
Dimalam berikutnya,
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan saat ini Berliana sedang bersiap menemui seseorang yang saat ini sedang menunggu kedatangan Berliana di Restoran X.
Berliana berjalan santai menuju mobil yang terparkir di garasi. Suasana rumah sudah sepi, Joni dan beserta keluarganya sudah berada di rumah samping yang khusus untuk mereka tempati.
Sedangkan Zion, dia masih berada dikantor dan sepertinya dia akan lembur malam ini dan hal itu sudah biasa bagi Berliana.
Walaupun dia tidak menampakkan dirinya menunggu kepulangan Zion, Berliana senantiasa memasang kuping da mata dengan baik saat mengintip Zion yang terkadang pulang larut dari kantor, maupun kegiatan lainnya.
Dengan kecepatan di atas rata-rata Berliana melajukan mobil BMW itu ke Restoran X.
Sampai disana, Berliana masuk kedalam ruang VIP. Didalam ruang VIP itu sudah ada dua orang yang berbeda usia tengah menunggu kedatangannya.
Hal itulah yang membuat Berliana mempercepat perjalanannya.
"Maaf aku terlambat" ucap Berliana sambil melangkah masuk.
"Tidak apa-apa kami bisa maklumi" ucap orang itu yang ternyata tuan besar Mahardika bersama dengan putranya Rian Mahardika.
"Perkenalkan dia putra ku, Rian Mahardika dan Rian, dia adalah nona Sandreas" ucap tuan besar Mahardika memperkenalkan keduanya.
Keduanya saling berjabat tangan, walaupun mereka tau satu sama lainnya.
Tapi baru kali ini mereka bertemu secara langsung.
"Ternyata lebih muda yang ada di pikiran ku" ucap Rian Mahardika yang sudah salah mendeskripsikan Berliana dari atas sampai bawah.
"Silahkan duduk nona Sandreas" ucap Rian Mahardika yang mempersilahkan Berliana duduk.
"Panggil Berliana saja, karena nama Sandreas nama belakang ku" ucap Berliana.
"Baik!" ucap kagum Rian Mahardika yang melihat kesopanan Berliana.
Saat ini mereka sedang duduk dengan meja bundar didepan mereka. Jangan lupakan beberapa cemilan serta minuman yang tersedia diatas meja tersebut.
"Aku harap informasi ini sesuai dengan yang kau inginkan!" ucap Berliana sambil memberikan tiga lembar kertas yang berisikan point-point kegiatan yang selama ini dilakukan oleh orang yang dicari mereka.
"Dan ini informasi terbaru saat ini!" ucap kembali Berliana sambil memberikan dua lembar kertas lagi.
Totalnya ada lima kertas yang Berliana berikan saat ini.
Kedua lelaki yang berada didepan Berliana dengan cepat membaca informasi yang diberikan oleh Berliana.
Sedangkan Berliana dengan santai menyantap cemilan yang ada di atas meja sambil memperhatikan raut wajah keduanya yang terlihat semakin buruk.
__ADS_1
"Kurang ajar!" ucap tuan besar Mahardika dengan geram setelah membaca satu lembar.
"Jangan emosi dulu, selesaikan bacaan kalian!, baru berkomentar!" ucap Berliana dengan tenang.
Keduanya kembali membaca dengan serius semakin lama raut wajah keduanya semakin terlihat memerah padam, bahkan unjung kertas itu dipegang semakin kuat.
Dengan nafas memburu keduanya menatap Berliana, melihat tingkah keduanya rasanya ingin Berliana tersenyum.
"Sungguh lucu sekali" ucap Berliana dalam hati.
"Kalian tidak yakin dengan informasi yang aku bawakan?" tanya Berliana dengan alis terangkat satu.
"Bukan begitu!" ucap keduanya sambil mengusap kasar mukanya.
Bukan tidak percaya hanya saja keduanya menatap takjub pada Berliana yang sangat detail memberikan informasi.
Tuan besar Brown yang pernah meminta bantuan Berliana pada awalnya tapi hanya sekedar lokasi saja.
Rian Mahardika yang baru saja bertemu secara langsung berdecak kagum akan kemampuan Berliana yang bukan hanya kabar burung belaka.
"Aku tidak menyangka dia seperti itu!" ucap Rian Mahardika dengan geram.
