
"Syukurlah jika nona menyukainya!" ucap Meli dengan tersenyum lega.
"Sebaiknya nona beristirahat saja! saat makan malam nanti kami akan memanggil nona" ucap bibi Hesti.
"Untuk barang-barang nona, nanti akan di letakkan di depan kamar agar nona bisa beristirahat dengan tenang" lanjut bibi Hesti lagi.
"Kami keluar dulu nona! dan semoga nona betah dan nyaman tinggal disini" ucap Meli sambil mengajak ibunya keluar dari kamar Berliana.
Setelah keduanya keluar Berliana langsung menata barang yang ada di ransel kecil miliknya keatas meja rias yang ada di kamar itu.
Setelah selesai, Berliana memandang langit sore sambil duduk di balkon kamar miliknya.
Rumah yang ditempati oleg Zion memang tidak sebesar rumah utama maupun rumah keluarga Pohan.
Walaupun tidak sebesar itu, pernak-pernik yang ada dirumah itu adalah barang-barang mewah yang terpajang rapi di dinding maupun sudut-sudut ruangan.
Memiliki ruang tamu yang sangat luas dan hanya ada satu kamar tamu yang ada di rumah itu.
Ruang tamu dan tampat meja makan berada di ruang yang sama! Hanya saja dapur yang sudah di batasi oleh dinding pembatas.
Di lantai dua hanya terdapat tiga ruangan yaitu kamar Zion, Berliana dan ruang kerja.
Melihat bagian bawah, Berliana melihat hamparan tanaman bunga mawar yang tertanam rapi, sesuai dengan warnanya.
"Sepertinya dia pencinta bunga mawar" gumam Berliana yang menatap kearah hamparan bunga warna warni itu.
Cukup lama Berliana menatap disekeliling rumah yang ia tinggali saat ini.
Dari atas balkon kamar, Berliana melihat Meli menarik selang air dan sepertinya dia ingin menyiram tanaman bunga mawar yang ada di sekeliling rumah!.
Melihat hal itu! Berliana langsung beranjak dari kamarnya dan menuju ketempat Meli yang sedang menyirami tanaman.
"Indah sekali" ucap Berliana yang sudah berada di dekat Meli yang tengah fokus menyiram tanaman.
"Aduh non, nona buat saya kaget!" ucap Meli sambil mengusap-usap dadanya.
"Maaf!" cengir Berliana yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa non!. Ada yang bisa saya bantu non?" tanya Meli yang mengira Berliana membutuhkan bantuannya.
"Bolehkah aku menyiram bunga-bunga ini" tanya Berliana.
"Tidak usah non, nanti nona basah kena air" tolak halus Meli.
"Tidak apa-apa!" ucap Berliana sambil merebut selang air ditangan Meli.
"Apa nona menyukai bunga mawar?" tanya Meli yang melihat Berliana tampak kagum melihat tanaman bunga mawar yang tumbuh subur.
"Aku sangat menyukai warna putih" ucap Berliana.
"Apa tuan muda Zion menyukai bunga mawar?" tanya Berliana sambil berpindah tempat.
"Saya juga kurang tau non! yang saya tau tuan selalu menyuruh kami agar menjaga kebun mawar ini" ucap Meli yang tidak tau apa tuannya menyukai atau tidak.
"Oh!. Jangan panggil aku nona! Panggil saja aku Berliana. Karena umur kak Meli lebih tua dari umur ku" ujar Berliana.
__ADS_1
"Tapi non!" ucap ragu Meli yang sadar akan posisinya saat ini.
"Sudah tidak apa-apa! Turuti saja kak Meli" ucap Berliana sambil menatap lekat kedua mata Meli.
"Baiklah kalau kamu tidak merasa keberatan" ucap pasrah Meli.
"Berliana!" panggil Meli dengan pelan.
"Ya" ucap Berliana tanpa melihat wajah Meli.
"Apa kamu menyukai tuan muda?" tanya Meli hati-hati.
"Maaf jika pertanyaan aku lancang" ucap Meli dengan nada sedikit memohon.
"Ya! aku menyukainya" ucap Berliana sambil menarik nafas pelan.
"Apa tuan muda juga?" tanya Meli yang semakin penasaran.
Mendengar pertanyaan Meli, membuat Berliana menatap kearah Meli.
"Tidak!" ucap Berliana dengan santai seolah-olah tidak ada beban.
