Berliana

Berliana
67. Kepercayaan


__ADS_3

Berliana berjalan menuju kelasnya, dan para siswa sudah banyak yang berdatangan. Tapi Berliana merasa ada yang aneh saat ia melewati siswa yang lainnya.


Disepanjang jalan menuju kelas, Berliana mendapat tatapan aneh, oleh para siswa yang berpapasan dengannya.


Tanpa mau berpikir yang buruk-buruk, Berliana masuk kedalam kelasnya dengan santai. Sampai dikelas, Sakira, Kevin, Tama dan Gio sudah lebih dulu sampai dari pada dirinya.


"Kalian kenapa?" tanya heran Berliana sambil duduk di kursi miliknya.


"Nah, ini dia orangnya" tunjuk Sarah kepada Berliana.


Dari awal Berliana masuk dan sampai ketempat duduknya, berbagai tatapan yang tertuju kepadanya.


"Aku yakin, apa yang kau pakai dan kenakan saat ini adalah hasil bayaran dari pria-pria diluar sana!" ucap keras dan sinis Sarah yang sudah berada tepat disamping meja Berliana dan Sakira.


"Jangan asal fitnah!" ucap Berliana singkat.


"Fitnah! Bagaimana, orang jelas-jelas buktinya banyak. Lihat saja di sosial media" ucap Sarah dengan angkuh.


Sakira langsung saja memberikan ponselnya kedepan Berliana yang berisikan berita dan juga foto mengenai Berliana.


Dengan raut wajah tenang, Berliana mengambil ponsel milik Sakira dan mulai melihat-lihat berbagai foto dan juga komentar yang ditujukan kepada dirinya.


"Sudah lihatkan, masih mau mengelak?" tanya Sarah dengan alis terangkat satu dan kedua tangan terlipat didepan dadanya.


Melihat pemberitaan mengenai dirinya, Berliana hanya menghembuskas nafas kasar. Sepertinya ia tidak bisa mentolerir orang-orang yang ingin menjatuhkan dirinya, pikir Berliana.


"Kalian percaya?" tanya Berliana sambil menatp satu-persatu wajah teman-temannya.


Keempatnya dengan ragu menggelangkan kepala sambil menatap simpati kearah Berliana.


"Jelaslah mereka percaya. Lihat saja, bukan hanya satu fotomu disini, tapi ada beberapa" ucap Sarah yang kembali memprovokasi Berliana.


"Berliana, kamu dipanggil Bu Winda!" ucap salah satu teman sekelas Berliana.


"Nanti aku jalaskan, sekarang aku temui bu Winda dulu" ucap Berliana kepada Sakira.

__ADS_1


Berliana langsung pergi dari kelas dan memenuhi panggilan dari wali kelasnya.


"Aku yakin ini ada yang iseng" ucap Kevin dengan yakin.


"Kau benar, Coba kalian lihat lebih teliti lagi. Setiap foto yang disebarkan muka Berlianalah yang terlihat jelas" ucap Tama sambil meneliti foto-foto yang beredar.


"Aku rasa juga begitu, kita tunggu penjelasan Berliana dulu. Barulah nanti aku akan meminta bantuan dari keluarga ku untuk menyelidiki hal ini" ucap Sakira yakin, jika ini hanya kesalahpahaman saja.


Jam pertama sudah hampir mau berakhir, namun Berliana belum juga kembali kekelas. Dan keempat temannya merasa cemas dan mengkhawatirkan Berliana karena tidak kunjung kembali.


"Kenapa Berliana belum juga kembali?" tanya Tama kepada Sakira yang saat ini sedang menghampiri Sakira yang sedang duduk gelisah.


"Aku juga tidak tau, semoga saja tidak ada yang serius" ucap Sakira dengan perasaan cemas.


............................


Sedangkan dikantor Zion, melihat berita dimedia sosial, emosi Zion tidak terkendali.


"Tenangkan dirimu Zion, aku rasa ini hanya perbuatan orang yang iseng saja" ucap Samuel dengan suara cukup tinggi.


Zion hanya duduk dilantai dengan pikiran yang kalut, ada rasa amarah yang siap meledak di dalam dirinya saat melihat foto-foto di media sosial, bahkan ada yang mengirimnya secara pribadi dengan dirinya.


"Lebih baik kamu bicarakan dengan dulu dengan Berliana. Agar kamu tidak salah paham" saran Samuel.


"Foto itu benar dan tidak ada unsur editan disana" ucap Zion dengan gusar.


"Bisa sajakan itu foto diambil dengan sengaja" ucap Samuel yang berpikir postif.


"Jangan terlalu percaya dengan berita itu, bisa saja ini hanya perbuatan orang yang tidak menyukai Berliana" ucap Samuel kembali.


"Panggilan orang untuk membersihkan ruangan ku, dan jangan mengganggu ku dulu" ucap Zion dan langsung masuk kedalam kamar pribadinya yang ada disana.


"Apa kurangnya aku Berliana!" seru Zion dalam hatinya.


Sedangkan di kantin sekolah, Berliana sedang menuju ketempat teman-temannya yang sudah menunggu dirinya.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya mereka antusias.


"Sepertinya hari ini terakhir aku sekolah disini" ucap Berliana dengan raut wajah sedih saat mengingat pembicaraan diruang kepala sekola.


"Apa tidak ada jalan lain?" tanya Sakira dengan cepat.


"Jika ada, aku akan meminta bantuan keluarga ku untuk membersihkan namamu" ucap Sakira dengan sungguh-sungguh.


"Tidak perlu. Karena bagiku, dengan kalian percaya padaku, itu lebih dari cukup" ucap Berliana dengan senyum manis menatap mereka satu-persatu.


"Kami percaya kamu pasti tidak seperti yang diberitakan" ucap Kevin yakin dan dianggukkan oleh semuanya.


"Syukurlah kalau kalian percaya dan sebenarnya saat kejadian foto-foto diambil, aku merasa ada yang mengikuti ku" jelas Berliana dengan tenang.


"Pasti ada yang sengaja untuk menjatuhkanmu" ucap Tama.


"Kau benar, tapi siapa?" tanya Gio dengan raut wajah penasaran.


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Nanti akan ketahuan juga pada akhirnya" ucap Berliana.


Mereka asik berbincang sambil memakan makanan serta minuman yang sudah ada diatas meja. Tanpa menghiraukan bisikan-bisikan dan cibiran-cibiran yang ditujukan kepada Berliana.


"Kakak!" seru Remi dan juga Ramkes yang mendekat kearah Berliana. Karena mereka langsung mencari keberadaan Berliana.


"Kenapa kesini?" tanya Berliana, karena biasanya kantin yang mereka datangi diisi oleh anak kelas tiga.


"Kami mencemaskan Kakak" jawab Remi dan Ramkes hanya menatap terua kearah Berliana.


"Sudah, Kakak tidak apa-apa" ucap Berliana kepada kedua adiknya.


"Syukurlah kalau Kakak baik-baik saja. Kami tidak akan percaya dengan informasi yang sudah beredar" ucap Remi dengan yakin.


"Terima kasih sudah percaya" ucap Berliana kepada kedua kembar itu.


Yang menjadi beban pikiran Berliana adalah Zion entah Zion kemakan berita yang beredar itu atau tidak ia tidak tahu.

__ADS_1


"Aku harap kamu tidak percaya dengan berita itu Law!" ucap Berliana dalam hatinya.


__ADS_2