Berliana

Berliana
41. Masih Berjuang


__ADS_3

"Aku akan membuat kamu jatuh cinta kepada ku Zion! Jika perlu aku akan membuat kamu bertekuk lutut dihadapanku!" gumam Sharmila sambil menatap punggung milik Zion yang sudah menjauh dan tidak terlihat lagi.


"Aku tidak akan membiarkan seorang wanita satupun yang berada didekat kamu kecuali aku!" ucap Sharmila dengan tersenyum licik.


Sharmila mengambil ponselnya dan langsung menghubungi seseorang.


"Aku mau kamu mencari tau siapa wanita yang bertunangan dengan Zion. Jika sudah tau, beri dia pelajaran!" ucap Sharmila dan langsung mematikan sambungan telpon.


"Kita lihat orang yang seperti apa dia, berani-beraninya dia mendekati Zion ku" ucap geram Sharmila.


"Untuk kau wanita murahan, terimalah pembalasan dari ku nanti!" ucap Sharmila dengan senyum smirk.


Dengan cepat Sharmila mengembalikan ekspresi raut wajahnya dan saat ini terlihat sangat cantik dan seolah-olah bukanlah wanita yang licik serta ambisius.


"Tante, Mila pamit pulang dulu, ya. Soalnya besok pagi-paginya Mila ada rapat penting dikantor" ucap Sharmila kepada nyonya Debora.


"Kenapa tidak menginap disini saja, Sayang? Besoknya biar Zion yang mengantar kamu kekantor" pinta nyonya Debora.


"Lain kali saja Tante" tolak halus Sharmila dengan tersenyum canggung.


"Janji ya, lain kali harus menginap disini" ucap nyonya Debora dengan raut wajah serius.


"Iya, Mila janji tante" ucap Sharmila.


Sopir yang mengantar serta menjemput Sharmila sudah menunggu kedatangan sang majikan didekat mobil.


Melihat majikannya dengan segerah dia langsung membuka pintu mobil bagian belakang.


Setelah memastikan sang majikan masuk dengan sempurna, barulah ia menutup pintu mobil dan langsung masuk serta menjalankan mobilnya menuju kediaman Barata.


Di balkon kamar dikediaman Brown, Zion hanya menatap datar kepergian Sharmila dari atas sana.


Sampai mobil itu menghilang dari jangkauan pandangannya, barulah dirinya memutuskan pandangannya.


..................................


Disisi lain atau didalam mobil yang dikemudikan oleh Berliana, yang baru saja melewati batas daerah pembatas pedesaan.


Ia dengan sengaja pulang dengan kondisi cukup larut dan saat ini baru menunjukkan pukul 10 malam.


Berkendara dengan tenang dan kaca mobil ia turunkan setengah. Mengendarai kendaraan saat malam adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Berliana.


Selain, udara yang tidak terlalu tercemar polusi, tidak terlalu bising akan bunyi kendaraan dan yang pastinya jalan menjadi lebih sepi dan hal itu ia manfaat menambah kecepatan mobilnya.


Sudah satu jam lamanya ia berkendara, dan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti di salah satu swalayan untuk membeli beberapa cemilan dan minuman.

__ADS_1


Mobil terparkir dengan sempurnah dan langsung saja ia masuk kedalam swalayan itu untuk membeli beberap keperluannya.


Makanan ringan, dan beberapa minuman kaleng ia masukkan kedalam keranjang kecil yang ia bawak saat masuk kedalam swalayan tersebut.


Dan Berliana juga mengambil segelas kopi susu hangat untuk menemaninya dalam perjalanan nantinya.


Setelah dirasa semuanya cukup, Berliana berjalan menuju kasir dan meletakkan keranjang belanjaannya.


"Tolong bungkuskan ayam gorengnya dua, bagian sayap" ucap Berliana yang melihat ayam krispi itu masih ada beberapa.


"Baik Kak" ucap kasir lelaki itu dan langsung memasukkan ayam goreng kedalam tempat yang berbahan dasar kertas.


"Berapa semuanya?" tanya Berliana saat sang kasir selesai menghitung belanjaannya.


Setelah kasir itu menyebutkan nominal yang harus dibayarkan. Dengan segerah Berliana mengeluarkan uang Cash dari dalam saku celana yang ia kenakan.


"Kembaliannya ambil saja" ucap Berliana dan langsung berlalu meninggalkan kasir itu yang ingin mengucapkan kata terima kasih.


Berliana berjalan menuju mobilnya sambi meminum kopi susu hangat yang berada di tangan kanannya.


