Berliana

Berliana
27. Berpamitan


__ADS_3

Sudah hampir sebulan lamanya Berliana berstatuskan tunangan Zion! Tapi hubungan keduanya tidak ada perubahan sama sekali.


Bahkan tidak jarang Zion melontarkan kata-kata yang membuat Berliana menatap nanar saat kepergian Zion.


Jika dihadapan Zion! Dia akan bersikap layaknya biasa saja.


Hari ini Berliana tidak kesekolah! Selain di sekolah ada kegiatan, dia juga sedang mempersipakan dirinya untuk pergi ke negara lain untuk mengurus sesuatu hal.


Saat ini Berliana tengah memasukkan beberapa barang kedalam ransel kecil miliknya.


Rencanya ia akan berpamitan kepada Zion terlebih dahulu di kantor!. Karena ia takut Zion akan berpikir macam-macam tentang kepergiannya.


Setelah semua beres Berliana langsung keluar dari dalam kamarnya sambil membawa tas ransel kecil di pundah kanannya.


"Mau kemana?" tanya Meli yang baru ingin berangkat kuliah.


Saat menuju pintu utama ia melihat Berliana yang baru saja sampai di lantai dasar.


"Hanya mau jalan-jalan kak" jawab Berliana.


"Bukannya hari ini kamu sekolah?" tanya heran Meli yang melihat Berliana tidak sekolah.


"Iya, tapi aku mengajukan libur" jawab santai Berliana.


"Oh. Terus mau jalan-jalan kemana?" tanya Meli.


"Mau mengunjungi salah satu teman ku yang berada di kota sebelah" ucap bohong Berliana.


"Kalau begitu hati-hati!" ucap Meli dan langsung meninggalkan Berliana.


Jika terlalu lama mengobrol Meli takut dirinya akan terlambat pergi kekampus. Jadi dia hanya sekedar menyapa Berliana saja.


"Mau saya antar non?" tawar sopir Joni yang melihat Berliana berdiri di depan teras.


"Tidak usah Paman! Aku juga sudah pesan taksi" tolak halus Berliana.


"Memangnya nona mau kemana?" tanya sopir Joni.


"Saya mau menjenguk teman saya paman yang berada di kota sebelah! dan sebelum itu saya ingin berpamitan kepada tuan muda Zion!" jelas Berliana.


"Semoga temannya sembuh ya non dan hati-hati dijalan!" ucap sopir Joni.


"Doakan saja paman" ucap Berliana dengan lembut.


.............................


Saat ini taksi yang di tumpangi Berliana sudah masuk kedalam pekarangan perusahaan Brown.


"Tunggu disini ya pak, saya tidak akan lama dan masalah pembayarannya bapak tidak usah khawatir" ucap Berliana sambil membuka pintu mobi.


"Baik non!" ucap patuh sopir taksi.


Dengan langkah santai Berliana berjalan menuju resepsionis yang ditugaskan untuk menyambut kedatangan para tamu perusahaan.


"Ada yang bisa saya bantu?!" tanya resepsionis 1 dengan nada sopan.


"Saya ingin bertemu dengan tuan Zion" ucap Berliana.

__ADS_1


"Apa anda sudah membuat janji?" tanya resepsionis itu dengan senyum tipis.


"Belum! Tapi tolong hubungi tuan kalian dan katakan jika Berliana ingin bertemu" ucap Berliana kepada kedua resepsionis itu.


"Baik! Tunggu sebentar kalau begitu" ucap resepsionis 1 sambil menekan beberapa nomor yang langsung terhubung dengan meja bos mereka.


"Tuan muda Zion sudah mempersilahkan anda masuk nona! Ruangan tuan berada dilantai paling atas" ucap resepsionis 1 yang sudah menghubungi Zion.


"Terima kasih kalau begitu" ucap Berliana dan langsung berlalu menuju lift.


"Kira-kira siapanya si Bos?" tanya resepsionis 1 kepada temannya.


"Entahlah!" jawabnya sambil melirik kearah Berliana yang sudah masuk kedalam lift.


Sampainya di lantai tempatnya ruang Zion berada! Sekretaris Vera langsung menanyakan maksud dan tujuan Berliana yang ingin bertemu dengan Bosnya.


"Ada perlu apa nona?" tanya sekretaris Vera dengan raut wajah datar.


"Kedatangan ku sudah di setujui oleh tuanmu!" ucap Berliana.


"Maaf anda tidak bisa masuk nona! Sebelum anda menjawab pertanyaan saya!" ucap Sekretaris Vera dengan tatapan tajam.


Melihat tatapan tajam Vera membuat Berliana membalas tidak kalah tajamnya. Sebenarnya dia tidak ingin mencari masalah! Tapi sepertinya wanita didepannya ini sungguh minta dikasih tatapan mematikan.


"Ada apa dengan ku! kenapa tatapannya seakan ingin menguliti ku!" ucap Vera sambil mengusap bagian belakang lehernya.


