
Zion dengan langkah lebar ia menyeret Berliana untuk segerah pulang. Enathalah ia merasa tidak suka dan juga ada rasa amarah di lubuk hatinya melihat kedekatan Zion dengan lelaki.
"Lepaskan tanganku" ucap Berliana yang berusaha mengimbangi langkah lebar Zion.
Sedari tadi ia di seret pulang oleh Zion melalui pintu samping. Acara masih berjalan dengan baik dan hal itu tidak diperdulikan oleh Zion.
Yang dipikirannya saat ini adalah agar mereka cepat sampai rumah.
"Masuk!" ucap tegas Zion setelah membuka pintu mobil untuk Berliana.
Tanpa membantah Berliana masuk dan duduk di samping kemudi. Karena Zion akan menyetir sendiri untuk kembali kerumahnya.
Dengan kecepatan tinggi Zion mengemudikan mobilnya. Entahlah ia merasa saat ini hatinya dalam suasana yang tidak baik setelah beberapa kali melihat Berliana sangat terlihat akrab dengan lelaki.
Berliana hanya menatap keluar jendela mobil, karena baginya ia sudah terbiasa dengan kecepatan mobil di atas rata-rata.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang dikendarai oleh Zion sudah sampai di depan rumahnya.
"Turun" ucap Zion kepada Berliana.
Kembali Zion menggenggam pergelangan tangan Berliana dengan cukup erat dan melangkah masuk kedalam rumah yang sudah gelap.
"Lepas, aku bisa jalan sendiri" ucap Berliana yang mencoba melepaskan tangan Zion.
Melihat Berliana semakin berusaha lepas darinya membuat Zion, menggendong Berliana dan hal itu membuat Berliana secara reflek mengalungkan kedua tangannya di leher Zion.
Zion menaiki tangga rumah dengan langkah santai walaupun ada Berliana yang saat ia gendong.
"Buka pintunya" ucap Zion. Setelah mereka sampai di depan kamar.
"Tapi ini bukan kamar ku" ucap Berliana sambil menatap Zion dati samping.
"Aku bilang Buka!" ucap Zion dengan tegas.
Mau tidak mau Berliana membuka pintu kamar Zion dengan lebar.
Sampai didalam kamar, Zion menghempaskan tubuh Berliana keatas tempat tidur miliknya dan Berliana merasa tubuhnya terpental keatas kasur empuk.
"Apa kau sangat menyukai jika para lelaki mendekatimu?" tanya Zion sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.
"Kamu kenapa sih?" tanya Berliana yang masih berada di atas tempat tidur sambil memandang kearah Zion.
"Jawab saja Berliana!" ucap Zion dengan geram.
"Aku benar-benar tidak paham kamu ini kenapa? Jika ini hanya karena aku berbincang dengan lelaki saat di tempat acara itu adalah hal yang wajar saja" ucap Berliana yang sudah turun dari atas tempat tidur.
Zion mendengarkan hal itu mengusap wajahnya dengan kasar dan mulai melepaskan satu persatu kancing jas yang ia pakai.
__ADS_1
"Sudahlah, aku mau kembali kekamarku" ucap Berliana sambil melangkah menuju pintu kamar Zion.
"Sampai kau meninggalkan kamar ku. Maka aku akan menghukummu diatas ranjang" ancam Zion kepada Berliana.
Mendengar hal itu, membuat Berliana menghentikan langkahnya untuk membuka pintu kamar.
"Aku mau mandi dan juga ganti baju. Ini sangat tidak nyaman" ucap Berliana.
"Mandi disini saja dan akan aku ambilkan pakaianmu" ucap Zion yang tidak mau Berliana keluar dari dalam kamarnya.
"Mandilah dan aku akan mengambil pakaianmu dan juga aku akan mandi di kamar lain" ucap Zion dan langsung keluar kamar.
Berliana langsung saja masuk kedalam kamar mandi. Setelah selesai Berliana keluar dan melihat pakaianny sudah berada ditempat tidur dan Zion tidak ada di dalam kamar tersebut.
Selesai mengganti pakaian, Berliana duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya dan tidak lama setelah itu Zion baru masuk kedalam kamar.
Dengan sikap santai, Zion naik keatas tempat tidurnya dan seolah-olah Berliana tidak ada disana.
"Mau kemana?" Tanya Zion kepada Berliana yang sudah beranjak dari tempat tidur.
"Ke sofa" jawab singkat Berliana.
"Kenapa kesana?" tanya Zion dengan heran.
