
Pada pagi hari, Berliana berangkat kesekolah menggunakan mobil yang dibelikan oleh Zion untuknya.
Walaupun dirinya belum membutuhkan kendaraan akan tetapi dirinya tetap menuruti perintah Zion.
Mobil BMW milik Berliana terparkir mulus di IS.
Banyaknya merek mobil-mobil mewah yang memenuhi parkiran IS membuat para siswa hanya menatap biasa saja.
Selain itu sudah terbiasa bagi mereka melihat kendaraan mewah, dan mereka juga termasuk golongan orang-orang kaya.
Berliana berjalan dengan santai menuju kelasnya yang paling ujung.
Tiba-tiba ada seseorang yang menyudutkan dirinya ketembok dan itu adalah Arabela sepupu Berliana anak dari tuan Bondan dan juga Nyonya Mira.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Berliana heran sambil menahan tubuh Arabela yang mendorong dirinya cukup keras.
"Sekarang kau aku izinkan untuk menghirup udara bebas dan tidak untuk lain kali!" ucap Arabela dengan menatap sinis.
"Tidak lama lagi kau akan kembali ketempat asal kamu yang kampungan itu!" tunjuk Arabela dan langsung berlalu tanpa mendengar ucapan Berliana.
"Dasar gila!" umpat Berliana sambil merapikan seragamnya dan melanjutkan kembali langkahnya.
Sampai dikelasnya Berliana duduk di bangku miliknya dan Sakira sudah duduk tenang disana.
Bukan tenang tapi memejamkan matanya diajas meja belajar.
Jam pertama sudah di mulai, kali ini Berliana mengikuti pelajaran dengan serius. Bahkan sudah dua kali dirinya bertanya kepada guru yang mengajar.
Pertanyaan yang ia tanyakan sebetulnya bukan untuk dirinya, melainkan untuk teman-teman sekelasnya yang kemungkinan sulit untuk memahami materi yang dijelaskan.
Jam pertama telah usai dan saat ini mereka berlima sedang berada disalah satu meja di kantin sekolah.
"Kalau pelajarannya seperti itu, bisa-bisa waktu ujian, nilai ku akan semakin turun!" ucap lesu Tama dengan serius karena ia cukup sulit untuk memahami materi sebelumnya.
"Kau saja bodoh" ucap Kevin sambil mendorong pelan kepala bagian samping Tama.
"Bodoh kau bilang?" ucap garang Tama yang kesal disebut bodoh.
"Kalau tidak bodoh terus apa?" celetuk Sakira dengan bola mata jengah.
"Bukan bodoh! Hanya saja otak ku sulit memahaminya" sangkal Tama.
"Sama saja tolol!" ucap geram Gio.
"Selesai kelulusan nanti kalian akan lanjut dimana?" tanya Sakira sambil menatap mereka satu persatu.
"Entahlah aku belum memikirkannya saat ini" ucap bingung Gio yang belum pasti tujuannya.
"Kalau aku di kampus S mengambil jurusan manajemen bisnis" ucap Kevin mantap.
"Kalau aku di kampus S juga tapi bagian arsitek" ucap Tama yang tampak masih bingung.
"Kalau aku, sepertinya akan mengikuti jejak keluarga ku, bagian hukum" ucap Sakira.
"Kamu apa Ber?" tanya mereka berempat secara bersamaan sambil menatap kearah Berliana.
"Belum tahu!" ucap Berliana.
Ia cukup bingung apa ingin melanjutkan kuliah S2 atau mengulang S1 kembali.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Kevin.
"Belum punya pandangan!" jawab santai Berliana.
"Bagaimana kalau kita mengadakan acara, saat selesai ujian kelulusan nanti?" tanya senang Gio.
__ADS_1
"Masih lama juga" ucap Sakira.
"Masih lama bagaimana? Tinggal dua bulan lag!" timpal Kevin.
"Benar itu" ucap Tama.
....................................
Di sore hari, Berliana tengah menunggu kepulangan Zion. Saat dirinya masih disekolah, Zion mengabarkan jika mereka akan berangkat bersama menuju rumah utama.
Tidak berselang lama mobil Zion yang di kemudikan oleh Samuel sudah berhenti dengan sempurna didepan teras rumah.
Zion keluar dari dalam mobil dan diikuti oleh Samuel.
"Sebentar lagi kita akan berangkat menuju rumah utama" ucap Zion dan langsung berlalu meninggalkan Berliana.
"Iya" jawab pelan Berliana sambil melihat Zion sudah menjauh darinya.
"Saya permisi Berliana" pamit Samuel yang melihat tingkah keduanya belum juga ada kemajuan sedikitpun.
Berliana kembali duduk dan menunggu Zion dan juga Samuel bersiap diri. Sambil menunggu Berliana melihat grafik saham miliknya yang ada di luar negeri.
Perjudian saham memang hal yang biasa bagi kalangan orang luar! Sebelum mengikuti perjudian saham, sebuah akun akan melewati beberapa tahap seleksi dan akan dijelaskan serta diperlihatkan berbagai aturan-aturan dan resiko yang akan diterima saat akan mulai permainan.
Tidak menunggu lama, Zion dan juga Samuel sudah berjalan menuruni tangga. Ketiga berjalan menuju sebuah mobil yang sudah di persiapkan.
Mobil yang dinaiki oleh Berliana adalah salah satu mobil koleksi milik Zion dan yang pastinya mobil itu bukanlah mobil yang sering di pakai oleh Zion bekerja.
Hanya ada keheningan didalam mobil tersebut, Samuel fokus menyetir, Zion sibuk dengan tablet dan Berliana hanya diam memandang luar kaca mobil.
...............................
