Berliana

Berliana
28. Siapa Berliana?


__ADS_3

"Berapa kerugian yang harus saya bayar?" tanya lelaki misterius itu dengan suara datar.


Mendapatkan pertanyaan itu, Samuel langsung melihat kearah Zion yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Apa benar anda mengenal dengan nona Berliana?" tanya Samuel yang memastikan bahwa dirinya tidak salah sambung.


"Halo! Halo!" panggil Samuel yang tidak menjawab panggilannya.


Dan ternyata sambungan telpon itu sudah terputus secara sepihak.


"Dimatikan tuan" ucap Samuel yang melihat sambungan telepon sudah terputus.


"Dia siapanya Berliana? Sampai-sampai mau mengganti kerugian ini?" ucap tanya-tanya Zion yang penasaran siapa pemilik suara lelaki tadi.


"Tuan! Anda baik-baik saja?" ucap khawatir Samuel yang melihat Zion sedang berpikir.


"Tentu saja" ucap Zion dengan suara tegas.


"Dimana pihak kebersihan kenapa belum juga membersihkan pecahan kaca ini!" ucap Zion dengan nada marah.


"Mereka sedang menuju kesini tuan muda" jelas Vera dengan cepat.


Dan tidak lama kemudian datanglah dua orang petugas kebersihan.


Saat mereka membersihkan pecahan kaca, mereka melihat ada noda darah di lantai dekat sofa.


"Darah?!" gumam petugas kebersihan itu dengan pelan tapi mereka bertiga cukup mendengar apa yang diucapkan oleh petugas itu.


"Kenapa memangnya?" tanya Samuel.


"Kami melihat ada noda darah disini tuan!" jawab petugas itu.


"Jangan-jangan nona Berliana terluka tuan muda" ucap Samuel yang mulai sedikit berpikir saat kejadian tadi.


Mendengar ucapan Samuel Zion menatap serius kearah noda darah yang sudah mulai dibersihkan.


Pandangannya sekarang teralihkan oleh suara telepon yang ada dimeja kerjanya.


"Halo" jawab Samuel karena ia berada paling dekat dengan meja kerja Zion.


"Halo tuan Sam, apa anda memesan satu set sofa?" tanya salah satu resepsionis.


"Sofa?" tanya balik Samuel yang kebingungan.


Mendengar ucapan Samuel, Vera langsung bersuara.


"Mungkin itu dari nona Berliana tuan Sam" ucap Vera.


Mendengar ucapan Vera, Samuel juga berpendapat begitu dan langsung memerintahkan agar satu set sofa itu di antar ke atas.


"Antarkan keatas!" perintah Samuel dan langsung mematikan sambungan telepon.


Ruangan yang terdapat pecahan kaca sudah mulai bersih seperti sedia kala dan beberapa sofa yang ada di ruangan itu juga sudah di keluarkan.


Dan diganti dengan sofa baru yang mungkin saja di pesan oleh Berliana pikir mereka.


Sofa baru yang sudah tertata rapi di ruangan itu bukanlah sofa harga yang murah.

__ADS_1


Bahkan hampir dua kali lipat dari harga sofa sebelumnya.


"Wah, selerah nona sangat bagus!" puji kagum Vera yang terus mengelus sofa mahal itu.


"Benar dan pastinya harganya sangat mahal dari pada sofa sebelumnya" ucap Samuel yang ikut mengagumi keindahan kualitas sofa itu.


"Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak ini hanya untuk membeli sofa?" tanya Zion kepada dirinya sendiri.


"Tidak-tidak aku yakin pasti ini semua berasal dari keluarga Pohan yang serakah itu!" ucap yakin Zion yang menepis pemikirannya.


"Tapi aku rasa sangat mustahil tuan besar Pohan ingin mengeluarkan uang sebanyak ini hanya untuk sofa" keraguan Zion tentang ini semua.


"Siapa pemilik suara lelaki itu?" tanya Zion yang mulai penasaran.


"Ada hubungan apa dia dengan Berliana? dan siapa Berliana sebenarnya?!" desah Zion dengan gusar".


....................................


Sedangkan Berliana yang sedang duduk tenang di dalam taksi yang melaju menuju bandara.


Melihat bagian betisnya tergores pecahan kaca! Berliana hanya membersihkann darah kering itu dengan beberapa lembar tisu basah.


Pada saat dia duduk di sofa diruangan Zion, Berliana sudah menyadari bahwa betisnya tergores dan dia takut jika darahnya menetes di ruangan Zion.


Dengan segerah dia menekan celananya agar darahnya tidak jatuh kelantai.


Sampainya di bandara Berliana masuk dan melakukan proses pemeriksaan tiket dan barang bawaan.


Setelah semuanya aman dan saatnya mengudara, Berliana berjalan menuju pesawat yang sudah terparkir di landasan luas.


Setelah empat jam perjalanan, Berliana turun dari dalam pesawat dan mulai berjalan menuju pintu keluar bandara.


