
Berliana sampai di rumah milik Zion, dan Berliana melihat mobil Zion sudah terparkir rapi di garasi.
Berliana berjalan masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya yang ada di lantai 2. Sampai di kamarnya, Berliana bergegas masuk kedalam kamar mandi dan juga mengganti pakaiannya.
Karena saat ini dirinya masih mengenakan pakaian sekolah!.
Selesai berganti pakaian Berliana melihat jam yang ada di ponselnya dan sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Langsung saja ia turun kelantai bawah untuk makan malam. Sampai di meja makan ia melihat jika Bibi Hesti baru saja menyajikan menu makan malam mereka.
"Sebentar ya, Nak Berliana. Ini Bibi sedang menyiapkan makan malamnya" ucap Bibi Hesti sambil meletakkan lauk pauk keatas meja makan.
"Iya Bi, ada yang perlu Berliana bantu tidak Bi?" tanya Berliana yang dengan suka rela menawarkan jasanya.
"Tidak perlu Nak Berliana. Tinggal membawa makanannya kemeja makan saja" tolak halus Bibi Hesti saat Berliana menawarkan diri untuk membantu pekerjaannya.
"Baiklah Bi" ucap Berliana yang paham dan langsung duduk di kursi yang biasa ia duduki saat makan disana.
"Zion kemana Bi?" tanya Berliana yang melihat makanan sudah tertata rapi di atas meja.
"Sepertinya tuan muda diruang kerjanya mungkin sebentar lagi akan turun" jelas Bibi Hesti dengan ramah serta sopan.
"Makasih Bi" ucap Berliana dengan tulus saat Bibi Hesti selesai menyajikan makanan di atas meja.
"Iya, dan selamat makan malam" ucap Bibi Hesti sambil meninggalkan area meja makan.
Lima menit sudah berlalu, Berliana masih menunggu kedatangan Zion ke meja makan agar mereka makan malam bersama.
Sepuluh menit berlalu tapi Zion juga belum turun kebawah dan akhirnya Berliana memutuskan untuk memanggil Zion ke kamarnya.
Berliana berjalan menuju kamar Zion yang letaknya bersebelahan dengan kamar yang biasanya ditempati oleh Samuel jika menginap disana.
Sampai didepan pintu kamar Zion, Berliana mengetuk pintu beberapa kali. Tapi belum juga ada suara yang membalas ketukannya dan akhirnya Berliana membuka pintu kamar Zion secara perlahan.
Setelah pintu kamar terbuka setengah, Berliana mulai memanggil Zion.
"Apa kau didalam?" tanya Berliana yang hanya bagian kepalanya saja yang masuk. Sedangkan badannya masih berada diluar pintu.
__ADS_1
Sunyi dan tidak ada jawaban, akhirnya Berliana memutuskan untuk pergi keruang kerja Zion yang berada di lantai yang sama. Karena rumah milik Zion hanya berlantai dua.
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu ketiga kalinya, Berliana berinisiatif membuka pintu ruang kerja Zion dan ia melihat ada Zion disana sedang fokus menatap layar komputer yang berada di atas meja.
Mendengar suara pintu terbuka, membuat Zion mengalihkan pandangannya kearah pintu dan dia melihat Berliana yang sedang menatap kearahnya.
"Apa?" tanya Zion dengan suara datar.
"Kenapa tidak turun untuk makan malam?" tanya Berliana dari dekat pintu.
"Belum lapar!" ucap Zion dan langsung menatap kembali layar komputernya.
Mendengar jawaban Zion membuat Berliana menghembuskan nafas secara perlahan.
"Boleh aku masuk?" tanya Berliana yang masih berdiri di pintu ruang kerja Zion yang ada terbuka setengah.
Berliana berjalan masuk kedalam ruang kerja milik Zion sampai didalam ia melihat ada banyak buku-buku yang tersusun rapi, juga berbagai piala yang berada didalam lemari kaca, dan juga ada berbagai piagam penghargaan yang telah di capai Zion maupun perusahaan.
