Berliana

Berliana
71. Memasak Untuk Orang Spesial


__ADS_3

Berliana keluar dari kediaman besar Pohan dengan kecepatan mobil cukup cepat dan meninggalkan ketiga orang yang masih berdiri kaku di ruang keluarga.


"Pa" panggil Tuan Bondan kepada sang ayahnya.


"Kita harus segerah bertindak, Pa" ucap Tuan besar Pohan sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jangan gegabah!" ucap nyonya Mira dengan raut wajah serius.


"Benar apa yang diucapkan oleh Mira, kita harus menyusun rencana agar. Anak wanita itu tidak ikut campur dalam hal ini" jelas Tuan besar Pohan dengan raut wajah kemarahan.


"Kita harus merencanakan ini semuanya dengan baik" timpal Tuan Bondan.


Ketiga orang itu adalah orang yang sangat pandai berkamuflase dalam setiap tindakan mereka.


Tanpa mereka ketahui, Berliana sudah mengetahui sifat tersembunyi ketiganya. Jadi tidak mengherankan bukan jika Arabela sangat mewarisi sifat dari orang-orang tersebut?.


Disisi lain, Berliana sampai dikediaman orang tuanya. Ia sudah memasuki pekarangan yang mana penjagaan gerbang sangat ketat untuk mengjindari sesuatu hal yang tidak diinginkan kedepannya.


"Selamat malam Nona!" ucap para penjaga yang sengaja menyambut kedatangan Berliana.


"Malam, lanjutkan pekerjaan kalian!" ucap Berliana tegas dan langsung masuk kedalam rumah dengan langkah yang santai.


Berliana masuk kedalam rumah dan saat akan menaiki tangga, sebuah suara keras yang menghentikan langkahnya.


"NONA!" panggil seorang wanita paruh baya dengan keras, sambil berlari kecil kearah Berliana.


"Jangan lari-lari!" ucap Berliana dengan tegas sambil mendekat cepat kearah wanita paruh baya itu.


Dengan langkah cepat dan raut wajah khawatir, Berliana mendekat kearah wanita itu.


"Maaf" cicit wanita itu dengan menunduk sedih.


"Tidak apa-apa, tapi jangan diulangi" ucap lembut Berliana sambil menarik wanita itu dengan lembut kedalam dekapannya.


"Tenanglah!" ucap Berliana lembut.


"Sudah makan?" tanya Berliana sambil menatap wanita itu dengan lembut.


"Belum" gumam pelan wanita itu sambil menundukkan kepala.


"Kenapa?" tanya Berliana.


"Mau makan masakan Nona" ucap wanita itu sambil memalingkan wajahnya.


"Kalau begitu, ayo kedapur" ucap Berliana sambil menarik pelan tangab wanita paruh baya itu dengan lembut.


Dengan langkah pelan mereka menuju kearah dapur, bukan hanya keduanya, ada beberapa pelayan yang ikut menemani langkah mereka.


Berliana mendudukkan wanita itu diatas kursi meja makan.


"Duduk disini, dan mau dimasakkan apa?" tanya Berliana.

__ADS_1


"Apa saja" ucap wanita paruh baya itu dengan senang.


"Spageti, mau?" tawar Berliana.


"Mau! Tapi tambahkan sayur juga" ucap wanita itu dengan riang.


"Tunggulah sebentar disini" ucap Berliana dan mulai melangkah dan membuka pintu kulkas dan mengambil bahan-bahan yang diperlukan.


"Biar kami bantu Nona" ucap salah seorang pelayan yang sudah lama tinggal disana.


Dua orang pelayan mendekati dan mulai membantu Berliana, agar masakan Berliana cepat matang nantinya.


"Bersihkan sayurnya dan tolong panaskan air" ucap Berliana pada kedua pelayannya.


"Baik Nona" ucap keduanya dan mulai mengerjakannya dengan cepat.


Kurang dari satu jam Berliana masak spageti, dan akhirnya ia selesai memasak dan masakan untuk wanita paruh bayah yang sudah menunggu ia pisahkan, dengan yang lainnya. Karena spageti itu ada tambahan toping, yaitu sayuran hijau diatasnya.


"Makanlah!" ucap Berliana sambil meletakkan piring kedepan wanita itu.


"Dan kalian, bagikanlah sama yang lainnya" ucap Berliana kepada kedua pekayan yang membantu dirinya.


"Terima kasih Nona" ucap keduanya dan langsung mengerjakannya.


......................


Hanya mereka berdua yang berada disana saat ini. Karena para pelayan sedang berkumpul untuk menikmati masakan Berliana yang sangat jarang untuk mereka nikmati.