"Apa aku bisa masuk?" tanya Berliana dengan suara dingin dan diiringi tatapan intimidasi darinya.


"Silakan nona!" ucap Vera yang merasa gugup didepan Berliana.


Pintu ruangan Zion terbuka lebar oleh Vera! Dengan langkah santai Berliana masuk kedalam diikuti oleh Vera di belakangnya.


Kedua lelaki itu sudah tau keberadaan Berliana hanya saja keduanya pura-pura sibuk mengerjakan berkas yang ada di tangan mereka.


Vera yang ingin memberitahukan keberadaan Berliana tidak ia lakukan. Karena ia melihat kode dari tangan Berliana yang menyuruh ia diam saja sambil memperhatikan keduanya.


Sudah lima menit Berliana memperhatikan gerak-gerik keduanya dan Berliana mengetahui bahwa keduanya sedang menguji kesabarannya saat ini.


Melihat jadwal pesawat yang semakin dekat, membuat Berliana berjalan mendekati keduanya!.


"Selamat pagi tuan-tuan!" sapa Berliana dan ternyata cara itu juga tidak berhasil mengalihkan perhatian keduanya.


Keduanya sibuk dengan urusan mereka sendiri dan seolah-olah tidak mendengar suara Berliana.


Melihat hal itu Berliana menghembuskan nafas kasar!.


Dengan langkah tegas dia melangkah lebih dekat kearah dua lelaki yang berpura-pura sibuk.


Prankk!!!


Meja kaca mahal yang berada didekat sofa itu sudah hancur menghempas lantai marmer itu.


Dengan gerakan cepat Berliana menghentakkan tumit sepatunya keatas meja kaca mahal tersebut!


Vera yang melihat gerak-gerik Berliana menatap tidak percaya!.


Zion dan Samuel juga menatap tidak percaya kearah Berliana yang dengan santainya duduk di sofa empuk yang berada dekat dengan pecahan kaca yang sudah berserakan!.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan ha?!" tanya Zion dengan geram.


"Aku tidak sengaja!" jawab Berliana yang melipat kaki kanannya.


"Kau pikir meja itu murah?!" ucap Zion dengan lantang.


"Aku tau!" sahut Berliana cepat.


"Dan aku akan menggantikannya!" ucap Berliana.


"Uang dari mana?" tanya Zion dengan nada mengejek bahkan dia sudah bersandar di meja kerjanya sambil melipat kedua tangannya.


"Lihat saja penampilan kamu seperti gembel! dapat uang dari mana coba!" ucap Zion yang merendahkan Berliana.


Saat ini Berliana hanya mengenakan kaos oblong dan celana levis kebesaran dan terdapat sobek-sobek di bagian lututnya.


Berliana yang sudah cukup merasa direndahkan mulai memberikan secarik kertas yang berisikan nomor telepon.


"Aku tidak bisa berlama-lama disini dan aku ingin berpamitan dengan mu!" ucap Berliana sambil berdiri.


"Dan silahkan hubungi nomor ini jika ingin aku menggantikan kerusakan dan kekacauan ini" ucap Berlian yang sudah berada didepan Zion sambil menempelkan secarik kertas itu tepat didada Zion yang cukup keras.


Tanpa menunggu balasan ucapan dari ketiga orang yang masih menatap shock! Berliana langsung meninggalkan ruangan Zion.


"Pergi kemana dia?" tanya Zion yang tidak sadar jika Berliana sudah meninggalkan ruangannya.


"Sepertinya nona sudah pergi tuan muda" jawab Samuel.


"Sial!!" umpat kesal Zion yang merasa belum cukup membuat Berliana kesal.


"Apa aku harus menghubungi nomor ini tuan?" tanya Samuel yang mengambil secarik kertas yang berada di dekat kaki Zion.


"Terserah! Dan bereskan kekacauan ini!" perintah Zion dengan ketus.


Dengan sigap Vera menghubungi pekerja yang khusus membersihkan ruangan tuan mudanya.


Sedangkan Samuel mencoba menghubungi nomor yang diberikan oleh Berliana.


"Halo!" ucap diseberang sana.


"Tuan panggilan ini tersambung!" ujar Samuel dan langsung mengeraskan suara sambungan telepon.


Sambungan telepon.


"Halo" ucap kembali suara disebrang sana dan ternyata suara seorang lelaki.


"Ya hallo! Saya Samuel tuan!" ucap Samuel


"Apa anda kenal dengan nona Berliana tuan?" tanya Samuel sambil menatap wajah Zion.


Saat ini ketiga menatap dan mendengarkan dengan fokus kearah ponsel milik Samuel.


"Berapa?" tanya suara lelaki itu tanpa basa-basi.


"Maksudnya tuan?" tanya Samuel dengan raut wajah bingung.


"Berapa kerugian yang harus saya bayar?" tanya lelaki misterius itu dengan suara datar.

__ADS_1


Mendapatkan pertanyaan itu, Samuel langsung melihat kearah Zion yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


__ADS_2