Berliana

Berliana
62. Merasa Aneh


__ADS_3

Samuel keluar dari ruangan Zion dengaj raut wajah kesal. Dengan kasar ia duduk di samping meja kerja Sekretaris Vera.


Melihat wajah kesal Samuel membuat Vera menatap heran kearah Samuel.


"Kenapa dengan wajahmu?" tanya heran Sekretaris Vera sambil menghentikan pekerjaannya.


"Gajiku di potong bulan ini" ucap Samuel dengan suara tidak semangat.


"Kenapa?" tanya Sekretaris Vera dengan dahi yang terlipat.


"Karena aku memakan makanan untuk tuan" ucap Samuel dengan lesu.


"Maksudnya?" tanya Sekretaris Vera yang tidak mengerti.


Langsung saja Samuel menegakkan badannya dan mulai menatap serius wajah Vera yang berada disampingnya.


"Akhir-akhir ini, tuankan selalu diberikan bekal makanan dari Nona Berliana dan tuan tidak mau memakannya dan ingin membuanya. Dari pada dibuang lebih baik aku makan saja dan tuan sudah menyetujuinya" jelas serius Samuel.


"Tidak tau kenapa hari ini tuan terlihat aneh, mulai dari senyum-senyum sendiri sampai ia tidak memberikan aku lagi bekal dari Nona Berliana. Bahkan gajiku dipotong setengah bulan ini" ucap Samuel dengan wajah kesal.


"Apa tuan sudah membuka hatinya untuk Nona Berliana?" tebak Sekretaris Vera.


"Ha? Tidak mungkin" ucap Samuel dengan serius.


"Para lelaki mana paham!" cibir Sekretris Vera.


"Apa iya? Jika itu memang benar, itu adalah berita yang sangat bagus!" ucap Samuel dengan raut wajah kembali ceria.


"Bisa jadikan? Dan sepertinya tuan cemburu jika ada orang yang terlihat menyukai Nona" kelas Sekretaris Vera.


"Iya-iya kau benar sekali" ucap Samuel dengan tersenyum lebar.


............................


Sedangkan disekolah, Berliana terlihat memperhatikan plajaran akan tetapi pikirannya saat ini masih terbanyang saat kejadian semalam hingga saat Zion mengantar dirinya kesekolah.

__ADS_1


"Bolehlah aku berharap lebih? Ingin rasanya kejadian itu terulang kembali" pikir Berliana.


"Kenapa?" tanya Sakira yang menyenggol lengan Berliana. Ia bertanya tanpa suara karena pada saat ini guru sedang memberikan materi didepan kelas.


"Ha?" tanya Berliana yang merasa terkejut karena senggolan bahu Sakira.


"Kamu kenapa?" tanya Sakira dengan berbisik.


"Oh, aku tidak apa-apa" jawab Berliana dengan berbisik pula.


"Oh!" ucap Sakira dengan singkat dan kembali memperhatikan guru didepan yang sedang menjelaskan materi pelajaran.


Jam istirahat tiba dan Kevin, Gio, dan juga Tama mendekat kemeja Sakira dan juga Berliana.


"Kekantin kan?" tanya Kevin kepada keduanya.


"Iya" ucap Berliana dan juga Sakira secara bersamaan sambil memasukkan buku mereka kedalam tas.


"Ayo!" ajak Tama dan Gio yang mulai jalan lebih dulu.


"Anda tidak sadar diri?" tanya Gio dengan tersenyum remeh.


"Apa?" tanya bingung Sakira kepada keduanya.


"Sudahlah, ayo cepat kekantin" ucap Berliana.


Mereka berlima menuju kantin bersama-sama saat akan memasuki area kantin. Berliana secara tiba-tiba di tabrak oleh Arabela dibagian pundak dengan kasar.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Sakira dan ketiga lelaki itu mulai menatap Berliana dan lanjut menatap Arabela.


"Tidak apa-apa" ucap Berliana dengan tersenyum manis kepada teman-temannya.


Arabela hanya menatap Berliana dengan tatapan remeh dan mereka disana melihat dengan jelas tatapan Arabela yang menatap penuh arti kearah Berliana.


"Ada apa dengan dia?" tanya Kevin sambil melihat kepergian Arabela.

__ADS_1


"Entahlah" ucap Berliana.


"Aneh sekali anak itu" celetuk Gio dengan pandangan heran.


"Sudahlah, tidak usah pedulikan dia. Lebih baik kita kekantin saja" ucap Berliana yang tidak mau menjadi pusat perhatian.


Karena para siswa disana mulai menatap kearah mereka dengan tatapan penuh selidik.


..................


Saat ini mereka sudah berada di salah satu meja panjang yang ada di kantin. Sambil menunggu pesanan makanan serta minuman mereka. Mereka saling mengobrop satu sama lainnya.


Dan tidak lama pesanan mereka akhirnya datang juga.


"Perasaan tadi ada yang mencibir. Tapi kenapa yang mencibir yang sangat semangat memakan makanannya?" ejek Gio dengan pandangan sesekali kearah Sakira yang makan dengan lahap serta porsi makan yang melebihi ketiga lelaki itu.


"Entahlah, aku rasa tadi kita salah dengan" sambung Tama.


"Kalian membicarakan aku?" tunjuk Sakira kepada dirinya sendiri.


"Tidak!" seru Tama dan juga Gio secara bersamaan.


Melihat tatapan tajam Sakira yang dilayang kepada keduanya membuat Tama dan juga Gio tidak mau lagi mencibir Sakira.


Mereka asik menikmati makanan dan minuman mereka tanpa sadar jika ada seseorang yang sedang menatap kearah Berliana dengan senyum smirk.


"Kenapa dia terus menatap kesini?" tanya Sakira yang tidak sengaja melihat Arabela yang terua menatap kearah mereka. Ia merasa ada yang aneh dengan tatapan Arabela yang ditujukan kearah mereka.


Sontak saja ucapan Sakira membuat mereka menatap kearah Arabela.


Tatapan mata Berliana dan juga Arabela bertemu dan Arabela memberikan senyum devilnya kepada Berliana.


Berliana yang melihat hal itu hanya bersikap santai saja. Karena ia sudah meminta anak buahnya untuk mengikuti kemana Arabela dan rencana-rencana tersembunyi Arabela yang akan segerah diketahui olehnya.


"Sudah. Tidak perlu pedulikan dia" ucap Berliana kepada teman-temannya.

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan acara makannya tanpa menghiraukan Arabela yang terus menatap kearah Mereka.


__ADS_2