
Keesokan harinya, disekolah Berliana para guru mengadakan rapat untuk ujian kelulusan dan akhirnya para murid diizinkan untuk pulang lebih awal dari jam pulang biasanya.
"Langsung pulang?" tanya Sakira kepada Berliana yang sedang memasukkan alat tulisnya kedalam tas miliknya.
"Iya" jawab singkat Berliana.
"Kelihatannya buru-buru" ucap Sakira.
"Soalnya aku ada urusan" ucap Berliana.
Siang ini, Berliana berencana untuk membawa makan siang untuk Zion dikantornya. Ia harus cepat pulang kerumah agar bisa menyiapkan makan siang untuk Zion.
"Aku duluan ya" ucap Berliana kepada Sakira dan mulai berdiri dari tempat duduknya.
"Hati-hati" ucap Sakira dan ia kembali bersiap untuk pulang juga.
"Kenapa Berliana seperti orang yang terlihat terburu-buru?" tanya Tama kepada Sakira yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Ada urusan katanya" ucap Sakira dan langsung melangkah meninggalkan kelas.
Berliana saat ini sudah sampai di parkiran mobil dan dengan segerah ia melajukan mobilnya untuk kembali kerumah Zion agar ia dengan cepat membawa makan siang untuk Zion.
Sampai dirumah, Berliana masuk dan berjalan menuju dapur. Masih dengan menggunakan seragam sekolah, Berliana membuka pintu kulkas dan mengambil beberapa makanan yang akan ia masak khusus untuk Zion.
Ia memasak ayam goreng bumbu dan tumisan sayur. Mengingat waktunya cukup mepet, akhirnya Berliana memutuskan memasak apa yang sekiranya cepat tersaji.
Setelah selesai Berliana naik kelantai atas dengan sedikit berlari, sampai dikamarnya. Berliana masuk kedalam kamar mandi, selesai mandi Berliana mengganti pakaiannya.
Pandangan Berliana jatuh pada dress pendek selutut berwarna hitam dan juga ia memakan sepatu berwarna biru serta tas hitam kecil yang ia silangkan didepan dadanya.
Selesai bersiap Berliana menuju lantai dasar dan melangkah menuju dapur, sampai disana Berliana memasukkan apa yang ia masak kedalam kotak bekal.
Semuanya sudah siap, dan Berliana berjalan keluar rumah sambil membawa kotak bekal ditangan kanannya.
Didalam mobil Berliana memasang sabuk pengaman dan meletakkan kotak makan siang untuk Zion di atas kursi di sebelahnya yang akan menyetir.
Mobil yang dikendarai oleh Berliana sudah dalam perjalanan menuju perusahaan milik keluarga Brow.
Sudah masuk dalam kawasan Brow Crop, Berliana menuju parkiran dan mulai berhenti dengan sempurna.
Berliana masuk kedalam perusahaan dengan langkah sangat anggun dan langsung menghampiri kedua resepsionis yang bertugas untuk menyambut tamu.
"Selamat siang dan ada yang bisa kami bantu" ucap sapa kedua resepsionis itu saat Berliana sudah berhenti didepan meja mereka.
"Siang" balas Berliana yang tidak kalah ramahnya.
"Ada yang bisa kami bantu" ucap salah satu resepsionis itu dengan ramah dan juga sopan.
"Saya mau bertemu dengan tuan muda Zion" ucap Berliana.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya apa sudah membuat janji?" tanya resepsionis itu yang sesuai dengan peraturan perusahaan tempat mereka bekerja.
"Belum. Tapi saya ingin kalian menghubungi tuan muda Zion, jika Berliana ingin bertemu" ucap Berliana.
"Baik, sebentar ya Nona Berliana" ucap salah satu resepsionis itu dan langsung menghubungi langsung keruangan Zion.
Setelah menadapat jawaban, langsung saja resepsionis itu menatap kearah Berliana.
"Silahkan nona dan tuan Zion sudah mengizinkan anda untuk keruangannya" ucap resepsionis itu dengan sopan.
"Ruangan tuan muda Zion terletak di lantai atas Nona" ucap kembali resepsionis wanita.
"Terima kasih" ucap Berliana dan langsung meninggalkan meja resepsionis itu.
Berliana melangkah menuju dan masuk kedalam lift. Sampai di lantai atas, Berliana melihat Samuel dan juga sekretaris Zion sedang fokus bekerja.
"Permisi" ucap Berliana yang sudah berdiri dekat keduanya.
"Nona" ucap Samuel dan Vera dengan wajah terkejut.