"Aku berharap suatu saat tuan muda mencintai mu Berliana" doa tulus Meli.
"Semoga saja" ucap pelan Berliana.
"Aku akan membantu mu agar tuan muda membuka hatinya" ucap Meli dengan semangat.
"Tidak perlu!" ucap Berliana dengan secara tidak sadar bersuara tegas.
"Maksud ku, biarkan saja berjalan dengan sendirinya kak Meli" ralat Berliana sambil tersenyum tulus.
"Apa kau sedang menyukai seseorang kak?" tanya Berliana.
"Tentu saja!" ucap Meli dengan bangga.
"Siapa?" tanya Berliana dengan penasaran.
"Syuttt, jangan bilang kepada orang lain ya!" pinta Meli yang ingin memberitahukan kepada Berliana. Dan langsung dianggukkan oleh Berliana.
"Asisten tuan muda, tuan Samuel!" ucap Meli sambil terkikik geli.
"Semoga kalian berjodoh" ucap Berliana!
"Aamin!" ucap Meli.
.......................
Pada saat malam hari, pintu kamar Berliana diketuk dari luar!.
"Berliana! ini aku Meli" panggil Meli yang sedari tadi mengetuk pintu kamar Berliana.
"Ada apa kak?" tanya Berliana yang baru saja selesai mandi.
"Makan malam sudah siap! Segerahlah kebawah" ucap Meli dan tidak lama langsung menuju lantai bawah.
__ADS_1
Satu persatu anak tangga Berliana injak. Sampai di meja makan beberapa lauk pauk sudah tertata di atas meja makan mewah itu.
"Silakan dimakan nak Berliana! dan maaf jika rasanya kurang pas" ucap bibi Hesti yang mempersilahkan Berliana duduk.
"Apa bibi sudah makan?" tanya Berliana.
"Sudah nak, kami semua sudah makan" jawab jujur bibi Hesti.
"Kalau tuan muda Zion belum juga pulang bi?" tanya Berliana yang belum melihat kehadiran Zion selama ia disini.
"Kalau tuan muda biasanya tidak menentu pulangnya! Kadang pulang larut kadang juga tidak pulang" jelas bibi Hesti.
"Apa tuan tidak memberi kabar?" tanya bibi Hesti dengan penuh hati-hati.
"Belum!" ucap Berliana sambil tersenyum kecut.
"Silahkan di makan nak Berliana dan bibi mau kembali kerumah belakang dulu" pamit bibi Hesti.
"Iya, makasih bi" ucap Berliana.
Saat ini Berliana hanya sendirin di rumah itu. Melihat suasana cukup sepi membuat Berliana menarik nafas dan menghembuskan nafas kasar.
Selesai makan malam Berliana duduk di sofa yang berada di ruang tamu sambil bermain ponsel.
Merasa cukup lama ia tidak memantau grafik saham miliknya.
Raut wajah yang semula terlihat tenang! Sekarang terlihat sinis sambil menatap ke arah layar ponsel miliknya.
"Semakin naik saja" gumam Berliana sambil tersenyum miring.
Puas dengan melihat perkembangan pasar saham miliknya!. Berliana melirik jam yang ada dipergelangan tangannya.
Belum ada tanda-tanda kembalinya Zion kerumah itu!
Semenjak pertunangan mereka! keduanya belum bertemu kembali.
Tidak berselang lama terdengar suara mesin mobil yang berhenti di depan rumah.
Mendengar suara mobil, Berliana langsung beranjak dari sofa menunju pintu.
Ternyata Zion dan Samuel yang baru kembali dari pekerjaan mereka.
Dengan tersenyum hangat Berliana menyambut kedatangan mereka berdua.
Zion yang melihat Berliana membukakkan pintu hanya menatap sekilas dan langsung melanjutkan langkah kakinya.
Sedangkan Samuel menyapa Berliana sebentar.
"Selamat malam nona" sapa Samuel kepada tunangan bos sekaligus sahabatnya.
"Selamat malam juga" ucap Berliana.
"Saya masuk duluan ya nona soalnya saya akan menginap disini" ucap Samuel.
"Tentu silakan" ucap Berliana yang terlihat biasa saja.
__ADS_1
Senyum yang ia perlihatkan bukanlah senyum manis akan tetapi senyum kecut.
"Kau harus terbiasa dengan hal ini Berliana!" gumam Berliana dalam hati sambil memandang punggung keduanya dengan pandangan redup.