Pintu mobik dibagian kemudi terbuka dan ia langsung masuk beserta barang belanjaannya.


Tidak langsung ia mengemudikan mobil, Berliana membuka satu bungkusan makanan ringan lalu memakannya dan mulai menghidupkan mesin mobil miliknya.


Kembali melanjutkan perjalanan, demi menemani keheningan perjalanannya. Berliana menghidupkan musik dengan cukup keras.


Melihat sebuah panggilan masuk, Berliana mengecilkam volume suara musik mobilnya dan langsung mengangkat panggilan itu.


"Ada apa?" tanya Berliana sambil fokus menyetir.


Pangilan suara tersambung melalui earphone kecil yang sudah berada di telinga kirinya.


"Kau lagi dimana?" tanya pemilik suara perempuan itu dengan suara serius.


"Katakan saja Sasa" ucap Berliana yang tidak ingin basa-basih.


"Aku mendapatkan informasi, jika nyonya Debora mengundang seorang wanita, untuk mendekatkati putra sulungnya" jelas wanita yang bernama Sasa itu dengan suara datar bahkan terkesan sinis.


"Dari keluarga mana?" tanya Berliana.


"Barata!" ucap Sasa dengan singkat dan tegas.


"Bagaimana respon dirinya saat wanita itu mendekatinya?" tanya Berliana kepada Sasa.


Karena dia pasti tahu jika Sasa tidak mungkin tidak mengirim mata-mata untuk dirinya.

__ADS_1


"Sepertinya ia tidak begitu tertarik dengan wanita itu" jelas Sasa yang sudah mendapatkan informasi dari anak buahnya yang bekerja di keluarga Brown.


"Kita lihat saja nanti, apakah akan terjadi selanjutnya" ucap Berliana sambil tersenyum sinis.


"Apa kau masih akan bertahan dengannya?" tanya Sasa dengan serius.


"Jangan mencampuri urusan ku!" ucap Berliana dengan penuh penekanan, bahkan kedua tangannya memegang erat stir mobil.


"Mau sampai kapan? Mau sampai kapan Berliana?!" tanya Sasa dengan suara keras.


Bahkan ia sangat emosional jika berhubungan dengan Berliana.


"Mau sampai kapan?" tanya Sasa dengan suara lirih.


"Sudahi hubungan itu Berliana!. Buka mata mu lebar-lebar dia tidak menginginkan kamu!. Sekeras apapun kamu berusaha dia tetap seperti itu!" ucap Sasa dengan nada sedikit memohon.


"Diam!" bentak Berliana dengan nafas memburu.


Dengan kasar ia menarik earphone yang berada di telinganya dan sambungan telponpun langsung terputus.


Bukan tidak sadar diri, hanya saja Berliana masih berupaya untuk berjuang untuk menaklukkan Zion.


Walaupun sejauh ini belum membuahkan hasil tapi ia yakin jika suatu hari nanti Zion akan menatapnya dengan tatapan hangat.


"Aku tau Sasa. Bahkan aku sangat sadar diri" ucap Berliana dengan lirih.


"Aku ingin tetap berjuang sampai aku merasa berada di batas kesabaran ku" ucap Berliana dengan sedikit rasa sesak di bagian dada kirinya.


"Aku tau kalian perduli dengan ku, hanya saja aku ingin berdekatan dengan Zion saat aku masih punya waktu" ucap Berliana yang semakin sesak di bagian dada kirinya.


"Kuat kan aku!" ucap Berliana sambil menepuk-nepuk pelan dada kirinya.


Merasa cukup tenang, Berliana kembali melanjutkan perjalanannya dengan raut wajah sendu.


Bahkan kecepatan mobil yang ia kendarai itu semakin cepat menuju kediaman Zion.


Perjalanan menuju rumah Zion lebih cepat dari perjalanan normal.


Sampai di komplek perumahan, Jonathan sudah menunggu kedatangan Berliana dan langsung bertukar mobil.


Melihat raut wajah Berliana yang terlihat sedang tidak baik. Jonathan hanya diam saja tanpa Bersuara sambil melihat kepergian Berliana yang sudah masuk kedalam perumahan elit.


Sampai di rumah pribadi milik Zion, Berliana masuk kedalam rumah menggunakan kunci cadangan yang sudah ia minta dari sopir Joni.


Berliana berjalan menuju kekamar miliknya tanpa menghidupkan lampu rumah.

__ADS_1


Sedangkan Zion ia menginap dirumah utama malam ini dan belum berniat kembali kerumah pribadi miliknya.


__ADS_2