"Kenapa tidak makan?" tanya Berliana yang melihat makanan masih utuh.


Mendengar hal itu, membuat Berliana tersenyum manis dan langsung mengabil piring itu dan mulai menyuapi wanita itu dengan senang.


"Makan yang banyak, agar kalian cepat sehat" ucap Berliana sambil menyuapi wanita paruh baya itu.


"Aku sungguh tidak sabar menunggu" ucap Berliana dengan kekehan kecil.


"Kami juga" ucap wanita itu dengan sela kunyahannya.


"Tinggal sedikit lagi" ucap Berliana.


Dan makanan itu habis tanpa sisa, Berliana langsung membawa piring itu kedapur agar dicucikan oleh pelayan nantinya.


"Istirahatlah, jangan terlalu banyak beraktivitas" ucap Berliana dan wanita itu langsung mengangguk dengan semangat.


Setelah memastikan wanita itu masuk dan beristirahat, Berliana langsung menuju kearah pelayan yang sedang saling berbincang satu sama lainnya.


"Terima kasih Nona untuk masakannya" ucapa mereka serentak.


"Lanjutkan makan kalian, dan aku hanya akan sebentar disini" ucap Berliana dan duduk bergabung dengan mereka.


Orang-orang disana mulai bersikap seperti biasa kepada Berliana, karena selama ini Berliana selalu memperhatikan para bawahannya dengan baik.

__ADS_1


"Apa ada yang ingin kalian sampaikan?" tanya Berliana dan hanya menebak saja.


"Maaf Nona sebelumnya, hanya saja Nyonya sering sekali bertanya keadaan Nona dan bahkan setiap ia tidur. Ia akan menggunakan barang yang pernah Nona gunakan" ucap salah satu orang disana.


Dan hal itu terbukti selama ini wanita paruh baya itu sekarang sudah tidur dikamar pribadinya.


"Biarkan saja" ucap Berliana.


"Apa ada yang lain" ucap Berliana.


"Tidak ada Nona, hanya saja kami akan cukup kuatir dengan tingkah Nyonya saat ia senagja menunggu kedatangan Nona" jelas pelayan yang lainnya.


"Baiklah, aku akan berusaha untuk datang kesini" ucap Berliana pada akhirnya.


"Apa ada yang mencurigakan?" tanya Berliana.


"Tidak ada Nona, karena Tuan Jonthan selalu cepat bergerak jika itu yang berhubungan dengan keselamatan" ucap salah satu penjaga itu dengan yakin.


"Walaupun begitu, kalian jangan lengah!. Hubungi aku jika kalian tidak bisa mengatasinya" ucap Berliana dengan raut wajah serius.


"Baik Nona" ucap mereka bersamaan.


"Kalau begitu aku akan kembali dan keesokan harinya aku akan kesini lagi" ucap Berliana sambil berdiri dari tempat duduknya.


.......................


Berliana sudah keluar dari rumah milik mendiang orang tuanya dan saat ini ia sedang menuju kerumah milik Zion.


Hari sudah cukup malam, dan Berliana baru sampai dirumah milik Zion. Dengan langkah pasti Berliana masuk kedalam rumah.


Sampainya ia didalam ia melihat Zion sedang duduk diatas sofa dan mungkin saja Zion sedang menunggu kedatangan Berliana saat ini.


"Dari mana?" tanya Zion dengan raut wajah datar.


"Kau menungguku?" tanya Berliana dengan senang.


"Duduklah" ucap Zion yang memberikan perintah.


Dengan senang hati Berliana duduk dihadapan Zion sambil memandang Zion dengan senyum sejuta pesona yang ia miliki.


"Apa kamu tidak mau menjelaskan tentang foto-foto itu?" tanya Zion saat keduanya daling mendiamkan satu sama lainnya.


"Jika aku menjelaskan yang sebenarnya, apa kamu akan percaya?" tanya Berlian dengan serius.


"Mungkin!" ucap acuh Zion.


Saat ini keduanya saling menatap lekat satu sama lainnya.


"Kalau begitu tidak perlu aku jelaskan dan terserah kau mau mengambil kesimpulan apa: ucap Berliana pada akhirnya.


Karena ia merasa jika sia-sia ia akan menjelaskan jika orang yang mendengar hal itu tidak percaya dengan kita.

__ADS_1


"Aku lelah, dan mau istirahat" ucap Berliana sambil berdiri dan mulai meninggalkan Zion yang duduk sendirian disana.


Zion hanya menatap punggung Berliana yang menjauh darinya dengan tatapan rumit saat ini.


__ADS_2