"Seseorang bisa saja bertindak jauh jika ditawari sesuatu yang sangat menjanjikan!" ucap Berliana.
"Tapi dia sudah kami anggap keluarga sendiri!" ucap frustasi Rian Mahardika.
"Apa maksudmu?" tanya Rian Mahardika yang merasa aneh atas apa yang diucapkan oleh Berliana.
"Jangankan orang lain, satu rahim dan satu sumber ****** saja bisa menghianati!" ucap pedas Berliana sambil tertawa kecil.
Mendengat ucapan Berliana keduanya hanya diam saja seakan membenarkan ucapan Berliana.
"Aku akan pulang dan kalian harus lebih berhati-hati lagi" peringat Berliana.
"Jangan terlalu terlena dengan kebaikan sesaat. Jika lama saja bisa menghianati apalagi hanya sesaat!" ucap Berliana sambil berlalu dari hadapan keduanya yang tampak masih shock.
Berliana berjalan menuju keluar Restoran X. Sampai diluar dirinya tidak sengaja bertabarakan pada seorang lelaki yang masih muda.
"Maaf saya tidak sengaja nona" ucap lelaki itu dengan suara berat sambil menyeimbangkan tubuh Berliana.
"Tidak masalah" ucap Berliana dan langsung berlalu dari hadapan orang tersebut.
Untuk kedua kalinya ada orang memfoto Berliana dalam posisi yang begitu dekat dengan lelaki.
Sepertinya orang itu sengaja mencari informasi tentang Berliana dan bernian ingin menjatuhkan Berliana saatnya tiba nanti.
__ADS_1
Selain orang yang mencari informasi tentang Berliana, ada empat pasang mata yang secara tidak sengaja melihat Berliana saat akan melintasi area Restoran X tersebut.
"Siapa lelaki itu? Pacar atau temannya?" batin Zion yang saat itu akan kembali kerumahnya yang baru pulang dari kantor.
.................................
Diperjalanan pulang Berliana berhenti sejenak di mini market untuk membeli beberapa cemilan yang akan ia letakkan didalam kamarnya.
Jika sewaktu-waktu dia merasa lapar dan ingin mengemil makanan ringan.
Satu kantong yang cukup besar di tangan Berliana saat keluar dari mini market itu.
Kembali Berliana melajukan mobilnya menuju rumah Zion.
Hari sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan bisa saja Zion sudah pulang kerumahnya.
Tapi yang dilihat oleh Berliana saat ini tidak ada mobil Zion yang terparkir.
"Apa dia tidak pulang?" tanya Berliana bingung.
"Mungkin masih sibuk bekerja" ucap Berliana sambil keluar dari dalam mobilnya.
Berliana berjalan masuk kedalam rumah yang sudah gelap.
"Biasanya juga tidak di matikan lampunya?" tanya hati Berliana yang merasa ada keanehan.
Melangkah perlahan kedalam rumah Berliana menggunakan cahaya dari ponselnya dan mendekati saklar lampu.
Dan dia melihat Zion tengah menatap dirinya dari atas sofa.
"Kau sudah pulang?" tanya Berliana.
"Dari mana saja kau?" tanya Zion yang tidak menghiraukan pertanyaan Berliana.
"Mini market" jawab singkat Berliana.
Dengan mata memicing Zion menatap tajam kearah Berliana yang sedang memegang sebuah kantong belanjaan yang berukuran cukup besar di tangan kanannya.
"Kalau aku tau kau diluaran sana berbuat yang macam-macam diluar sana! Maka aku tidak akan segan-segan untuk menghukum mu" ucap Zion dengan tatapan tajam.
Mendengar ucapan Zion, Berliana hanya diam saja sambil menatao lekat kedua mata Zion.
"Aku tidak meminta banyak, aku hanya ingin kau melihat ku penuh kehangatan" ucap Berliana dalam hati sambil memandang lekat Zion.
"Kau dengar tidak?" tanya Zion dengan suara keras yang merasa risih saat Berliana menatap lekat dirinya.
__ADS_1
"Aku dengar" ucap Berliana.
"Baguslah, karena pada saat itu aku akan menghukum mu yang seberat-beratnya" ucap Zion dengan senyum smirk.