
Beth mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, sambil sesekali gadis itu mengedarkan pandangannya ke arah pintu masuk B&D Resto, dimana beberapa pengunjung terlihat keluar masuk.
"Kok baru tahu kalau ada resto sebagus ini disini, ya?" Beth kemudian bergumam sendiri, sembari tangan gadis itu mengetikkan kata sandi ponselnya. Beth langsung membuka pesan dari Reandra yang tadi baru ia baca dan belum sempat ia balas.
[Jangan lupa makan!] -Reandra-
Beth segera mengetikkan balasan.
[Iya! Kau juga jangan lupa makan!] -Bethany-
Pesan terkirim dan Beth menunggu beberapa saat namun tak kunjung ada balasan.
Mungkin Reandra memang sedang sibuk!
Bethany lalu segera memakai helm-nya, bersamaan dengan Rossie yang terlihat keluar dari Resto.
"Beth, belum pulang?" Sapa Rossie pada Bethany yangvtak jadi memakai helm.
"Belum. Kau sendiri? Sudah mau pulang?" Bethany balik bertanya pada Rossie.
"Iya! Semua persiapan sudah selesai dan udah ditunggu juga," jawab Rossie seraya mengendikkan dagunya ke arah mobil hotam yang selalu mengantar Rossie kemana-mana lengkap dengan supir di dalamnya.
Ya, ya, ya!
Rossie kan putri mahkota di keluarga Hadinata. Jadi tak mungkin gadis itu naik motor kemana-mana seorang diri seperti Beth!
Beda kasta!
"Oh, yaudah! Bye!" Beth akhirnya melambaikan tangan ala kadarnya pada Rossie yang langsung melenggang ke mobil mewahnya.
"Enak mungkin ya naik mobil begitu." Beth bergumam sendiri sambil masih memperhatikan mobil Rossie yang sudah melaju pergi.
"Kemana-mana diantar sopir," gumam Beth lagi.
"Ah, tapi naik motor juga enak! Anginnya lebih alami," ujar Beth lagi seolah sedang menghibur dirinya sendiri. Beth lalu sedikit tersentak, saat gadis itu merasakan ponsel yang masoh berada di dalam genggamannya bergetar.
Ada pesan masuk!
"Dari Reandra!" Beth bersorak senang dan langsung membukanya dengan penuh semangat.
[Aku sudah makan] -Reandra-
Beth langsung membalas pesan Reandra tanoa menunggu lama.
[Oh, makan pakai apa? Sibuk, ya?] -Bethany-
[Sibuk packing] -Reandra-
Kedua bola mata Beth langsung membelalak saat membaca pesan terakhir Reandra.
[Mau kemana memangnya? Liburan?] -Bethany-
[Pindah sementara ke USA. Kerja sambil lanjut kuliah] -Reandra-
[Oh! Lama berarti?] -Bethany-
[Mungkin tiga atau empat tahun] -Reandra-
Bethany sontak merengut setelah membaca pesan Reandra.
[Trus kapan berangkat?] -Bethany-
[Besok malam] -Reandra-
[Oh! Kita bisa ketemuan dulu? Aku mau bawain sesuatu buat kamu] -Bethany-
[Bisa! Datang saja ke apartemenku besok sore.] -Reandra-
"Apartemen?" Bethany bergumam sendiri namun kemudian jari gadis itu tetap mengetikkan pesan balasan.
[Apartemen kamu dimana, Re?] -Bethany-
[Kamu belum tahu? Aku pikir aku sudah pernah membawamu kesana] -Reandra-
[Belum pernah] -Bethany-
Satu pesan dari Reandra kemudian masuk ke ponsel Bethany berisi sebuah alamat.
[Besok sore aku tunggu, ya!] -Reandra-
__ADS_1
Bethany hanya menghela nafas, membaca pesan dari Reandra. Gadis itu lalu hendak mengetikkan pesan balasan lagu, saat seseorang keluar dari Resto seperti orang gila.
Oh, Bethany lupa, yang itu kan orangnya memang sedikit gila.
"Rossie!"
"Rossie!" Teriak Fairel seraya menyapukan pandangannya ke halaman parkir seolah sedang mencari-cari keberadaan Rossie.
Hhhh!
Bethany langsung memutar bola matanya.
"Rossie sudah pulang, Pak! Karena semua persiapan untuk acara ulang tahun Aunty Sita sudah selesai," ujar Beth akhirnya memberitahu Fairel yang masih berdiri di halaman parkir dan mencari-cari Rossie.
