Berliana

Berliana
25. Tidak Berperasaan!


__ADS_3

Kesokkan paginya, Berliana tiba lebih dulu di meja makan!.


Saat ini dirinya menunggu kedatangan Zion dan Samuel untuk sarapan bersama.


Mendengar suara langkah kaki! Berliana langsung mengalihkan pandangannya ke arah tangga.


Dan benar saja Zion dan Samuel sedang berjalan menurun anak tangga.


Ketiganya duduk santai di meja makan, Zion di kursi utama sedangkan Berliana duduk berhadapan dengan Samuel.


"Silahkan tuan dan nona!" ucap Bibi Hesti yang selesai menyajikan sarapan keatas piring Zion.


Ketiganya sarapan dengan sunyi dan sesekali Berliana melirik kearah Zion dan Samuel secara bergantian.


Melihat Zion sudah selesai sarapan! membuat Berliana cepat-cepat menghabiskan makanannya.


"Ayo Sam!" ajak Zion yang sudah melangkah lebih dulu dan diikuti oleh Samuel dari belakang.


Dengan sigap Samuel berjalan berdampingan dengan Zion.


Sampainya didekat mobil yang sudah terparkir didepan teras! Samuel langsung membuka pintu bagian belakang untuk Zion.


Setelah Zion masuk barulah dirinya berjalan memutar untuk masuk di bagian kemudi.


Melihat hal itu Berliana langsung cepat-cepat mengetuk jendela kaca mobil tepat di samping Zion!.


Dengan membuka kaca setengah! Zion menatap datar kearah Berliana.


"Aku boleh menumpang?" tanya Berliana sambil tersenyum manis.


"Tidak!" ucap Zion.


"Ayolah lagi pula kita searah!" bujuk Berliana yang berusaha mendekat kepada Zion.


"Apa kamu tuli?" tanya Zion dengan sinis dan alis terangkat satu.


"Tidak" jawab Berliana dengan kening berkerut.


"Menjauhlah!" ucap Zion dengan tampang kurang bersahabat.


"Sekali ini saja!" ucap Berliana dengan suara memelas.


"Aku rasa kamu cukup pintar dalam mencerna ucapan ku" ucap Zion dengan tatapan tajamnya.


"Ambillah!" ucap Zion yang melempar dua lembar uang kertas.


"Aku tidak sudih mobil ku dinaiki oleh orang seperti mu!!" ucap Zion dengan sinis.


Pandangan Berliana masih terpaku menatap dua lembar uang yang berada di dekat kakinya!.


"Apa aku sehina itu?" gumam Berliana yang masih menatap dua lembar uang yang berada di kakinya.


"Jalan!" ucap Zion dengan tegas.

__ADS_1


Mobil Zion sudah mulai meninggalkan pekarangan! Berliana hanya tersenyum sedih melihat hal itu.


"Aku bukan mau uang mu!" ucap Berliana dalam hati dengan tersenyum kecut kearah mobil yang mulai meninggalkan dirinya.


Sedangkan didalam mobil Samuel langsung bersuara kepada Zion yang merasa perilaku Zion kurang pantas.


"Aku pikir kamu sudah keterlaluan Zion!" ucap Samuel sambil menatap Zion yang tengah menatap tablet di tangannya.


"Aku melihat dia bukanlah seperti yang kau pikirkan Zion!" pendapat Samuel.


"Dia seperti itu karena kakek ku akan berinvestasi di perusahaan milik keluarganya!" ucap Zion santai.


"Jangan mudah tertipu dengan tampang polosnya itu!" sambung Zion sambil menatap serius kearah Samuel melalui kaca tengah mobil.


Setelah mencari tau tentang Berliana yang sebenarnya hanya sebagian kecil yang ia ketahui!.


Zion mengira bahwa Berliana ingin bertunangan dengan dirinya! Karena harta kekayaan saja!.


"Tapi aku rasa dia tidak seperti itu!" ucap Samuel dengan yakin.


"Menyetirlah dengan fokus!" ucap Zion sambil menatap tajam kearah Samuel.


Melihat tatapan tajam Zion! Samuel langsung mengunci rapat mulutnya tanpa bersuara lagi.


Karena Zion adalah tipe orang yang sangat keras kepala dan sangat susah untuk diatur.


..........................


Berliana hanya menatap kosong kearah luar jendela!.


Melihat Berliana yang hanya diam saja, membuat sopir Joni menatap iba kepada Berliana.


Ia menyaksikan bagaimana perlakuan tuan mudanya kepada Berliana yang terlihat sekali bahwa tuan mudanya merendahkan wanita yang ia antar saat ini.