Saat akan mencapai pintu keluar bandara, dirinya sudah disambut oleh dua orang lelaki yang bertubuh besar dan kekar.


"Selamat datang kembali nona!" ucap keduanya menggunakan bahasa asal negara itu.


"Ternyata kalian semakin tinggi saja" ucap Berliana yang memperhatikan penampilan kedua orang yang menjemputnya.


"Seperti yang terlihat non" ucap penjaga 1.


"Mari nona, pasti tuan muda senanga kan kedatangan nona yang tidak ia ketahui" ucap penjaga 2.


Saat ini Berliana sudah berada dalam sebuah mobil sport mewah dan duduk dibagian belakang dengan tenang sambil memandangi diluar jendela kaca mobil.


"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Berliana tanpa mengalihkan pandangannya.


"Semuanya aman terkendali nona" ucap penjaga 1 yang duduk disebelah penjaga 2 yang sedang menyetir.


"Sepertinya sudah sangat lama aku tidak kesini" ucap Berliana sambil terkekeh kecil.


"Bagi kami sangat lama nona" sahut penjaga 2.


"Dua tahun yang lalu aku menginjakkan kaki ku di negara ini" ucap Berliana yang mengingatnya.


"Benar nona dan saat ini tidak ada perubahan yang terlalu signifikan saat anda pergi dari negara ini" ucap penjaga 2 kembali.


"Benarkah?" tanya Berliana yang seakan tidak percaya.

__ADS_1


"Benar nona dan anda akan lihat sendiri nantinya" ucap penjaga 1.


"Semoga saja!" desah Berliana dengan tersenyum simpul.


Saat ini mobil sport itu sudah masuk kedalam mansion mewah dan beberapa penjaga sudah menyambut kedatangan Berliana di depan pintu dan halaman.


"Selamat datang kembali nona muda!" ucap seluruh penjaga yang datang menyambut kedatangan Berliana.


"Terima kasih atas sambutan kalian" ucap Berliana sambil tersenyum tipis.


"Dimana yang lain?" tanya Berliana sambil berjalan dengan seorang pelayan yang mengantar dirinya menuju kamar yang berada di lantai 2.


Rumah mewah itu hanya berlantai 2, hanya saja luasnya bangunan dan tingginya melebihi rumah utama keluarga Brown yang ada di negara asal Berliana.


Jadi tidak heran jika Berliana saat pertama kali masuk kedalam kediaman Pohan maupun Brown hanya menampilkan raut wajah yang biasa saja.


"Tuan muda lagi di kantor nona" jawab pelayan wanita itu dengan hormat.


Kedatangan Berliana kenegara itu tidak banyak diketahui oleh orang-orang.


Dirinya ingin memberikan kejutan dan hanya para penjaga rumah yang tau kedatangannya.


"Silahkan beristirahat nona muda!" ucap pelayan wanita yang sudah membuka pintu kamar khusus untuk Berliana.


"Terima kasih dan siapkan motor kesayangan ku" ucap Berliana yang berniat akan pergi kesuatu tempat.


"Apa tidak sebaiknya nona muda beristirahat!" saran pelayan wanita itu khawatir akan kondisi Berliana yang mungkij saja lelah.


"Tenang saja, aku baik-baik saja! Dan aku ingin memberikan kejutan" ucap Berliana dengan tersenyum tipis sambil membayangkan wajah seseorang yang akan dia beri kejutan nantinya.


"Baiklah kalau begitu nona dan saya akan mempersiapkan kendaraan anda!" ucap pelayan itu dengan perasaan lega.


Setelah pelayan itu keluar Berliana langsung masuk kedalam kamar mandi karena ia Berniat untuk berendam di dalam bak mandi.


......................


Saat ini Berliana tengah mengendarai motor antik kesayangannya miliknya.


Dengan kecepatan santai motor itu melaju membelah jalanan kota yang cukup lenggang.


Tepat didepan gedung tinggi yang bertuliskan nama Smith Crop. Berliana langsung memutur arah motornya.


Saat ini motornya terparkir dengan rapi di samping jajaran mobio mewah khusus petinggi.


Berjalan dengan santai Berliana sudah berada di lobi perusahaan.


Seorang penjaga yang mengenak Berliana langsung memberi tanda hormat dengan menundukkan sedikit kepalanya dan langsung di balas oleh Berliana.


Melanjutkan kembali langkahnya, Berliana hanya berjalan melewati meja resepsionis yang menatap penuh selidik kearah Berliana yang sudang menuju lift khusu petinggi.


"Kira-kira siapa dia?" tanya resepsionis 2.


"Entahlah, tapi sepertinya dia bukan orang biasa" ucap resepsionis 1.


"Lihatlah dengan mudahnya dia masuk kedalam lift khusus itu" timpal resepsionis 3.


Saat ini ketiganya sibuk memperhatikan gerak-gerik Berliana sampai dia sudah menghilang dan masuk kedalam lift.

__ADS_1


__ADS_2