"Aku tidak bertanya padamu!" Sahut Fairel galak sembari mendelik pada Beth.
Beth langsung mencibir dan mengendikkan kedua bahunya.
"Aku juga hanya memberitahu," tukas Beth kemudian seraya memakai helmnya. Beth tidak jadi membalas pesan Reandra dan memilih untuk segera pergi saja dari hadapan Pak Fairel galak yang kini sedang berkacak pinggang.
Dasar galak!
Semoga Beth tidak akan bertemu lagi dengannya besok, besoknya lagi, dan seterusnya!
****
Fairel yang sedang fokus memeriksa lapran di layar laptopnya, refleks mengangkat wajah saat mendengar pintu ruangannya dibuka oleh seseorang. Tadinya Fairel mengira kalau Dad Liam yang melakukannya, namun saat tahu bahwa ternyata Ryan yang membuka pintu ruangannya, pria itu langsung mendelik.
"Kau tidak bisa mengetuk pintu, hah?" Gertak Fairel pada sang sepupu.
"Biasanya juga tak pernah!" Jawab Ryan santai seraya duduk begitu saja di kursi di depan meja kerja Fairel meskipun belum dipersilahkan
Dasar menyebalkan!
"Pekerjaanmu belum selesai?" Tanya Ryan kemudian seolah sedang mengejek Fairel.
"Memangnya pekerjaanmu sudah selesai?" Fairel balik bertanya pada Ryan dengan nada sedikit kesal.
"Sudah!" Jawab Ryan sombong.
"Pasti asal-asalan memeriksa dan nanti saat ada kesalahan, aku juga yang harus turun tangan!" Decak Fairel kemudian yang sudah ganti menatap sinis pada sang sepupu.
"Mungkin itulah alasan kenapa kita berdua mengisi posisi yang sama di perusahaan," seloroh Ryan yang langsung membuat Fairel kembali berdecak. Fairel lalu kembali fokus ke layar laptopnya.
"Kau lupa kalau sore ini ada acara?" Tanya Ryan kemudian yang langsung membuat Fairel tampak berpikir.
"Acara apa?" Tanya Fairel kemudian yang benar-benar tak ingat.
"Acara di rumah Aunty Thalita dan Uncle Zayn. Anniversary pernikahan," ujar Ryan yang langsung membuat Fairel sedikit berdecak malas.
"Apa aku harus datang juga?"
"Semua keluarga Halley datang!" Ryan mengingatkan sang sepupu.
"Tapi Zeline tidak pernah datang di acara kumpul keluarga! Jadi aku rasa--"
"Ini acara Aunty Thalita dan Uncle Zayn dan bukan acara Zeline!"
"Dan kau sepertinya adalah keponakan Uncle Zayn dulu." Ryan mencoba mengingat-ingat dan Fairel malah tertawa terbahak-bahak.
"Kau mabuk? Aku? Keponakan kesayangan?"
"Keponakan kesayangan Uncle Zayn itu...." Fairel terlihat mengingat-ingat.
"Tidak ada aku rasa! Uncle Zayn sepertinya hanya menyayangi anak-anaknya saja!" Tukas Fairel berpendapat.
"Ada! Itu adik kecilnya Via. Kau ingat?" Tukas Ryan mengingatkan Fairel.
"Ooh! Anak bungsunya Aunty Audrey itu, ya? Ripleys?"
"Riley!" Ryan mengoreksi dengan cepat karena Fairel yang salah menyebut nama adik Via.
"Iya, itu! Terserah!"
"Pergi sana!" Usir Fairel sekali lagi pada Ryan.
"Kau tidak pergi?" Tanya Ryan lagi.
"Acaranya jam berapa memang? Baru juga jam empat," tukas Fairel setelah melihat arlojinya.
__ADS_1
"Acaranya jam empat!" Jawab Ryan dengan raut tanpa dosa.
"Kau masih disini!" Tukas Fairel menatap heran pada sang sepupu.
"Aku menunggumu!" Ujar Ryan tetap tanpa dosa.
"Ck! Pergi sendiri saja kenapa? Kau bukan Riley yang masih dibawah umur, kan? Kau punya mobil, punya SIM! Kenapa juga harus menungguku!" Tukas Fairel sekali lagi sembari bersungut-sungut.