"Nona, harus banyak bersabar menghadapi tuan muda" ucap sopir Joni.


"Apa Paman?" tanya Berliana yang tidak mendengar jelas ucapan sopirnya.


Karena ia sibuk melamun tidak jelas!.


"Saya yakin nona, suatu saat nanti tuan muda akan luluh dengan nona" ucap sopir Joni.


"Mudah-mudahan ya Paman!" ucap Berliana yang mulai kembali kedunianya.


"Berliana! Kenapa kamu sangat lemah seperti ini" geram Berliana kepada dirinya sendiri.


"Berliana! kamu bukanlah wanita lemah!. Tapi kenapa jika sudah berurusan dengan hati kau sangat lemah?!" ucap Berliana yang kesal akan sisi lemahnya.


"Non, sudah sampai!" ucap sopir Joni yang memutuskan lamunan Berliana.


"Ha? Ahh terima kasih Paman!" ucap Berliana sambil keluar dari dalam mobil.


Dengan langkah pasti! Berliana berjalan munuju kelasnnya dengan ponsel yang berada di tangan kirinya.

__ADS_1


.........................


Sedangkan disebuah perusahaan besar yaitu milik keluarga Brown.


Dengan langkah tegas dan wajah angkuh! Zion melangkah menuju lift yang diikuti oleh asistennya, Samuel.


Sikap Zion di kantor tidak jauh berbeda dengan sikap yang ia tunjukkan di keluarganya.


Tegas dan bahkan arogant yang selalu mereka ingat jika berurusan dengan sang atasan.


Itulah yang menjadikan mereka selalu waspada jika sang atasan dalam keadaan tidak baik.


Sampainya di ruangan yang berada di lantai paling atas dan hanya terdapat dua ruang kerja saja disana.


Ruang kerja milik Zion dan ruang kerja sekaligus perpustakaan disana.


Sedangkan Samuel sang asisten sering menghabiskan waktu didalam ruang atasannya. Walaupun Samuel memiliki meja kerja yang berada didekat meja sekretaris yang berada di luar ruangan Zion.


"Tuan lima menit lagi kita akan rapat bersama dengan para kepala devisi!" ucap Samuel yang mengingatkan Zion.


"Jangan sampai ada yang tidak hadir!" ucap Zion sambil menatap layar dikomputer miliknya.


"Semuanya sudah berada di sana tuan!" ucap Samuel.


Perusahaan Brown Crop adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang infrastruktur dan bidak tekstil.


Kedua bidang itu memliki keuntungan yang luar biasa!. Jadi tidak heran banyak pembisnis yang bekerjasama maupun berinvestasi di perusahaan Brown Crop.


Selain keuntungan yang sangat menjanjikan! tingkat etika yang sangat di junjung tinggi oleh pemilik Brown Crop.


Langkah kaki Zion mulai berjalan dengan tegas menuju lift di ikuti oleh Samuel, Asisten dan Vera sekretarisnya.


Ketiga orang itu melangkah dengan tegas menuju ruang rapat.


Pintu ruang rapat di bukak oleh Samuel dan masuklah Zion, Vera dan yang terakhir Samuel sekalian menutup pintu.


Kehadiran ketiga orang penting itu membuat beberapa kepala devisi menarik nafas kasar dan disertai oleh raut wajah gelisah.


Ketiga orang yang sudah duduk di tempatnya masing-masing adalah orang-orang yang sangat mereka hindari.


Tidak ada kata kasihan jika mereka bekerja tidak juga menunjukkan perubahan!.


Tatapan mematikan dari ketiganya cukup membuat nyali mereka menciut. Jika sudah terkena masalah maka akan sangat mustahil bisa lolos!.


Selain itu mereka cukup bernafas lega, karena masih ada asisten sekretaris yang cukup bermurah hati yang mengingatkan mereka jika suasana bos mereka sedang tidak baik!.


Walaupun asisten sekretaris itu cukup bermurah hati! bukan berarti dia tidak bisa kejam seperti ketiga orang yang ada didepannya saat ini.


Rapat sudah berjalan dengan baik! Kali ini mereka dapat bernafas lega.


Tidak ada adegan lemparan berkas maupun bentakan yang mereka dengar dan saksikan!.


Proyek-proyek maupun sistem pemasaran berjalan dengan normal tanpa kesalahan sedikitpun. Jika itu ada maka mereka akan berupaya semampu mereka agar masalah itu segerah hilang. Jika tidak! maka posisi mereka akan terancam!.

__ADS_1


__ADS_2