"Kan kamu tidur disana, jadi aku akan tidur disofa" ucap Berliana sambil menuju ke fofa panjang yang sudah ada didalam kamar Zion.
"Apa?" tanya Berliana dengan ekspresi bingung takut ia salah dengar.
"Kesini!" ucap Zion sambil menepuk bagian sampingnya.
Berlianya hanya berdiri menatap bingung kearah Zion yang sudah berbaring santai di atas ranjang.
"Jika hitungan ketiga kau belum juga kesini, maka aku akan menarik dengan cara paksa" ucap Zion dengan suara tegas tapi masih dalam keadaan berbaring.
Walaupun masih dalam raut wajah bingung, Berliana melangkah pelan kearah tempat tidur. Masih dalam keadaan menatap bingung kearah Zion dan tiba-tiba ia terkejut. Saat Zion menarik tangannya dengan cara paksa.
Hal itu membuat ia jatuh keatas dada kekar milik Zion.
"Instirahlah" ucap Zion sambil memeluk Berliana seperti bantal guling.
Berliana hanya diam dan menatap wajah Zion sambil mencaro posisi yang nyaman.
"Jangan melihat ku terus" ucap Zion yang masih memejamkan matanya.
Berliana mencoba menjauhkan tubuhnya dari Zion. Tapi tidak bisa, karena Zion semakin erat memeluk tubuh Berliana.
"Apa kau mulai menyukai ku?" tanya Berliana setelah keterdiamnya beberapa waktu.
__ADS_1
Mendengar ucapan Berliana membuat Zion membuka kedua matanya, sejenak mata keduanya saling menatap satu sama lainnya.
"Jangan berpikir macam-macam" ucap Zion dengan raut wajah serius kearah Berliana.
Mendengar jawaban Zion membuat Berliana merapatkan dirinya ketubuh Zion.
Biarlah Zion berpikir jika dirinya murahan yang penting dia saat ini memanfaatkan momen yang mungkin saja tidak bisa terulang lagi.
Zion yang mendengar suara nafas Berliana mulai teratur, membuat Zion membuka matanya.
Entahlah, saat ini ia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Tapi ia menepis semua rasa yang mulai berada direlung hatinya.
"Aku yakin ini hanya reaksi sesaat saja. Apalgi ia tunangan ku. Jadi tidak mungkin aku mulai menyukainya" ucap Zion dalam hatinya.
..............................
Pagi harinya Berliana bangun terlebih dahulu dari Zion. Dan ternyata ia masih dalam keadaan memeluk Zion.
Cukup lama ia memandang wajah tenang Zion masih terlelap dalam tidurnya.
"Jangan buat aku berharap lebih!" gumam Berliana dengan suara sangat pelan.
Setelah mengatakan itu, Berliana mulai beranjak turun dari tempat tidur dan keluar dari dalam kamar Zion untuk menuju kamarnya.
Tidak lama setelah Berliana keluar Zion bangun dari tidurnya dan ia melihat jika Berliana sudah tidak ada berada disekitarnya, dan ia langsung menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk kekantor.
Berliana yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya dan ia sudah berada di meja makan untuk sarapan pagi.
Selesai dengan sarapan, dan Zion baru saja duduk disamping Berliana.
Langsung saja Berliana mengmbil sarapan pagi untuk Zion.
Untuk pertama kalinya Zion mengucapkan kata dengan suara cukup lembut menurut Berliana.
"Terima kasih" ucap Zion dan mulai memakan sarapan paginya dengan lahap.
Berliana hanya menatap kearah Zion dengan tatapan sedikit berkerut di dahinya. Ia merasa sikap Zion cukup aneh mulai dari semalam.
"Apa tidak ada bekal makan siang untuk ku?" tanya Zion yang sudah selesai sarapan.
Sejenak pandangan Berliana terpaku kearah Zion yang dengan santai meminum minumannya.
"Tunggu sebentar" ucap Berliana pada akhirnya sambil mengambil kotak bekal yang sebenarnya akan ia berikan kepada Samuel. Karena ia tahu bahwa setiap makanan yang disediakan oleh Berliana Samuel yang akan memakannya.
"Berangkat bersama?" tawar Zion saat menerima bekal yang diberikan Berliana.
Lagi dan lagi sikap Zion bertambah aneh dimata Berliana dan sekali lagi ia tidak menyia-menyiakan kesempatan untuk dekat dengan Zion.
__ADS_1
"Suapaya ini awal dari kebahagiaan" ucap Berliana dalam hati sambil melangkah mengikuti Zion dari belakang.