Berliana

Berliana
63. Bersama Zion


__ADS_3

Jam pulang sekolah tiba, dan Berliana beserta teman-temannya keluar dari ruang kelas secara bersamaan.


"Benar tidak mau pulang bersama?" tanya Kevin saat tau Berliana tidak membawa mobil.


"Tidak perlu, aku juga sudah pesan taksi" ucap Berliana.


"Okelah, aku duluan kalau begitu" ucap Kevin dan pergi menuju parkiran meninggalkan Berliana yang melihat aplikasi pesanan taksi online.


"Kami juga duluan ya" ucap Sakira mewakili Tama dan juga Gio.


"Hati-hati!" seru Berliana kepada temannya.


Sambil menunggu taksi online yang ia pesan, Berliana memainkan ponselnya sambil berdiri.


Mendengar suara mobil yang berhenti tepat didepannya membuat Berliana menghenyikan aktivitas bermain ponsel.


Dengan tatapan sedikit menyelidik kearah mobil yang berwarna hitam yang berhenti tepat di depannya.


Seketika raut tanyanya berubah menjadi raut wajah menjadi binar bahagia. Bahkan ia memberikan senyum tipis kepada sang pengemudi mobil yang membuka kaca mobil dengan penuh.


Ternyata itu adalah Zion, ia sengaja menjemput Berliana. Bahkan dengan tanpa berprasaan ia melimpahkan pekerjaannya kepada Samuel, tanpa peduli bahwa sang asisten sekaligus sahabatnya itu mengutuk dirinya.


"Kenapa kesini?" tanya Berliana yang sudah mendekat kearah mobil Zion.


"Menjemputmu" jawab Zion dengan santai bahkan ia menipiskan bibirnya.


"Menjemput ku?" tanya balik Berliana tatapan heran.

__ADS_1


"Tentu, ayo cepat masuk!" seru Zion yang merasa gemas kepada Berliana.


Masih dengan raut wajah bertanya-tanya. Berliana masuk kedalam mobil dan duduk tepat disamping Zion.


Mobil yang dikemudikan oleh Zion mulai berjalan menuju keruma pribadinya dengan kecepatan sedang.


Jika ditanya bagaimana perasaan Berliana saat ini?. Sungguh ia tidak bisa menjelaskan bahwa ia sangat senang akan sikap Zion saat ini.


Akhirnya mobil itu berhenti dengan sempurna tepat didepan rumah milik Zion.


"Masuklah dan istirahan. Malam ini aku akan mengajak keluar" ucap Zion saat sudah sampai dipengujung tangga.


"Kemana?" tanya Berliana dengan penasaran.


"Lihat saja nanti" ucap Zion dan langsung pergi berlalu dari hadapan Berliana.


Melihat Zion sudah meninggalkan dirinya, ia langsung saja menuju kekamarnya.


Malam harinya Zion sudah bersiap dengan pakaian santainya dan saat ini ia sedang menuju kamar Berliana.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu kamar Berliana yang dilakukan oleh Zion. Tidak lama pintu kamar itu dibuka oleh Berliana yang sudah berpakaian rapi.


"Sudah siap?" tanya Zion kepada Berliana.


"Sudah" jawab singkat Berliana.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo!" ucap Zion. Berliana langsung menutup pintu kamarnya dan mulai mengikuti Zion dari belakang.


"Tidak perlu menyiapkan makan malam untuk kami Bi. Kami akan makan diluar" ucap Zion yang berpapasan dengan Bibi Hesti.


"Baik Tuan muda" ucap Bibi Hesti dengan patuh dan sedikit menundukkan kepalanya.


Zion dan juga Berliana sudah berada di dalam mobil. Dimana mobil sudah melaju menuju ketempat yang sudah Zion reservasi.


Menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, akhirnya mereka sampau ketempat yang dituju.


"Kita kesini?" tanya Berliana kepada Zion.


"Tentu saja. Ayo!" seru Zion dan langsung keluar dari dalam mobip dan diikuti oleh Berliana.


"Bagus" gumam Berliana sambil menatap hamparan laut yang dikegelapan malam dan hanya bercahayakan oleh bintang yang bertaburan serta rembula yang menerangi.


"Kau suka?" tanya Zion yang sudah berdiri disamping Berliana.


"Tentu saja" jawab Berliana cepat sambil melihat lampu-lampu hiasan yang membantu pencahayaan disekitar tepi laut.


"Syukurlah" ucap Zion yang merasa bahwa ia tidak salah memilih tempat.


"Aku ingin menyentuh air laut" ucap Berliana setelah cukup lama memandang kearah laut.


"Ayo kita turun" ucap Zion yang saat ini tempat yang ia pesan diatas permukaan pasir pantai yang hanya berjarak tiga meter saja.


Keduanya sudah berada dibawah dan saat ini Berliana tidak memakai alas kaki. Karena ia ingin menyentuh langsung air laut yang melaului jari jemari kakinya.

__ADS_1


Angin malam yang bertiup menerpa tubuh orang-orang yang berada disekitar pantai. Ombak-ombak seakan saling mengejar satu sama lainnya.


Ombak dan angin bagaikan sebuah nyanyian ataupun nada indah sangat menenangkan jiwa.


__ADS_2