
Saat ini Berliana dan juga Leanor masih didalam lingkungan kampus Leanor.
"Kenapa baru kembali?" tanya Leanor. Keduanya melangkah masuk kearea kantin kampus.
"Kenapa? Tidak suka!" ucap Berliana sambil melihat-lihat disekelilingnya.
"Bukan begitu" ucap cepat Leanor.
"Aku baru ada waktu untuk datang kesini" jelas Berliana.
"Duduk di bagian pinggir saja ya" tunjuk Leanor kesalah satu meja kantin dan langsung disetujui oleh Berliana.
"Apa kakak membawa oleh-oleh untuk ku?" tanya antusias Leanor kapada Berliana.
"Aku tidak sempat untuk membelinya" ucap Berliana tanpa rasa bersalah.
"Pelit sekali!" cibir Leanor.
"Bukan pelit, hanya saja tidak sempat membelinya" kilah Berliana.
"Apa kakak ada urusan selain datang berkunjung?" tanya Leanor dengan penuh selidik.
"Begitulah" jawab Berliana yang apa adanya.
"Apa ada masalah serius?" tanya Leanor yang wajah serius.
"Tidak juga" jawab tenang Berliana.
"Selalu seperti itu" ucap jengah Leanor yang paham akan sifat kakak sepupunya itu yang selalu tidak mau berbicara jujur kepada dirinya.
"Berapa lama kakak akan tinggal dinegara ini?" tanya Leanor.
"Paling lama tiga hari sepertinya" jawab Berliana.
"Kenapa singkat sekali? Kenapa tidak seminggu atau sebulan atau setahun" ucap Leanor yang tidak rela hanya bertemu Berliana dalam waktu singkat.
"Tidak bisa lama! Kakak harus sekolah" ucap jujur Berliana.
"Sekolah? Sekolah apalagi bukannya kakak sudah selesai S1? tanya Leanor yang tidak percaya.
"Waktu itu Kakak home scholing makanya bisa masuk dunia kuliah cepat. Dan saat ini kakak ingin merasakan sekolah umum!" jelas Berliana.
"Benar juga sih" ucap Leanor yang pada akhirnya menyetujui pemikiran Berliana.
"Kakak tidak dipesankan minuman ini?" tanya Berliana sambil menunjuk keatas meja.
"Astaga! aku lupa!" ucap Leanor sambil ternyum lebar.
"Kakak mau minum apa? Atau mau makan? Disini makanannya enak-enak Kak" ujar Leanor.
"Minuman soda saja" ucap Berliana.
"Ditunggu kakak ku sayang" ucap Leanor dan langsung beranjak mengambil minuman dingin untuk mereka.
Dengan segerah Leanor pergi mengambil dua minuman soda dan langsung melangkah menuju mereka.
Pandangan Leanor selalu tertuju kepada Berliana bahkan dia memberikan senyum mania dari kejauhan untuk Berliana.
Leanor Smith adalah anak bungsu di keluarga Smith dan memiliki sifat yang baik hati, ceria dan penyayang.
Dengan langkah gembira Leanor berjalan menuju Berliana dan secara tidak sengaja dirinya menabrak senior dikampusnya.
"Maaf Kak aku tidak sengaja!" ucap Leanor dengan rasa bersalah.
__ADS_1
"Maaf-maaf Kamu pikir dengan minta maaf baju saya bisa kembali seperti semula?" tanya senior itu dengan garang sambil mengelap bajunya yang terkena minuman dengan tisu.
"Sini kak biar aku bantu bersihkan" ucap Leanor sambil mencoba membantu mengelap baju senior perempuan itu.
"Tidak usah!" ucapnya sambil menepis kasar tangan Leanor yang ingin menyentuh bajunya.
Sedangkan Berliana hanya memperhatikan dari kejauhan saja tanpa bernian menghampiri mereka.
"Ada apa sayang?" tanya seorang lelaki yang ikut mendekat kearah mereka.
"Baju aku basah!" ucap manja senior perempuan itu.
"Kenapa bisa?" tanya senior lelaki itu.
"Semua ini gara-gara anak baru itu" tunjuknya kepada Leanor.
Dengan segerah lelaki itu melihat kearah yang ditunjuk oleh kekasihnya itu.
"Kau anak baru itu bukan?" tanya lelaki itu sambil menatap tajam kepada Leanor.
"Benar kak" jawab Leanor kepada senior lelaki itu.
Ternyata senior lelaki itu adalah presiden mahasiswa yang terkenal dengan ketegasan serta sikapnya yang angkuh dan hal itu membuat orang-orang malas jika berurusan dengan lelaki tersebut.
"Dan kau juga yang membuat baju wanita ku menjadi basah?" tanya lelaki itu dengan tatapan tajam.
"Iya kak" jawab jujur Leanor dengan tampang rasa bersalah.
Dengan senyum smirk lelaki senior itu mengambil minuman yang berada ditangan Leanor yang tidak tumpah dengan cara kasar.
"Kau harus merasakan apa yang kekasih ku rasakan!" ucapnya Sambil mengangkat tinggi boto minuman milik Leanor yang akan diberikan kepada Berliana.
"Tapi aku tidak sengaja kak" ucap Leanor dengan tampang memelas.
Walaupun dia bisa saja membalas mereka, hanya saja ia meresa itu tidaklah baik untuk dilakukan.
