
Saat ini kedua belah keluarga besar masih berada di ruang tamu, setelah acara inti terlaksana.
Saat ini kakek Zion ingin membicarakan keinginannya.
"Dengarkan!, mulai saat ini Berliana akan tinggal bersama dengan Zion!" ucap tuan besar Brown sambil menatap lekat sang cucu.
"Kau tidak keberatan bukan?" tanya sang kakek dengan tatapan memicing kepada sang cucu.
"Terserah kakek saja" ucap pasrah Zion.
Karena dirinya merasa percuma nolak ataupun membantah ucapan sang kakek dan itu semua akan berakhir dengan sia-sia.
"Berliana mulai saat ini, kau akan tinggal serumah dengan Zion" ucap kakek Zion dengan lembuat kepada Berliana.
"Baik kek" ucap Berliana sambil tersenyum tipis.
"Zion, kakek harap kamu akan menjaganya" ucap kakek Zion dengan tegas.
"Tuan besar Brown boleh saya mengucap sesuatu kepada tuan muda Zion?" tanya Daddy Radika dengan serius.
"Silakan saja" jawab kakek Zion yang tidak mempermasalahkan hal itu.
"Tuan muda Zion!" panggil Radika dengan suara cukup tegas, bahkan aura kepemimpinannya terpancar dengan baik.
Saat ini kedua lelaki tampan saling menatap datar satu sama lainnya.
"Tuan muda Zion!. Saya rasa tidak perlu basa-basi dan saya akan menyampaikan maksud saya"
Terdiam sesaat, daddy Radika langsung bersuara smabil menatap lelaki tampan didepannya saat ini.
"Saya paham kalau kamu tidak menginginkan pertunangan ini. Tapi jangan pernah kamu melukai hati dan fisiknya. Jika itu akan terjadi kembalikan saja dia kepada kami" ucap serius daddy Radika kepada Zion.
"Tentu" ucap Zion sambil membalas tatapan tajam pria paruh baya didepannya saat ini.
Entah kenapa Daddy Radika merasa semua ini akan terlihat rumit nantinya, hatinya yang mulai dari semalam merasa cukup gelisah.
Walaupun Berliana hanya keponakannya, tapi dia merasa bahwa dia selalu ingin melindungi Berliana.
"Tuan Zion!" panggil Ramkes.
Saat ini mereka mengalihkan pandangannya kearah Ramkes yang sangat berani memanggil Zion dengan nada suara cukup keras.
"Jika aku melihat mu sekali saja menyakiti kakak ku. Maka saat itu juga hari terakhir mu melihat dirinya!" ucap pedas Ramkes yang sangat mendominasi dari sifat daddy.
Zion hanya menatap dingin kearah Ramkes, sungguh dirinya seperti melihat ada beberpa kesamaan dengan lelaki muda didepannya ini.
Melihat situasi terasa mulai menegangkan membuat kakek Zion mulai mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Mulai minggu depan kau akan pindah kerumah Zion. Agar kalian semakin dekat dan kakek sangat berharap kalian bisa menjadi pasangan yang sempurnah" ucap kakek Zion dengan tatapan penuh haru.
.......................
Saat ini Berliana tengah memandang cincin yang berada di jari manisnya.
Setelah kembali dari mansion keluarga Brown, Berliana langsung menuju kekamarnya.
Mengingat kejadian yang baru beberapa jam lalu, membuat Berliana menarik kedua sudut bibirnya.
Bohong jika dirinya tidak merasa bahagia.
"Jika takdir menginginkan kita bersatu, maka aku akan menjadi wanita sangat bahagia" gumam Berliana sambil tersenyum manis.
"Dan jika kita tidak di takdirkan!. Setidaknya aku sudah diberi kesempatan untuk mendekat" sambung Berliana dengan tersenyum tipis dengan tatapan menerawang jauh.
"Law!" panggil Berliana sendu.
Zion Lawrance Brow adalah nama lengkap Zion dan berliana mempunyai panggilan khusus untuk Zion dari Berliana.
"Aku harap kamu membuka hatimu untuk ku!" ucap sendu Berliana yang saat ini sedang menatap keluar jendela kamarnya.
Cukup lama Berliana menatap kearah luar jendela, kini perhatiannya teralihkan oleh suara ponsel miliknya.
Ternyata sebuah panggilan suara dengan menggunakan kode luar negeri.
Tanpa menunda waktu Berliana langsung mengangkat panggilan suara itu.
"Ada apa?" tanya Berliana dengan santai.
