
Mobil berhenti dengan sempurna didepan kediaman Zion, dengan sigap Jonathan turun dan keluar dari dalam mobil dan ia langsung membuka pintu untuk Berliana.
Bukan hanya itu saja ia juga membantu Berliana melepaskan sabuk pengaman yang melingkar ditubuh Berliana saat ini.
"Tidak usah terlalu berlebihan Jonthan" ucap Berliana sambil turun dari mobil mewah itu.
"Ini tidak berlebihan Nona" ucap Jonthan yang tidak kalah santainya kepada sang Nona.
Keduanya berjalan dan saat ini sudah sampai tepat depan pintu rumah Zion.
"Sampai disini saja" ucap Berliana sambil menghentikan langkah kakinya.
"Saya tidak keberatan Nona" ucap Jonathan yang ingin membantu Berliana menuju kamarnya.
"Tidak perlu" ucap singkat Berliana.
"Baiklah kalau begitu Nona. Saya pamit pulang kalau begitu" pamit Jonathan kepada sang Nona.
"Terima kasih Jonathan dan kembalilah" ucap Berliana.
"Sudah tugas saya Nona" ucap Jonathan dan mulai menuju mobilnya.
Setelah melihat kepergian Jonathan barulah Berliana masuk kedalam rumah. Kondisinya baik-baik saja saat ini. Walaupun saat akan melangkah akan sedikit terasa nyeri, tapi itu adalah hal kecil bagi Berliana.
Saat akan menaiki tangga, ekor mata Berliana melihat Zion yang sedang membawa segelas minuman dari arah dapur dan ingin menuju kelantai atas yaitu lantai dua.
"Kau sudah pulang?" tanya Berliana dengan berbasa-basi.
Zion hanya diam saja dan langsung berlalu meninggalkan Berliana yang berdiri didekat anak tangga pertama.
Berliana hanya menatap datar kepergian Zion yang menggunakan tangga saat ini. Setelah Zion sudah masuk kamar, barulah Berliana mulai menaiki anak tangga satu persatu.
Satu persatu anak tangga Berliana naiki, bahkan ia berjalan secara normal dan seperti tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
...............................
Keesokan harinya Berliana bangun kesiangan hal itu dikarenakan ia sedang membantu pekerjaan Jonathan agar cepat terselesaikan tentunya.
Lagi pula ia merasa tidak enak hati kepada rekan-rekannya untuk tidak membantu, walaupun anak buahnya pasti bisa mengatasi hal itu pada kenyataannya.
Namun ia tetap saja membantu agar pekerjaan mereka tidak terlalu berat tentunya.
Berliana bergegas membersihkan dirinya dan ia berencana akan akan kembali mempertanyakan tentang kelanjutan antara dirinya dan juga Zion.
Walaupun harapan itu semakin tipis tentunya dan tidak ada salahnya jika ia masih dalam masa mencoba.
Dan pada akhirnya ia akan membawa makan sian untuk Zion kali ini. Terlepas apapun keputusan nanti, ia akan menerimanya dengan baik.
Karena suatu hubungan jika dipaksakan akan tidak baik untuk kedepannya. Biarlah mereka menempuh kebahagiaan mereka masing-masing sebelum melangkah terlalu jauh.
Dengan cekatan Berliana memasak untuk makan siang Zion nanti, bahkan dirinya juga mempersiapkan makan siang untuk sekretaris dan juga asisten Zion nantinya.
Selama satu jam penuh ia menyibukkan dirinya didapur dan pada akhirnya masakan itu sudah siap untuk dimasukkan kedalam kotak bekal nantinya.
"Baiklah aku akan mempersiapkan diriku sesudah itu baru aku akan memasukkan kalian kedalam kotak-kotak bekal itu" ucap Berliana sambil terkekeh sendiri seperti sedang berbicara dengan orang saja.
Berliana langsung meninggalkan dapur dan menuju kamarnya untuk bersiap untuk mengantar makan siang kekantor Zion.
Tiga puluh menit sudah berlalu Berliana sudah siap dengan pakaian santainya saat ini.
Ada tiga kotak makan siang yang akan ia bawak nantinya dan itu sudah siap diatas meja.
"Waktunya berangkat" seru Berliana sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang berwarna biru laut.
...........................
Dengan mengendarai mobil, Berliana sudah sampai diparkiran perusahaan Brown. Dengan langkah pasti ia masuk kedalam perusahaan dengan tenang sambil membawa bekal makan siang yang berada ditangan kanannya.
__ADS_1
Sedangkan tangan kirinya sibuk bermain diatas ponselnya. Sampai didepan lift khusus petinggi, Berliana masuk kedalam lift saat pintu lift itu terbukan sempurna.
Dengan sikap acuh Berliana bersandar pada bagian belakang lift.
Merasa ada yang orang lain yang ikut masuk kedalam lift membuat Berliana mengalihkan pandangannya dari ponsel miliknya kearah orang yang baru saja masuk dan dengan sengaja menyenggol bahu kanan Berliana.
Berliana menatap datar kearah Sharmila yang saat menatap sinis kearah dirinya.
"Mimpi jangan terlalu ketinggian" celetuk sinis Sharmila kepada Berliana.
Berliana hanya diam tanpa mau membalas ucapan wanita yang ada disampingnya saat ini.
Karena baginya itu akan membuang-buang waktu saja baginya.
"Minggir!" ucap ketus Sharmila saat pintu lift terbuka dan dengan sengaja ia menabrak bahu kanan Berliana.
Berliana hanya menggelengkan kepala saja melihat tingkah Sharmila yangg sangat tidak sopan menurutnya.
Keduanya sama-sama menuju ruangan Zion yang terletak dibagian ujung ruangan tersebut. Dan jarak keduanya cukup panjang.
Melihat Sharmila sudah masuk kedalam ruangan Zion membuat Berliana hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh.
"Apa kalian sudah pesan makan siang?" tanya Berliana kepada Samuel dan Vera yang menatap kepergian Sharmila tanpa menyapa ataupun bertanya kepada kedua orang itu.
"Ha?, belum nona" jawab Vera yang menyadari kehadiran Berliana terlebih dahulu.
"Baguslah kalau begitu, dan ini untuk kalian" ucap Berliana merasa lega.
"Wah terima kasih Nona atas makan siangnya" ucap Vera dan juga Samuel dengan binar senang.
Masakan Berliana tidak dapat mereka ragukan lagi rasanya. Yang pastinya bukan kali ini saja Berliana memberikan makan siang untuk mereka berdua.
"Sama-sama dan habiskan" ucap Berliana dengan tersenyum simpul.
__ADS_1
"Pasti akan kami habiskan Nona" ucap Vera dengan yakin.
"Baiklah, saya kedalam dulu" ucap Berliana dan langsung berlalu dari hadapan sekretaris dan juga asisten Zion itu.