Tepat pada saat air yang berada didalam botol minuman itu tumpah mengenai kepala Leanor. Dengan sigap tangan seseorang menurunkan tangan senior lelaki dengan cara paksa.
Siapa lagi jika bukan Berliana yang sedari tadi hanya memperhatikan gerak-gerik mereka yang sedang berdebat.
"Sangat disayangkan jika minuman ini harus dibuang secara percuma" ucap Berliana sambil menahan kepalan tangan yang berisikan minuman.
"Alangkah baiknya diminum saja!" ucap Berliana yang dengan cepat merebut minuman dari gengaman lelaki itu.
Gerak cepat Berliana membuat lelaki itu terdiam dan menatap penuh selidik kepada Berliana.
"Kakak!" gumam pelan Leanor yang secara bersamaan lelaki itu membuka suaranya.
"Siapa kau?" tanya leaki itu dengan geram dan bercampur penasaran.
"Siapa aku? Itu tidak penting!" ucap Berliana santai yang tanpa rasa takut sekalipun.
"Aku tanya siapa kau?!" tanya lelaki itu dengan berteriak didepan muka Berliana.
"Jangan terlalu terpancing emosi tuan. Jika anda tidak bisa mengontrol emosi maka dengan cepat kau akan meregang nyawa!" ucap Berliana sambil tertawa kecil.
"Kurang ajar!" bentaknya dengan kerasa dan ingin menampar Berlian, tapi dengan cepat ditaha oleh Berliana.
"Tangan kotor mu itu tidak cocok untuk menyentuh pipi mulus ku!" ucap Berliana sambil menurunkan secara kasar tangan lelaki itu.
"Ayo! Lebih baik kita pergi dari sini" ajak Berliana sambil menarik tangan Leanor dan langsung meninggalkan mereka.
"Sial! Awas kau!" ucap lelaki itu dengan geram sambil memandangi punggung Berliana.
__ADS_1
.................................
Saat ini Berliana dan juga Leanor tengah berada diparkiran.
"Pulangnya satu mobil saja!" tawar Leanor kepada Berliana.
"Kakak mengikuti kamu dari belakang saja" ucap Berliana.
Untuk kesekian kalinya dia membujuk Leanor agar dirinya mengikuti dari belakang mobil yang dikendarai oleh Leanor.
"Baiklah!" ucap pasra Leanor yang tidak bisa membujuk Berliana.
Sekarang kedua kendaraan yang berbeda itu mulai keluar dari lingkungan kampus.
Tidak sengaja Berliana melihat kearah sepion motornya dan melihat sebuah mobil yang mengikutinya dari belakang.
Dengan segerah ia mengeluarkan ponsel di saku celananya dan menghubungi Leanor.
"Ada apa?" tanya Leanor sambil sesekali melirik kaca tengah mobilnya.
"Teruslah melaju dan jangan pernah berhenti" ucap Berliana melalui earphone.
"Ada apa?" tanya Leanor dengan nada sedikit panik.
"Tenanglah! Sepertinya mereka sangat penasaran dengan ku!" jelas Berliana.
"Baiklah! hati-hati jangan sampai terluka!" ucap Leanor dan langsung mematikan sambungan telpon.
Melihat suasana cukup sepi, Berliana langsung membelokkan motornya ketampat cukup sepi dan langsung mematikan mesin motornya.
"Wah, apa kalian ingin meminta tanda tangan ku?" tanya Berliana sambil berdiri menghadap kearah mobil yang mengikutinya.
"Terlalu percaya diri!" cibir lelaki senior yang sempat ribut dengan Leanor di kantin kampus.
"Apa mau kalian?" tanya Berliana dengan muka serius sambil memandang ketiga orang didepannya secara bergantian.
"Tentu saja ingin menghancurkan tingkat kepercayaan dirimu itu!" ucap lelaki senior itu, Gerald.
"Hahaha kalau kalian bisa silahkan!" tantang Berliana.
Melihat tingkat kepercayaan diri Berliana yang begitu besar membuat Gerald bertambah geram.
"Pukul dia!" ujar Gerald kepada kedua temannya.
"Dia cewek bro" ucap salah satu teman Gerald yang keberatan memukul wanita.
"Tidak perlu menyuruh orang lain, kenapa tidak kau saja yang maju?!" tanya Berliana sambil tersenyum mengejek.
"Apa jangan-jangan kau takut dengan ku?" tuduh Berliana sambil megibaskan rambutnya yang diikat sempurna.
"Cih, mana mungkin!" ucap Gerald sambil maju kearah Berliana.
"Kita lihat siapa yang akan menghancurkan siapa!" ucap Berliana.
Mendengar ucapan Berliana dengan cepat Gerald ingin memukul Berliana dan dengan cepat pula Berliana menghindar.
"Apa hanya segitu kemampuan mu?" tanya Berliana dengan tatapan merendahkan.
"Brengsek!" umpat Gerald dan menyerang Berliana secara brutal.
Melihat Gerald sudah terlihat lelah dari nafasnya membuat Berliana tidak ingin melayani pukulan Gerald.
"Sudahlah lebih baik kau belajar lagi. Lihatlah betapa lemahnya dirimu!" ujar Berliana setelah berhasil memberikan satu pukulan tepat di rahang Gerald.
__ADS_1
"Sial! Siapa wanita ini? Kenapa pukulan ku tidak ada satupun mengenai dirinya? tanya kesal Gerald sambil melihat Berliana melangkah menuju motornya.