"Apa kau yakin?" tanya suara diseberang sana dengan nada penekanan.
"Ya" jawab Berliana dengan pelan.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Berliaja kepada pemilik suara di sebarang sana yang merupakan suara perempuan yang tegas.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" ucapnya dengan tegas bahkan seperti tengah memarahi Berliana.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Berliana yang semulanya dengan nada biasa bahkan terkesan lembut. Tapi kini nada suaranya menjadi datar.
"Hahaha, sudah cukup lama aku tidak mendengar suara khas milik mu" ucap seseorang dengan tertawa kecil.
"Sungguh sangat pandai dalam mengendalikan semuanya" sambungnya dengan berdecak kagum.
"Terkadang hal yang seperti itu sangat diperlukan bukan?" sarkas Berliana dengan suara datar.
"Ya. Kau memang benar. Akan tetapi tidak semua orang bisa seperti itu!" ucap wanita diseberang sana dengan suara sama datarnya.
__ADS_1
"Terlihat seperti tidak mengetahui banyak hal. Nyatanya orang yang seperti itulah yang banyak menyimpan rahasia" sambungnya lagi.
"Orang yang banyak bicara adalah orang yang rugi!" ucap Berliana.
"Kerugian, bodoh dan kesialan itu akan menjadi satu dan aku menunggu orang yang seperti itu!" sahut wanita disebarang sana.
"Dan itu juga yang aku tunggu saat ini" ucap Berliana dengan tertawa sinis.
"Jangan terlalu lama Berliana! Ingat masih ada hal yang lebih penting untuk dilakukan dari pada mengurus para hama menjijikkan itu" ucap seseorang diseberang sana dengan nada kemarahan.
"Akan tiba waktunya dan saat ini aku sedang menuju diwaktu itu" seru Berliaja dengan tenang.
"Jika membutuhkan bantuan jangan sungkan memanggil kami, dan kami siap menghancurkan mereka!" ucap seseorang itu dengan mengepalkan sebelah tangannya.
"Jangan khawatir, jika semua sudah selesai!" dengan menarik nafas dengan berat Berliana kembali melanjutkan ucapannya.
"Jika tidak sesuai dengan ekspetasi ku, maka aku akan menetap disana!" putus Berliana sambil memejamkan matanya.
"Ya, dan kami harap kau kembali disisi kami" ucap seseorang.
"Apa kau sudah mendapatkan informasinya?" tanya seseorang itu yang saat ini tengah melihat sebuah data dan beberapa foto.
"Belum" jawab pelan Berliana.
"Bulan depan kami akan kesana untuk mengecek langsung kelokasi. Jika kau mau, ikut saja" ucap orang itu memberitahu Berliana.
"Akan aku usahakan" balas Berliana.
"Kirimkan file yang ada padamu, karena aku akan mencocokkan data-datanya" perintah pemilik suara disebarang sana.
"Dan semoga saja kita bisa mendapatkan hasil yang diinginkan" ucap penuh harap seseorang di seberang sana.
"Aku juga menginginkan hal yang sama" ucap Berliana.
"Aku juga sudah memberikan beberapa foto yang diambil dari rekaman CCTV di sana. Dan aku merasa ada yang janggal disana" ucap seseorang itu dengan nada yang terdengar ragu.
"Nanti cobalah kau lihat dengan teliti, dan aku juga belum mendapat petunjuk saat ini" ucapnya dengan nada kurang semangat.
"Kirim saja semuanya padaku, nanti aku akan menelitinya dengan seksama" ucap Berliana.
"Ini kasus yang cukup rumit dan juga memiliki resiko yang besar. Jika kamu menemukan sesuatu beritahu aku saja, dan jangan sampai diketahui orang lain. Jika kau ikut membantu!" ucap seseorang itu, agar Berliana lebih berhati-hati.
Walaupun sebenarnya dia sangat tau sifat serta cara Berliana dalam melakukan sesuatu hal yang sangat rapih dan bersih pastinya.
"Aku akan hati-hati dan kalian juga" ucap Berliana.
"Pasti!" ucap seseorang itu dengan yakin.
__ADS_1
"Aku rasa peebincangan kita cukup sampai disini saja. Mengingat waktu perbedaan disini dengan disana dan juga banyak hal yang akan kita lakukan dan seperti cukup menguras otak agar berpikir keras" ucap seseorang itu dan langsung mengakhiri penggilan suara tanpa menunggu ucapan Berliana.
Panggilan suara terputus.