"Agar kau tidak ada alasan untuk mangkir!" Seloroh Ryan beralasan.
"Aku akan datang nanti setelah laporan ini selesai!" Fairel memutar laptopanya dan menunjukkan pekerjaannya pada Ryan.
"Pergi duluan sana dan tak usah sok-sokan menungguku!" Usir Fairel sekali lagi.
"Iya, iya!" Ryan akhirnya bangkit berdiri dan keluar dari ruangan Fairel.
"Dasar bawel!" Gerutu Fairel kemudian setelah Ryan berlalu pergi.
****
"Mau pergi, Beth?" Tanya Mama Tere saat melihat Beth yang sudah rapi.
"I--ya, Ma!"
"Ada acara bersama Yvone di luar," jawab Beth beralasan.
"Bisa sekalian mengantar kue pesanan?" Tanya Mama Tere sembari menunjuk ke kotak kue di sudut meja.
"Alamatnya dimana, Ma?" Tanya Beth yang langsung menghampiri sang mama. Semoga alamatnya memang satu arah dengan apartemen Reandra, karena Beth memang berencana ke apartemen Reandra sore ini untuk memberikan hadiah kecil-kecilan untuk pria itu.
"Di kompleks apartemen." Mama Tere menunjukkan alamat customernya pada Beth, dan seolah doa Beth dikabulkan, ternyata alamat customer Mama Tere adalah gedung apartemen yang sama dengan Reandra. Hanya beda lantai saja.
"Beth akan mengantarnya, Ma!" Ujar Beth kemudian penuh semangat.
"Baiklah!"
"Terima kasih dan hati-hati!" Ucap Mama Tere sembari menyelipkan rambut Beth yang lolos dari ikatan ke belakang telinga.
"Beth pergi dulu, ya, Ma!"
"Bye!" Pamit Beth seraya membawa kue untuk customer, lalu keluar dari toko.
****
"Haish!! Macet lagi!" Gerutu Fairel saat mobilnya terjebak kemacetan lalu lintas. Sebenarnya Fairel memang tak berniat pergi ke rumah Aunty Thalita sore ini. Namun telepon beruntun dari Mom Yumi, membuat Fairel terpaksa harus memacu mobilnya ke arah rumah Aunty Thalita dan sekarang Fairel terjebak kemacetan.
"Menyebalkan!!" Teriak Fairel emosi sembari menekan klakson mobilnya.
Sedetik kemudian, mobil di depan Fairel akhirnya bergerak maju, dan Fairel segera ikut memajukan mobilnya. Namun baru beberapa meter maju ke depan, Fairel tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah motor matic yang baru keluar dari pom bensin. Fairel refleks menginjak rem, meskipun sepertinya terlambat karena kap depan mobilnya yang sudah terlanjur menyenggol motor matic tadi.
Motor langsung oleng, dan diluar dugaan, pengendara motor langsung terjatuh ke lubang galian yang berada tepat di samping pintu keluar pom bensin.
"Aduh!!" Fairel menepuk keningnya sendiri, dan segera menepikan mobilnya sebelum diamuk warga. Meskipun secara teknis motor sialan itu yang bersalah karena asal keluar dari pom tanpa tengok kanan kiri, tapi tetap saja warga akan menyalahkan mobil Fairel yang terlambat mengerem tadi.
Hhhh!
Ada-ada saja!
"Mas--"
"Iya, saya tanggung jawab, Pak!" Jawab Fairel galak saat seorang warga hendak mengetuk kaca jendela mobilnya. Fairel langsung sigap membuka pintu mobil dan keluar untuk mengecek kondisi pemotor tadi. Semoga tidak luka parah!
"Duduk dulu, Mbak?" Ucap seorang warga yang membantu pemotor yang terperosok ke dalam lubang galian tadi, saat Fairel menyibak kerumunan.
"Kue saya, Pak!" Ucap pemotor yang rupanya seorang perempuan tersebut. Tapi suaranya seperti tak asing.
"Sudah basah kuyup, Mbak!"
"Ya ampun!!"
"Awas! Awas!" Fairel terus menyibak kerumunan, dan saat pria itu melihat wajah pemotor yang sedikit belepotan lumpur tadi, Fairel sontak menganga tak percaya.
Kenapa dunia seolah sempit sekali dan Fairel harus terus-terusan bertemu dengan gadis menyebalkan ini!!
"Kau lagi!!"
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.