-hati pulangnya" ucap Papa Zion kepada Berliana.


"Mau apa kau kesini?" tanya Mama Zion dengan tatapan tidak suka.


Ia baru saja kembali dari mengantar Sharmila yang akan pulang kekediaman Barata.


"Permisi!" ucap Berliana dan berlalu begitu saja tanpa mau melihat Mama Zion yang sepertinya ingin melayangkan tatapan permusuhan untuk dirinya.


"Kenapa dia kesini?" tanya Mama Zion kepada Suaminya.


"Apa lagi jika bukan menjenguk Zion" ucap Papa Zion dengan acuh.


"Papa izinkan?" tanya Mama Zion dengan penuh selidik.


"Tentu saja!" ucap Papa Zion tanpa beban.


"Kenapa Papa izinkan? Bagaimana kalau dia membawa pengaruh buruk untuk Zion?" tanya Mama Zion.


"Sudahlah" ucap Papa Zion yang tidak ingin berdebat.


"Lain kali jangan biarkan dia dekat dengan Zion" ucap Mama Zion dengan raut wajah marah.


..................................


Keesokan paginya, Zion sudah diperbolehkan untuk pulang. Mama, Papa Zion dan juga Sharmila sudah berada didalam ruang rawat Zion untuk menjemput Zion kembali kerumah utama.


Mama Zion sengaja meminta agar Zion tinggal di rumah utama terlebih dulu. Dengan alasan agar dirinya bisa bebas memantau kesehatan Zion.


Saat ini Mobil yang membawa Zion sudah melesat menuju kerumah utama.


Sedangkan Berliana berada dirumah sakit, untuk mengawasi suatu proses yang sudah di setujui beberapa waktu lalu.


Ketiga orang menatap cemas kearah pintu, yang didalamnya sedang melakukan serangkaian proses yang cukup rumit.


"Pasti semuanya baik-baik saja Nona" ucap Sasa yang melihat muka tengang Berliana.


"Benar Nona" timpal Jonathan yang ikut menenangkan Berliana.


"Semoga saja" ucap Berliana.


Sudah satu jama mereka menunggu dan tidak lama pintu ruangan terbuka, dan seorang dokter perempuan keluar dari dalam sana.


"Bagaimana?" tanya Berliana dengan cepat.


"Semuanya berjalan dengan baik Nona" ucap dokter perempuan itu dengan tersenyum manis.


"Syukurlah" ucap Berliana dengan perasaan lega.


"Pengawasan dan juga penjagaan harus lebih ketat lagi, jangan sampai hal ini sia-sia" ucap dokter perempuan itu kepada Sasa dan juga Jonathan.


"Lakukan semuanya dengan baik!" ucap Berliana kepada ketiganya yang merupakan orang-orangnya.


"Baik Nona" ucap ketiganya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2