Berliana

Berliana
72. Rantang Makanan


__ADS_3

Pagi harinya, Berliana sengaja bangun lebih pagi, karena ia akan membawakan masakan untuk orang tercintanya yang berada dikediaman orang tua kandungnya.


Berbagai macam makanan sudah tertata diatas meja dan Berliana langsung kembali kebelakang untuk mengambil rantang makanan, sebagai wadah untuk membawa makanan nantinya.


Saat Berliana kembali lagi sambil membawa rantang makanan, Ia melihat Zion sudag berada dimeja makan.


"Apa ada tamu?" tanya Zion heran sambil melirik satu persatu hidangan yang tersaja diatas meja.


"Tidak" jawab Berliana sambil mulai memasukkan makanan kedalam tempat yang ia bawak sedari tadi.


"Untuk siapa?" tanya Zion dengan raut penasaran.


"Bibiku" jawab singkat Berliana dan kembali beralih kemenu yang kedua untuk masuk kedalam rantang makanan.


"Sarapanlah" ucap Berliana yang sudah mengambil makanan untuk Zion.


Zion langsung memakan sarapan yang berikan oleh Berliana. Hanya saja pandangan matanya tidak lepas dari rantang makanan yang berada diatas meja itu.


Selesai sarapan, Zion langsung berangkat kekantor.sekilas ia melirik Berliana yang masih berada dimeja makan untuk menghabiskam makanannya, dan Zion kembali melanjutkan langkahnya untuk berangkat kekantor.


Sampai di luar rumah, ternyata Samuel baru saja datang untuk menjemput Zion untuk kekantor.

__ADS_1


Zion masuk dalam mobil tanpa dibukakkan oleh Samuel.


Diperjalanan Zion hanya diam sambil menatap keluar kaca mobil. Samuel yang melihat itu hanya menatap tanya, ada dengan Zion pagi ini? Pikir Samuel.


"*Untuk siapa makanan itu?"


"Ap untuk kekasihnya?"


"Temannya?"


"Kenapa aku harus repot memikirkan dia? Tidak mungkinkan aku mulai menyukainya*?"


Itulah berbagai pertanyaan yang ada dipikiran Zion saat ini. Sungguh ia belum yakin dengn perasaannya saat ini apa dia sudah mulai menyukai ataupun mencintai, entahlah. Hanya saja ia menepis rasa itu semua yang ia rasakan.


Sedangkan Berliana sudah siap untuk menuju kerumah orang tuanya sambil membawa rantang makanan yang sudah ia masak dengan penuh kasih sayang.


Sampai disana, ternyata kedatangan dirinya sudah disambut baik oleh penghuni rumah.


"Kenapa baru datang?" tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah sedih.


"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu" jawab Berliana singkat dan langsung mengajak wanita paruh baya tersebut masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Apa itu makanan untuk ku?" tanya wanita paruh baya itu dengan mata berbinar.


"Tentu saja" jawab Beerliana dengan yakin.


"Pasti sangat enak" ucap wanita itu sambil membayangkan saat ia memakan masakan Berliana.


"Tentu saja enak, untuk kalian pastilah rasanya tidak dapat diragukan lagi" ucap bangga Berliana.


Saat ini mereka sudah duduk di kursi meja makan, karena wanita paruh baya itu sungguh sangat tidak sabar menikmati masakan Berliana.


Sebwnarnya dari semalam ia selalu membatangkan masakan Berliana. Ingin sekali rasanya ia menghubungi Berliana. Hanya saja, ia takuf mengganggu waktu Nonanya.


Sebenarnya, Nonanya adalah orang yang cukup sibuk bagi yang mengenal Berliana dengan baik.


"Siapkan lalu sajikan seperlunya. Dan bagi-bagilah sama yang lain, agar kalian dapat merasakan semuanya" ucap Berliana sambil memberikan rantang makanan dengan ukuran cukup besar yang bawak.


"Baik Nona" ucap salah satu pelayan disana dan langsung membawa rantang makanan yang diberikan Berliana.


Satu persatu makanan yang dibawak oleh Berliana sudah tertata diatas meja makan dan hal itu membuat wanita paruh baya hampir saja meneteskan air liurnya. Sungguh ia sangat tidak sabar untuk memakan makanan yang ada dihadapannya saat ini.


"Makanlah pelan-pelan" ucap Berliana dan mulai meletakkan makanan keatas pirung wanita paruh baya tersebut.

__ADS_1


Dengan segerah ia langsung memakan masakan Berliana yang tidak bisa mereka ragukan lagi selama ini. Karena mereka cukup sering merasakan masakan Nonanya.


Melihat wanita itu makan dengan lahap, membuat Berliana tersenyum manis. Rasa bahagia sangat mendominasi dalam hatinya saat ini.


__ADS_2