"Tuan Zionnya ada?" tanya Berliana kepada Samuel.
"Ada didalam" jawab Samuel.
"Boleh aku masuk?" tanya Berliana.
"Silahkan Nona" ucap Samuel dan langsung beranjak berdiri untuk membuka pintu untuk Berliana.
"Ah, baik Nona" ucap Samuel dengan senyum kaku.
Saat akan membalik badannya Berliana tidak sengaja melihat kotak bekal yang ia berikan tadi pagi untuk Zion.
Berliana hanya ternyum getir melihat bekal yang sengaja ia siapkan untuk Zion yang kedua kalinya dan saat ini ia sudah bisa menebak jika Zion tidak memakan dan lebih parahnya diberikan untuk orang lain.
Berliana melanjutkan langkahnya menuju keruangan Zion dan langsung masuk setelah pintu terbuka.
"Apa aku mengganggu mu?" tanya Berliana sambil melangkah masuk.
"Tidak" ucap Zion tanpa melihat Berliana.
Tanpa disuruh, Berliana masuk dan langsung duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Zion.
Lima menit telah berlalu, Berliana memperhatikan Zion yang fokus dalam bekerja.
"Apa masih lama?" tanya Berliana.
Zion mulai menatap Berliana yang sudah duduk didepannya dengan tampilan yang beda dari biasanya.
"Aku membawakan mu makan siang. Kau pasti belum makan siangkan?" tanya Berliana dengan tersenyum manis.
__ADS_1
"Tidak perlu!" ucap Zion dengan datar.
"Tapi aku sudah membawanya" ucap Berliana dengan raut wajah sedih.
"Permisi Tuan, maaf mengganggu. Saya hanya mau mengantar makan siang untuk anda" ucap Sekretaris Zion sambil membawa makan siang untuk Zion.
"Letakkan saja dimeja" ucap Zion yang masih menatap Berliana.
"Keluarlah" ucap Zion sambil melihat Sekretarisnya sekilas.
"Saya permisi" ucap Sekretaris itu dan langsung meninggalakan ruangan Zion.
"Lihat!, bawa kembali makan siang mu itu" tunjuk Zion.
"Keluarlah" ucap Zion dan langsung memutuskan pandangannya.
Karena ia merasa cukup terganggu dengan tatapan sendu Berliana.
Dengan berat hati Berliana melangkah menuju pintu untuk keluar dan dia langsung mematung saat mendengar ucapan Zion.
"Tidak perlu bersikap murahan, jika ingin menarik simpati dariku" ucap Zion dengan suara cukup keras tanpa melihat Berliana.
Mendengar hal itu, Berliana hanya meremas ujung dresnya.
Tanpa berlama lagi Berliana keluar dari ruangan Zion didepan Samuel dan juga Sekretaris Zion, Vera ia memperlihatkan wajah biasa saja.
"Apa kalian sudah makan siang?" tanya Berliana dengan tersenyum tipis.
"Belum nona" ucao keduanya. Pesanan mereka belum sampai saat ini dan kedua sibuk bekerja sambil menunggu makan siang.
"Ini untuk kalian dan aku sendiri yang membuatnya" ucap Berliana sambil meletakkan kotak makan siang itu dengan tersenyum tipis.
"Terima kasih Nona" ucap kedua.
"Sama-sama, aku pergi dulu ya" pamit Berliana dan langsung meninggalkan keduanya yang menatap Berliana yang sudah masuk kedalam lift.
"Kasihan Nona Berliana" ucap Vera Sekretaris Zion.
"Kau benar, apalagi aku merasa Nona adalah wanita yang ramah dan juga baik" ucap Samuel.
"Aku berdoa semoga tuan bisa menyukai Nona Berliana" ucap tulus Vera.
"Aku juga harap begitu" ucap Samuel.
"Wah, lihat ayam gorengnya sangat menggoda sekali" ucap Samuel dengan menjilati kedua bibirnya.
"Nanti saja makannya, tunggu kita pesan makan dulu dan juga selesaikan satu berkas lagi baru kita makan siang" ucap Sekretaris Vera dengan tegas sambil menutup makan siang yang diberikan Berliana kepada mereka berdua.
Sampai di lobi kantor, Berliana berjalan menuju parkiran mobil dengan perasaan penuh kecewa atas apa yang Zion ucapkan juga lakukan kepadanya.
__ADS_1
Tapi ia tidak boleh menyerah, setidaknya ia masih harus berjuang walaupun hasilnya nanti tidak ada yang mengatahuinya.
"Setidaknya aku sudah mencoba" pikir Berliana sambil menggigit jari telunjuknya.