"Bisakah kamu berhenti bekerja sejenak?" tanya Berliana yang bediri di depan meja kerja Zion.
Mendengar ucapan Berliana, Zion langsung menghembuskan nafas kasar dan mulai menatap datar Berliana yang sedang berdiri didepannya.
"Katakan saja" ucap Zion yang menaikkan satu alisnya.
"Apa hubungan kita akan seperti ini terus?" tanya Berliana.
Diam, Zion hanya menatap datar Berliana tanpa mau menjawab apa yang diucapkan oleh Berliana.
"Aku tau kamu tidak menginginkan perjodohan ini. Bahkan sangat tidak menginginkannya, tapi biasakah kamu memberi ku kesempatan agar kamu menerima perjodohan ini?" tanya Berliana yang mencoba mencari solusi untuk hubungan mereka kedepannya.
"Tidak!" ucap Zion dengan suara cukup tegas.
__ADS_1
"Sedikitpun tidak?" tanya Berliana dengan tatapan penuh harap.
"Jangan terlalu berharap dengan ku!" ucap Zion dengan tegas dan mulai beranjak berdiri dari kursi yang ia duduki.
"Kau tau kenapa?" tanya Zion sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.
"Karena aku tidak menyukai kamu dan juga kamu bukan tipe ku" ucap Zion kembali yang tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang yang ada didepannya.
"Beri tahu aku orang yang seperti apa kau sukai?" tanya Berliana sambil memandang lekad kedua bola mata Zion.
"Yang pastinya orang itu tidak seperti kamu" tunjuk Zion tepat didepan wajah Berliana.
"Orang yang seperti kamu ini hanya ingin memanfaatkan harta dari keluarga Brown saja. Dimana orang akan melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan harta yang menjadi incaran mereka" jelas Zion dengan tatapan kebencian.
Deg
Rasanya sangat sesak dibagian dada Berliana, bahkan tangan kirinya mulai meremas baju yang ia pakai dengan cukup erat.
"Beri aku satu kesempatan lagi. Jika dalam satu kesempatan itu perasaan mu terhadap ku tidak juga berubah maka, aku akan menyerah" putus Berliana.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menyukai kamu bahkan lebih baik aku tidak menikah sekalipun jika hanya kamu wanita didunia ini yang tersisah" ucap Zion dengan tegas.
"Dan terserah kau saja mau melakukan berbagai cara untuk membuat aku menyukai mu. Tapi yang pasti hal itu tidak akan terjadi" ucap tegas Zion dan langsung membalikkan badannya dan kembali duduk di kursi kerjanya.
Melihat Zion sudah kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya membuat Berliana menarik nafas yang seakan sangat berat untuk masuk kedalam paru-parunya.
Berliana pergi meninggalkan ruang kerja Zion. Setelah pintu tertutup rapat, Zion mulai menatap kearah pintu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Tanpa mau menatap lebih lama, Zion kembali fokus menatap layar komputernya.
Berliana masui kedalam kamarnya untuk kembali ke meja makan saja rasanya dirinya mulai kurang berselerah untuk makan disana.
Cukuo buruk suasana hatinya saat ini, saat mengingat kata demi kata yang diucapkan oleh Zion.
"Apa aku seburuk itu dimata mu? Apa aku sehina itu? Sampai-sampai kau mengucapkan itu dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun!" gumam Berliana sambil menatap luar jendela kamarnya yang sengaja ia buka.
"Apa aku harus memberitahukan siapa aku?" tanya Berliana kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tidak-tidak, setidaknya aku akan mencoba terlebih dahulu. Jikapun tidak berhasil maka aku akan dengan terpaksa membatalkan perjodohan ini" ucap Berliana yang penuh kebimbangan.
Cukup lama Berliana berpikir bagaimana caranya agar dia bisa meluluhkan hati Zion agar bisa menyukainya. Tanpa sadar akhirnya ia sedikit demi sedikit mulai memejamkan kedua matanya yang mulai sayu dan memasuki alam mimpi.