Gerbang tinggi itu mulai terbuka secara perlahan dan mobil yang di kendarai oleh Samuel sudah masuk dengan sempurna kedalam area rumah utama keluarga Brow.
"Akhirnya kalian datang juga kesini!" sambut tuan besar Brown dengan raut wajah bahagia.
"Kenapa kakek diluar?" tanya Zion dengan muka datar.
Karena ia merasa itu tidak baik untuk sang kakek yang berdiri terlalu lama. Apalagi waktu baru menunjukkan pukul lima sore.
"Kakek sengaja menyambut kedatangan kalian" jawab santai tuan besar Brown sambil memeluk singkat cucu kesayangannya.
"Kakek apa kabar?" tanya Berliana sambil melepas pelukan hangat kakek tua itu.
"Seperti yang kau lihat" ucapnya dengan tersenyum manis.
"Ayo, masuk-masuk" ajak tuan besar Brown sambil menggandeng tangan Berliana.
Saat ini mereka duduk bersama disofa ruang tamu. Dengan sadar dirinya Berliana pergi kearah dapur dan dia yakin jika mamanya Zion sedang berada didapur.
"Mau apa kau kesini?" tanya mama Zion dengan tatapan tidak suka melihat Berliana yang ingin menyapa dirinya.
"Saya hanya mau membantu nyonya" jawab Berliana sambil memandang intens muka mamanya Zion.
"Tidak perlu! Bukannya malah membantu nanti kau malah mengacaukannya" ucap pedas mama Zion.
Mendapat ucapan pedas mamanya Zion dan dengan cara kasar dirinya diusir dari dapur membuat Berliana berjalan menuju taman belakang.
Disana ia melihat Luna, istrinya Lazarus sedang menyiram tanaman. Berliana berjalan mendekat dan mulai menyapa menantu pertama dari keluarga Brown.
"Selamat sore kak" sapa Berliana.
"Aku pikir siapa tadi" ucap Luna yang merasa sedikit terkejut akan datangnya tiba-tiba Berliana.
"Apa perlu Berliana bantu kak?" tawar Berliana yang melihat Luna menyiram tanaman bunga.
__ADS_1
"Tidak perlu! Lagi pula ini hanya menyiram tanaman saja" ucap Luna dengan senyum manis.
"Apa kau menyukai bunga mawar?" tanya Luna sambil menggerakkan tangannya.
"Suka!" jawab Berliana.
"Bunga apa yang kau sukai?" tanya Luna tanpa melihat kearah Berliana.
"Bunga mawar" jawab Berliana.
"Oh ya?" tanya Luna sambil menatap Berliana dan langsung dianggukkan oleh Berliana.
"Sama aku juga menyukai bunga mawar!" ucap Luna sambil tersenyum melihat hamparan bunga mawar yang mekar dengan indah.
"Kakak suka bunga warna apa?" tanya Berliana yang mencoba untuk mengakrabkan diri.
"Aku suka semua warna" ucap Luna.
"Kamu sukanya warna apa?" tanya Luna.
"Mawar putih!" jawab Berliana.
...................................
Saat ini mereka sudah berada di ruang makan, acara makan malam ini adalah atas permintaan dari tuan besar Brown sebelum dirinya kembali kenegara asal istrinya yang sudah berpulang.
Di kursi utama ada tuan besar Brown, dikanannya ada papa Zion, Zion dan Lazarus.
Dikiri tuan besar Brown ada mamanya Zion, Luna dan Berliana.
"Silahkan dimakan nak Berliana jangan sungkan-sungkan" ucap tuan besar Brown.
"Baik Kek" ucap Berliana.
Satu persatu mereka mulai memasukkan makanan kedalam mulut mereka, begitu juga dengan Berliana.
Sesekali Berliana melihat kearah Zion yang berada tepat didepan Luna. Melalui ujung ekor matanya ia melihat Zion tampak mencuri pandang kearah mereka.
Bukan mereka tapi lebih tepatnya kearah Luna yang sibuk mengunyak makanannya.
Berliana menatap Luna dari sampingnya, dirinya mengakui jika Luna perempuan yang cantik, baik dan lemah lembut serta orang yang penyayang.
Waktu di taman belakang, saat Luna tengah menyiram tanaman bunga mawar yang ditanam sendiri oleh Luna. Membuat ia berpikir sejenak tentang hamparan bunga mawar yang ada dirumah milik Zion.
Awalnya dia tidak mau berpikir macam-macam, tapi pada saat ini dirinya melihat sendiri ada tatapan ketertarikan dimata Zion yang ditujukan untuk Luna.
Mengetahui hal itu Berliana hanya diam menunduk dan tersenyum getir.
Melihat Berliana tidak melanjutkan makannya, Luna membuka suara.
"Kanapa tidak di lanjut makannya?" tanya Luna yang melihat keterdiaman Berliana.
"Apa makanannya tidak enak? atau tidak sesuai dengan selerahmu?" tanya Luna dan hal itu membuat mereka menatap kepada Berliana kecuali Zion yang seakan tidak peduli.
"Makanannya sangat enak kak" ucap Berliana yang memaksa terseyum seolah tidak apa-apa.
"Syukurlah" ucap lega Luna.
Mereka kembali melanjutkan makan malam mereka.
Tuan besar Brown sedikit meneliti perubahan Berliana dan dia tidak tau ada apa dengan Berliana.
"*Bodoh kau Berliana! Hahaha sungguh miris sekali bukan" ucap Berliana dalam hati sambil tertawa miris.
"Kau menyukai seseorang tapi orang itu menyukai orang lain" batin Berliana sambil menarik nafas pelan yang tersa sangat sulit*.
__ADS_1